
Dev memeluk Disya dari belakang saat Disya baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
"Apa aku pernah bilang, kalau aku sangat suka melihatmu memakai pakain tidur?"
Disya menggeleng pelan, lalu kembali mengatur detak jantungnya yang mulai ingin berjumpalitan.
"Kau sangat seksi. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan tenang setelah melihatmu memakai Piyama tidur seperti ini.
"Jika saja aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu saat kau tau aku melakukannya bukan atas dasar cinta maka aku sudah pasti akan memakanmu."
"Aku begitu bodoh karena membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari jika aku memang mencintamu, padahal semua itu sederhana. Aku tidak memnyentuhmu karena takut itu hanya nafsu belaka dan saat kau menyadarinya kau akan terluka.
Aku begitu takut membuatmu terluka, takut melihatmu kecewa. Harusnya saat itu aku sudah menyadari jika semua ketakutanku adalah karena cinta. Aku bodoh bukan?"
Disya tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menggenggam tangan Dev dengan perasaan yang luar biasa bahagia.
Dev kini membalik tubuh Disya, menatapnya Dalam dan penuh cinta.
"Entah mengapa aku selalu ingin mengatakan kalau aku mencintaimu, aku tidak pernah bosan mengatakannya.
Aku merasa seperti Anak ABG yang sedang jatuh cinta."
Disya kini tertunduk malu saat mendengar semua perkataan Dev, setiap katanya selalu membuat Disya bahagia.
"Oke sayang, sudah cukup aku mengoceh dan kamu terus diam. Sekarang saatnya kita harus melakukan apa yang sudah kita lewatkan selama berbulan-bulan." Dev mengerling nakal.
"Ap,,,,apa?" tanya Disya gugup.
"Astaga kenapa tanganmu sangat dingin?
Aku bahkan belum melakukan apa pun, dan jangan sampai kamu nanti pingsan saat aku melakukannya."
"Melakukan apa?"
"Oh ya ampun, apa kau benar-benar tidak tau?"
"Apaan sih?" kilah Disya. Sebenarnya Disya mengerti arah pembicaraan Dev, hanya saja Disya masih sangat gugup dan sedikit takut.
"Ayukk kita bikin Bayi kecil!
Aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami.
Apa kau masih belum mengerti?"
Kini tubuh Disya menegang, saat mendengar bisikan Dev.
"Jangan tegang begini!
Kita bukannya ingin berperang tau," kekeh Dev.
Dev menyadari Disya yang sangat gugup.
"Ini pun pertama kalinya untukku, jadi aku akan melakukannya dengan selembut mungkin.
Aku tidak akan menyakitimu, jadi jangan tegang seperti ini." Dev memeluk Disya agar perasaan tegangnya sedikit menghilang.
"Tapi aku belum bisa," ucap Disya perlahan.
"Aku tau kamu pasti belum siap, makanya kita pelan-pelan saja, aku tidak akan menyakitimu.
__ADS_1
Aku akan membuat segalanya jdi mudah dan indah."
Kini Dev menggendong Disya dan membawanya ke tempat tidur. Disya mulai gelisah ingin menjelaskan sesuatu tapi Dev seolah tak ingin tau tentang kegelisahannya.
Kini Dev telah membingkai wajah Disya lalu mengecup bibirnya perlahan, kecupan itu menyapu seruh area wajah Disya, lalu turun ke area ceruk lehernya dan berhenti sesaat di sana seakan sedang menikmati aroma tubuh Disya.
"Tunggu dulu!"
Dev mengangkat wajahnya dan menatap Disya dengan tatapan yang seakan sudah ingin memakannya.
Disya menelan ludah saat melihat tatapan Dev yang kini benar-benar sudah tak dapat ia artikan.
Perlahan-lahan Dev membuka kancing baju Disya Satu per Satu, tanpa menghiraukan tatapan protes Disya.
Dev tak mampu lagi menahan keinginannya yang selama berbulan-bulan ini terus menyiksanya.
Pria normal mana pun tak akan mampu menyia-nyiakan istri secantik Disya.
Dev yang memang telah lama mengagumi pesonanya, hingga mampu melupakan cinta pertamanya, dan selalu membuatnya melakukan hal-hal konyol dan bodoh.
Kini wanita itu ada di hadapannya, yang kancing bajunya telah terlepas semua.
Dev terpana melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Begitu indahnya ciptaan tuhan.
