Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 82


__ADS_3

Kini Alesha, Adam, Dion dan juga Vitha sudah sampai di toko emas yang di tuju. Adam memperlakukan Alesha bak ratu nya, membebaskan Alesha memilih apapun yang dia mau dan Adam tentu tak masalah dengan harga.


"Yang simple saja, Mas. Tapi yang tetap terlihat elegan" kata Alesha.


"Ini semua terlihat sangat elegan, Al..." kata Adam.


"Tapi aku bingung pilih yang mana" jawab Alesha sembari menelisik satu persatu cincin emas yang ada di etalase itu.


Sementara Dion saat ini membawa Dameer jalan di sekitar toko supaya tidak merecoki Mama dan calon Papa nya, dan tentu saja Dion di temani oleh Vitha. Namun sejak tadi kedua nya sama sama diam dan tak terlibat percakapan apa pun.


"Kamu kuliah ambil jurusan apa?" tanya Dion akhirnya memecah keheningan.


"Ekonomi" jawab Vitha singkat tanpa berani menatap Dion.


"Hem begitu..." gumam Dion dan kedua nya pun kembali terdiam, mereka berjalan pelan di belakang Dameer yang melangkah tanpa arah. Kedua nya mengawasi putra Alesha itu baik baik apa lagi Dameer yang belum bisa berjalan lancar dan terkadang masih terjatuh sendiri.


"Oh ya, apa setelah Adam menikah, kamu tidak akan ke sini lagi?" tanya Dion memecah keheningan.


"Entahlah, aku memang jarang pergi ke luar kota. Apa lagi aku cuma hidup berdua sama Papa, jadi aku tidak mau meninggalkan Papa jauh jauh" kata Vitha lagi dan Dion pun mangut mangut.


"Emm apa kamu punya pacar?" pertanyaan Dion selanjutnya itu tentu membuat Vitha langsung terkesiap, karena ia tahu ketika seorang pria menanyakan hal seperti itu, itu artinya ada maksud tertentu.


"Maaf ya kalau aku lancang..." ucap Dion kemudian dengan rasa bersalah "Tidak tahu kenapa, aku ingin kenal kamu lebih dekat, Vith" aku Dion yang membuat Vitha merasa salah tingkah, bahkan perasaan nya kini sudah berdebar namun Vitha berusaha mengendalikan rasa itu. Takut nya rasa itu semakin menjadi dan Vitha pasti akan membuat Miley sedih.


"Kita akan jadi keluarga setelah Kak Adam dan Kak Alesha menikah, nanti kita bisa sama sama kenal lebih dekat kok" jawab Vitha kemudian.


"Hmmm" jawab Dion pasrah karena Vitha sepertinya tidak tertarik pada nya.


Sementara itu, Adam dan Alesha masih memilih cincin pernikahan dan setelah melihat lihat serta di berikan rekomendasi oleh karyawan toko nya, Adam dan Alesha menjatuhkan pilihan mereka pada sebuah cincin emas dengan permata yang berkilau.

__ADS_1


"Yakin ini sudah cocok?" tanya Adam ingin memastikan.


"Iya, Mas. Ini bagus banget kok" kata Alesha.


"Mau di ukir nama apa, Pak Bu?" tanya sang karyawan.


"Adam dan Hawa, Mbak" kata Adam yang membuat Alesha langsung menatap calon suami nya itu


"Hawa? Siapa itu hawa? Kan nama ku Alesha, Mas" pekik Alesha yang membuat Adam tertawa.


"Iya, Al. Cuma maksud ku, Hawa nya Adam. Ya kan? Kamu itu kan kaum Hawa, tulang rusuk Adam" kata Adam gombal yang tentu saja membuat Alesha tersipu.


"Tapi aku tetap tidak mau pakai nama Hawa, Jawa itu nama perempuan, Mas. Sedangkan nama ku Alesha, masak iya di cincin pernikahan kita di tulis nama perempuan lain" kata Alesha mengerucutkan bibir nya yang membuat Adam tertawa geli dan merasa gemas dan calon istri nya ini.


"Ya sudah, kalau begitu kasih nama Adam nya Alesha dan Alesha nya Adam. Fix, keputusan terkahir" tegas Adam.


