
Pagi itu semua terlihat sibuk, Susan telah mempersiapkan segala macam kebutuhan syuting,
tapi dia tampak bingung karena model yang akan menjadi bintang iklannya belum juga datang.
"Sayang gimana persiapan syutingnya,??
kok kamu keliatan gelisah gitu??" tanya Deni yang hawatir karena melihat Susan yang dari tadi mondar mandir.
"Ini loh sayang, semuanya udah siap tapi modelnya belum dateng juga, udah gitu nomernya dari tadi nggak bisa di hubungin."
"Ya udah tunggu bentar lagi mungkin kena macet,
ya udah aku ke ruangan aku dulu ya."
ucap Deni.
Susan pergi ke ruangan Dev dengan terburu buru.
"Kak gimana ni model iklanya susan nggak bisa dateng, kalau kita nggak syuting hari ini proyeknya bisa gagal, mana udah tanda tangan sama infestor
kalau nggak cepet cepet di kerjain bisa bisa kena denda.
Gimana dong??" Susan terlihat sangat hawatir.
"Udah kamu tenang dulu nanti kakak cari solusinya."
Ucap Dev yang menenangkan adiknya.
lalu susan keluar dari ruangan Dev dan tak sengaja melihat Disya.
Disya boleh juga, wajahnya menarik
mungkin dia bisa menggantikan model yang nggak bisa datang itu, batin susan.
Susan menghampiri Disya
"Disya ke ruangan saya sebentar ya!!"
"Oh iyya bu" Disya lalu berdiri dan mengikuti Susan dari belakang.
sesampainya di ruangan susan
"Ada apa ya bu, apa saya punya salah??"
Disya bertanya karna takut kalau sampai mempunyai kesalahan.
"Panggil kak susan aja, nggak usah ibu
kak susan kan belum punya anak."
"iyya kak."
"Gini Sya, model kakak nggak bisa dateng, kakak bingung kalau harus cari model dalam waktu satu jam
kira kira kamu mau nggak jadi model kakak??"
tanya susan.
"Saya mana bisa kak, nggak mau ah
kakak cari yang lain aja, saya takut malu maluin
lagian saya belum pernah belajar jadi model.
"Kak susan mohon Sya, cuma kamu yang bisa nolong kakak, nanti kakak ajarin di lokasi pasti kamu bisa
kakak yakin, tolongin kakak ya kakak mohon." Susan memohon.
Karena merasa tidak enak hati akhirnya Disya menyetujuinya.
"Ya udah sekarang kamu ikut kakak ke lokasi syuting
Disya mengikuti Susan ke lokasi syuting lalu belajar sebentar di sana, lalu Disya di suru mengganti bajunya
agar lebih kelihatan menarik.
Saat keluar dari ruang ganti semua terpukau melihat Disya yang terlihat sangat cantik.
"kak aku malu, bajunya terlalu seksi
aku nggak biasa." Bisik Disya di telinga Susan.
"Nggak papa Sya kamu cantik banget kok,
semoga berhasil ya!!" Susan menyemangati Disya.
__ADS_1
"Iyya kak, banyak banyak berdoa ya semoga aku nggak ngelakuin kesalahan."
"iyyaaa, ya udah sana
kamu pasti bisa, kakak yakin."
"Disya kamu cantik banget." Puji Dimas.
"Makasih,,, duh jadi pengen malu nih."
Disya jadi salah tingkah karena di puji Dimas,
karena selama ini belum pernah ada yang memujinya.
Lalu Dimas memberikan aba aba kepada semua krunya termasuk Disya.
"Disya kamu udah siap kan??"
tanya Dimas.
"iyya aku siap." jawab Disya yang lansung menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
"Oke, kamera rolling and ACTION."
Dimas memberikan aba aba.
"Mau kulit cantik dan Glowing, pakailah Susan kosmetik, kulit anda akan cantik, halus dan tampak lebih muda. Disya memulai syutingnya.
setelah tiga kali pengulangan akhirnya selesai dan Susan tersenyum bahagia karena rencananya sukses.
"Disya hari ini kamu bagus banget, makasih ya karena udah mau nolongin kak Susan."
"Iyya kak sama sama."
"Oke untuk hari ini syuting selesai, karena sekarang udah jam makan siang, semuanya boleh bubar."
ucap Susan, lalu semuanya membubarkan diri.
