
Pagi hari seperti biasa Disya bangun untuk menyiapkan sarapan untuk Dev. Tapi sebelum bangun Disya tiba-tiba melihat ke arah ponsel Dev yang terus bergetar, karena penasaran Disya meraih ponsel tersebut dan membukanya.
Sepuluh panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan dari Tania.
(Selamat pagi kak Dev)
(Kak Dev mobil aku mogok)
(Boleh berangkat bareng nggak)
(Nanti setengah tujuh aku tunggu di depan rumah ya kak)
Astaga,,,,,,,dia ini manusia atau hantu sih?
terus saja mengganggu orang.
Ini baru jam Lima pagi loh ya, tapi apa dia sengaja bangun sepagi ini untuk mengganggu suami orang?
Dasar menyebalkan!!!!!!
Disya lalu menghapus semua riwayat panggilan dan chat dari Tania lalu mematikan ponsel Dev.
Nah sekarang telfon saja sepuas hati sampai ponselmu meledak Tania, tak akan ada yang memperdulikanmu.
Disya lalu bergegas turun dari pembaringan untuk segera mandi dan membuat sarapan.
Setelah beberapa saat berkutat di depan dapur, kini Disya telah selesai menyiapkan sarapannya di atas meja.
"Pagi sayang," sapa Dev yang kini telah rapi dengan setelan baju kerjanya, lalu mencium pipi sang istri.
"Pagi juga," balas Disya singkat.
"Loh kok cuma pagi juga?" tanya Dev.
"lah terus?"
"Sayangnya mana?" goda Dev dengan mengerling nakal.
"Astaga....." Disya menepuk jidatnya sendiri.
"Pagi juga sayangkuuuu," ucap Disya dengan semyum semanis mungkin.
"Wahhhhhh, cantiknya."
"Terimakasih, nggak ada uang receh.
Sekarang makan dulu ya, gombalnya nanti aja."
Dev dan Disya pun sarapan dengan suasana bahagia.
"Nanti siang mau masak apa?" tanya Dev di sela-sela sarapannya.
"Emmm apa ya? belum kepikiran sih.
Emang kenapa?"
"Nggak pa-pa nanya aja. Nanti siang ke kantor aja ya, bawain makan siang, kita makan bareng soalnya kerjaan aku lagi banyak nggak sempet pulang."
"Oke, nanti siang aku kesana bawa makanan yang saaaaaangat spesial."
"Wowww, aku jadi penasaran. Jadi nggak sabar nunggu nanti siang," ucap Dev sembari tersenyum lalu melanjutkan sarapannya.
"Aku berangkat dulu ya sayang, jangan capek-capek. Kalau nggak sempet masak nanti pesan aja yang penting kita makan bareng," ucap Dev setelah mencium kening Disya.
__ADS_1
"Aku nggak capek kok, aku malah seneng bisa masak buat suami tercinta."
"Uwuwww, beruntung banget yang jadi suami kamu. Ya udah aku berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah ya. Nanti kita ketemu di kantor."
"Iyya sayanggg."
Dev lalu masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan rumahnya.
Setelah melambaikan tangannnya, mobilnya pun melaju perlahan lalu menghilang dari pandangan Disya.
Disya masuk ke dalam rumah untuk membereskan sisa sarapan dan membawanya ke wastafel lalu mencucinya.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Disya rehat sejenak. Duduk sembari menonton TV.
Pukul sepuluh Disya mulai melihat-lihat isi kulkas untuk menentukan akan memasak apa untuk makan siang bersama Dev.
Satu persatu isi kulkas mulai di keluarkan Disya lalu mengeksekusinya.
Disya memasak ikan bakar bumbu, sayur sop juga perkedel kentang. Masakan spesial untuk suami spesial.
Setelah masakannya selesai Disya mulai memasukkannya ke dalam rantang untuk di bawa ke kantor.
Disya pun berangkat menggunakan taxi online agar lebih nyaman sampai di kantor.
Jalanan yang di padati oleh kendaraan membuat perjalanannya sedikit terhambat.
Bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan terasa sangat bising dan membuat Disya bersandar di kursi penumpang. Sesekali Disya bermain ponsel untuk membunuh kebosanan.
Setelah melalui perjalanan yang cukup membosankan, akhirnya Disya sampai di depan kantor dan bergegas turun dari taxi setelah membayarnya.
"Pak Dev ada?" tanya Disya pada seorang wanita yang tengah duduk de meja kerjanya.
"Ada Bu, tapi masih rapat bersama klien.
"Baik, saya akan ke ruangannya saja kalau begitu."
"Baik Bu silahkan, atau perlu saya antar?"
"Oh nggak usah, terimakasih saya bisa sendiri," jawab Disya tak kalah ramah.
