Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Kebenaran yang menyakitkan


__ADS_3

Wajah Disya nampak bermuram durja saat berada di dalam mobil.


Hari ini Dev dan Disya kembali ke jakarta setelah Lima hari Dev berada di tempat kelahiran Disya.


Suasana pagi saat Disya berpamitan pada keluarganya di warnai adegan-adegan dramatis. Disya yang sebenarnya masih rindu, masih enggan untuk berpisah dengan Ibunya tapi tak mungkin juga membiarkan Bos yang sekarang menjadi suaminya itu ke Jakarta sendirian, meskipun menyebalkan tapi tetap saja setelah menikah Disya merasa telah memiliki tanggung jawab sebagai istri.


Sepanjang perjalanan tak terjadi percakapan antara Dev dan Disya, hanya suara deru mobil dan irama musik yang terdengar.


Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam membuat Disya sesekali terlelap lalu terbangun lagi.


Dev pun sepertinya kembali menjadi manusia kutub yang seolah tak ingin perduli dengan sekelilingnya, berbeda saat berada di kampung Disya, senyum yang selalu terkembang dari bibirnya membuat Disya diam-diam mengaguminya.


Malam telah tiba, lampu-lampu di jalan telah menyala, begitu indah di pandang mata.


Dev menuju ke Apartemen miliknya, sebuah Apartemen mewah yang berada di kawasan elit Jakarta.


Setelah turun dari mobil, Dev menuju kamarnya yang berada di lantai Dua puluh.


Disya mengekorinya seperti anak kecil yang sedang ikut bersama ibunya, setelah pintu terbuka Dev hanya mengisyaratkan Disya untuk masuk.


Saat masuk Disya terpukau melihat isi di dalamnya, Apartemen yang memiliki Dua kamar, ruang tamu yang cukup luas dan begitu rapi serta dapur yang perabotannya bisa di bilang hampir lengkap.


Mata Disya menyusuri ruangan Satu per Satu, perasaan takjubnya mengalahkan rasa lelahnya setelah seharian naik mobil.


Apartemen itu memang Dev beli untuk di tinggali bersama Tiara setelah menikah, jadi tak heran jika isinya hampir lengkap dengan segala macam Furniture dan perabotan yang memang hampir semua pilihan Tiara.


"Istrirahatlah, itu kamarmu dan yang itu kamarku." Dev menunjukkan kamar Disya.


"Heii, kenapa malah bengong? istirahatlah


besok kita bicara lagi, aku sangat lelah." Setelah mengatakannya Dev berlalu dan meninggalkan Disya yang masih mematung.


Disya berjalan menuju kamarnya perlahan, entah mengapa sikap Dev menyisakan rasa sedih yang menjalari hatinya. Buru-buru Disya menepis perasaan aneh yang tak seharusnya hadir.


Setelah menaruh kopernya di depan lemari, Disya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


******

__ADS_1


Pagi itu Dev bangun lebih awal karena harus berangkat pagi-pagi karena pekerjaan penting sudah menunggunya. Kepergiannya yang hampir Satu Pekan membuat pekerjaan di kantor banyak yang tertunda, meskipun ada Raka yang mampu mengerjakan semuanya, tapi tetap saja ada beberapa berkas yang hanya bisa di tanda tangani oleh Dev.


"Aku pergi dulu, ada banyak kerjaan di kantor


mungkin aku pulang agak malam, kalau ada apa-apa kamu telfon aku aja." Setelah mengatakannya Dev pun berlalu.


Jam Sembilan malam Dev tiba di Apartemennya, setelah membersihkan diri


Dev menghampiri Disya di ruang tamu yang sedang menonton TV.


"Udah makan?" tanya Dev.


"Udah," jawab Disya singkat.


Setelah itu keadaan kembali hening beberapa saat.


"Bapak udah makan?" sekarang giliran Disya yang bertanya untuk memecahkan keheningan dan rasa canggung di antaranya.


"Belum." Dev menggelengkan kepala.


"Saya masakin mie pake telor mau?


"Boleh deh." Tanpa pikir panjang Dev mengiyakan tawaran Disya karena memang Dev sudah sangat lapar.


