
Satu minggu setelah kejadian itu, Disya berusaha menjalani hari hari seperti biasa sebelum mengenal Dev. Disya selalu bertanya tanya mengapa Dev bersikap seolah menjauhinya, pernah Disya menelfon dan mengirim pesan kepada Dev untuk menanyakan kenapa sikapnya berubah tapi Dev tak pernah menanggapi Disya, akhirnya Disya menyerah karena menyadari dia tidak punya hubungan apa pun dengan Dev, rasanya tak pantas menanyakan hal yang mungkin tak penting bagi Dev, pikir Disya.
Dev pun kembali menjadi pria dingin, angkuh, sombong dan tak ingin berbicara pada siapa pun jika tak penting.
Jika tidak sengaja akan berpapasan dengan Disya, sebisa mungkin Dev akan menghindarinya, kalau pun terpaksa satu ruangan bersama, itu hanya karena masalah pekerjaan.
Dev kembali ke rumah pak wijaya karena alasan Bu Ranti yang sakit, akhirnya Dev bersedia untuk pulang.
Bu Ranti yang melihat putranya kembali bersikap seperti dulu merasa khawatir dan cemas.
Karena Bujukan Bu Ranti, akhirnya Clara datang dan mencoba mendekatkan diri lagi dengan Dev.
Dev yang memang tak pernah suka pada Clara, tak pernah menanggapi kehadiran Clara, hanya sekedar menjawab seperlunya jika Clara bertanya.
Setidaknya Dev tidak bersikap kasar.
Menaklukkan hati pria memang butuh perjuangan dan kesabaran, tidak ada yang instan di dunia.
Pikir Clara.
Disya pun mencoba bersikap biasa dan pura pura tak melihat saat Clara sering datang ke kantor Dev.
Jika saja Natasya masih ada di kantor, pasti mulutnya macam petasan yang telah tersulut korek api
menciptakan kebisingan yang membuat telinga memanas, karena kedatangan Clara yang di biarkan oleh Dev.
Ah Natasya, seketika Disya memikirkan Natasya.
Saat kejadian minggu lalu, terlihat Natasya begitu memohon pada Deni agar tidak di pecat tapi Deni tak menghiraukannya.
Natasya ingin memohon kepada Disya, tapi melihat Disya yang masih terus menangis, akhirnya Natasya mengurungkan niatnya, Malangnya si mulut Bensin.
Sebenarnya dia gadis yang baik, hanya saja Rem di mulutnya kadang Blong jika ada bahan buat di jadikan gosip, bibirnya tak terkendali membuat nasibnya menjadi Nelangsa.
Semua karyawan di kantor pun tak ada yang berani membicarakan Disya walau hanya sekedar berbisik.
Kemarahan Dev minggu lalu membuat semua karyawan jadi takut untuk bergosip, walau di jam istirahat sekalipun.
Suasana malam yang dingin menembus tipisnya kulit Disya yang memang hanya mengenakan piyama tidur, Disya menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Sudah jam sepuluh malam tapi matanya masih enggan untuk terpejam.
Tiba tiba posel Disya berdering memecah lamunannya.
"Andira!!"
Ucap Disya pelan.
Disya menggeser icon hijau yang ada di layar Ponselnya.
"Iyya Ra, kenapa??
Kok tumben malem malem gini Nelfon, Ibu sehat kan??" Tanya Disya was was.
Karena memang tak biasanya Andira menelfon di saat waktu sudah menunjukkan jam untuk istirahat.
"Nggak papa kok kak, Kakak lagi sibuk nggak??"
"Nggak juga sih, kenapa memangnya??"
"Kakak kapan cuti??
Ibu kangen katanya, pengen ketemu."
Ucap Andira dengan suara parau.
"Hei Ra, kamu kenapa??
semuanya baik baik aja kan??
kok sedih gitu, semuanya baik baik aja kan??
Tanya Disya, tapi Andira tak menjawab.
"Ibu mana Ra??
kakak juga kangen nih."
"Lagi pergi kak."
"Kemana??
__ADS_1
"Ke rumah Joko." Andira terdengar ragu ragu mengucapkannya.
"What!!!
Ngapain ke rumah Joko."
Tanya Disya kaget.
sekelebat pikiran aneh aneh muncul di benak Disya.
"Mau ngomongin pernikahan Kakak sama Joko."
Jawab Andira.
Akhirnya Andira menceritakan segalanya tentang Ibu dan Bapaknya yang meminjam uang pada orang tua Joko sebesar lima puluh juta untuk berobat.
Ibu Disya tidak punya pilihan lain karena mengingat gaji Disya yang tidak akan cukup untuk berobat, akhirnya orang tua Disya terpaksa meminjam kepada keluarga Joko, yang di sertai bunga sehingga hutang yang harus di bayar mencapai seratus juta.
Seratus juta bukan nominal kecil bagi orang di kampung, bekerja seumur hidup pun belum tentu mampu membayar kalau hanya mengandalkan kerja serabutan.
Orang tua Joko yakin kalau kluarga Disya tidak akan mampu membayar hutangnya sampai kapanpun, akhirnya orang tua Joko meminta Disya harus menikah dengan Joko secepatnya, sebagai konsekuensi karena tidak mampu membayar hutang. Itulah alasan orang tua joko meminjamkan uang kepada orang tua Disya.
Seketika Disya lemas mendengar cerita Andira.
Seseorang yang dulu tidak mau dia bayangkan, tiba tiba sekarang harus menikah dengannya.
Keluarga Joko mengancam akan memperkarakannya kepada polisi kalau mereka tidak segera membayarnya.
