
"Saya terima nikah dan kawinnya Disya Salsabila Binti Muhammad Hasan dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang sebesar seratus juta di bayar tunai."
Hanya dengan satu tarikan nafas ijab Qobul berhasil di ucapkan mempelai Pria.
"Sah!!!
Alhamdulillah."
Terdengar suara para saksi dan tamu yang mengucapkan kata Sah hampir berbarengan.
Terlihat Rona bahagia dan Takjub yang memancar dari semua Anggota keluarga Disya, juga para Tamu yang menyaksikan acara pernikahan itu berlangsung, tapi tidak dengan Disya.
Kebahagiaan yang di rasakan seluruh keluarga sangat kontras dengan raut wajah yang Disya perlihatkan pagi itu. Pikirannya yang sejak semalam entah melayang kemana dan Air matanya yang tumpah tanpa henti membuat matanya yang bulat sekarang menyipit karena bengkak, membuat penata riasnya kuwalahan me make over wajahnya yang bentuknya sudah tak bisa di kondisikan.
Kebanyakan wanita yang akan menikah akan menampakkan wajah yang berseri seri, walaupun menangis pasti tangis haru tapi tangis haru macam apa yang membuat mata pengantin sampai menyipit saat hari pernikahan tiba.
Pagi ini Disya yang sudah siap dengan Kebaya putih dengan corak keemasan terlihat sangat pas di tubuhnya, Disya di bantu ibunya keluar kamar menuju ruang tamu untuk menjalankan Akad nikah.
Semua tersenyum memuji Disya, semua yang hadir seakan tak sabar menanti acara Sakral tersebut.
Tapi tidak dengan Disya, Disya yang memang tak bahagia dengan pernikahannya bahkan tak mampu memandang wajah penghulu apa lagi wajah mempelai Pria yang sudah sejak tadi duduk menunggunya.
"Tersenyumlah Nak."
Ucap Ibu Disya saat putrinya sudah duduk bersanding dengan calon Suaminya.
"Ayo kak senyum biar nanti foto pengantinnya bagus buat di pajang di Ruang tamu." Terdengar Andira menyahuti.
"Apa apaan ini, bahkan Andira yang awalnya menangis saat tau kakaknya akan di nikahkan dengan Joko, sekarang ikutan menggoda.
Itu dia bersandiwara atau sungguh sungguh sih??
Kalau memang sandiwara itu sama sekali nggak lucu, kalau saja ini bukan hari pernikahan akan aku balas dia dengan menjewer bibirnya." Rutuk Disya dalam hati.
Sesekali Disya menarik Nafas dalam untuk memberi sedikit Rongga pada paru parunya agar tidak terlalu terasa sesak, Disya masih ingin menangis tapi air matanya sudah terkuras habis sejak semalam dan tak mampu untuk keluar lagi hari ini.
"Aku pasrah ya allah, jika memang ini hukuman atas mulutku yang dulu kurang ajar karena bergosip tentang mahluk ciptaanmu yang bernama Joko, aku menerimanya dengan iklas dan kuatkanlah hatiku menjalani pernikahan ini." Disya memejamkan mata sambil berdoa.
Setelah ijab qobul selesai dan memanjatkan doa doa, mempelai Wanita di minta mencium tangan mempelai Pria, Disya hanya pasrah tak mampu menolak, bahkan ketika suaminya mencium keningnya, Disya hanya diam dan tak ingin mengangkat wajahnya.
"Pengantin barunya masih malu malu, nanti tatap tatapannya kalau udah malem ya." Terdengar ucapan Pak penghulu menggoda.
"Ini baru jam satu siang, kayaknya masih lama kalau mau nungguin malem, pasti pengantinnya udah nggak sabar nungguin pengen cepet cepet malem." Ucap salah seorang ibu ibu tetangga Disya yang membuat suasana menjadi ramai karena tawa para tamu yang hadir.
__ADS_1
"Apa apaan mereka semua, apa yang tadi mereka bilang??
aku tidak sabar menunggu malam katanya, andai saja aku bisa meminta, aku akan meminta agar malam tidak datang.
Tenagaku bahkan sudah hampir habis, jika saja masih punya kekuatan, aku akan mengajak ibu ibu dan penghulu itu berkelahi.
