Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
harus tetap waspada


__ADS_3

Setelah lebih satu jam Disya menunggu dengan gelisah campur kesal Dev juga belum datang.


Apa saja yang di lakukannya di sana?


Memangnya siapa wanita itu, sampai-sampai tidak memperdulikan istrinya sendiri?


Awas saja kalau pulang, aku akan memberikannya hadiah. Gerutu Disya.


Tak lama Dev pulang menggunakan taksi.


Dengan perasaan cemas mulai memasuki rumahnya. Berkali-kali menghubungi Disya tapi tak di respon oleh Disya.


Dev sangat sadar jika Disya pasti kecewa dengan kejadian di Mall tadi.


Kedatangan Tania dan Ibunya tadi membuatnya cukup kaget. Sebenarnya Dev ingin segera pulang tapi Tania dan Ibunya terus menahan Dev dengan alasan sudah lama tak bertemu dan masih rindu, Dev pun tak bisa berbuat apa-apa selain terus menemani mereka sampai larut malam.


Dev menyalakan lampu ruang tamu karena gelap, lalu berlari ke kamarnya untuk melihat Disya.


Perasaannya cukup was-was takut kalau Disya tak berada di kamarnya.


Dengan nafas yang sedikit tersengal Dev segera membuka pintu kamar dengan perasaan khawatir.


Suasana kamar begitu gelap, Dev segera menyalakan lampu dan segera melihat tempat tidurnya. Dadanya mulai berdebar karena Disya tak berada disana, lalu beralih ke kamar mandi, tapi ternyata kamar mandi pun kosong.


Disya kamu dimana?


Dev terus menghubungi Disya tapi tetap tak di jawab.


Dev meremas rambutnya frustasi. Kini fikiran-fikiran buruk melintasi fikirannya.


Jangan-jangan Disya pergi karena kecewa dan tak akan kembali.


Dev lalu pergi ke kamar sebelah tapi Disya juga tak ada, lalu ke balkon, juga tak ada.


Dev akhirnya turun dan pergi ke kamar terakhir yakni kamar tamu, dan akhirnya Dev bisa bernafas lega karena Disya tengah terlelap di sana.


Perlahan-lahan Dev membuka selimut dan membaringkan tubuhnya di sebelah Disya pada sisi yang sangat sempit, padahal di sisi sebelahnya sangat luas, tapi Dev memilih di tempat yang sempit agar bisa memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan saat tertidur.


Dev menyibak anak rambut yang ada di pipi Disya lalu mengecup keningnya perlahan


"Maaf sayang." Di peluknya Disya dengan erat.


"Pindah saja di belakang, disini sangat sempit!" keluh Disya.


Dev melonggarkan pelukannya lalu menatap Disya yang masih memejamkan mata.


"Aku suka disini, meskipun sempit tapi aku bisa memandang wajahmu," ucap Dev seraya mengusap pipi Disya.


Disya lalu berbalik membelakangi Dev karena masih sangat kesal.


Tak menyerah sampai di situ, kini Dev kembali mendekatkan dirinya pada Disya lalu memeluknya sangat erat.


"Maaf, aku tak akan melakukannya lagi."


Disya tak bergeming dari tempat tidurnya meskipun Dev berulang kali telah meminta maaf.


Biar saja seperti ini, emang enak di cuekin.


Batin Disya tertawa.


****


Pukul Enam pagi Dev terbangun dan tangannya meraba-raba sisi tempat tidurnya, karena tak menemukan seseorang yang dia cari, Dev cepat-cepat membuka matanya untuk memastikan dan ternyata memang Disya sudah tak ada di tempat tidur.


Dev cepat-cepat bangun dari tempat tidurnya dan segera turun mencari Disya.

__ADS_1


Terlihat Disya yang tengah mengaduk nasi di penggorengan dengan memakai celemek dan rambut yang di gulung asal-asalan.


Astaga kenapa dia begitu seksi.


Dev lalu bergegas turun menuju dapur, saat sampai di dapur tanpa aba-aba Dev lalu memeluk Disya dari belakang. Disya hanya menengok sebentar lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Yahhh, kok nggak kaget?"


Disya tak menghiraukan Dev dan terus memasak.


"Kenapa bangun pagi sekali dan repot memasak? kan bisa pesan aja." Dev menggesekkan hidungnya pada bahu Disya.


"Biar hemat," jawab Disya singkat, lalu menata nasi goreng pada piring yang telah Disya siapkan sebelumnya.


"Maaf, maaf, maaf nyonya Dev. Suamimu yang tampan ini tidak akan mengulanginya lagi, janji."


