
Disya yang sudah berada di dalam mobil hanya terdiam dan tak bicara sedikit pun.
Dev yang bingung karna melihat Disya yang hanya terdiam, dengan sisa keberanian yang ada
Dev mulai membuka suara.
"Maaf,,"
Disya tak bergeming, menengok pun tidak.
"Tadi itu cuma drama, biar Mama bisa percaya.
Jangan diem aja dong, ngomong kek, apa gitu
mukul juga nggak papa." Dev terus membujuk
terlihat dari wajahnya yang sangat merasa bersalah.
Duh kok jadi gini sih, kenapa jadi ada rasa takut
ngeliat dia diem begitu.
perasaan macam apa ini, dia kan bukan siapa siapa
dia cuma wanita sewaan, teman juga bukan.
"kalau kamu masih diem dan nggak mau bicara nanti aku kasih hukuman." Karna merasa putus asa, Dev mencoba mengancam.
Disya yang dari tadi tar bergerak, tiba tiba menengok
menatap Dev dengan tatapan membunuh.
ha ha ha si Disya bisa nyeremin juga ya, Author jadi takut.
"Heiii, iyya iyya maaf, jangan natap gitu ah serem tau,
ternyata kamu kalau marah serem juga."
Dev gelagapan karna tingkah Disya.
Tapi Disya tetap bungkam.
"Nyonya joko please jangan kayak gini dong,
ehh salah, nyonya Dev harusnya."
Dev mulai menggoda, dan godaannya berhasil membuat Disya membuka suara.
"Garing!!
nggak lucu tau nggak."
Disya melipat tangan lalu cemberut.
kenapa ada perasaan aneh pas dia bilang nyonya Dev
aduhh Disya, sadarlah sadarlah
dia itu cowok brengsek, nggak inget sama kejadian tadi.
main cium cium sembarangan aja, kan sebel jadinya.
Tapi suka sih,,ehh
mulai gila.
"Yahh,, kok diem lagi, nyonya Dev sayangggg."
Dev tersenyum sembari memasang wajah sepolos mungkin.
Aduhhhh, kok dia jadi manis gitu sih
ya tuhan, tolonggg
selamatkan aku dari wajah polos itu
bisa udahan ini mah ngambeknya.
"Gombal ah,, nggak lucu."
Akhirnya karna tak tahan, Disya membuka suara lagi.
"Biarin aja, gombalin pacar sendiri kan nggak di larang." Dev tertawa setelah dari tadi hanya kikuk
melihat tingkah Disya.
"Pacar apaan,, pacar sewaan??"
"Emang mau jadi pacar beneran??"
tanya Dev dengan nada nakal.
"Emm, ya nggak mau lah!!"
"Kenapa nggak mau??
Clara aja sampe nangis nangis loh, mau di pacarin sama saya."
"karna,,,,
ya karna Bapak kan cintanya sama Tiara
nggak mungkin kan pacaran sama orang yang cintanya sama wanita lain."
__ADS_1
Setelah berpikir keras akhirnya jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Disya.
Dev tiba tiba terdiam, jawaban Disya sukses menyadarkan hatinya yang hampir goyah.
"Pak kok diem,, maaf ya pak, saya nggak sengaja."
Disya memukul bibirnya pelan karna selalu saja asal bicara.
"Pasang sabuk pengamannya!!"
"Tapi pak,,"
"SEKARANG!!"
Disya yang mulai takut, akhirnya memasang sabuk pengamannya.
Tiba tiba Dev melajukan mobilnya dengan kencang
Membuat Disya semakin ketakutan.
Aduhh ya ampun, mukanya kok gitu banget
perasaan tadi manis, kok sekarang jadi kayak kulit duren, seremm
Disya Disya, punya mulut kok nggak bisa di kondisikan
Setelah lama melajukan mobilnya akhirnya Dev berhenti, lalu terdiam.
Disya yang dari tadi ketakutan, tak berani berbicara.
Dan akhirnya setelah setengah jam tak ada yang berbicara, Disya mencoba membuka suara, meskipun masih sedikit takut.
"Pak maaf, saya nggak bermaksud ngomong gitu tadi.
beneran deh pak, tadi itu khilaf." Disya memohon
lah kok jadi gantian sih marahnya
kesalahan dia kan lebih fatal, harusnya aku masih marah, kenapa sekarang dia juga marah
"Pak Dev, maafin dong ya ya ya??"
Pak Devano,,??
Dev tak bergeming, akhirnya Disya mengeluarkan jurus yang terakhir.
"Sayangggg, maaf ya??"
ucap Disya, selembut dan semanis mungkin.
(Author merinding bacanya)
"Turun sekarang!!"
waduhh, padahal udah di kasih jurus jitu,
kok masih marah.