Menginjakkan kaki kembali di perusahaan keluarga Dev membuat Disya teringat masa-masa saat Disya masih bekerja pada perusahaan ini dan bagaimana pertemuannya dengan Dev untuk pertama kalinya.
Disya tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri mengingat kejadian memalukan tersebut.
Setelah memasuki lift dan tak membutuhkan waktu lama, Disya pun sampai di lantai atas, di tempat ruangan Dev berada.
Disya memasuki ruangan Dev dan menaruh makanan yang di bawanya di atas meja.
Sembari menunggu Dev datang, Disya duduk dan merebahkan punggungnya pada sandaran sofa di dalam ruangan Dev.
Srkitar satu jam berlalu, Dev telah selesai dengan rapatnya dan langsung menuju ruangannya. Dengan perasaan tak sabar Dev membuka pintu ruangannya dan mendapati Disya yang telah terlelap di atas sofa.
Dev tersenyum melihat Disya yang terlelap di atas sofa karena menunggunya.
"Disya datang Pak?" tanya Raka.
"Iyya bawa makan siang, kita makan bareng aja yuk, kamu juga belum makan siang kan?"
"Eh nggak usah Pak, saya nggak mau jadi orang ketiga di ruangan Bapak. Saya mggak mungkin mengganggu momen romantis Bapak sama Disya."
"Makanya buruan nikah juga Raka, biar ada yang bawain makan siang juga. Betah banget jomblo."
"Aisss Bapak, maunya juga sih gitu tapi belum ada yang mau Pak."
__ADS_1
"Halalin tuh Nabila biar gak keburu di samber orang"
"Siap Pak, di usahain. Kalau gitu saya cari makan siang dulu Pak."
"Baiklah hati-hati."
Raka pun meninggalkan ruangan Dev untuk makan siang.
Dev pun masuk ke dalam ruangannya dan mendekati Disya yang tengah tertidur pulas.
Dev melepas jasnya lalu menyelimuti Disya.
Tak lama Disya menggeliat setelah di pakaikan selimut. Perlahan matanya terbuka dan melihat Dev tengah memandanginya dengan tangan bertumpu pada sebelah pipinya.
"Udah dari tadi ya?" tanya Disya. Dev menggeleng.
"Kenapa nggak bangunin? pasti udah laper banget?" Disya segera bangkit dan melihat jam pada ponselnya.
"Ya ampun ini udah mau jam Dua, pasti udah laper banget."
"Ngeliat kamu udah bikin kenyang kok."
"Hisss gombal nggak bikin kenyang tau!"
"Ehhh bener kok, seriusan sayang."
"Tapi aku yang laper." Disya mengelus perutnya.
"Ya udah ayuk kita makan bareng, terus tidur bareng."
"Ihhh penyakit mesumnya kumat."
"Udah dari lahir, nggak bisa di ilangin," kekeh Dev.
"Ya udah aku cuci muka dulu terus kita makan bareng." Disya segera bangkit menuju toilet untuk mencuci muka.
Setelah dirasa cukup, Disya keluar lalu menyiapkan makanan di atas meja Dev.
Mata Dev berbinar bahagia melihat makanan yang tersaji di atas meja.
Tanpa pikir panjang Dev lalu menyantapnya dengan sangat lahap seperti orang yang tak makan selama seratus tahun. Authornya alay.
******
"Bisa nggak jangan terima telfon dulu kalau lagi makan," ucap Disya kesal karena Disaat sarapan Dev menerima telfon dari Tania.
Akhir-akhir ini Disya sangat kesal karena Dev yang keseringan menerima telfon dari Tania.
Meskipun hanya sekedar basa basi tapi tetap saja membuat Disya cukup kesal.
"Iyya sayangggg, nggak enak klo nggak di angkat."
Lalu keduanya melanjutkan sarapan dalam keheningan. Setelah selesai dan baru saja hendak membereskan meja makan tiba-tiba ponsel Dev kembali bergetar.
Saat Disya meliriknya ternyata nama Tania lagi yang muncul, membuat Disya mengepalkan kedua tangannya.
"Sayangggg tolong ambilin ponsel aku di atas meja makan," teriak Dev.
Disya lalu membawanya ke hadapan Dev, saat Dev melihat kedatangan Disya, Dev mengernyit heran karena Disya membawa mangkuk sayur sarapan mereka tadi.
"Aku minta ponsel sayang, bukannya sayur sop." Disya tak menjawab hanya langsung meletakkan mangkuk sayurnya di hadapan Dev
"Ya ampunnn," pekik Dev saat melihat mangkuk sayurnya.
__ADS_1
Dev hanya terbengong melihat ponselnya tenggelam dengan sempurna di dalam sayur.