Berbagi Cinta - Hati Perempuan

Berbagi Cinta - Hati Perempuan
Episode 98


__ADS_3

"Al, nanti pas resepsi kamu mau mengundang siapa saja?" tanya Adam yang kini mulai mempersiapkan acara resepsi pernikahan mereka.


"Cuma tetangga saja, Mas. Hehe, aku tidak punya teman" jawab Alesha.


"Aku juga tidak punya kerabat lain selain Om dan Vitha, paling nanti yang aku undang relasi relasi aja. Aku mau nya pesta nya meriah tapi tidak terlalu banyak yang di undang, Bagaiamana?" tanya Adam .


"Aku sih terserah Mas Adam saja" jawab Alesha lagi


"Oh ya, Mas. Aku lupa mau ngasih tahu" kata Alesha kemudian dan ia terlihat panik karena baru teringat.


"Apa? Kamu ada masalah?" tanya Adam cemas.


"Bukan, aku kemarin itu nemuin uang di saku mu. 75 ribu, hehe. Terus aku pakai buat beli bakso sama minuman korea korea itu kata Miley" Adam terkekeh mendengar penuturan istri nya itu.

__ADS_1


"Minuman korea seperti apa memang nya?" tanya Adam kemudian.


"Yang ada bubble nya yaitu, aku suka. Rasa nya enak. Tapi mahal, 30 ribu satu gelas kecil segini" keluh Alesha sembari memberi contoh gelas nya yang kecil.


"Memang nya cukup beli minuman korea 2, berarti 60 ribu. Bakso nya paling 15 ribu yang paling murah di depan bengkel sana"


"Ya aku tambah pakai uang belanja yang kamu kasih" jawab Alesha yang membuat Adam merasa gemas sendiri.


"Terus kalau kamu suka minuman bubble, kenapa kamu tidak beli pakai uang belanja yang aku kasih?"


"Ada ada saja kamu ini, Alesha sayang. Kalau kamu mau apa, ya beli saja kalau uang belanja nya kurang nanti aku tambah. Kalau nemu duit di saku aku juga ya ambil saja, duit ku duit mu" tukas Adam yang membuat Alesha cengengesan.


...... ...

__ADS_1


Beda hal nya dengan Alesha yang sedang menikmati kehidupan nya yang baru, yang manis dan indah. Bima justru di rundung pilu, ancaman Pak Agus masih saja terngiang dalam benak nya. Membuat nya tak ingin makan, tak bisa tidur, tak bisa fokus bekerja.


"Apa yang harus aku lakukan? Masak iya aku benar benar harus menikahi Raya?" gumam Bima yang saat ini hanya duduk di kursi nya dengan raut wajah yang tampak frustasi, Bima mengusap wajah nya dengan kasar hingga tiba tiba terdengar suara dering ponsel nya yang langsung membuat Bima terlonjak. Ia melirik layar ponsel nya itu dan tertera nomor asing di sana, Bima pun menjawab nya dengan perasaan yang gugup karena ia takut itu orang tua nya Raya.


"Ha.. Halo..."


"Bagaiamana, Bima? Sudah berbicara dengan orang tua?" Bima langsung menghembuskan nafas kasar setelah mendengar suara Pak Agus dari seberang telfon.


"Pak, tolong kasih saya waktu untuk berfikir..." jawab Bima setengah berbisik.


"Memang nya apa lagi yang perlu kamu fikirkan, Bima? Kamu harus menikahi Raya secepat nya sebelum kehamilan nya membesar"


"Saya tahu, saya akan tanggung jawab. Tapi kasih saya waktu sedikit saja untuk membicarakan ini dengan istri ku dan juga orang tua ku"

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, Bima. Besok kamu sudah harus membuat keputusan atau aku akan datang pada orang tua mu dan juga pada istri mu. Akan aku beri tahu mereka bahwa kamu menghamili Raya dan kamu tidak mau bertanggung jawab"


Kepala Bima sudah mau meledak rasa nya karena terus terusan mendengarkan ancaman dari Ayah nya Raya itu, ia hanya bisa menekan dada nya yang berdegup kencang entah karena emosi atau pun karena takut.


__ADS_2