Apa mereka tidak tau rasanya menjadi aku, menikahi Pria yang tidak pernah ingin kubayangkan."
Saat semua berdiri untuk memberikan selamat, Disya di bantu ibunya berdiri karena memang kakinya yang dari tadi memang sudah lemas dan kepalanya mulai terasa berat, mungkin karena efek menangis dan begadang semalaman.
Baru saja ingin meraih tangan para tamu untuk bersalaman tiba tiba tubuh Disya limbung dan semuanya gelap.
"Semoga ini semua hanya mimpi."
Ucap Disya dalam hati saat merasakan tubuhnya sudah di gendong dan di bawa masuk ke dalam kamarnya.
Disya sudah terbaring selama tiga jam di kamarnya, kamar yang tidak ada hiasan pernikahannya sama sekali, karena memang permintaan Disya yang tidak ingin kamarnya di hias dan menikah pun hanya akad yang di hadiri hanya sebagian keluarga saja dan tidak ada acara Resepsi.
Berbeda dengan keinginan banyak wanita yang ingin acara pernikahannya di buat semeriah mungkin yang akan di kenang seumur hidup.
Sebenarnya Disya hanya pingsan selama setengah jam, hanya saja dia terus memejamkan mata dan enggan untuk membukanya lalu berharap ini semua cuma mimpi buruk.
Setelah petang dan semua tamu telah pergi, terdengar suara pintu yang berderit, jantung Disya telah berpacu tak sesuai irama, matanya masih tertutup tapi telinganya terus siaga.
Terasa kasur yang di tiduri Disya bergelombang, seseorang telah naik di sisi tempat tidur Disya, lalu sebuah punggung tangan menempel di kening Disya.
Umpat Disya dalam hati.
"Bangunlah pemalas!!
Aku tau kamu cuma pura pura tidur, nggak capek dari tadi merem terus??"
"Suara itu,,,,??
Ah nggak mungkin nggak mungkin, pasti ini cuma hayalan. Kenapa dalam suasana begini tiba tiba terngiang ngiang suara itu sih.
Disya Disya, udah jadi istri orang nggak boleh mikirin Pria lain, Dosa." Disya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kamar pengantin gini amat, nggak niat nikah emang??" Terdengar suara itu lagi tapi Disya tetap diam, belum percaya.
"Itu mata kenapa kayak bola pingpong begitu,??
persis kayak tomat mateng sih tepatnya.
__ADS_1
Nikah bukannya bahagia malah matanya di jadiin korban begitu, kalau nggak mau nikah kenapa nggak kabur aja, udah gede masih nggak pinter pinter juga."
"Cukup!!!
Pergilah Pak Dev, kenapa di mimpi pun Pak Dev selalu menggangguku.
Pergilah, aku sangat membencimu, sikapmu yang telah berubah kemarin sangat menyakitiku.
Bahkan setiap malam aku selalu menangis memikirkanmu, pokoknya jangan hadir di mimpiku lagi sekarang, aku tidak suka." Oceh Disya dengan mata masih terpejam.
"Wanita ini, aku tidak akan mengampunimu."
Ucap pria itu.
"Emmuachh."
Tiba tiba ciuman hangat mendarat di bibir Disya, cukup lama bahkan Disya hanya terdiam mendapatkan perlakuan tersebut.
"Pasti ini cuma mimpi.
Ya tuhan pastikan ini hanya mimpi, kumohon jangan bangunkan aku untuk melihat kenyataan yang sebaliknya."
"Kalau sampai si Joko yang melakukan ini di dunia nyata, aku akan pastikan langsung mematahkan giginya." Disya terus menggerutu di dalam hati.
Tiba tiba Disya membuka matanya sedikit, ingin memastikan ini mimpi atau nyata, dan,,,,??
"Wuaaaa,,,,!!"
Disya berteriak histeris saat matanya benar benar terbuka lebar, seketika bangun dari tidurnya dan menabrak kepala seseorang yang telah sangat kurang ajar menciumnya.
"P,,,,Pak Dev??"
Disya menutup mulutnya dan membulatkan matanya seakan tak percaya dengan penglihatannya.
*
*
*
*
Cie cieee Disya nikah loh
__ADS_1
kok Author yang senyum senyum sendiri ya
tapi matanya itu loh, kenapa bengkak gitu🤗🤗🤗🤗