Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Pertengkaran


__ADS_3

Beberapa hari ini, Dev dan Disya saling diam, tak sekali pun menyapa.


Kebodohannya menyatakan cinta tempo hari lalu, membuatnya malu sekaligus sakit, sehingga tak berani bertatap wajah dengan Dev.


Disya yang beberapa hari ini bekerja sebagai asisten chef, juga seakan tak memiliki waktu.


Setelah menyiapkan sarapan pagi, Disya kembali ke kamar tak pernah menemani Dev sarapan. Jam Sepuluh pagi Disya berangkat kerja dan jam Sepuluh malam barulah Disya sampai di Apartemen milik Dev.


Selama Satu bulan, kedua Manusia itu hidup dalam Satu atap tapi bagai orang asing, tak pernah bertegur sapa.


Terkadang Dev yang belum tidur dan sedang minum di dapur melihat Disya yang baru pulang kerja, hanya menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Begitu pun Disya, saat hendak berpapasan dengan Dev, Disya secepat mungkin menghindar dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Malam ini Dev sedang duduk santai di ruang tamu sembari menonton TV, tangannya terus memijat remot yang ada di tangannya, tapi tak Satu pun siaran TV yang membuatnya fokus. Pikirannya tak tenang, hatinya pun terus gelisah memikirkan Disya yang sudah begitu lama sangat acuh padanya, membuatnya uring-uringan dan tak pernah fokus di kantor.


Seperti biasa, Disya pulang saat pukul Sepuluh malam.


Dev yang sedari tadi memang sudah menunggunya, kini menatap Disya tajam, pandangannya tak lepas dari Disya, bak Elang yang tengah mengintai mangsanya.


"Selalu pulang malem! kamu setiap hari sebenernya kemana? Shoping-shoping nggak jelas, ngabisin duit hem?" tanya Dev sarkas.


Tanpa menjawab, Disya masuk ke dalam kamar, membuat Dev merasa sangat geram.


"Disya!!!


Saya lagi ngomong," teriak Dev.


Tak lama Disya keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah Dev.


"Saya nggak tuli kok Pak, pendengaran saya masih sangat jelas. Jadi Bapak nggak perlu teriak-teriak," ucap Disya kesal. Lalu Disya menyodorkan sebuah kartu di atas meja, kartu yang waktu itu di berikan Dev.


"Apa ini?" tanya Dev.


"Saya bukan tipe wanita yang suka menghamburkan uang.


Ambil kembali kartu ini, saya tidak memerlukannya.


Saya bahkan tidak berniat memakainya sepeser pun."


"Apa maksudmu, itu adalah milikmu, ambil saja dan gunakan sesuka hatimu."


Tanpa mengambilnya lagi, Disya berlalu karena sudah sangat lelah, dan tak ingin berdebat.


"Heiii!!!


Saya belum selesai ngomong."


"Dia kenapa sih?


Masak iyya masih marah, ini bahkan sudah lebih dari Satu bulan tidak berbicara padaku."


"Arghhh!!!" Dev meremas rambutnya, kesal.


Dev masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras.


" Memangnya apa salahku, aku hanya melarangnya untuk mencintaiku, tapi kenapa sampai semarah itu.


Dasar istri aneh!" umpat Dev.


*******


Pagi itu, Dev berangkat ke kantor tanpa memakan sarapan yang telah di siapkan Disya.

__ADS_1


Hatinya masih kesal tak karuan, mengingat pertengkarannya dengan Disya semalam.


Dev bahkan tak bisa fokus dengan pekerjaannya.


Tak jarang memarahi semua orang meski hanya masalah kecil. Diam-diam, Pak Wijaya memperhatikannya.


"Bisa kerja nggak sih? kalau kamu nggak bisa kerja, mending ambil pesangon kamu, lalu keluar dari kantor ini!!" Dev sangat marah ketika seorang OB tak sengaja menumpahkan kopi di atas sepatunya.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja."


Pria paruh baya yang sudah bekerja lama pada perusahaan Pak Wijaya, nampak bergetar ketakutan.


"Bersihkan lantai ini sebelum aku mengusirmu keluar dari perusahaan ini!" Dev tak mampu menahan emosinya.


Pria itu bergegas pergi untuk mengambil alat untuk membersihkan lantai yang terkena tumpahan kopi.


"Dev! ke ruangan Papa sebentar, Papa mau bicara."


Pak Wijaya yang heran melihat tingkah putranya, memanggilnya ke ruangannya sebentar.


Tanpa banyak kata, Dev mengikuti Papanya dari belakang.


"Apa ada masalah yang membuatmu sampai tak fokus Dev? Bahkan kau memarahi OB yang sudah bertahun-tahun mengabdikan dirinya di kantor ini karena masalah sepele." Dev hanya diam mendengar kata-kata Pak Wijaya.


"Apa hubunganmu dengan Disya baik-baik saja?" tanya Pak Wijaya lagi. Dev tetap bergeming tak menjawab.


