
Disya senyum-senyum saat melihat Dev memakai baju dan sarung Pak Hasan Bapaknya Disya, karena Pak Hasan tak memiliki celana untuk Dev, akhirnya Pak Hasan memberikan sarung dan baju kaos warna hitam untuk sementara.
"Kenapa ketawa?" tanya Dev.
"Nggak papa, lucu aja ngeliat Bapak pakai sarung. ini momen langka, nggak seru kalau nggak di abadikan." Disya hendak mengambil Ponselnya di atas meja tapi tangannya segera Dev cekal.
"Jangan berani macam-macam ya, nggak mau kan kalau sampai aku masukin kamu ke dalam sarung semalaman," tukas Dev, dengan tatapan mengancam.
"ihhh apaan sih, orang cuma becanda.
Bisanya ngancem doang, nyebelin dasar."
Disya hendak keluar kamar, tapi tiba-tiba muncul keisengan di Otaknya.
Celingak celinguk setelah di rasa aman, Disya memperhatikan Dev yang tengah sibuk memasang sarungnya yang sedari tadi terlihat susah untuk di pakai.
"Disyaaa,,,,,,!" pekik Dev, karena sarungnya tiba-tiba di tarik ke bawah oleh Disya, lalu Disya lari sambil cekikikan.
"Awas ya, aku masukin ke dalam sarung beneran baru tau rasa," omel Dev.
"Kalian itu ya, baru Dua hari nikah udah teriak-teriakan terus." Bu Umi Ibu Disya geleng-geleng kepala melihat tingkah Anak dan Menantunya.
"Anak Ibu tuh iseng banget, masa sarung suaminya di pelorotin, udah tau masangnya susah." Dev mencebik kesal
"Awwww, sakit Bu." Disya memegang telinganya yang di jewer Bu Umi.
"Kamu kok iseng banget sih Sya sama Suami, nggak boleh gitu ah, nggak baik."
"Rasain siapa suruh iseng," ucap Dev sembari tertawa melihat Disya yang mengusap pelan telinganya.
"Isss ibu, masa belain dia, kan yang Anaknya Ibu Disya bukan dia." Disya melipat kedua tangannya di dada sambil manyun.
"Udah makan jangan ribut di depan makanan, nggak baik," ucap Bu Umi.
Setelah semua selesai makan, semua kembali ke kamar untuk istirahat, begitupun Dev dan Disya.
Disya yang masih merasa canggung, pelan-pelan menaruh guling di sampingnya sebagai pembatas antara dia dan Dev.
"Jangan sampai ngelewatin garis ini ya pak." Disya menepuk-nepuk guling pembatasnya.
"Ihhh PD banget, yang ada juga kamu yang bakalan ngelewatin garis ini, kamu kan kalau tidur kayak Kuda lumping, mencak-mencak nggak jelas." Disya mendengus mendengar perkataan Dev.
"Tidurlah, jangan melotot gitu, nggak takut dosa, melototin Suami."
Hening, Disya tak lagi menjawab perkataan Dev, karena merasa lelah akhirnya Disya merebahkan tubuhnya dan memunggungi Dev.
Sekitar pukul Satu Dini hari, Disya masih bertahan dengan posisinya tapi matanya tak juga bisa terpejam.
Disya juga merasakan Orang yang di sebelahnya terus saja bergerak seperti sedang gelisah.
"Pak! bisa nggak sih tidurnya jangan goyang-goyang terus, kalau Bapak nggak mau diem gimana saya bisa tidur."
"Di rumah ini nggak ada AC apa,?
seenggaknya kipas angin, panas banget tau nggak."
"Nggak usah manja deh pak, lagian kita bisa pakai lampu aja udah bersyukur, kalau pakai AC bisa-bisa lampu di kampung ini mati semua," ucap Disya.
"Ya ampun,,,,, bisa-bisanya ya kalian hidup di tempat kayak ginian."
"Kalau Bapak nggak mau kepanasan, tidur aja di luar, di jamin adem, dapet bonus lagi."
"Bonus apa?"
"Di cium Emmak-Emmak nyamuk."
__ADS_1
Disya tertawa.
"Dasar mesum!
lagian dari pada di cium nyamuk mending minta cium istri sendiri, pasti lebih enak."
Dev menaik turunkan alisnya sambil menggeser tubuhnya di dekat Disya.
"Ja,,, jangan macem-macem ya pak, nanti saya teriak loh."
"Teriak aja silahkan, paling juga kamu yang jadi bahan tertawaan Ibu dan Bapak."
Dev menyeringai menyebalkan dan membuat Disya kesal tingkat Akut.
"Kamu nggak usah takut, lagian kamu bukan tipe saya kok, jadi saya nggak bakal ngapa-ngapain kamu."
"Bukan tipenya tapi di nikahin juga, maksudnya apa coba? apa pernikahan ini cuma permainan untuknya," sungut Disya.
Dev keluar kamar meninggalkan Disya yang tengah di penuhi segudang pertanyaan namun tak berani bertanya.
karena di kamar Disya panas, Dev memilih tidur di ruang tamu, berharap cuacanya tak segerah di kamar.
