
Disya menangis di atas tempat tidurnya, tak habis fikir mengapa bisa jatuh cinta pada Bosnya yang sangat menyebalkan. Disya tak habis fikir mengapa bisa berada pada situasi dan kondisi seperti ini.
Menjadi istri dari Pria tampan dan sangat kaya, bukanlah impian Disya.
Menikah dengan Pria yang sederhana dan juga mencintainya, itulah impian sederhana Disya.
Bukan menjadi istri palsu dari Pria yang belum bisa melupakan kekasihnya yang sudah tiada.
Lelah karena terus menangis membuat Disya tertidur tanpa mengganti pakaian.
Saat tengah malam karena merasa tak nyaman akhirnya Disya bangun untuk membersihkan diri ala kadarnya dan juga mengganti pakaian.
Baru saja hendak melanjutkan tidur, Disya yang merasa haus keluar dari kamar untuk mengambil minum.
Setelah mengambil air dari dalam kulkas, Disya segera meneguknya perlahan.
Setelah dahaganya terobati, Disya baru menyadari jika lampu yang ada di ruang tamu masih menyala.
Biasanya jika sudah malam Dev akan mematikan lampu di ruang tamu, tapi mengapa malam ini menyala?
Di saat tengah berfikir Disya tak sengaja melihat ke arah ruang tamu.
Betapa terkejutnya Disya saat melihat tangan seseorang yang terjulur dari balik sofa ruang tamu.
Disya bergegas ke ruang tamu yang terlihat berantakan.
Jantung Disya berdenyut nyeri saat menyaksikan pemandangan di depannya.
Dev tertidur dengan luka di tangannya yang masih setengah basah dan bekas tetesan darah di lantai.
Tubuh Disya luruh, bersamaan dengan air matanya yang mengalir. Hatinya terluka melihat seseorang yang di cintainya terluka.
"Pak Dev, apa yang Bapak lakukan?" lirih suara Disya.
Tanpa pikir panjang Disya mencari kotak P3K.
Dengan langkah gontai, Disya mencari di kamarnya, dan tak lama Disya keluar dengan kotak tersebut.
Dengan tangan yang gemetar Disya membersihkan luka dan membubuhkan obat pada tangan Dev yang mulai bengkak, lalu membungkusnya dengan kain kasa.
Setelah membersihkan kekacauan yang di lakukan Dev, Disya menyelimuti tubuh Dev yang masih terlelap.
Sesekali terdengar rintihan halus yang lolos dari bibirnya, dan itu membuat Disya kembali terisak.
"Kenapa Bapak melukai diri sendiri saat marah?
Bukankah ini perbuatan bodoh?" Disya merebahkan tubuhnya di atas sofa yang bersebrangan dengan sofa yang Dev tiduri.
Pukul Lima pagi Disya terbangun dari tidurnya dan kaget karena selimut yang di pakaikan untuk Dev, kini menyelimuti tubuhnya.
Mata Disya mengitari ke seluruh ruangan mencari Dev, dan matanya tertuju pada kamar Dev yang pintunya sedikit terbuka.
Dengan sigap, Disya bangun menuju dapur dan membuat sarapan untuk Dev.
Setelah selesai Disya menyajikannya seperti biasa di atas meja makan.
__ADS_1
Setelah lama menunggu, tapi Dev tak juga keluar kamar, Disya mulai cemas, berulang kali menatap pintu kamar Dev, tapi yang di tunggu tak kunjung keluar.
Akhirnya Disya membawakan makanan ke kamar Dev.
Terdengar suara gemericik air dari balik kamar mandi.
Disya berjalan perlahan dan menaruh sarapan Dev di dekat tempat tidurnya, lalu Disya pun keluar.
Disya yang masih bingung, berangkat kerja atau mengawasi keadaan Dev, berjalan mondar madir di dalam kamarnya. Karena hawatir tentang Dev, akhirnya Disya berjalan pelan-pelan ke arah kamar Dev, karena pintunya tak tertutup rapat, Disya mencoba melihat apa yang di lakukan Dev di dalam kamarnya.
Terlihat Dev yang kepayahan menyuap sarapan ke dalam mulutnya, tangannya yang pasti sangat sakit berkali-kali gagal memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Karena tak tega akhirnya Disya masuk, setelah sebelumnya mengetuk terlebih dahulu.
Disya mengambil piring dari tangan Dev, lalu mencoba menyuapi Dev.
"Nggak usah! saya bisa sendiri kok.
Kamu nggak perlu repot-repot, saya bukan anak kecil, yang makan saja harus di suapi." Dev membuang pandangannya ke sembarang tempat, seolah tak mau menerima bantuan dari Disya.
Disya menghela nafas panjang, sebenarnya masih merasa kesal karena kejadian semalam, tapi tak bisa di pungkiri, hatinya gerimis melihat rasa sakit yang menimpa Dev.
Disya terus mencoba menyuapi Dev, meski terus di tepis.
Disya tak menyerah, dan karena kegigihannya, akhirnya Dev memakan suapan demi suapan yang di berikan Disya.
