
"Disya tunggu!" Dev memegang pergelangan tangan Disya ketika hendak membuka pintu Mobil.
Disya mencoba melepaskan pegangan tangan Dev, tapi tak berhasil, tangan Dev terlalu kuat untuk tenaga Disya yang tak seberapa.
"Jangan kekanak-kanakan! ini udah malam, di sini juga nggak bakal ada kendaraan kalau udsh jam segini. "
"Lepas!!!!
Saya mau turun di sini, nggak usah sok peduli." Disya terus terisak, tak peduli dengan perkataan Dev.
Di saat pegangan Dev sedikit melemah, Disya segera melepaskan tangannya dan dengan cepat keluar dari dalam Mobil.
Dev pun turun dari mobil untuk mengejar Disya yang berjalan dengan cepat di depan.
"Tunggu dulu!
kamu kenapa sih?"
"Saya wanita murahan yang nggak tau diri.
Harusnya kita nggak pernah menikah, harusnya kita nggak pernah mengenal, harusnya saya nggak pernah jatuh cinta." Disya terus berlari menghindari Dev, dan Dev terus berusaha mengejarnya.
"Disya, awass!!!!!!!"
"BRAKKKKKK."
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi membuat Disya terlempar sejauh Lima meter.
Dev yang menyaksikannya tiba-tiba berhenti dan mematung, kakinya seolah tak menapak pada pijakannya.
"DISYAAAAAA!" Dev berlari sekuat tenaga, tak terasa air matanya terjatuh ketika melihat Disya tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.
"Buka matamu Disya, aku mohon!
Maafkan karena aku menyakiti hatimu, maaf karena kesal, bibirku menyakitimu. Aku tidak bisa menahan emosiku, karena aku,,,aku cemburu.
Aku mohon buka matamu Disya, aku mohon.
Jangan memberiku hukuman seperti ini, aku takkan sanggup menanggungnya, aku mohon buka matamu."
Dev merengkuh tubuh Disya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Dev merasa sangat takut, takut jika harus mengalami peristiwa bertahun-tahun lalu, di mana dia merasa mati saat di tinggal oleh seseorang yang begitu ia sayangi.
******
Berulang kali Dev mondar mandir di depan ruangan ICU, ruangan di mana Disya sedang di tangani.
Waktu terasa begitu lama, Dev merasa sangat frustasi menanti kabar dari Dokter yang menangani Disya.
Terkadang Dev duduk sembari menautkan kedua tangan lalu meremasnya. Perasaannya campur aduk, tak mampu berfikir karena hatinya mulai di hantui akan kehilangan untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Malam ini Dev baru menyadari betapa berartinya Disya di hatinya, malam ini juga lah Dev merasa sangat yakin akan perasaannya. Perasaan yang selama ini selalu menyiksanya, perasaan yang tak mampu ia ungkapkan tapi perlakuannya seolah mewakilkan perasaannya.
Perlakuan kasar dan sifat menyebalkannya lah yang ia tunjjukkan. Takut menafsirkan jika perasaannya hanya pelarian belaka, membuat Dev tak mampu menyadari jika sosok Disya perlahan-lahan mampu mengisi hatinya yang hanya di penuhi oleh Tiara, dan kini hampir sepenuhnya mengganti Tiara di hati seorang Devano.
"Pak Devano!" Dokter telah keluar dari ruang ICU dan menghampiri Dev.
"Iyya Dokter, bagai mana keadaan istri saya?" tanya Dev dengan suara bergetar.
"Banyak-banyak berdoa Pak, keadaannya kritis, jika malam ini istri anda mampu melewati masa kritisya, maka istri anda akan baik-baik saja. Tapi jika tidak, kami semua minta maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Pernyataan Dokter itu membuat tubuh Dev seketika luruh ke lantai, tak kuasa menahan tangisnya.
Dengan cepat Dev masuk ke ruangan Disya, melihat Disya yang terbaring kritis membuat hati Dev serasa di sayat ribuan belati. Dev duduk dengan memegang tangan Disya, menatapnya lekat-lekat.
"Jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon," ucap Dev di sela-sela tangisnya.
"Jangan pernah pergi, seperti dia yang tak pernah lagi akan kembali.
Aku pernah terpuruk sekali, jika kali ini kau juga meninggalkanku, maka aku akan benar-benar mati."
"Aku mohon, kembalilah untukku.
Aku,,,,,sangat mencintai mu Disya, istriku."
"Kembalilah ke sisi ku, aku berjanji akan memberikan semua hak mu sebagai istri ku, aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu." Dev terus menggenggam tangan Disya dan terus menciumnya.
"Kau tau,,, aku memang Pria bodoh, aku bahkan tidak bisa menyadari tentang perasaan ku sendiri, ego ku terlalu besar untuk mengakui kalau aku sangatlah mencintai mu.
Entah kapan perasaan cinta itu hadir, aku pun sampai lupa. Aku sangat suka membuat mu kesal, aku bahkan mengikuti mu berlibur ke puncak karena aku tak bisa jika tidak melihat mu sehari saja."