Setelah Lima belas menit Disya membawakan Dev mie ke ruang tamu, aromanya membuat perut Dev keroncongan dan tanpa pikir panjang lalu menyantapnya. Disya tersenyum melihat Dev begitu lahap, pertama kalinya Disya memasak masakan untuk suaminya setelah beberapa hari menikah, rasanya berbeda, ada kebahagian tersendiri yang menelusup ke dalam hatinya.


"Emmm, Bapak nggak mau ngejelasin tentang kita?" tanya Disya ragu-ragu saat melihat Dev telah selesai makan. Tak langsung menjawab, Dev terdiam sejenak lalu menarik nafas pelan.


"Saya minta maaf, tak seharusnya saya melakukan ketidak adilan terhadap kamu.


Harusnya saya tak menikahi kamu."


"Maksud Bapak?"


"Minggu depan mama mau meresmikan pertunangan saya dan Clara."


"Ya Allah Pak, jadi Bapak nikahin saya cuma buat ngelindungin Bapak dari Clara."

__ADS_1


Dev bungkam setelah mendengar perkataan Disya.


"Bapak nggak seharusnya ngelakuin ini, waktu Bapak bawa saya ke rumah Bapak itu udah menjadi guncangan hebat, apa lagi menggunakan pernikahan sebagai kebohongan, Bapak sadar nggak sih kalau yang Bapak lakukan ini bisa menyakiti hati banyak orang terutama orang tua kita."


"Saya tau, tapi saya nggak punya pilihan lain.


Lagi pula kamu nggak suka kan sama si Joko, harusnya kamu makasih karena saya udah nolongin kamu dari dia.


Anggap aja yang kita lakuin ini akan menguntungkan kita berdua."


"Setelah mama yakin akan pernikahan kita, aku akan memberikan apa pun yang kamu minta kecuali hati, karena hati saya tak mungkin bisa saya berikan. Saya janji setelah ini beres saya nggak akan mempersulit kamu, kamu bisa meninggalkan saya kapanpun kamu mau."


Egois sekali, setelah kemauannya tercapai dengan begitu mudahnya dia akan membuangku. Apa dia nggak mikir perasaan ibu dan Bapak gimana kalau tau semua ini cuma pernikahan palsu.


"Saya ngantuk Pak, saya mau tidur." Tanpa menggubris perkataan Dev, Disya pun pergi dengan hati yang berkecamuk.


"Dasar bodoh, kenapa juga aku harus nanya, harusnya aku sadar, dia nggak mungkin berbaik hati kalau nggak ada maunya, dasar penjahat." Disya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tapi tiba-tiba Ponselnya bergetar, segera ia singkap selimutnya lalu mengambil Ponselnya di atas meja.


"Pak tampan?" seketika jantung Disya berdenyut kencang kala melihat nama yang tertera di layar Ponselnya.


"Duhhh, ni orang ngirim pesan apaan sih, pengen baca tapi sebel sama orangnya, nggak di baca tapi penasaran."


Disya menghembuskan nafasnya pelan, lalu membukanya.


[ maaf untuk semua yang terjadi, saya harap kamu mengerti, saya nggak bisa memberikanmu cinta tapi saya janji saya akan memberikanmu yang terbaik ]


Setelah membaca itu tiba-tiba dada Disya bergemuruh, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja.


"Ihhh ini air mata kok tiba-tiba keluar sih, nggak lucu banget kan, masa iyya sedih gara-gara dia bilang nggak bisa ngasih cinta."


"Hellowww, siapa juga yang butuh cinta dari manusia kutub kayak dia, lagian dia bukan tipe aku juga kok.


Dia kira aku bakalan ngemis cinta gitu dari dia, nggak sudi." Disya terus menghapus air matanya yang seolah tak ingin berhenti.


Setelah berbicara sendiri dan mengeluarkan unek-uneknya Disya pun tertidur.


Sementara itu di kamar Dev, Dev merutuki perbuatannya menjadikan gadis sebaik Disya sebagai tameng agar ibunya tak memaksanya menikahi clara.

__ADS_1


"Tiara maafkan aku, aku terpaksa melakukannya, setelah semua aman aku akan menceraikannya, aku janji." Dev berbicara sambil memegang foto Tiara lalu terlelap dengan mendekap foto kekasihnya.


__ADS_2