"Hemmm."


"Ihhh, kok jawabnya gitu."


"Terussss?"


"Ya apaaa gitu."


"Baiklah Pak Dev yang tampan, aku memaafkanmu, tapi sekarang berhentilah memelukku, aku sangat lapar dan ingin segera makan."


"Baiklah, tapi kenapa nasi gorengnya cuma satu, untukku mana?" tanya Dev heran, karena tak bisa di pungkiri perutnya pun sangat lapar setelah mencium aroma masakan Disya.


"Lohh, bukannya semalem udah makan sampai kenyang, di temenin cewek cantik lagi.


Harusnya nggak akan lapar jam segini," oceh Disya.


"Jahat."


"Bodo."


"Buka mulutnya, aaaa."


Dengan mata berbinar Dev segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari Disya.


"Terimakasih,, lagi, aaaa."


"Mandi dulu gih baru sarapan bareng," titah Disya.


"Sesuap lagi."


"Baiklah-baiklah." Disya lalu menyuapi Dev sekali lagi.


"Terimakasih istriku sayangggg." Dev memeluk Disya lalu mengecup bibirnya pelan.


"Isss masih pagi, mandi dulu sana."


"Mandi bareng yuk," goda Dev dan mengerlingkan matanya dengan nakal.


"Ihhh, pagi-pagi udah mesum!!"


"Biarin."


"Mandi sanaaaaa." Disya mendorong tubuh Dev karena terus saja menempel seperti lem.


****


Setelah selesai mandi Dev turun untuk sarapan bersama Disya.


"Sarapannya kok cuma satu piring?" tanya Dev heran.

__ADS_1


"Kita makan satu piring berdua aja, biar sweet."


"Serius sayang? mau bangettttt."


"Ya udah duduk kita sarapan."


"Asiaaap sayangggg."


Dev lalu menyuapi Disya, Disya tersenyum dan menerima suapan dari Dev.


Begitu pun sebaliknya, setelah Dev menyuapinya kini Disya yang menyuapi suaminya.


Sarapan pagi yang terasa sangat romantis untuk Dev dan Disya. Kini tiba saatnya wajah Disya terlihat sangat serius setelah selesai sarapan.


"Nggak mau cerita tentang yang semalam?" tanya Disya sembari menyesap kopinya.


"Ohh itu,, Tania adiknya Tiara, udah aku anggep adik sendiri.


Jadi,,, jangan cemburu lagi ya nyonya Dev, aku cuma nganggep dia sebagai adik aja kok, nggak lebih."


Mendengar Nama Tiara membuat Disya cukup gelisah namun mencoba setenang mungkin.


"Aku percaya, tapi aku nggak percaya sama dia. Kalau dia pengen nganggep kamu lebih gimana?"


"Ya nggak mungkin lah sayang, kamu jangan mikir macem-macem,,,,." Belum selesai Dev menjelaskan, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Siapa?" tanya Disya dengan tatapan curiga.


"Oh,,ini Ta,,,nia," ucap Dev pelan.


lalu menjawab panggilan Tania di hadapan Disya.


"Iyya Tan kenapa?


Iyya ini udah baru aja, kamu sendiri?


Ohh iyya syukurlah.


Udah dulu ya Tan, aku buru-buru mau ke kantor takut terlambat.


Oh iyya,,iyya, salam juga buat Ibu.


Iyya Oke dahhh."


Semalem udah ketemu, kenapa sepagi ini udah nelfon? Dasar genit!!!!!


"Kenapa nelfon pagi-pagi?" tanya Disya jutek.


"Oh itu, nanyain udah sarapan belum."


"Perhatian banget, ngalah-ngalahin Istri aja."


"Ya ampunn nyonya Dev, cantik banget tau nggak kalau lagi cemburu," goda Dev saat menyadari Alarm kecemburuan Disya telah berbunyi.


"Nggak lucu!!!"


"Aku mencitaimu, hanya kamu, apa kamu nggak percaya?" Dev meraih pipi Disya dengan kedua tangan lalu menatapnya intens.


"Aku percaya, hanya saja aku nggak percaya sama orang lain," lirih suara Disya.


Dev mencium kening Disya lalu membawanya kedalam pelukan.


"Aku sangat,,,sangat,,sangat mencintaimu, hanya kamu satu-satunya. Jadi jangan pernah berfikir macam-macam."


Disya mengangguk dan balas memeluk Dev.

__ADS_1


Perasaannya sedikit lega mendengar penjelasan Dev, namun hatinya mengatakan harus tetap waspada pada wanita yang bernama Tania.


__ADS_2