
"Aku punya Empat tiket buat nonton Bioskop nanti malem, apa ada yang mau?" Tanya Raka ragu-ragu.
Nabila dan Disya sontak melihat ke arah Raka bersamaan dengan binar mata bahagia.
"MAUUUUU!!!" jawab keduanya berbarengan.
"Mau Raka, aku mau. Film apa?" tanya Disya tak sabar.
"Film romantis," jawab Raka pelan.
"Mauuuuuu, pokoknya ikut." Disya begitu antusias juga nabila.
"Ehem." Dev pura-pura berdehem.
"Kita ikut ya, kan tiketnya ada Empat," ucap Disya lebih ke permohonan agar Dev menyetujui keinginannya.
"Enggak," jawab Dev singkat.
"Pokoknya ikut! ya,ya,ya?" Disya terus memohon.
"Kekanak-kanakan."
"Biarin! lagian kita kan nggak pernah nonton selama menikah. Boleh ya, please?"
"Nggak usah kemana-mana, di rumah aja nontonnya.
Lagian kamu kan belum pulih banget."
"Pokoknya aku nggak mau!" rajuk Disya.
"Pokoknya kalau nggak boleh pergi, aku mau mogok makan setahun, titik."
"Astagaaaa, kekanak-kananakan!"
"Bodo'."
Suasana seketika hening setelah Disya berdebat dengan Dev.
Disya melipat tangannya di dada sembari manyun.
"Baiklah-baiklah, kamu menang nyonya Dev.
Jangan ngambek, nanti malam kita akan pergi." Seketika wajah Disya berubah bahagia setelah mendengar perkataan Dev.
"Yes!!" seru Nabila.
"Aku menyesal memanggilmu kesini Raka." Dev mendengus kesal.
"Maaf Pak."
"Terimakasih Pak Dev," ucap Disya dengan senyum termanisnya.
"Iyya-iyya, berhenti tersenyum seperti itu, aku takut lupa diri."
Nabila menutup mulut dengan kelima jarinya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Astaga,,,,aku rasa Pak Dev itu tipe yang lumayan agresif ya Sya?" bisik Nabila.
Tapi tak lama Nabila memekik pelan karena cubitan Disya.
****
Malamnya Dev dan Disya telah siap di dalam mobil Raka. Karena malas membawa mobil Dev meminta Raka yang membawa mobil.
__ADS_1
Setelah sampai, Raka memarkirkan mobilnya lalu menyusul Dev, Disya dan Nabila.
setelah sampai di loket, Raka menyerahkan tiketnya lalu mereka pun masuk kedalam bioskop yang sebentar lagi filmnya akan di putar.
Sepanjang film itu di putar, Disya begitu menghayati dan sesekali meneteskan air mata karena terbawa suana film yang sedang di putar. Dev hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya yang begitu menghayati film tersebut.
"Itu hanya film, kenapa sampai membuang air mata cuma-cuma, dasar wanita!" ledek Dev saat film telah selesai.
"Isss, itu yang buat filmnya pinter banget makanya bisa ngebuat yang nonton mengharu biru," balas Disya.
"Ck,ck,ck, dasar.
Mending sekarang kita cari makan, aku udah laper banget."
"Tunggu-tunggu," tahan Disya ketika melihat piyama tidur couple di sebuat toko yang mereka lewati saat hendak mencari makan.
"Bajunya lucu banget ya," ucap Disya sembari menarik tangan Dev dan membuatnya melihat piyama yang terpajang di manekin butik tersebut.
"Baju kayak gitu buat apa? kekanak-kanakan.
Kamu nggak nyuruh aku pakai baju bergambar kodok itu kan?
ihhh nggak banget."
"Ihhh itu kan lucu bangett, boleh ya,ya,ya?" rengek Disya.
"Nggak bakalan, udah cukup aku nurutin kamu buat nonton film yang nggak banget kayak tadi. Jangan minta hal-hal yang lebih aneh kayak sekarang, aku nggak bakalan kabulin."
"Ya udah bodo', aku mau pulang aja," ucap Disya lalu berjalan cepat meninggalkan Dev.
Nabila hanya cekikikan melihat Dev dan Disya berdebat, sedangkan Raka hanya tersenyum tipis melihat Nabila.
"Kamu kenapa Ka ngeliatin aku begitu?"
Kamu mau piyama itu juga?" tunjuk Raka pada piyama yang membuat Disya ngambek.
"Hahh, kamu nggak satu fikiran sama Disya kan yang suka sama piyama yang motifnya faforit keponakan aku," kekeh Nabila.
"Aku kira kamu suka," jawab Raka lesu.
"Ya nggak lah, masa iyya aku make piyama gambar keroppi gitu, nggak lucu banget."
