Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Bukan istri


__ADS_3

Disya yang mendengar suara motor yang terseret


lalu menengok.


"Itu seperti motor pak Dev, aku akan memastikannya."


gumam Disya.


lalu Disya mendekati orang yg sedang tergeletak itu


dan membuka helmnya.


"Pak Dev,!!!"


teriak Disya histeris.


"Pak Dev, bapak kenapa??


sadarlah pak aku mohon." Disya menangis histeris


lalu Disya membawa Dev ke rumah sakit.


sesampainya di rumah sakit, Dokter langsung menangani Dev.


Sementara Disya yang menunggu di luar terus menangis, setelah beberapa lama menunggu Dokter keluar menghampiri Disya.


"Anda sudah boleh masuk, pasien sudah sadarkan diri."


Dokterpun berlalu dan Disya menghampiri Dev.


"Bapak baik baik aja??"


tanya Disya yang masi terus menangis.


"Iyya saya nggak papa, berhentilah menangis."


jawab Dev


"Pak saya akan menghubungi keluarga Bapak dulu."


ucap Disya


"Jangan!!


saya nggak mau kalo ibu saya hawatir."


"Baiklah pak, saya akan menemani Bapak di sini."


Disya lalu duduk di kursi.


"Terimakasih." Ucap Dev lalu memejamkan matanya.


Tengah malam Dev terbangun dan melihat Disya yang tengah tertidur pulas dengan kepalanya yang tersandar diatas kedua tangannya yang terlipat di atas ranjang, lalu Dev menyingkap rambut yang menutupi wajah Disya.


aku tidak tau mengapa aku tidak suka kalau kamu dekat dengan pria lain, aku tidak yakin kalau ini cinta


karna saat ini aku masih belum bisa melupakan Tiara


Dev mencium kening Disya, lalu Disya menggeliat dan membuka matanya perlahan, dan memandang Dev yang sedang duduk di ranjangnya.


"Loh kok bapak bangun, bapak butuh sesuatu,


Bapak mau minum atau mau makan??"


tanya Disya yang langsung berdiri di samping Dev.


"Aku ingin ke toilet tapi aku tidak bisa berjalan."


"Ya udah biar saya bantu ya pak."


karna merasa tak tega Disya menawarkan diri.


"Hmm, baiklah."


Dev tersenyum menang, karena berhasil mengelabui Disya, dengan pura pura susah berjalan.


padahal Dokter mengatakan kalau lukanya hanya ringan.Semua yang dia lakukan semata mata hanya ingin mengerjai Disya.


"Bapak bisa kan masuk sendiri??"


"Kayaknya nggak bisa, kamu anter sampai ke dalam ya???" Dev memasang wajah memohon.


"Ya jangan dong pak, masa iyya saya nganter ampe dalem."


"kamu mau liat saya celaka??

__ADS_1


semua ini kan gara gara kamu."


"Loh kok gara gara saya sih pak."


"Ya iyya lah, saya jatuh gara gara nyariin kamu."


"Siapa yang nyuruh bapak nyariin saya."


Ucap Disya tak mau kalah.


"Aduhh sakitt!" Dev memegang kepalanya seraya mrlirik Disya.


"Ya udah pak ayuk saya anter ke dalem."


karena merasa iba terpaksa Disya mengantar Dev ke dalam toilet.


"Ya udah pak silahkan" Disya membalikkan badannya agar tidak melihat ke arah Dev.


"Jangan ngintip ya???"


Dev menahan tawanya yang seakan ingin meledak.


"Ihhhh siapa juga yang mau ngintip, kalau nggak terpaksa mah ogah." jawab Disya cemberut.


"Ya kali aja kamu iseng." Dev terus menggoda


tapi Disya hanya diam tak bersuara.


Setelah selesai Dev merangkul Disya, lalu Disya membantu Dev sampai ke tempat tidurnya lagi.


"Disya,,!


maafkan kata kata saya yang tadi menyakiti kamu,


saya nggak bermaksud membuat kamu menangis.


kadang kadang mulut saya memang sering tidak bisa terkontrol."


"Iyya pak, saya udah maafin bapak kok.


