
Saat tengah asyik tidur tiduran dan ingin melanjutkan tidur yang tertunda, tiba tiba ketukan pintu membuat Disya kaget dan kesal.
"Pemalas, cepat buka pintunya!!"
terdengar suara yang menyebalkan dari balik pintu.
"Ehh, itu seperti suara pak Dev!!
Tapi bodo ah, dia kan menyebalkan. Udah tadi gangguin orang tidur, sekarang mau apa lagi dia??
mending pura pura budeg."
Disya tak juga keluar dari balik selimut.
"Nyonya joko cepat keluar, aku tau kamu cuma pura pura budeg.
Kalau kamu nggak keluar juga, pintunya bakal saya dobrak, mau??"
"Huhh dobrak saja aku tidak perduli, paling juga nanti warga datang terus dia di gebukin, salah sendiri membuat orang kesal."
"Hei cepat buka.!!"
Dev terus berteriak di depan pintu dan membuat ibu ibu yang sedang membeli sayur menghampirinya.
"Mbak Disya buka pintunya!!
masa cowok seganteng ini di biarin berdiri di depan pintu. kalau mbak Disya nggak mau, kasih ke anak ibu aja, ibu nggak nolak. Ucap salah seorang ibu yang dari tadi memperhatikan Dev.
Disya kaget karena suara Dev tiba tiba hilang dan berganti dengan suara ibu ibu.
karena penasaran Disya akhirnya keluar.
"Waduhh!!"
Disya ternganga melihat pemandangan di luar rumahnya. Ibu ibu sudah mengelilingi Dev dengan pandangan gemas.
"Mbak Disya ini pacarnya ya, kok ganteng banget??
terus di anggurin lagi, buat anak ibu aja deh kalau mbak Disya nggak mau."
Ucap seorang ibu yang sedang memegang lengan Dev, membuat Dev terlihat tidak nyaman.
"Ambil aja bu, Disya iklas kok.
Lagian bukan pacarnya Disya, jadi kalau ibu mau
ambil aja." Disya mengekeh melihat Dev yang sudah memberengut kesal.
Dev lalu keluar dari kerumunan ibu ibu karena malas meladeninya dan berlari ke belakang Disya.
"Nah kenapa malah lari ke sini sih pak,??
tu kasian ibu ibu masih pengen liat Bapak."
Disya terus saja tertawa.
"Petakkk!!"
"Awwww, sakit tau."
Disya meringis sambil memegang kepalanya yang baru saja kena jitak oleh Dev.
"Itu hukuman karena kamu ngebiarin saya menunggu lama, udah gitu di kerumunin ibu ibu."
Dev terlihat kesal.
"Cepat sana mandi!!"
perintah Dev.
"Nggak mau ah, orang mau lanjut tidur."
"Jahatnya."
"Bodo."
Dev terdiam pura pura sok sedih, mundur selangkah dua langkah, dan,,,.
"Iyya iyya tunggu sebentar, saya mandi dulu.
Nggak usah pasang muka sok sedih gitu, lebbay banget."
Akhirnya karna merasa tak tega Disya nurut.
"Nah gitu dong." Ucap Dev dengan wajah sumringah.
Setelah selesai mandi, Disya mengenakan baju kaos putih dan jeans warna biru dongker.
rambutnya di gerai, lalu sedikit poni di jepit di belakang, Sederhana tapi tetap cantik.
Lalu Disya mengambil tasnya dan setelah memakai sepatu flatnya, kemudian keluar menemui Dev.
Dev terdiam sejenak saat Disya berada pas di hadapannya.
__ADS_1
"Pak,"
"Jangan jangan ngeliatin terus, nanti jatuh cinta,
bisa repot urusannya." Ucap Disya di sertai tawa kecil.
"PD sekali anda nona."
Karna tak mau terlihat gerogi, akhirnya Dev segera berpaling dan menuju mobil.
Disya mengekori Dev di belakang.
"Pak???"
"Hmm.!!"
"Please deh pak, jangan kek kerbau gitu jawabnya, ngapa??"
Seketika Dev melirik Disya dengan tajam, karena mendengar perkataan Disya barusan.
"Aduhh ya ampun,,, ngeliriknya begitu banget."
Disya sedikit kaget dengan ekspresi Dev.
"Bawel,,, cepetan bilang mau kemana??"
"Kan Bapak yang bawa mobil, kenapa nanya saya."
"Kan kamu yang mau ngajak jalan hari ini, gimana sih."
"Enaknya kemana ya pak?"
"Ya nggak tau, kan kamu yang ngajak saya jalan."
Dev terus fokus mengemudi.
"Ke dufan Ancol yuk pak!!
Udah lama pingin ke sana tapi dulu belum punya cukup uang.
Tapi sekarang udah ada, nanti biar saya yang traktir pak, itung itung kita ngerayain hari ulang tahun Bapak, gimana??"
"Kekanak kanakan." Ucap Dev singkat.