"Oke" jawab Alesha pasrah namun tak bisa ia pungkiri, ia sangat senang dengan perlakuan Adam yang mesra, lembut dan yang pasti selalu membuat Alesha kerasa nyaman.


"Sudah, Mbak. Kami ambil ini, karena akad kami 6 hari lagi" kata Adam dengan mata yang berbinar.


"Baiklah, jadi ini hanya di ukir saja ya"


"Berapa lama itu selesai nya, Mbak?" tanya Adam tak sabar.


"Biasa nya 2-3 hari, Pak. Nanti akan kami hubungi jika selesai" jawab karyawan itu.


"Okey, tapi tolong secepatnya ya, Mbak. Akad kami 6 hari lagi..." kata Adam lagi yang seperti nya sudah tak sabar ingin segera akad, karyawan itu hanya menahan senyum melihat tingkah Adam. Sementara Alesha hanya bisa geleng geleng kepala, ia sungguh tak menyangka bisa di inginkan dan di cintai oleh pria setampan dan sesukses Adam. Dimana Alesha fikir, pasangan dari pria seperti Adam itu pasti nya orang yang sekelas. Cantik, berpendidikan dan berasal dari keluarga yang sederajat dengan Adam.


"Setelah ini kita ke butik ya, cari baju buat akad" kata Adam lagi dan Alesha mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


...


Sementara itu, Vera terdiam merenung di kamar nya. Tidak pernah sebelum nya Bima marah sampai berlarut larut seperti ini pada nya dan itu membuat Vera merasa begitu sedih.


Ibu nya mendatangi Vera dengan membawa makanan karena sejak semalam Vera tidak makan apapun.


"Makan dulu, Ver. Nanti kamu sakit..." kata sang Ibu lembut namun Vera tak menanggapi nya.


Ibu nya pun meletakkan piring yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauk nya itu di atas meja, kemudian ia duduk di samping anak nya yang hanya diam saja.


"Ver..." ia menyentuh pundak nya dengan lembut "Jangan seperti ini, nanti kamu sakit, Nak. Pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang biasa, tapi kamu harus sabar dan coba ambil hati Bima kembali..."


"Bagaiamana cara nya, Ma? Mas Bima bahkan tidak mau berbicara dengan ku, sekali nya bicara langsung membentak" jawab Vera kesal.


"Ya nama nya juga orang emosi, Ver.." kata sang Ibu "Begini saja, bagaimana kalau malam ini kamu masak dan siapkan makan malam khusus untuk suami mu, mungkin dengan itu tersentuh" saran sang Ibu lagi.


"Tapi sebenarnya aku heran, Bu. Sebenarnya Mas Bima itu marah nya karena apa sih? Karena merasa di permalukan calon Alesha atau karena Alesha punya calon suami?" sang Ibu tentu tak bisa menjawab karena hanya Bima yang tahu jawaban dari pertanyaan Vera. Walaupun begitu, Vera tak berani bertanya pada Bima karena ia takut jika jawaban Bima bisa menyakiti nya.


"Sudah lah, jangan fikirkan itu. Mungkin Bima juga stres dengan pekerjaan nya jadi nya dia sensitif pada berbagai hal" jawab sang Ibu kemudian "Tapi, Ver. Emm Mama mau bicara sesuatu sama kamu"


"Bicara apa, Ma?"


"Emm bagaimana kalau kita datang ke rumah Alesha dan menemui Alesha" cicit sang Mama yang tentu saja membuat Vera terkejut.


"Buat apa, Ma? Mama kan tahu sendiri semua keluarga Alesha itu selalu memandang kita dengan sinis"


"Ya karena itu, Ver. Kita datangi mereka, minta maaf sama mereka. Bagaimana pun juga meraka masih keluarga kita, saat ayah mu meninggal, merekalah sandaran kita. Meraka yang selalu membantu kita, Ver" Vera hanya terdiam mendengar penuturan sang Ibu.


"Ayo lah, Ver. Kita bicara baik baik, kita minta maaf sama mereka. Mama yakin Alesha pasti mau memaafkan kamu, apa lagi sekarang dia sudah punya calon suami. Itu artinya sudah melupakan Bima kan? Siapa tahu hubungan kita nanti bisa seperti dulu lagi..." bujuk sang Ibu.

__ADS_1


"Entah lah, Ma" jawab Vera lirih


__ADS_2