
Pukul Sebelas lebih Tiga puluh, Disya merasa sangat bosan di rumah, karena tidak tau harus melakukan apa, iseng-iseng Disya mengirim pesan untuk Dev.
[Pak Dev jangan lupa makan siang]
Beberapa menit kemudian Ponsel Disya bergetar, Disya tersenyum karena Dev membalas pesannya.
[Siang-siang ada yang minta di cium nih kayaknya]
[Hahh?] balas Disya, dengan emot tengah berfikir.
[Bilang aja kalau kangen minta di cium] balas Dev.
[Ihhhh PD bangettttt]
[Emang bener kan, ya kan, ya kan?]
[Nggak]
[hayo ngaku hayo ngaku] ledek Dev.
Raka yang memperhatikan Dev senyum-senyum sendiri mengernyit heran.
"Anda baik-baik saja Pak?" tanya Raka.
"Tentu saja Raka, aku bahkan sangat baik."
Raka dan Dev sedang rapat, tapi Saat Dev membuka ponselnya, Dev tak lagi memperhatikan materi rapatnya.
hanya sibuk berbalas pesan sembari senyum-senyum sendiri.
Sepertinya Bosku sudah mulai gila.
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Makanya jangan jadi jomblo terus Raka!
Menikahlah, maka kamu juga akan bertingkah sepertiku," ucap Dev ketika keluar bersama Raka dari ruang meeting.
Setelah sampai di ruangannya, Dev mengecek Ponselnya karena sedari tadi Disya belum membalas pesannya.
[Kemana dia]
[halooooo]
[Sayangggg]
[Kok nggak bales sih]
[Nyonya Dev]
[kalau nggak bales juga, aku pulang nih]
[aku kasih hukuman seberat-beratnya]
Disya belum juga membalas pesannya. Dev kini uring-uringan di buat Disya.
Dev terus memandangi riwayat chatnya yang masih bercentang dua berwarna abu-abu.
Astaga!!! secinta itu kah aku denganmu nyonya Dev.
menunggu pesanmu saja sudah hampir membuatku gila.
Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Dev.
Ting....
Dev cepat cepat membukanya.
[Iyya Pak Dev sayang,,, tadi aku dari toilet] balas Disya.
[Udah makan] balas Dev lagi.
[Belum]
[Ya udah siap-siap, Lima belas menit lagi aku jemput]
[Mau kemana]
__ADS_1
[Surga dunia]
Disya membulatkan matanya ketika membaca pesan terakhir Dev.
"Dasar mesumm!" Disya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sejak menikah dengan Dev, Disya baru menyadari bahwa mantan Bosnya itu ternyata lumayan mesum.
Disya cengar-cengir sendiri lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
Setelah Lima belas menit, Dev akhirnya datang.
Disya yang baru saja keluar Rumah lekas menuju ke Mobil Dev yang juga baru datang.
Dev keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Disya, Disya tersenyum bahagia karena mendapat perlakuan seperti tuan putri.
"Kita mau kemana?" tanya Disya, setelah Dev duduk di sampingnya.
"Mau bulan madu," goda Dev.
"Apaan sih nggak lucu tauuu," sungut Disya.
lalu mencubit pinggang Dev.
"Iyya-iyya ampun! tega banget sih sama suaminya.
Lagian mana mungkin ngajak kamu bulan madu kalau tamunya aja belum pergi.
Aku mau ngajak kamu makan siang. Aku laper tapi males makan sendiri, kebetulan aku juga lagi kangen sama kamu, makanya aku ngajak kamu sekalian," terang Dev.
Lagi-lagi membuat Disya tersenyum.
"Bukannya ada Raka?"
"Ihh masa sama Raka, udah kayak terong sama terong, nggak seru. Lagian aku kan punya Istri, mending ngajak istri lah dari pada terong."
"Apaan kali." Disya tertawa terbahak di buat Dev.
"Mau makan apa?" tanya Dev saat kembali fokus menyetir.
"Apa aja, aku nggak rewel kok kalau soal makanan." jawab Disya.
"Iya, aku juga suka. Duh jadi laper nih," ucap Disya sembari memegang perutnya.