"Apa kau tau, aku bahkan menyusul mu ke kampung dan membatalkan pernikahan mu dengan si Joko. Itu adalah hal paling gila yang pernah aku lakukan. Perjalanan ke kampung mu saja sudah sangat menyebalkan, apa lagi menghadapi tua bangka korup dan mata duitan seperti Bapaknya si Joko.
Jika saja kau melihat ekpresi si Joko waktu Bapaknya setuju untuk membatalkan pernikahannya, aku yakin kamu pasti tertawa melihat si Joko meraung-raung tidak ingin pernikahannya di batalkan." Dev tertawa dalam tangisnya, bercerita kepada Disya seolah Disya tengah mendengarkannya.
"Ya,,,aku memang gila, demi dirimu aku bahkan melakukan hal hal yang dulu tak pernah aku lakukan.
Aku pun tak mengerti sejak aku mengenal mu, aku berubah menjadi bukan diriku.
Aku mencintai mu, aku mencintai mu, aku sangat mencintai mu, aku mohon jangan tinggalkan aku." Dev merebahkan kepalanya di samping lengan Disya sembari memeluknya erat.
Dev tertidur setelah lelah menangis, dan tak menyadari saat Dokter telah datang untuk memeriksa keadaan Disya.
"Selamat ya Pak, sekarang anda sudah bisa bernafas lega karena istri anda sudah melewati masa kritisnya." Wajah Dev berbinar bahagia mendengar perkataan Dokter.
Di belainya wajah sang istri dan mencium keningnya.
Perasaan bahagia begitu membuncah di dadanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena telah berjuang untukku."
Tak henti-hentinya Dev menciumi pipi Disya.
Setelah beberapa jam akhirnya Disya sadar dan perlahan-lahan membuka matanya. Bibirnya tersenyum saat melihat Dua orang yang kini berada di hadapannya. Meskipun senyumnya tidak sempurna, tapi binar matanya jelas terlihat jika Disya sangat bahagia.
__ADS_1
"Ibu, Andira!" lirih suara Disya, karena masih lemah.
"Nggak usah bangun sayang, kamu masih lemah.
Tiduran aja, kamu harus banyak istirahat biar cepet pulih."
..."Disya kok bisa ada di sini Bu?" Disya melihat ke sekelilingnya, merasa heran kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit....
"Kamu nggak usah banyak berfikir nak, kamu baru aja pulih," ucap Ibu Disya, tatapannya sendu melihat putrinya yang masih lemah.
"Ibu kapan datang?" tanya Disya, tapi matanya seolah mencari-cari seseorang.
"Satu jam yang lalu nak, saat kamu masih tertidur.
Kamu cari siapa? Ibu di sini, tapi mata mu kok kemana-mana."
"Ya cari Suami tercinta lah Bu, siapa lagi?" Timpal Andira.
Di iringi tawanya yang meledek.
"Dev, Ibu suruh pulang ganti baju Nak, wajahnya lesu banget, Matanya bengkak gitu. Ibu kasian banget liatnya."
"Ya jelas bengkak Bu, orang semaleman nangis di sini kata suster," ujar Andira.
Benarkah dia menangis untukku, apakah mimpiku semalam itu nyata. aku mendengar Pak Dev menyatakan cintanya. tidak,,,tidak, itu tidak mungkin, itu pasti cuma keinginan ku yang menjadi mimpi.
Dev sangat tergesa-gesa saat berjalan menuju ruang rawat Disya. Dengan beberapa plastik makanan yang ia bawa untuk mertua dan adik iparnya, Dev melangkah tidak sabar mengetahui istrinya telah baik-baik saja.
Disya tengah di suapi oleh Ibunya ketika Dev tiba di ruangannya. Ruang VVIP yang di pesan Dev, agar Disya merasa nyaman dan tidak terganggu oleh pasien lain, dan juga agar Dev leluasa saat menemaninya.
"Baru Dua suap Nak, kok udah nggak mau.
Makan yang banyak ya, biar cepet sembuh." Ibu Disya terus membujuk anaknya yang sedang tak berselera makan.
"Biar aku yang suapin Bu, Ibu sama Andira makan aja dulu, ni udah Dev beliin tadi di luar." Dev menerima mangkuk bubur dari mertuanya lalu menatap Disya yang masih lemah.
"Abisin buburnya ya, biar cepet sembuh!"
"Nggak mau, udah kenyang."
"Atau mau makan yang lain, nanti aku beliin."
"Nggak usah sok perduli, saya nggak papa kok."
Dev menghela nafas melihat tingkah istrinya, tapi Dev sangat maklum karena Dev merasa dia memang bersalah.
"Maaf." Dev menunduk dengan rasa bersalah yang sangat besar.
"Saya lelah, saya mau istirahat.
Bapak pulang aja di sini ada Ibu kok." Disya merebahkan tubuhnya dan membelakangi Dev.
__ADS_1
"Istirahat lah, jangan lupa makan banyak biar cepet sembuh." Dev mengusap lembut kepala Disya, lalu pamit pada mertua dan adik iparnya.