
"Kok ponselnya di cemplungin di sayur sih sayang," ucap Dev pelan. Ingin marah tapi tak tega terhadap Disya. Hanya menatap ponselnya dengan tatapan yang ... entah.
"Syukur-syukur cuma ponselnya yang aku cemplungin, bukan si Tania!!" ketus Disya.
"Kenapa Tania?" tanya Dev heran.
"Ya iyya lah, orang dia yang hobi banget nelfonin kamu. Udah kayak hantu, nggak tau waktu," oceh Disya kesal.
"Sebbel sama Tania tapi HP aku yang di cemplungin. Jahhat!!" Dev pura-pura cemberut, dalam hati tersenyum karena Disya cemburu. Meski tak bisa di pungkiri agak sedikit kesal karena di dalam Ponselnya banyak file-file penting yang tersimpan, juga nomor-nomor penting para infestor.
"Habisnya dia itu hobi bangen nelfon kamu sih. Suka itu pasti sama kamu, aku yakin."
"Ya nggak mungkin lah sayanggg, dia itu cuma nganggep aku kakak, nggak lebih." Dev mencoba menjelaskan kepada istrinya yang sedang di landa cemburu tapi terlihat sangat menggemaskan.
"Halahh, aku nggak percaya, Titik.
Pokoknya aku mau kamu jangan deket-deket dia lagi, aku nggak suka." Disya melipat kedua tangannya di dada.
"Iyya sayang, aku usahain ya. kamu cantik banget sih kalau lagi cemburu. Jadi pengen bikin cemburu tiap hari," kekeh Dev. Disya langsung mendelik kesal.
"Coba saja kalau berani, nanti biar kamu tidur di pinggir kolam ikan aja kalau malem."
"Ya ampun teganya istriku."
"Makanya jangan coba-coba," tegas Disya.
"Iyya iyya, aku cuma bercanda sayang.
Ya udah aku berangkat ke kantor dulu." Dev bangkit dari duduknya lalu meraih pinggang Disya dengan kedua tangannya lalu mencium keningnya. Karena tak ada respon Dev akhirnya mencium Bibirnya lama. Disya membelalakkan matanya karena mendapatkan serangan dari Dev.
"Berhentilah merajuk, aku akan usahain buat jauh-jauh dari Tania biar kamu nggak ngambek," ucap Dev setelah melepaskan ciumannya.
Disya hanya memonyongkan bibirnya tanda masih kesal
"Eh eh, itu bibir kenapa? Masih kurang?
Aku tambah ya?" Disya pun berlari sebelum di tangkap Dev.
Kamu hati-hati di rumah ya, kalau mau tidur rumhnya di kunci," kata Dev sebelum dia berangkat.
"Iyya ... Kamu juga hati-hati, jangan genit."
"Eh aku nggak genit kok, mereka aja yang pada genit sama aku," ucap Dev sambil tertawa.
"Ihhhh."
"Iyya sayang iyya, aku bercanda kok. Hati aku cuma buat kamu seorang,"
"Gombal."
__ADS_1
"Dihhh nggak percaya. Aku buka baju nih biar kamu lihat sekarang yqng di dalem sana."
"Ihhh apaan sih lebbay banget. Udah sana berangkat."
"Iyya sayangku. Kamu hati-hati di rumah ya."
"Iyya."
Setelah mobil Dev tak lagi terlihat, Disya pun masuk kedalam rumah untuk membereskan sisa makanan yang baru saja di makannya bersama Dev.
Setelah membersihkan meja makan, Disya lanjut mencuci piring juga beberapa peralatan masak yang tadi di pakainya memasak.
Setelah itu menyapu seluruh bagian rumah lalu mengepelnya. Setelah di rasa semua sudah bersih kini tinggal pakaian kotor yang harus di eksekusi.
Disya membawa keranjang pakaian kotornya yang ada di kamar ke belakang tempat untuk mencuci baju. Meskipun tak banyak, tapi Disya memang tak betah jika melihat pakaian kotor.
Semua pekerjaan sudah selesai, kini Disya hanya rebahan di atas sofa ruang tamu.
Ingin menghubungi Dev tapi belum jam istirahat, pasti masih sibuk, dan Disya tak ingin mengganggu.