"Disya mencintaiku Pa, sedangkan aku tidak bisa mencintainya, itulah masalahnya."


"Kalau begitu lepaskan dia Dev.


Disya gadis baik, dia tidak pantas hidup seperti ini, dia pantas bahagia.


Kalau kamu tak bisa memberikannya kebahagiaan, setidaknya jangan terus mengikatnya dalam prnikahan yang tak berarti," tegas Pak Wijaya. Gurat kecewa jelas tergambar dari matanya.


Dev tak mampu berbicara karena dia pun dilema.


"Dev banyak pekerjaan Pa, Dev permisi dulu."


"Tunggu Dev!"


"Suatu saat jika ada seseorang yang membuatnya bahagia, maka saat itu juga kamu akan menyesal telah mengabaikan cintanya." Dev terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan Papanya, lalu pergi tanpa berkata apa pun lagi.


*****


"Dimas!!" seru Disya saat keluar dari Restoran dan akan bersiap-siap untuk pulang.


"Haii, dah mau pulang ya?"


"He'em."


"Bareng ya?"


"Emmm,,,, gimana ya, emang nggak ngerepotin?" tanya Disya ragu.


"Ya nggak lah, kebetulan tadi aku lembur terus pulang juga lewatin tempat kamu kerja, jadi aku pikir kenapa nggak sekalian aja kita pulang bareng.


Kamu nggak keberatan kan?"


"Ya enggak sih, cuma sedikit nggak enak aja."


"Kalau nggak enak kasih kucing aja Disya."


"kucing aja, nggak doyan Dimas."

__ADS_1


"Tapi aku doyan kok." Cletuk Dimas.


"Apaan sih?"


"Udah cepetan naik, mau pulang apa masih mau ngobrol di sini?"


"Hissss, iyya-iyya." Disya bergegas masuk ke dalam mobil Dimas.


"Dim,,,, makasih ya udah masukin aku kerja di tempat yang sekarang," ucap Disya, setelah mobil Dimas telah menjauh dari restaurant tempat Disya bekerja.


"Iyya Disya,,, kamu tuh udah ratusan kali ngucapinnya.


Lagian emang kebetulan di tempat sepupu aku ada lowongan, terus kmu pinter masak, makanya aku rekomendasiin kamu.


Bukannya temen itu harus saling bantu, iyya kan?"


"Iyya,,,, pokoknya sekali lagi makasihhhhh," ucap Disya dengan senyum lebarnya.


"Ihhhhh, jangan senyum kayak gitu Disya."


"Emang kenapa? bukannya senyum itu ibadah?"


"Iyya tau ibadah, tapi kalau kamu senyum-senyum kayak gitu terus, bisa-bisa aku jatuh cinta tau."


"Apaan sih Dim, nggak lucu." Disya melempar pandangannya keluar agar pipinya yang kini merona, tak terlihat oleh Dimas.


Dimas memang selalu membuatnya nyaman dan tertawa.


Terkadang Disya melupakan masalahnya di rumah jika sedang bersama Dimas.


"Bercanda Disya, nih udah sampe."


Disya turun dari mobil Dimas, dan setelah berbasa basi sebentar, Mobil Dimas akhirnya berlalu dari hadapan Disya di iringin dengan lambaian tangannya.


Disya berjalan pelan menuju Apartemennya karena kelelahan. Hari ini pekerjaannya sangat banyak, bahkan untuk makan saja harus curi-curi waktu.


"Berhenti dari pekerjaanmu yang sekarang!!" Perkataan Dev, sukses membuat Disya kaget.


"Maksud Bapak apa?"


"Nggak paham?


Saya nggak suka kamu kerja, saya masih bisa ngebiayain kamu walau seumur hidup."


"Apa saya harus menjadi istri palsu Bapak seumur hidup?"


"Ohhh jadi sekarang kamu udah nemuin prian lain buat ngelanjutin hidup kamu?


Siapa Pria yang tadi nganter kamu pulang hah?


Kamu sadar nggak sih, kamu itu punya Suami, nggak sepantasnya kamu jalan berdua dengan lelaki lain." Emosi Dev sudah tak mampu di bendung lagi.


Melihat Disya di antar oleh Pria lain membuat hatinya membara.


"Suami apa?


Suami yang masih terus mencintai wanita lain yang bahkan sudah tidak ada!


Apakah Bapak menganggapku ada? Kita bahkan satu atap, tapi kita bagaikan orang asing.


Pernikahan kita bahkan tidak ada artinya untuk Bapak.


Jadi jangan terus mengingatkan saya akan status jika kita sedang berdua, saya muak mendengarnya." Bibir Disya bergetar mengucapkan semua isi hati yang telah lama ia pendam sendiri, lalu berlari dari hadapan Dev dengan berurai air mata.

__ADS_1


"PRANGGGG"


Dev memukul meja kaca yang ada di hadapannya hingga pecah. Darah segar yang kini menetes di atas lantai tak di hiraukan karena situasi hatinya yag sedang kacau.


__ADS_2