Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Kesedihan Disya


__ADS_3

Pagi itu Disya memijat keningnya karena melihat pekerjaan yang sangat banyak, terlebih lagi semalam hanya beberapa jam waktu tidurnya membuat Disya menguap beberapa kali.


Memikirkan semua perkataan Arman kemarin tentang Dev, melakukan hal hal yang menurut Arman bukanlah diri Dev yang sebenarnya.


Disya mengusap kasar kedua pipinya karena memikirkan perilaku Dev terhadapnya akhir akhir ini.


"Apa bener ya yang di katakan kak Arman kalau pak Dev,,,??"


"Ahhhhh nggak mungkin banget kan, emang aku ini siapa??


Dia bersikap begitu karena memang sedang merasa bersalah karena sikapnya yang kurang ajar malam itu."


Disya berbicara sendiri di depan laptopnya.


Disya juga teringat perkataan Nabila tadi sebelum masuk kantor.


"Sya, orang orang lagi gosipin kamu di kantor.


Emang bener kamu pacaran sama pak Dev??"


Tanya Nabila yang sangat penasaran.


"Enggak kok, cuma temen."


Jawab Disya singkat.


"Tapi gosip waktu kamu di acara ulang tahun pak Dev itu gimana??


"Apanya yang gimana??


"Kamu kan di bawa pak Dev ke sana terus di kenalin sebagai pacar, padahal di sana udah ada calonnya pak Dev. Terus pake acara di cium segala, itu maksudnya apa??


Nggak mungkin kan kamu mau di cium kalau kamu nggak punya hubungan apa apa." Nabila bertanya panjang lebar, membuat Disya tertunduk dengan wajah merah menahan malu.


"Itu,,,??


cuma khilaf."


"Khilaf,, tapi enak.


Ha ha ha." Nabila tertawa.


"Nabila apaan sih, nggak lucu tau."


Disya cemberut.


"Pokoknya aku dukung kamu Sya kalau kamu sama pak Dev." Ucap Nabila semangat.


"Dia nggak bisa jatuh cinta sama wanita."


Cerita Disya dengan wajah lesu.


"Lahh maksud kamu pak Dev sukanya sama pria, Homo gitu??


"Apaan sih, maksud aku dia masih terpaku sama masa lalunya. Dia sangat mencintai Tiara, calon istrinya dulu tapi sekarang udah nggak ada."


"Lagian kalau dia pun suka, itu nggak mungkin banget.


kita nggak selevel, orang tuanya juga pasti nyari wanita yang sepadan, bukan wanita biasa kayak aku."


Terlihat gurat sedih di wajah Disya saat bercerita.


"Disya,,, aku jadi sedih deh denger cerita kamu."


Nabila memeluk Disya.


"Apaan sih, aku kan nggak suka sama pak Dev, kenapa kamu sedih.

__ADS_1


Aku kan cuma bilang kalau seandainya, tapi ini kan emang nggak ada apa apa."


Seketika Disya tersadar dari lamunannya ketika melihat Dev dari kejauhan, orang yang sedang dia fikirkan tiba tiba datang dengan begitu tampannya.


Entah mengapa wajah Dev sering sekali muncul di fikiran Disya akhir akhir ini, membuat semua konsentrasinya Ambyar entah kemana.


Ketika jarak mejanya dengan Dev cukup dekat, Disya bersiap siap ingin tersenyum tapi segera di urungkannya, karena Dev sama sekali tak memandangnya dan terus berlalu.


Terasa ada yang sakit di dalam sana, saat seseorang yang selalu mengganggu Disya dan menyita hampir seluruh fikirannya, tiba tiba diam seribu bahasa seolah mengacuhkannya, bahkan seolah tak ada keinginan walau hanya sekedar menyapanya.


Disya bingung dengan perasaannya sendiri, dulu Disya sangat kesal ketika Dev selalu mengganngunya, bahkan Disya selalu berharap agar Dev hilang dari hidupnya.


Tapi nyatanya sekarang semuanya berubah, Disya yang dulunya sangat muak melihat tingkah Dev, sekarang berbalik jika tak melihat Dev Disya akan gelisah memikirkannya.


"Dia kenapa??


biasanya juga selalu mengganggu, tapi kenapa hari ini seperti ada yang berbeda.


Ah mungkin saja dia sedang sibuk, makanya nggak sempat menyapa atau pun tersenyum.


Heii, kenapa aku seolah mengharapkan senyumannya, aku pasti sudah gila, aku bahkan sangat membencinya."


"Dia itu sangat menyebalkan, selalu mengganggu hari hari indahku, aku bahkan tidak ingin melihat wajah menyebalkannya.


Itu dulu, tapi sekarang kenapa hatiku seolah menghianatiku.


Karena sudah terbiasa di ganggu olehnya, kenapa saat dia tak mengganggu, hatiku justru mencarinya?? harusnya aku bahagia saat dia tak menggangguku lagi."


Cukup lama Disya berbicara pada dirinya sendiri.


Saat makan siang, Nabila mengajak Disya makan siang tapi Disya menolak, karena Disya ingin ke ruangan Dev untuk memberikan makan siang, seperti biasa karena perjanjiannya satu bulan yang lalu.