Sebagai seorang anak bagaimana mungkin Disya membiarkan orang tuanya susah apa lagi sampai berurusan dengan polisi.
Disya tidak mempunyai pilihan lain selain menerima permintaan keluarga Joko demi orang tuanya.
Disya meminta waktu beberapa hari berkemas karena masih ada hal hal yang harus di selesaikan.
Semalaman Disya tak mampu memejamkan mata, memikirkan musibah yang akan menimpanya saat tiba di kampung nanti.
Sempat terfikir meminta pertolongan Dev, tapi sekarang telah berubah dan selalu menghindarinya, akhirnya Disya mengurungkan niatnya menghubungi Dev.
Pasrah,, hanya itu yang yang harus di lakukan Disya sekarang.
Bukankah jodoh itu sudah di tentukan oleh yang maha kuasa, sekuat apapun kita menolak seseorang, kalau memang sudah jodoh pasti akan bertemu di pelaminan bukan.
Disya mulai mempersiapkan segalanya, dari mengemas semua pakaian dan barang barang yang akan di bawanya pulang dan juga surat pengunduran dirinya.
Nabila yang baru saja datang dan melihat Disya yang membereskan barang barang di mejanya heran dan langsung menghampirinya.
"Sya kamu ngapain??
kok barang barangnya di masukin ke dalam kardus."
Tanya Nabila heran.
Tiba tiba Disya memeluk Nabila dan menangis.
"Sya kamu mau berenti kerja??
jangan bilang kalau kamu mau berenti kerja gara gara cemburu sama Clara yang udah mulai deket sama pak Dev.
Ayolah Disya, masih banyak kok cowok lain yang lebih baik dari pak Dev. Cerocos Nabila menenangkan Disya.
"Apaan sih, bukan itu kok masalahnya.
Lagian aku sama pak Dev emang nggak ada apa apa, jadi aku biasa aja kalau dia mau deket sama wanita mana pun." Disya menjelaskan kepada Nabila lalu menceritakan segalanya tentang hubungannya dengan Dev yang menjadikannya hanya sebagai Tameng agar mamanya tidak memaksanya menikahi Clara.
Mendengar cerita Disya, Nabila memeluk sahabatnya lagi, tak menyangka semua yang Nabila lihat akhir akhir ini hanya sandiwara yang terlihat nyata.
"Jangan lupain aku ya Sya??"
Ucap Nabila yang terus saja menangis.
"Iyya iyya, kamu itu sahabat terbaik aku Nabila.
Semoga kelak kalau ada umur panjang kita bisa ketemu lagi." Disya terus mengeratkan pelukannya pada Nabila sembil terus menangis.
"Udah udah jangan nangis lagi, aku mau ke ruangan Pak Deni dulu, mau ngasih ini."
Disya memperlihatkan surat pengunduran dirinya pada Nabila.
"Ya udah ntar malem aku ke rumah kamu ya Sya."
"Iyya, nginep ya sekalian aku mau curhat."
__ADS_1
Lalu Disya bergegas ke ruangan Deni.
"Tok,, tok,,"
"Iyya masuk." Ucap Deni dari dalam Ruangan.
"Kenapa Sya??"
tanya Deni.
"Saya mau ngasih ini Pak."
Jawab Disya seraya menyodorkan surat yang di pegangnya.
"Disya kamu mau Resign dari sini, kenapa??
kamu ada masalah, atau nggak nyaman di sini??"
Tanya Deni yang semakin heran.
"Nggak papa kok pak, saya cuma Rindu sama orang tua saya." Jawab Disya.
"Kalau Rindu kenapa nggak cuti aja, nanti Kak Deni usahain biar kamu bisa cuti, biar kamu tetap kerja di sini."
"Sya, kamu baik baik aja kan??
Kamu nggak lagi brantem kan sama Dev??
Atau kamu cemburu karena Dev membiarkan Clara sering datang ke kantor.??"
Pertanyaan Deni bertubi tubi karena Disya hanya diam.
"Saya nggak ada hubungan apa apa kok pak sama pak Dev. Yang kemarin kemarin itu cuma salah faham."
Jawab Disya pelan.
"Kamu suka Dev kan Sya??"
pertanyaan Deni membuat Disya menunduk.
"Enggak pak, saya sama pak Dev cuma temen biasa, nggak lebih.
Kalau gitu saya permisi dulu pak."
Disya buru buru ingin keluar karena takut tak mampu menjawab jika ada pertanyaan Deni selanjutnya.
"Sya hati hati di jalan ya, kalau kamu butuh bantuan hubungin Kak Deni aja, Kak Deni akan berusaha bantuin kamu.
Kak Deni selalu nganggep kamu adik kakak."
Ucap Deni yang telah mengelus lembut kepala Disya.
"Iyya kak terima kasih."
lalu Disya keluar dan saat melewati Ruangan Dev Disya berhenti sejenak menatap pintu.
"Dev lagi ke luar Negri Sya, minggu depan baru pulang.
Mau sekalian pamitan ya??" Tanya Deni yang ternyata mengikutinya dari belakang.
"Nggak kok pak, kalau gitu saya permisi keluar dulu
mau pamitan sama yang lain." Jawab Disya lalu pergi.
Untung dia nggak ada, jadi nggak terasa terlalu berat buat ninggalin kantor ini.
tapi kok rasanya masih sedih aja, terasa hati masih enggan untuk pergi.
Disya menghembuskan nafasnya dengan kasar,
setelah berpamitan pada semuanya akhirnya Disya kembali ke kosannya.
*
*
*
*
Terima kasih buat yang selalu nungguin cerita Author
__ADS_1
yang selalu kasih jempol sama komen, lope lope pokoknya buat kalian๐๐๐