Tolong woyyy, siapapun.
"Tapi pak, ini di mana??
jangan bilang Bapak mau ninggalin saya di sini
saya nggak tau ini di mana, saya juga nggak bawa duit pak.
Jangan kejam gitu dong pak, kejahatan Bapak lebih besar dari yang saya lakuin."
"Bapak emang tega ngeliat saya jalan kaki malem malem begini??"
Dev hanya diam, dan keluar dari mobilnya lalu memutar dan membuka pintu untuk Disya.
Melihat Dev membukakan pintu, Disya terlihat ingin menangis tapi di tahan, sesekali mengerjapkan matanya yang sudah mulai sedikit berair.
"Lah kenapa malah mau nangis??"
Tanya Dev, setelah Disya keluar dari mobil dan berdiri di hadapannya.
"Udah jangan nangis, ayuk kita makan es krim!"
Dev menarik pelan tangan Disya dan membawanya ke depan gerobak es krim.
Disya yang masih heran, melihat di sekeliling
ternyata Dev membawanya ke sebuah taman yang begitu indah.
"Kok kita ke sini pak??"
tanya Disya.
"Biasanya Tiara kalau lagi ngambek, saya bawa ke sini pasti langsung lompat lompat kesenengan."
Tiara lagi, Tiara lagi
kok lama lama denger namanya
jadi nggak nyaman ya
"Kamu suka makan es krim kan??
soalnya rata rata semua cewek pasti suka makan
es krim.
__ADS_1
"Saya nggak suka makan es krim pak, saya sukanya
makan es balok." Disya membrengut.
Sebenernya suka banget sama es krim
tapi karna tau Tiara juga suka es krim, nggak jadi deh
suka makan es krimnya.
Disya pokoknya nggak boleh tergoda sama es krim
okee!!
"Hahhh,, es balok??
kenapa es balok, lagian di sini mana ada es balok.
Di sini tempat buat makan es krim, bukan tempat ngebekuin ikan." Dev geleng geleng kepala karna celetukan Disya.
"Es baloknya buat ngebekuin hati saya yang lagi panas." Gerutu Disya pelan.
"Heh,, kamu bilang apa barusan??"
"Oh, anu, enggak kok nggak ngomong apa apa."
"Anu anu, emangnya kenapa hati kamu tiba tiba panas
hmm??" tanya Dev yang belum faham maksud perkataan Disya.
"Siapa yang bilang begitu, orang nggak bilang apa apa kok."
"Ya udah, ayuk kita pesen es krim sekarang!!"
"Nggak mau ah, orang di bilangin nggak suka sama
es krim, malah maksa."
"Ya udah kalau nggak mau, tapi jangan ngiler lo ya."
Dev lalu memesan semangkuk besar es krim beraneka rasa, lalu mulai menyantapnya.
Disya hanya melirik, dan menelan ludah
merasa menyesal karena mengatakan tidak suka es krim.
Tiba tiba Disya melihat grobak bakso, makanan yang sangat dia suka.
Perutnya mulai berbunyi minta diisi, Disya memang belum makan sejak tadi gara gara insiden di rumah Dev.
"Pak minta duit dong??"
ucap Disya malu malu.
"Buat apa??"
"Mau makan bakso, laperrr."
"Lah kenapa minta duit sama saya??"
Si Dev pura pura pikun.
"Isss, nggak bawa duit lo."
Disya kesal, tapi Dev belum juga bereaksi.
Akhirnya Disya mempunyai ide gila, lalu meninggalkan Dev dan menuju ke abang tukang Bakso.
"Bang tampan mau Bakso satu, tapi saya nggak punya uang bang, gimana dong??" Disya sedikit bertingkah genit.
Belum sempat tukang Bakso menjawab, tiba tiba Dev datang dan menarik tangan Disya.
"Baksonya dua bang, nanti anter ke meja yang di sana ya."
Lalu Dev membawa Disya ke meja sebelumnya.
"Dasar genit." Ucap Dev.
"Bodo,, siapa suruh pelit."
Disya melet.
"Nahh dia melet, kurang ajar banget."
Dev merasa sangat gemas dengan tingkah Disya.
Lalu Bakso pesananya datang, Disya sangat antusias karena memang sejak tadi sudah sangat lapar.
"Bang makasih ya, Abang tampan deh."
Disya senyum senyum sok imut sambil ngeliatin abangnya.
"Bang jangan di ladenin, dari kemaren dia sakit mata
takutnya abang ketularan." Dev lalu memberikan uang kepada abang Baksonya.
"Ihhh enak aja, sembarangan banget."
"Makanya jangan kegenitan."
ucap Dev sedikit kesal.
Disya Memonyongkan bibirnya lalu mengambil Bakso yang ada di depan Dev.
__ADS_1