Disya bergegas menuju ruangan Dev, setelah Disya tepat berada di depan pintu ruangan Dev dia ragu ragu untuk mengetuknya, entah mengapa hatinya tiba tiba gelisah, tapi akhirnya dengan sekuat tenaga dia memberanikan diri untuk mengetuknya.


"Tok,, tok,,"


Disya membuka pintu lalu masuk dan berdiri tepat di hadapan Dev dengan meja sebagai pembatas keduanya.


Terlihat Dev sedang merebahkan punggungnya di atas sofa dan memejamkan mata, wajahnya terlihat sangat lelah.


"Pak??" Disya memberanikan diri memanggil Dev karena dari tadi hanya terdiam.


"Iyya kenapa??" Dev membuka matanya karena mengenali suara yang yang akhir akhir ini mengusik dan mampu merubah hidupnya. Tapi dia berniat untuk menghapus wanita itu dari hidupnya.


"Bapak mau makan siang??


Nih udah saya bikinin makan siang buat Bapak." Ucap Disya seraya menyodorkan bekal makan siang yang sudah dia bawa.


"Saya nggak lapar!!


Dan mulai sekarang kamu nggak usah repot repot masak buat saya lagi.


Perjanjian kita yang kemarin saya anggap selesai, kamu boleh hidup bebas seperti biasa, sewaktu belum ada saya." Dev tak memandang wajah Disya saat mengatakan keputusannya.


Sesaat Disya mematung, mendengar keputusan Dev


Disya syok karena tak menyangka Dev akan melepaskannya begitu saja.


"Tapi kenapa pak??"


Pertanyaan Bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Disya, Disya memukul bibirnya menyesali perkataannya barusan.


"Kenapa bertanya??


Harusnya kamu bahagia karena saya sudah membebaskan kamu dan anggap saja kita tidak pernah saling kenal.


Jantung Disya bergelombang mendengar perkataan Dev, Disya menggigit bibir bawahnya dengan kencang

__ADS_1


agar selaput bening yang membuat pandangannya mengabur tidak tumpah di hadapan Dev.


Disya tertunduk, sesekali mengerjapkan matanya meloloskan satu per satu bulir bening yang memang tak tertahankan lagi.


"Kalau kamu tidak ada keperluan lagi, kamu bisa keluar sekarang." Ucap Dev dengan mempertegas kata katanya.


Tanpa sepatah kata pun lagi, Disya keluar dari ruangan Dev, air matanya mulai meluncur dengan deras karena tak mampu dia bendung lagi.


Disya lalu buru buru ke toilet lalu menguncinya lama,


menumpahkan air matanya yang tadi memang sudah terlanjur keluar.


"Sebenarnya ada apa denganku??


kenapa air mata bodoh ini keluar begitu saja.


memangnya kenapa kalau dia nggak mau di buatin makanan lagi, harusnya aku bahagia karena nggak ada lagi orang menyusahkanku lagi."


Disya menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.


Setelah satu jam di toilet akhirnya Disya keluar setelah mencuci wajahnya agar tidak terlihat berantakan.


"Ada yang lagi patah hati kayaknya,"


Celetuk Natasya, saat Disya sampai di mejanya.


Disya tak memperdulikan perkataan Natasya yang sukses membuat perasaannya terusik.


"Matanya bengkak gitu, abis di usir ya terus nangis di toilet, hu huuuu sedih ya.


Makanya jadi cewek itu tau diri, nggak usah terlalu kege'eran, baru di suruh bikinin makanan aja udah ngarep lebih.


Ngaca makanya, liat diri kamu pantes nggak kira kira buat pak Dev. Jadi pembantunya aja nggak pantes, pake mikir buat jadi pacarnya segala."


"Dasar perusak hubungan orang!!


Sadar nggak kalau kamu itu udah ngerusak hubungan mbak Clara sama pak Dev.


pake acara ngerusak acara ulang tahun pak Dev segala, dasar MURAHAN."


Natasya mencaci Disya sepuas hati.


Semua yang ada di dalam kantor menatap Disya dan menutup mulut mereka dengan satu tangan.


"Ya ampun Disya kamu kok tega sih ngerusak hubungan orang." Ucap salah satu karyawan kantor.


"Kenapa diem??


Biasanya juga ngoceh kayak petasan.


Nggak bisa bales kan??


ya iyya lah nggak bisa orang emang kenyataan, perusak hubungan orang."


Tak henti hentinya Natasya menghina Disya.


Disya hanya terdiam dan menangis dengan semua perkataan Natasya, bibirnya kelu, entah mengapa tiba tiba tak punya kekuatan untuk melawan Natasya.


Tiba tiba Dev datang dengan Deni karena tak sengaja mendengar keributan yang terjadi.


Dev menarik tangan Natasya dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar sampai Natasya jatuh tersungkur.


"Deni!!


Saya nggak mau lihat wajah wanita ini besok di kantor, segera buat surat pemecatannya. Ucap Dev dengan nada marah.


"Oke." Deni mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


"Ini berlaku buat kalian semua, kalau kalian bergosip di dalam kantor, saya nggak akan segan segan buat mengusir kalian dari kantor saya." Ucap Dev dengan tegas, membuat semua yang ada di depannya menunduk ketakutan.


__ADS_2