
Satu minggu telah berlalu sejak kepulangan Disya ke rumah barunya. Hari-harinya lebih berwarna, sikap Dev begitu lembut dan perhatian. Tak ada lagi si manusia kutub, tak ada lagi Bos yang menyebalkan.
Kini yang ada adalah suami yang manja tapi sangat perhatian. Meskipun Dev belum menunaikan kewajibannya tapi Disya sangat bahagia dengan semua perlakuan Dev.
Pagi-pagi Disya telah bangun untuk menemani ibunya memasak di dapur. Setelah semua selesai, Disya menatanya di atas meja makan lalu naik ke atas untuk segera mandi dan berganti pakaian, karena hari ini adalah jadwanyalnya untuk Check Up.
Setelah selesai berganti pakaian, Disya membangukan Dev yang masih terlihat nyenyak.
Beberapa kali di bangunkan, Dev tak juga bangun.
"CUP"
Kecupan Disya berikan kepada Dev karena sangat gemas melihatnya tertidur pulas. Meski pun agak sedikit deg-degan, karena ini pertama kalinya Disya yang memulai mencium tanpa di minta. Tapi sebelum Disya menarik tubuhnya, tarikan tangan Dev membuat Disya memekik kaget.
"Aaaaaaa," pekik Disya, karena kini tubuhnya sukses mendarat di atas tubuh Dev. Dev yang dari tadi memang sudah bangun ternyata hanya pura-pura tidur.
Dan saat menyadari Disya telah menciumnya, Dev seketika menarik Disya sehingga Disya terjatuh tepat di atasnya.
"Astagaa, sekarang sudah mulai nakal ya?"
"Loh, nggak tidur ya ternyata. Sengaja ya mau ngerjain."
Disya mengerucutkan bibirnya.
"Sengaja, pengen liat kamu ngebangunin suami, ternyata pinter," puji Dev. Dan kini Disya hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah karena malu.
"Astaga,,,,,,,,betapa menggemaskannya kalo lagi merah-merah begini ini muka.
Sekarang cepat tanggung jawab."
"Maksudnya?"
"ini, masa sebelah doang yang di cium, nanti berat sebelah." Dev menunjukkan pipinya yang sebelah.
"Enggak! Udah lepas aku mau bangun."
"Coba aja kalau bisa lepasin sendiri, aku nggak akan ngelepasin begitu aja sebelum di kasih ciuman selamat pagi." Dev memeluk Pinggang Disya dan tak ingin melepaskannya, meski pun Disya telah berusaha sekuat tenaga, tapi tak berhasil karena nyatanya kekuatan Dev lebih besar.
"Lepasinnnn, mandi sana.
Hari ini mau nemenin Check Up kan?"
"Nggak mauuuu, pokoknya nggak boleh kemana-mana sebelum dapet Morning Kiss."
Karena tak punya pilihan lain akhirnya Disya menuruti keinginan Dev. Dengan wajah malu-malu Disya mulai mencium pipi kanan dan kiri.
"Udah, sekarang lepas ya,?" pinta Disya.
"Yahhh, itu doang, yang ini kan belum." Dev menunjuk bibirnya.
"Oh ya ampun, udah cukup, pergi mandi sana!" seru Disya
"Tidak semudah itu sayang." Dev kini berguling mengganti posisi, kini Disya berada di bawahnya.
"Astaga!!! mau apa?" Disya mulai gelagapan.
"Aku kan udah bilang, yang ini belum."
__ADS_1
Tanpa aba-aba kini Dev m*****t bibir Disya dengan mesra, tak memperdulikan tatapan protes dari mata Disya.
Setelah puas, Dev lalu kabur ke kamar mandi.
"Dasar menyebalkan," gerutu Disya.
"Tapi seneng kann," teriak Dev dari dalam kamar mandi.
Sementara Dev sedang mandi, Disya kini membereskan tempat tidurnya.
Saat tengah sibuk membereskan tempat tidur, Dev keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan rambut yang basah. Aroma samponya menguar memenuhi kamar, Disya pun menghirup aroma yang sangat menyegarkan itu, lalu menoleh ke arah Dev, tapi dengan cepat Disya membuang muka karena merasa malu.
Melihat kegugupan Disya, membuat Dev selalu ingin menggodanya. Kini Dev berjalan ke arah Disya dengan sesekali menyugar rambutnya yang basah.
