
Dev menghabiskan Baksonya dengan cepat, mungkin karena efek laper juga.
"Heii, perasaan tadi yang laper aku deh, kenapa Bapak yang begitu nafsu ngabisin Baksonya.
Laper apa doyan??"
Disya melanjutkan makan setelah meledek Dev, tapi baru saja Disya memakan pentol yang ke dua, tiba tiba Dev mengambil mangkok Bakso Disya.
"Ihhh pak Dev,,,, laper sih laper tapi jangan jatah aku dong yang di embat juga, Bakso gedenya aja belum kemakan, malah di ambil." Disya memberengut.
"Pesan lagi aja sana!!" perintah Dev, yang sudah menghabiskan setengah dari Bakso milik Disya.
"Isss, nyebelin banget loh, pria satu ini."
"Eh pak, itu kayak mamanya Bapak deh."
Disya menunjuk ke arah depan.
"Mana, yang bener kamu??
Saat Dev menyapu pandangan ke depan, mencari keberadaan mamanya, di saat itu lah Disya menuangkan sambal yang begitu banyak di Bakso yang Dev makan.
"Tapi boong,, yeyyy Bapak kena tipu ha ha ha."
Disya tertawa puas seperti anak kecil.
"Uhhh, dasar bocah."
lalu Dev kembali memakan Baksonya.
"Aduh aduh,, kok pedes banget sih, perasaan tadi nggak pedes, kok sekarang jadi pedes bnget.
Dev mulai lompat lompat, minum air sampai lima gelas, tapi tetap masih merasa pedas.
"Kamu ngerjain saya ya??"
Dev menatap Disya dengan wajah yang memerah.
"Itu hukuman buat Bapak, seenaknya aja makan Bakso orang." Disya melipat tangan sambil melirik Dev dengan perasaan puas.
"Eh,, mulai kurang ajar ya sekarang."
"Biarin aja, Bapak aja selalu kurang ajar."
Disya tak mau kalah.
Setelah membayar, Dev kembali ke mobil dengan perasaan kesal.
Disya yang juga duduk di sebelah Dev, hanya diam
takut kalau bosnya marah lagi.
"Terima kasih ya, untuk malam ini."
Ucap Dev ragu ragu.
"Maaf kalau kejadian di rumah Papa bikin kamu nggak nyaman." Tambah Dev lagi.
"Iyya pak, nggak papa, sebenernya saya mau marah.
Tapi ya mau di apain lagi semuanya udah terjadi, nggak bisa di kembaliin lagi."
"Sebenernya kecewa banget, bisa bisanya Bapak begitu lancang mencuri ciuman saya yang saya jaga hanya untuk kekasih saya kelak."
"Itu bukan ciuman yang sebenarnya bodoh!!"
"Hahh, apa maksud Bapak itu bukan ciuman??
jelas jelas udah nyium, tapi mau ngelak."
"Kamu bener bener polos ya??
ciuman sama cium itu beda, Markonah."
Dev menggeleng gelengkan kepalanya.
"Lah emang ada bedanya pak??"
Tanya Disya heran.
"Ya jelas beda lah, mau saya peraktekin??
biar kamu tau." Dev terkekeh.
"Maksudnya,,, prakteknya sama saya gitu??"
"Lah,, emang di sini ada orang??
kan cuma ada kita di sini, nggak ada yang lain."
"ihhhh,, Bapak mesum banget ya.
Praktek aja sana sama kodok!! Bapak kira saya ini bahan buat percobaan." Disya mulai ngambek.
__ADS_1
"Dari pada sama kodok, mending sama kamu."
Ucap Dev lagi, dengan suara menggoda.
"Ihhhhh Bapak ah, nyebelin banget."
Disya memukul bahu Dev dengan tasnya.
"Awww, sakit tau!!"
"Biarin aja, siapa suruh mesum!!"
"Udah malem, pulang yuk??
kamu pasti capek, seharian kerja terus nemenin saya pulang ke rumah. Udah gitu di perlakuin nggak baik sama mama."
"Nggak papa kok pak, saya juga ngerti kenapa mamanya bapak berbuat begitu.
Seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk putranya, walau terkadang caranya kurang baik.
Dev melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang masih tampak ramai, gedung gedung yang menjulang tinggi nampak indah saat malam hari karna di hiasi dengan lampu yang berbagai macam warna. Jakarta memang indah pada saat malam hari. sesekali Disya membuka jendela mobil, menghirup udara yang begitu segar.
Disya merebahkan punggungnya yang sudah terasa lelah sejak tadi, mencoba mencerna semua kejadian malam ini, di caci maki oleh bu Ranti dan Clara, bahkan sampai di cium Dev, seseorang yang sama sekali tak punya hubungan apa apa dengannya. Disya merasa lelah dengan semuanya, tapi tak bisa menghentikan setiap kejadian yang menimpanya.
Pikiran Disya melanglang buana entah ke mana,
matanya yang sedari tadi memang sudah berat, akhirnya terpejam.
Setelah sampai, Disya masih tertidur sangat nyenyak
Dev tak tega membangunkannya.
Lalu Dev terdiam dan memandangi Disya, merapikan rambut yang menutupi sebagian pipi Disya dan membawanya ke belakang telinga.
Ada perasaan aneh menyeruak saat Dev menyentuh pipi Disya, perasaan yang sama saat dulu bersama dengan Tiara.
Tiba tiba Dev tersadar dan cepat menarik tangannya.
Disya menggeliat perlahan, lalu matanya terbuka
dan sesekali menguceknya.