Ya udah mendingan sekarang bapak tidur aja biar bapak cepet sehat lagi."


"Baiklah" ucap Dev dan kemudian memejamkan matanya.


Bu Ranti meminta susan menghubungi semua temannya Dev dan menanyakan keberadaannya.


Lalu susan tak sengaja menelfon Disya.


"Halo Sya kamu tau nggak Dev lagi di mana??"


"Anu kak, pak Dev lagi sama saya."


"Syukurlah kakak sampai hawatir, tapi kalian baik baik aja kan??"


"I,, iyya kak baik baik aja." jawab Disya gugup.


"kamu kenapa Sya kok gugup gitu, semuanya baik baik aja kan???"


"Sebenarnya kami lagi di rumah sakit kak, pak Dev semalam jatuh dari motor.


tapi sekarang udah baik baik aja kok kak


kakak tenang aja.


pak Dev nyuruh saya buat nggak bilang ke keluarganya karena takut semuannya hawatir."


"Ooo ya udah kalo gitu kakak lega sekarang, karena udah tau keadaan Dev.


Titip Dev ya Sya nanti siang kakak kesana."


"Iyya kak baiklah."


Disya menutup telfonnya.


lalu perawat datang membawa sarapan untuk Dev.


"Pak ini sarapannya."


Suster memberikan bubur dan menaruhnya di meja dekat Dev.


"Apa nggak ada makanan yang lain suster??"


tanya Dev.


"Pagi ini Bapak makan bubur dulu, nanti siang Bapak bisa makan apa saja."

__ADS_1


setelah menjelaskan, suster memeriksa Dev.


"Semuanya baik pak, tekanan darah juga normal


jika lukanya sudah kering Bapak boleh pulang."


Ucap suster.


"Suster apa saya boleh mandi, saya sudah merasa tidak nyaman."


"Jangan dulu pak kan lukanya belum kering,


di lap lap aja ya pak, kalau untuk mandi sebaiknya jangan, nanti akan saya bawakan handuk kecil dan air.


setelah itu istri bapak yang akan melakukannya."


Disya membulatkan matanya


"Saya bukan is,,"


"Iyya suster nanti istri saya yang akan melakukannya


suster bisa pergi sekarang."


Disya belum selesai berbicara tapi Dev langsung menyela.


"Ihhhh Bapak apa apaan sih, saya bukan istri Bapak."


belum selesai Disya berbicara, tiba tiba suster datang membawa handuk kecil dan air hangat lalu meletakkannya di meja dekat tempat tidur Dev.


"Pak saya nggak mau loh ngelapin badan Bapak


pokoknya nggak mau."


"Yakin nggak mau???


kamu masih punya hutang loh sama saya."


Dev tersenyum licik


"Ihhhhh Bapak nyebelin banget!!


tau gini mah mending Bapak nggak usah saya tolongin


biarin aja Bapak pingsan di tengah jalan."


"Teganya kamu ya.


ya udah cepetan udah gerah banget ni."


lalu Dev membuka bajunya, dan terlihatlah tubuhnya yang kekar, kulitnya yang putih.


membuat Disya menelan ludah karena melihat pemandangan yang baru pertama kali dia lihat.


"Aduhh pak semua amal ibadah saya selama ini bisa gugur, gara gara kejadian ini." Disya tak henti hentinya istigfar.


"Istigfar tapi matanya melotot." ledek Dev.


"Awwww, sakit tau."


Karena kesal Disya memukul Pundak Dev.


lalu memulai mengelap punggung Dev


lalu Dev menyuruh Disya untuk pindah ke bagian depan.


"Kok matanya di sipit sipitin gitu, malu apa seneng??"


Dev menggoda lagi.


"Ni ah Bapak lap sendiri aja, saya mau cari makanan


laper." Disya melempar handuknya ke tangan Dev


lalu pergi.


Dev tertawa melihat Disya yang terlihat sangat kesal.


"Sial banget sih, bisa bisanya liat tubuhnya pak Dev


pake di suruh ngelap segala lagi.


Ya allah dosa,, dosa,, dosa."


Disya menghentakkan kakinya secara bergantian sambil mengacak ngacak rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2