Dev yang kini semakin mendekat, membuat Disya semakin dag dig dug. Meskipun akhir-akhir ini keintiman sudah sering terjadi, tapi tetap saja jika Dev ada di dekatnya, Disya masih belum bisa mengontrol debaran jantungnya yang hampir menggila.
Dan saat Dev kini hanya berjarak sejengkal dari tubuhnya, Disya merasa semakin gugup.
Dev menyondongkan tubuhnya ke arah Disya dan membuat tubuh Disya bergerak ke belakang.
Disya memejamkan mata saat wajah Dev hanya berjarak beberapa centi saja.
apa tadi dia belum puas.
batin Disya
"Kenapa memejamkan mata?
ingin di cium lagi ya?
yang tadi masih kurang?" goda Dev dengan senyum nakalnya.
Tapi lagi-lagi Dev menarik tangannya dan memeluknya dari belakang lalu dagunya kini telah berada pada bahu Disya.
"Sepertinya Nyonya Dev sedang kesal.
Ada apa, hemm?"
Disya hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Dev.
Masih merasa sangat kesal karena kejadian barusan.
"Kau tau,, aku sangat suka menggodamu.
Akhir-akhir ini rasanya aku ingin selalu memelukmu, tak ingin melepaskannya.
Aku merasa sangat nyaman jika sedang memelukmu."
"Tetaplah berada di sisiku, apa pun yang terjadi.
Aku tidak ingin terluka untuk yang kedua kalinya." Suara Dev parau.
Disya membalikkan tubuhnya, menatap manik coklat milik suaminya. Terlihat ketulusan di sana, Disya tak menemukan kebohongan di bola mata indah itu.
Kini Disyalah yang memeluk Dev, memeluknya dengan sangat erat.
"Aku pun tidak ingin kehilanganmu, Pak Zombiku, Bayi Sapiku. Bagiku kau adalah segalanya." Keduanya hanyut di dalam pelukan, seolah tak pernah bosan meski sudah sering melakukannya
__ADS_1
"Apakah itu julukanku dulu?" tanya Dev.
"Hmmm." Disya mengangguk.
Dev melerai pelukannya, dan menatap Disya sembari mengerutkan keningnya.
"Benarkah?"
"Iyya,,,Dulu Bap,,,,,ehh salah.
Maksudnya, Suamiku ini sangat sombong, dingin, angkuh, suka semau-maunya,benar-benar sangat menyebalkan."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang persis Bayi besar yang manja, sangat manja."
"Aku hanya manja kepadamu tau!
Aku pun tak tau kenapa aku sekarang bisa semanja ini."
Dev menggesekkan hidungnya yang mancung di atas hidung Disya.
"Kak Disyaaaa, sarapannya nanti keburu dingin, kata Ibu," teriak Andira dari luar.
"Iyya Ra, bentar lagi."
"Cepat pakai baju, Kasian Ibu udah nungguin."
Dev segera memakai baju dan turun bersama Disya untuk sarapan.
*******
Setelah beberapa saat Disya di periksa, Dokter meminta Dev dan Disya untuk duduk pada kursi yang bersebrangan dengan Dokter keluarga Dev.
"Kondisinya semakin membaik ya pak, jadi tak ada lagi yang perlu di khwatirkan. Cuma belum boleh beraktifitas yang berat," ucap Dokter.
Dev bernafas dengan lega, sedangkan Disya hanya menyimak apa yang di jelaskan oleh Dokter.
"Dok, apa sudah bisa tidur bersama?" tanya Dev.
"Ohh itu, aman Pak." Dokter itu tersenyum seolah mengerti apa yang di maksud Dev.
Disya melongo, tak mengerti apa yang di bicarakan Dokter dan Suaminya.
"Bersiap-siaplah, aku ingin punya Bayi kecil," ucap Dev setelah selesai menebus Obat di Apotik.
"Hah, maksudnya?"
"Maksudnyaaaaa kau harus memberiku Bayi kecil, agar Bayi besarmu ini tak lagi manja, paham!"
"Enggak." Disya menggeleng-gelengkan kepala, masih belum paham.
"Astagaaa, baiklah ayuk kita pulang.
Nanti di kamar aku jelasin, sekalian kita peraktek, oke."
Dev mengedipkan sebelah matanya lalu membukakan pintu untuk Disya.
__ADS_1
Setelah Disya masuk, Dev pun masuk dan duduk di samping Disya.
Mobil melaju perlahan meninggalkan Area Rumah sakit. Sesekali Dev bernyanyi-nyanyi kecil, tampak sangat bahagia.