Tanpa kata, tanpa suara, dengan penuh kesabaran Disya terus menyuapi Dev sampai makanan yang ada di piringnya habis.
"Berhenti mendiamkan ku!
aku tidak suka," ucap Dev, ketika Disya beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, aku tidak butuh Dokter."
Tetaplah di sini maka aku akan cepat sembuh. Ingin sekali Dev mengatakan itu, tapi bibirnya seolah terkunci rapat.
Disya mendesah panjang dan berlalu dari hadapan Dev.
Bingung harus apa, jika dia bekerja bagai mana jika Dev butuh sesuatu dan tak mampu melakukan karena tanganya yang sakit. Di sisi lain Disya yang baru Satu bulan bekerja, tidak mungkin bolos tanpa alasan yang tepat.
Di saat tengah berfikir, terdengar bunyi bel pintu.
Disya bergegas menuju pintu dan langsung membukanya.
Ternyata Dokter datang bersama Raka.
Disya memang menghubungi Raka untuk di mintai tolong, karena Disya tak punya nomor telfon Dokter pribadi Dev.
Setelah mempersilahkannya masuk, Dokter itu pun segera memeriksa dan mengobati luka Dev.
"Jangan banyak beraktifitas dulu ya Pak.
Karena benturan yang keras, tulang pada jari-jari anda cidera cukup serius, dan butuh pemulihan beberapa hari.
jangan terlalu banyak menggerakkannya, atau mengangkat beban yang cukup berat karena bisa berakibat fatal." Dokter itu menjelaskan kepada Dev dan Dev hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Setelah menuliskan resep beberapa obat untuk di tebus di Apotik, Dokter itu pamit pulang.
"Kalau mau berangkat kerja berangkat saja, aku bisa melakukan segalanya, tak perlu merasa hawatir," tukas Dev dengan wajah jutek.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Disya berlalu.
Seharian ini Disya tak bisa fokus bekerja, pikirannya tertinggal di rumah. Pekerjaannya pun menjadi kacau dan mendapat teguran dari atasannya.
Saat jam kerjanya selesai Disya begegas untuk pulang, karena hawatir tentang keadaan Dev.
Saat keluar dari Restoran, terlihat Dimas telah berdiri sembari menyandarkan punggungnya pada mobil, sementara tangannya tengah sibuk dengan ponselnya.
Dimas mendongak karena mendengar langkah kaki yang mendekat.
"Hai Sya!
Pulang bareng lagi, nggak ada yang keberatan kan?"
Senyum Dimas mengembang ketika melihat Disya mendekat.
"Emm,,,," Belum sempat Disya melanjutkan perkataannya, tiba-tiba suara seseorang terdengar mengagetkan keduanya.
"Saya sangat keberatan." Tiba-tiba Dev muncul dengan raut wajah yang sudah tidak dapat di artikan.
"Tidak perlu repot-repot menunggu istri saya lagi, mulai sekarang saya yang akan mengantar dan menjemputnya."
Dev tersenyum puas melihat Ekspresi Dimas yang tampak syok.
"Hai sayang, maaf ya telat jemputnya." Dev tersenyum dan berjalan ke arah Disya, lalu menggenggam tangannya.
"Oh iyya sayang, kamu belum bilang ke Dimas kalau kita udah nikah?" Disya tergagap dan tak mampu menjawab, karena merasa sangat aneh dengan sikap Dev.
Wajah Dimas kini berubah pias, mengetahui status Disya ternyata sudah menikah.
"Benarkah, wahh selamat ya Disya!
Aku turut bahagia atas pernikahan kalian, tapi sayang banget, kamu nggak ngundang-ngundang aku sih, jahat," tutur Dimas sembari tersenyum kecil, menyembunyikan rasa kecewanya, meski sedikit gagal.
"Ayo sayang kita pulang, ini udah malem, aku nggak mau kamu sampai sakit." Dev membawa Disya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Dimas yang mematung di tempatnya.
"Aku nggak suka kamu terlalu akrab sama si Dimas.
Jangan ketemu sama dia lagi, awas saja!" tegas Dev, dengan nada yang seperti mengancam.
"Memangnya kenapa?
Dimas teman yang baik, saya nggak mungkin menjauhi teman yang baik, apa lagi dia yang membantu saya mencari pekerjaan.
Lagi pula kenapa Bapak harus marah, toh Bapak tidak menganggap saya ada. Jadi jangan pernah bersikap seperti suami yang sedang cemburu," ucap Disya tak mau kalah.
"Setidaknya jangan bersikap murahan di depan laki-laki selama kita masih dalam ikatan pernikahan." Ucapan Dev sukses membuat jantung Disya seolah di hujam belati, rasanya sangat sakit.
"Turunin saya di sini," ucap Disya dengan air mata yang mulai meleleh.
"Kamu jangan yang aneh-aneh Disya." Dev mulai panik menyadari kesalahannya yang membuat Disya kini terisak.
__ADS_1
Dev merutuki mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata tidak pantas saat sedang marah.
"Atau saya loncat," ancam Disya.