"Eh biarin aja wleee."
"Jangan kebiasaan melet deh."
"Kenapa??" Tanya Disya.
"Takut khilaf."
"Oh ya ampun,,, awas aja ya kalau sampai Bapak macem macem lagi kayak kemaren.
Saya nggak akan segan segan ngasi Bapak Sianida."
Disya mengancam.
"Ihhh serem juga ya kamu."
"Makanya Bapak jangan pernah berfikir buat macem macem."
Setelah Sampai Disya heran karena suasana ancol yang sepi, saat ingin membeli karcis pun Disya tambah heran.
"Kusus hari ini tempat ini kami gratiskan mbak, jadi silahkan mbak menikmati liburan hari ini.
Begitu ucap yang menjaga karcis.
"Wahhh,, hari ini kita beruntung banget pak, kita di kasih gratis." Disya terlihat sangat senang.
Dev hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Disya.
jelas aja gratis, orang tempat ini udah di bayar sehari full.
"Kita mulai naik yang mana dulu ni pak??
tanya Disya yang mulai tidak sabar.
"Terserah kamu aja."
"Emm yang mana ya??
oh iya kita naik kora kora dulu buat pemanasan."
Lalu Disya dan Dev naik kora kora atau perahu ayun yang cukup besar, berayun ke arah depan dan belakang cukup kencang, membuat Disya berteriak senang tapi tidak dengan Dev yang hanya terdiam.
Setelah itu Disya menarik Dev untuk menaiki Hysteria.
Salah satu permainan yang memacu adrenalin, seolah di lemparkan ke atas dalam waktu satu per sekian detik, setelah itu langsung di lemparkan ke bawah dengan sangat cepat dan hal ini di lakukan secara berulang ulang.
Disya berteriak sangat kencang karena menaiki wahana tersebut, Dev yang tampak ketakutan pun juga berteriak. lalu setelah turun Disya hendak ke wahana selanjutnya tapi Dev menarik tangannya,
Wajah Dev tampak pucat, keringatnya bercucuran.
__ADS_1
"Bapak nggak papa??"
"Kamu lanjut sendiri aja, saya udah nggak mau."
"Yahh Bapak nggak seru, mumpung gratis loh pak."
"Saya udah bosen naik wahana di sini."
Ucap Dev dengan mimik wajah masih lemas.
"Bapak sakit ya?
mukanya pucet gitu."
"Saya nggak papa, kamu lanjut sendiri aja, saya tunggu di kursi sebelah sana aja." Dev menunjuk ke arah kursi yang tersedia.
"Nggak mau ah pak, nggak seru.
Masa naik wahana sendirian doang, kalau banyak orang kan lebih seru lagi.
ternyata nggak enak juga kalau di dufan sepi."
"Ya udah saya beli minum buat Bapak dulu ya, Bapak tunggu di sini."
Lalu Disya bergegas mencari minuman untuk Dev, setelah dapat, Disya bermaksut menghampiri Dev tapi langkahnya terhenti ketika Disya melihat seorang pria duduk di dekat Dev.
"Dev ternyata kamu yang Booking tempat ini seharian?
Tadinya saya fikir siapa, karena penasaran saya nanya sama yang bertugas di tempat penjualan tiket.
Tadinya saya nggak percaya pas mereka nyebutin nama kamu, secara kamu kan nggak suka naik wahana wahana yang ekstrim, kamu kan nggak berani."
"Pas saya liat kamu, saya baru yakin kalau emang kamu yang Booking tempat ini."
"kamu ke sini sendirian atau sama seseorang Dev??"
Tanya Arman, teman SMA Dev yang menjabat sebagai Direktur utama di Ancol.
"Oh anu, itu sama seseorang."
Dev merasa gugup.
"Mana Dev aku nggak liat, cewek apa cowok??"
Tanya Arman penasaran.
"Cewek."
"Pasti spesial ya?
soalnya kalau nggak spesial, nggak mungkin kamu mau ke sini."
"Kepo banget."
ucap Dev singkat.
Disya datang dan memberikan minuman untuk Dev.
"Kamu datang sama dia Dev??"
Arman melihat Disya.
"Hmmm!"
"Aku boleh kenalan nggak?"
Tanya Arman pada Dev.
"Nggak boleh!"
Dev meninggikan suaranya.
"Aku nggak keberatan kok."
ucap Disya santai.
Dev melotot pada Disya, karena tak suka dengan tingkahnya.
"Heii Dev santai saja, aku cuma bercanda.
ucap Arman sambil tersenyum.
"Kalian berdua pacaran ya??"
Tanya Arman.
"ENGGAK.!!"
Jawab Dev dan Disya serempak.
"Nggak pacaran tapi sehati kayaknya, ampe serempak gitu jawabnya." Arman terus menggoda.
Mendengar perkataan Arman, Dev dan Disya saling berpandangan, lalu tak lama mereka saling membuang pandangan ke sembarang tempat, merasa kikuk.
__ADS_1