"Disya! hey tunggu," teriak Dev dan berusaha mengejar Disya.
Disya tak memperdulikan panggilan Dev dan terus berjalan dengan mempercepat langkahnya.
"Astaga,,, wanita satu ini kenapa cepat sekali merajuk. Disya, hey tunggu dulu." Dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan akhirnya Dev berhasil meraih tangan Disya.
"Leppas ihhh, aku mau pulang!"
"Kamu kenapa sih? hobi banget ngambek?
nggak baik loh kebanyakan ngambek nanti jadi kodok mau?"
"Ha ha ha nggak lucu!" ucap Disya sembari bersedekap.
"Nyonya Dev sayang, jangan ngambek ya, suamimu yang super tampan ini minta maaf. ya ya ya?" Dev memasang wajahnya yang sok polos lalu mengedipkan sebelah matanya.
Disya tak mampu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum melihat tingkah Dev.
"Astagaaa, percaya diri sekali Pak Bosku yang satu ini."
"Minta di cium kayaknya ya."
__ADS_1
"Sini cium kalau berani," tantang Disya.
"Nantangin ya, aku nggak perduli loh walaupun ini tempat ramai."
"Dasar omes!!!"
"Biarin, sama istri sendiri kok, sah-sah aja."
"Kak Dev!!!!!" teriak seorang wanita yang seketika menghentikan candaan sepasang suami istri.
Dev menengok kearah samping dimana asal suara itu berada.
"Tania," ucap Dev pelan.
Wanita yang bernama Tania itu berlari dan langsung memeluk Dev.
Hampir saja Dev terjungkal kebelakang karena ketidak siapannya mendapatkan pelukan yang tiba-tiba.
"Kakak apa kabar? Tania kangen banget," oceh Tania yang masih terus memeluk Dev yang seperti tak ingin melepaskannya.
Disya mengernyit heran melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Geram bercampur kesal kini menguasai hatinya, namun Disya mencoba menguasai dirinya agar tidak bertindak bodoh seperti di film-film yang sering ditontonnya.
Disya melotot pada Dev dengan penuh pertanyaan, dan Dev tampaknya masih merasa bingung dengan situasi yang dialaminya sekarang.
"Kakak lihatlah di sana ada Ibu, Ibu pasti sangat bahagia melihat Kak Dev.
Ayuk Kak kita kesana lihat Ibu." Tanpa persetujuan Dev Tania membawa Dev menuju ke tempat Ibunya yang berada di lantai bawah.
Tanpa bisa menolak, Dev mengikuti keinginan Tania tanpa meminta persetujuan dari Disya terlebih dahulu.
Disya yang melihat Suaminya dibawa begitu saja dan tak bisa menolak membuatnya sangat kecewa.
"Hati-hati Sya, sepertinya bibit-bibit pelakor mulai tumbuh dan ingin mengganggu," bisik Nabila.
"Apaan sih, mungkin itu cuma teman aja.
Kita nggak boleh berburuk sangka," tegas Disya.
Seolah meyakinkan dalam hatinya jika semua yang di pikirkannya salah, meski tak bisa di pungkiri hatinya kini merasa tidak yakin jika wanita yang ada bersama suaminya hanya sebatas teman.
"Jadi wanita nggak boleh polos-polos banget Sya, mana ada teman biasa tapi meluknya erat gitu, udah kaya permen karet yang susah dilepas."
"Gini aja Deh, sekarang telfon Pak Dev ajakin pulang, kalau dia mau berarti dia emang cuma teman biasa tapi kalau nggak mau berarti kamu harus hati-hati Sya," tambah Nabila dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.
Tanpa pikir panjang Disya mulai menghubungi Dev karena hatinya mulai was-was mendengar perkataan Nabila.
Disya menghubungi berkali-kali tapi Dev tak juga menjawabnya, Disya mulai resah.
"Kita samperin aja Sya, kita bawa Pak Dev pulang gimana?"
"Jangan ah, kita tunggu setengah jam lagi kalau emang dia nggak nongol kita pulang aja nggak usah di tungguin," jawab Disya.
Setelah hampir Tiga puluh menit menunggu, Dev tak juga muncul dan juga tak membalas pesan Disya.
"Kita pulang aja, mungkin dia punya urusan penting sama cewek yang tadi!
Aku juga udah ngantuk banget." Disya berjalan lebih dulu dengan hati yang mulai berkecamuk.
Nabila dan Raka menyusulnya dari belakang.
Saat melewati tempat dimana Dev berada tak sedikitpun Disya menoleh, seolah tak ingin tahu apa saja yang dilakukan Dev bersama Tania dan Ibunya karena hati Disya benar-benar dilanda kesal dan kecewa.
__ADS_1