(jangan lupa makan siang sayang) pesan Dev.
Disya membuka mata saat mendengar notifikasi ponselnya berbunyi.
(Iyya sayang, kamu juga) balas Disya.
(Udh makan)
(Ya udah makan dulu terus tidur lagi)
(Iyya sayang, kamu udh makan)
(Ini lagi makan siang bareng klient)
(Ya udah terusin makannya, aku juga mau makan dulu)
Setelah berbalas chat dengan Dev, Disya bangkit dari sofa menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Cuaca yang mendung sejak pagi membuat Disya membuat menu sederhana. Mi rebus dengan telor dan sayuran serta beberapa cabai yang di potong-potong.
Setelah matang, Disya memindahkan minya ke dalam mangkuk yang telah di siapkannya tadi.
Asap mi yang mengepul dan juga aromanya yang menggugah selera membuat Disya tak menunggu lama untuk menyantapnya.
*****
Akhir-akhir ini Dev selalu pulang malam dan itu membuat Disya sangat kesepian karena memang tak memiliki kegiatan apa pun di rumah.
Seperti malam ini Dev baru sampai rumah saat pukul sebelas malam.
__ADS_1
Disya buru-buru bangkit dari atas sofa saat mendengar suara mobil tiba di depan rumah.
Lalu mengintip sejenak dari balik tirai.
Disya mengerutkan kening saat melihat suaminya keluar dari dalam mobil yang bukan miliknya, dan lebih terkejut lagi saat seorang wanita yang sangat Disya kenali juga keluar dari dalam mobil yang sama dengan Dev.
"Aku masuk dulu Tan."
"Oke kak. Oh iyya kalau besok mobilnya belum bener, aku jemput aja pagi-pagi," tawar Tania.
"Nggak usah, makasih. Lagi pula ada Raka kok besok yang jemput." Gadis itu memanyunkan bibirnya dengan manja. Membuat Disya merasa jijik melihatnya.
Disya terus mengamati dari balik tirai dekat pintu dengan hati yang memanas.
Bukankah Dev telah berjanji tak akan bertemu Tania lagi, tapi nyatanya sekarang mereka bahkan pulang bersama.
Kedua tangan Disya mengepal kuat, seluruh tubuhnya terasa sangat panas karena cemburu.
Tak lama terdengar suara kunci di putar dan tentu saja itu Dev yang akan masuk ke dalam rumah.
"Sa ... sayang, kamu belum tidur?" tanya Dev ketika melihat Disya tengah bersedekap di depan pintu menunggunya.
"Kelihatannya?"
Dev menelan ludah dengan susah payah saat melihat ekpresi Disya. Dev menyadari jika Disya melihat kejadian barusan sehingga membuat ekpresinya lumayan menakutkan.
"Mobil aku mogok di tengah jalan, kebetulan Tania lewat menawarkan tumpangan jadi mau nggak mau aku ikut." Dev berusaha memberikan penjelasan agar Disya tak salah faham.
"Kenapa nggak pesan taksi online?"
"Belum beli HP, kan HP aku kamu jadiin sayur tadi pagi." Dev menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Baiklah alasan di terima, tapi besok jangan nebeng sama Tania lagi, aku nggak suka tingkahnya yang sok manja, bikin ennek."
"Siap Boss!! Sekarang boleh masuk nggak nih? Udah gerah banget seharian kerja plus lembur." Disya tersenyum lalu membawa tas kerja milik Dev ke dalam kamar.
"Mau aku buatin makanan atau kopi?" tanya Disya saat Dev selesai bersih-bersih di kamar mandi.
"Nggak usah sayang, aku langsung tidur aja capek banget soalnya."
"Makanya jangan kerja ampe malem terus, cukup sampai sore aja kasian tubuh juga butuh istirahat."
"Iyya sayangku, terimakasih perhatiannya.
Makin sayang deh."
"Gombal!!!"
"Ihh beneran kok."
__ADS_1
"Mendingan belajar gimana caranya biar nggak ketemu Si ulet bulu, dari pada gombal nggak jelas."
"Iyya iyya sayangku pokoknya aku akan usahain yang terbaik." Dev memeluk Disya dan memejamkan matanya yang memang sudah sangat lelah sejak tadi.