Tak lama Mobil Dev telah sampai di depan sebuah Restauran seafood.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dev dan Disya masuk ke dalam dan duduk pada tempat yang telah tersedia.
Dev memesan beberapa menu kesukaannya.
kepiting, cumi, kerang, udang yang di beri bumbu saus padang.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanannya datang.
Satu porsi besar seafood dan Dua es kelapa muda.
Dev dan Disya memakannya dengan lahap.
Sesekali Dev membantu Disya memisahkan daging dari cangkang kepiting, lalu menyuapinya.
Awalnya Disya enggan, tapi karena Dev terus memaksa akhirnya Disya menyerah dan menerima suapan dari Dev.
Tanpa mereka sadari Dua pasang mata mengawasi mereka sejak tadi.
"Disya, Pak Dev!" seru Nabila, yang kini telah berada di samping meja tempat Disya makan.
"Kalian makan berdua, suap-suapan.
Astaga Disya, apa kamu selingkuh?" Nabila sampai menutup mulutnya.
"Nabila apaan sih, berisik tau.
lagian siapa juga yang selingkuh, aku cu,,,,,"
"Kalau kamu nggak selingkuh, yang tadi itu apa?
Oh eM eL, jangan bilang kalau kalau kamu itu nikahnya sama Pak Dev, bukan sama Joko," jerit Nabila, karena tak kuasa menahan rasa gembiranya.
__ADS_1
Disya lalu bangkit dan membungkam mulut Nabila dengan tangannya, karena semua pengunjung restauran kini melihat ke arah mereka dengan pandangan risih.
"Nabila kebiasaan Deh, mulutnya nggak bisa di rem." omel Disya.
"Maaf Sya, aku kelepasan."
"Nabila, kamu ke sini sama Raka?"
"He he he iyya."
"Ngapain?"
"Nenek-Nenek pakai sepatu roda juga tau, kalau orang ke sini tu pasti mau makan, gimana sih.?"
"Ya tauuu, tapi kamu kan udah punya pacar, kenapa kesini berdua-duaan aja?
Kalau pacar kamu sampai tau kamu makan siang berdua sama cowok, pasti dia marah."
"Udah putus, ngapain marah."
"Hahhh? secepat itu?"
"Udah ah Sya jangan di bahas, bikin sakit gigi aja, sebbel," sungut Nabila.
"Ehmmm, jam makan siang udah abis," sahut Dev, yang kesal karena istrinya hampir saja melupakannya.
"Eh, oh, maaf Pak!
Kalau gitu saya permisi pak." Nabila memberi kode kepada Raka untuk segera balik ke kantor.
"Disya kamu berhutang banyak penjelasan sama aku," bisik Nabila, lalu pergi bersama Raka.
Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, merasa sangat malu karena kepergok bersama Nabila.
Setelah kepergian Nabila, Disya melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.
"Ada lagi yang mau di beli nggak?" tanya Dev saat mereka selesai makan siang.
"Nggak ada."
"Ya udah habis ini aku anter pulang, soalnya aku masih banyak kerjaan."
"Iyya oke."
"Atau mau ikut ke kantor? tapi mungkin aku rapatnya agak lama."
"Aku pulang aja, aku nggak mau ganggu kamu.
Takutnya kalau aku ikut, nanti kamu kepikiran,
terus nggak konsen kerja." Sebenarnya Disya ingin ikut, tapi takut mengganggu.
Dev lalu mengantar Disya kembali ke Rumah.
"Baiklah sayangku, terima kasih karena udah nemenin makan siang hari ini," ucap Dev saat mobilnya sudah berhenti di depan Rumah.
"Iyya sama-sama." Saat Disya hendak turun, Dev menarik tangan Disya lalu mengecup bibirnya singkat.
"Baik-baik ya di Rumah, jangan nakal." Dev mengerling nakal.
"Oh ya ampun, Bos mesumku," pekik Disya.
"Aku pergi dulu, dah sayangggg." Dev melambai, sebelum akhirnya mobilnya menghilang dari pandangan Disya.
*
*
*
*
*
Bab ini memang nggak jelas, karna othornya pusing jadi nulis seadanya aja.
maafkan othor yang kurang ahlak ini.
__ADS_1
othor cyg kaleannn. muach, muach muach.
Kaburrrrrrrrr.