Benar saja, tak butuh waktu lama akhirnya Dev terlelap juga.
Saat Adzan subuh, Ibu Disya terbangun untuk sholat subuh lalu lanjut memasak, rutinitasnya sejak dulu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Dev yang tengah meringkuk di ruang tamu tanpa selimut.
"Disya bangun nak, itu suamimu kok tidur di luar." Bu Umi menggoyang-goyangkan tubuh putrinya yang sedang tertidur pulas.
"Ibu, Disya masih ngantuk banget, bentar lagi ya," ucap Disya seadanya.
"Ihhh, bangun nggak!
itu suamimu kasian tidur di luar, kedinginan lagi kayaknya, kamu jahat banget."
"Suami apa sih Bu, suaminya siapa?" Ucap Disya dengan suara serak, lalu sesekali mengucek matanya.
Titah Bu Umi.
"Iyya Bu,,,."
Dengan malas Disya menuju ruang tamu untuk membangunkan Dev.
"Pak Dev bangun, pindah ke kamar sana
di sini dingin." Dev hanya menggeliat pelan lalu kembali tak bergerak, tidurnya sangat pulas. Karena kesal, akhirnya Disya menarik telinga Dev.
"Awww,,, sakit tau!" karena merasakan sakit, Dev akhirnya bangun dan kebingungan.
"Disya ada apa?" Bu Umi yang mendengar teriakan Dev, keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan tergopoh-gopoh.
"Nggak ada apa-apa kok Bu, tenang aja."
"Bohong Bu, dia narik telinga saya.
Jahat banget."
"Disya,, kamu jahat banget ya sama mantu Ibu." Bu Umi menarik telinga Disya, Disya tampak meringis.
"Sakit Bu,,, jahat banget sama anak sendiri."
"Makanya sama suami jangan iseng."
"Kapok, siapa suruh jahat sama suami, Wleee,"
ledek Dev.
__ADS_1
"Isssss," Disya memonyongkan bibirnya.
Karena masih mengantuk akhirnya Dev melanjutkan tidurnya di kamar Disya.
Jam Delapan pagi, Dev sudah selesai mandi tapi belum juga ganti baju, karena tak memiliki pakaian ganti, akhirnya dia hanya duduk di kasur dengan handuk yang masih terlilit di pinggang sembari menunggu Disya.
Samar-samar terdengar suara Disya, Andira dan ibu mertuanya di luar.
setelah meletakkan belanjaan di dapur, Disya pergi ke kamar.
"Astagfirullah! Disya yang tiba-tiba masuk kamar, kaget melihat Dev yang bertelanjang dada.
"Bisa nggak sih pak badannya di tutupin sesuatu gitu, biar badannya nggak menodai pandangan orang lain."
"Siapa suruh nggak ngasih baju."
"Nih bajunya, cepetan pake, tadi di beliin Ibu."
Disya memberikan Satu bungkusan besar untuk Dev, tapi dengan menutup mata.
"Ini Ibu juga yang milihin." Dev mengangkat sebuah celana dalan pria dan menunjukkannya pada Disya.
Dengan ragu-ragu disya membuka matanya untuk melihat apa yang di perlihatkan oleh Dev.
"I,,, itu tentu saja Ibu yang milih, nggak mungkin kan kalau saya, saya mana tau ukuran Bapak," ucap Disya gugup.
"Ukuran apanya nih?"
"Tolong ya Pak, pagi-pagi jangan mesum."
"Siapa yang mesum, kamu kali.
Orang Maksut saya ukuran pinggang kok, emang kamu kira ukuran apa?"
"Tau ah gelap."
"Kalau udah ganti baju cepetan keluar buat sarapan." Disya meninggalkan Dev yang sedang tertawa karena tingkah Disya.
"Jelas-jelas dia yang mancing-mancing, malah nuduh orang. nyebelin banget emang."
Setelah rapi Dev keluar untuk ikut sarapan.
"Gimana Nak Dev, nyaman nggak sama bajunya?
itu semua Disya yang milihin, sampai-sampai keliling pasar buat nyari yang sesuai selera Nak Dev, takut Nak Dev nggak cocok katanya."
"Uhukkk,, Disya tersedak mendengar perkataan ibunya.
"Aku kan tadi cuma bantuin Ibu doang kok, bukan aku yang milihin," elak Disya.
"Bagus kok Bu bajunya, aku suka."
"Dalemannya juga pas banget," bisik dev di telinga Disya, lalu duduk di debelahnya untuk sarapan.
Disya melotot ke arah Dev dengan wajah memerah menahan malu juga kesal karena perkataan Suaminya. Dev melanjutkan sarapannya sambil tersenyum melihat Ekspresi Disya.
"Tersenyumlah sepuas hati, dasar menyebalkan, Ibu juga kenapa nggak bisa di ajak kompromi sih," gerutu Disya.
******
Haiiii, Otor kembali
kangen banget sama kalian semua, lama nggak Up, semoga kalian nggak kecewa sama part ini.
peluk cium buat kalian semua, terimakasihh
__ADS_1
😘😘😘😘