"Udah sampai ya pak, udah dari tadi apa barusan??"
Disya memperhatikan sekeliling.
"Udah dari tadi!!"
"Saya nggak tega, jadi saya tunggu sampai kamu bangun aja."
"Wah,, Bapak sweet banget, ternyata Bapak bisa punya hati ya." Disya senyum senyum menyebalkan.
"Udah turun sana, dasar bawel!!"
"Iyya,, iyya, gitu aja marah, tadi aja manis sekarang berubah lagi, pait."
Lalu Disya bersiap membuka pintu mobil.
"Tunggu,,!!"
Dev menghentikan Disya.
"Kenapa??
"Pakai ini,."
Dev menyodorkan jasnya.
"Buat apa??"
"Nggak usah banyak tanya, pakai aja."
"Iyya iyya, dasar tukang maksa."
Karna malas berdebat, Disya terpaksa menuruti perintah Dev.
Setelah memakai jas Dev, Disya turun.
"Hati hati di jalan pak."
"Hmmm."
Dev hanya mendehem, melajukan mobilnya dan perlahan lahan menghilang dari pandangan Disya.
"Apa itu tadi, dia manusia atau kerbau sih??
Di ajak ngomong tapi cuma bersuara kek kerbau."
"Ehh lupa dia kan bayi sapi, masih sebangsa sama kerbau.
pantas saja kelakuannya begitu."
Lalu Disya masuk ke dalam kosannya, lalu mandi berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya diatas kasur lantai miliknya.
__ADS_1
Sudah tiga jam Disya mencoba untuk terpejam, tapi tak juga berhasil, padahal tubuhnya sudah sangat lelah. Guling sana guling sini, tengkurap, baca novel, setel musik, tapi tetap saja tidak berhasil untuk terpejam. Disya selalu terbayang kejadian yang terjadi di rumah Dev, saat pak wijaya bilang kalau Disya calon menantunya, sukses membuat Disya kege'eran.
"Oh ya ampun, ada apa dengan mata dan pikiranku??
kenapa tidak membiarkan aku tidur sih.
Aku sangat lelah tau, ayolah mataku tidurlah
dan kenapa juga otakku selalu saja memikirkan si kerbau itu, berhentilah kalian bekerja sama, aku ngantuk, capek, lelah, mau tidur."
Disya bangun dan memukul mukul kepalanya, agar semua pikirannya tentang Dev hilang, lalu kembali tiduran, dan akhirnya tertidur.
Tepat pukul 06:00 pagi ponsel Disya berbunyi, tapi karena Disya tidur terlalu nyenyak, gara gara semalam begadang, Disya tidak mendengarnya, lalu terus berbunyi sampai dua puluh tiga panggilan tidak terjawab, barulah Disya mendengar dan melihat ponselnya lalu menggeser icon hijau yang ada di layar ponselnya dan menaruhnya di atas telinga.
"Heii, pemalas bangunlah!"
terdengar suara Dev setengah berteriak, membuat Disya sangat kesal.
"Pak,, ini baru jam enam, ini juga hari minggu.
Memangnya Bapak tidak tau hari minggu??
hari minggu itu hari buat tidur nyenyak pak.
Kenapa Bapak senang sekali mengganggu orang."
Disya menggerutu dengan suara yang masih serak karena baru bangun.
"Mana kado untukku??
"Kado apa sih pak,?? pagi pagi bangunin orang, cuma buat nanyain hal yang nggak jelas.
Nggak tau apa kalau semalam aku nggak bisa tidur gara gara,,,,??"
Hampir saja Disya kelepasan.
"Nggak bisa tidur kenapa??
"Nggak papa, bukan urusan Bapak.
Udah ah pak, saya mau tidur ngantuk banget."
"Heii, anak gadis nggak boleh bangun siang, pamali tau."
"Heleh sok tau banget, Bumali aja bangun siang pak mali diem diem bae."
"Mana kadonya??
Kemarin kan saya ulang tahun, masa kamu nggak inisiatif ngasih kado sih."
"Lah emang Bapak siapa??
minta kado kok sama saya, lagian mana ada orang ulang tahun, terus minta kado.
Malu maluin banget, nggak inget sama umur,
Cuma anak kecil yang ulang tahun minta kado."
"Emangnya kenapa??
orang dewasa juga suka kok kalau di kasih kado.
Pokoknya saya nggak mau tau, kamu harus kasih saya kado."
"Dihhh maksa, apa apaan kali.
Bapak kan punya duit banyak, beli aja kado buat diri sendiri. Pake maksa minta di kasih kado, nggak lucu banget."
Obrolan di pagi hari membuat Disya merasa tidak mengantuk lagi. Obrolan obrolan yang tak penting dan kata kata Dev yang tak masuk akal pun dia biarkan masuk ke dalam telinganya.
"Pak hari ini ada acara nggak??"
Tanya Disya ragu ragu.
"Nggak punya, kenapa??
mau ngajak saya jalan atau mau ngajak saya kencan??" Terdengar Dev mengekeh geli.
"Ah bodo ah, nyebelin."
"Oh ya ampun, nyonya joko ngambek."
"Ayuk hari ini kita jalan, itung itung ngerayain hari ulang tahun Bapak.
Biar saya yang teraktir deh.
"Ya ampunnn, kamu mau ngajak jalan beneran??
Udah berani ya sekarang."
"Tau ah gelap."
Disya memutuskan telfonnya karena kesal.
__ADS_1