"Disya makan bareng aku ya, buat ngerayain karena penampilan kamu hari ini bagus banget."
Dimas menghampiri Disya dan mengajaknya makan bersama.
"Emmm, boleh boleh." Ucap Disya.
sementara Dev di ruangannya sangat kessal karena melihat Dimas dan Disya semakin dekat.
"Susan!!
kenapa kamu pakai Disya buat jadi model produk kamu??" tanya Dev yang terlihat kesal.
"Aku nggak punya pilihan lain kak, lagian Disya bagus kok, dia berbakat.
Memangnya kenapa kak??"
"Nggak papa, aku cuma nggak suka aja."
lalu Dev pergi.
"Ihhh kenapa dia?? mukanya kessel begitu
udah kaya baju nggak di setrika sebulan."
Susan tertawa melihat tingkah kakaknnya.
sore hari saat semuanya bersiap siap pulang,
telfon di meja Disya berbunyi.
"iyya halo" ucap Disya
"Hari ini kamu belum boleh pulang!!
kamu lembur sama saya." Tegas Dev.
"Tapi pak saya,,,"
tut,,tut,,,
telfon terputus.
"Ihhhh ngeselin banget, kan capek pengen istirahat,
lagian kenapa sih tu orang, nggak bisa banget liat orang bahagia." Gerutu Disya.
"Ayuk Sya pulang bareng!!"
__ADS_1
Dimas yang sudah siap siap pulang, menghampiri Disya untuk pulang bersama.
"Kamu duluan aja, aku lembur hari ini."
jawab Disya manyun.
"Yahhh nggak bisa pulang bareng dong."
"Ya udah lain kali aja ya."
Ucap Disya.
"Ya udah deh."
Dimas terlihat sedih, dan berlalu.
Disya pergi ke ruangan Dev, dia melihat Dev sedang sibuk dengan laptopnya.
"Pak saya ngerjain apa??"
Disya memberanikan diri untuk bertanya karena dari tadi Dev hanya diam dan sibuk melihat layar laptopnya.
"Nanti dulu kamu duduk aja dulu di situ."
Ucap Dev
Setelah jam delapan malam Disya mulai kessal karena Dev tidak juga memberinya pekerjaan.
"Pak kalau Bapak nggak punya pekerjaan buat saya mending saya pulang aja ini udah malem, saya mau pulang tidur." Disya mulai kessal.
"Apa hubungan kamu sama sutradara itu??"
tanya Dev
"Bapak nyuruh saya lembur cuma buat nanyain itu??
dia itu teman SMP saya pak."
"Kamu suka sama dia??" Tanya Dev penuh selidik.
"Itu bukan urusan Bapak, Bapak nggak perlu tau
mau saya suka atau tidak suka, itu bukan urusan bapak."
"jelas itu urusan saya, kamu itu pegawai saya.
lagian kamu tu jangan murahan, baru ketemu aja udah pulang bareng, makan bareng."
"Bapak bilang saya murahan!!
Bapak nggak punyak hak buat ngatur ngatur hidup saya karena bapak bukan pacar saya."
Disya mulai menangis.
"Maksud saya bukan begitu, kamu jangan nangis."
Dev mulai panik melihat Disya menangis.
Lalu Disya keluar dari ruangan Dev dan berlari keluar dari kantor, dia sudah tidak memperdulikan lagi teriakan Dev.
"Apa tadi aku keterlaluan, aku kan cuma ngingetin dia biar nggak terlalu murahan sama cowok,
kalau dia diapa apain kan ntar dia yang rugi.
tapi ya sudahlah aku tidak perduli."
Tak beberapa lama Dev mulai tidak tenang
dia terus memikirkan Disya.
"Malem malem begini dia pulang sendirian,
kalau dia kenapa kenapa gimana ya??
Aku harus menyusulnya sekarang juga."
Dev lalu mengambil jas dan kunci motornya dan berlari ke arah parkiran.
Dev melajukan motornya dengan sangat kencang
dan terus melihat di sekeliling mencari keberadaan Disya, tiba tiba Dev melihat Disya dan mencoba menghampirinya.
"BRUAKKKK"
Karna tidak memperhatikan jalanan akhirnya Dev di serempet motor dari depan, Dev yang kehilangan kendali terjatuh dan tak sadarkan diri.
__ADS_1