Dev berulang kali menelan ludah, tak mampu lagi berkata-kata.
Sentuhan demi sentuhannya membuat Disya melayang dan tak mampu untuk menolak keinginan Dev.
Kini Dev mencium Bibir Disya dengan gairah yang telah membara di dalam dadanya. Dengan rakusnya dia Me******at habis bibir Disya, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, membuat Disya meringis kecil.
Saat sentuhan Dev semakin memabukkan, Disya cepat-cepat menyadarkan dirinya dan menarik kepala Dev yang sedari tadi sudah seperti bayi rakus.
"Aku lagi kedatangan tamu," ucap Disya saat tatapan Dev seakan bertanya ada apa.
"Tamu apa? jangan bilang kalau si Dimas itu ya yang bertamu, karena sumpah demi apa pun jika dia datang sekarang, sungguh aku akan mengirimnya ke Rumah Sakit," geram Dev.
"Tamu bulanan." Disya menggigit bibirnya perlahan.
"Sejak kapan punya tamu bulanan?
Perasaan selama ini nggak pernah ada."
"Kalau pun beneran ada, suruh pulang dulu aja.
nggak tepat banget kalau datengnya sekarang!
Atau kalau dia nggak mau pergi, aku yang akan menendang bokongnya, sampai dia akan berfikir Dua kali untuk datang menemuimu lagi." Dev mulai tidak sabaran dan ingin memulai aksinya lagi.
"Tunggu dulu." Disya menahan kepala Dev lalu membisikkannya sesuatu, sehingga membuat Dev lemas tak berdaya.
"Sumpah demi apa?
Ya tuhannnn, kenapa tamu itu sangat kurang ajar.
Dia datang benar-benar di saat yang tidak tepat." Dev meremas rambutnya frustasi.
Tamu bulanan Disya membuat ritual malam pertamanya ambyar seketika.
Disya cekikikan melihat Dev yang benar-benar tampak frustasi.
__ADS_1
"Kira-kira berapa lama lagi aku akan menunggunya pergi,?" tanya Dev, dengan tatapan memohon agar Disya mengatakan, besok juga selesai. Tapi jawaban Disya lagi-lagi membuat Dev bertambah setres.
"Ini dia baru datang, biasanya paling cepet Satu minggu, kalau lagi betah bisa Sepuluh hari."
"Seriusan sayang?" Lagi-lagi Dev hampir tak percaya.
"He'em."
"Bunuh saja aku, sungguh aku benar-benar tidak sanggup," keluh Dev.
"Bersabarlah, bukankah beberapa bulan ini kamu bisa menahannya."
"Kamu tidak akan mengerti. Sesuatu yang telah bangkit dari dalam kubur, akan sangat susah menidurkannya." Dev menggerutu kesal.
Disya tak mampu lagi menahan tawanya.
"Tertawalah sepuas hati, saat tamu itu pergi, aku akan membantaimu habis-habisan." Dev memasang wajah cemberut.
Setelah memasang semua kancing bajunya, Disya memeluk Dev dari belakang lalu menyandarkan kepalanya di punggung Dev.
"Aku sangat mencintaimu pak Dev," ucap Disya pelan.
Dev masih tetap terdiam tak merespon pelukan Disya.
"Bukankah kau bilang kau akan menciumku jika aku memanggilmu Bapak." Perlahan Dev mulai memutar tubuhnya, lalu menatap Disya lembut dan mengecup bibirnya.
"Aku pun sangat mencintaimu nyonya Dev.
Tak memanggilku dengan sebutan itu pun aku akan tetap meciummu, kapan pun aku mau dan di mana pun jika aku menginginkannya, aku pasti akan menciummu." Dev membenahi rambut Disya yang sempat acak-acakan karena ulahnya.
"Sekarang tidurlah, aku pun sudah sangat mengantuk."
Dev merebahkan tubuh Disya lalu ia pun ikut merebahkan tubuhnya.
Disya tak mampu memejamkan mata, perasaannya mendadak gelisah.
Miring kanan miring kiri, tapi kantuk tak kunjung datang.
Disya memandangi Dev yang sedari tadi telah memejamkan matanya.
Tuhan,,, apakah aku bermimpi memiliki suami yang sempurna seperti dia?
Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
Tiba-tiba Dev menarik Disya ke dalam pelukannya.
"Apakah sekarang sudah merasa nyaman?"
Disya mendongak menatap Dev, takjub karena Dev seakan tau apa yang bisa membuat Disya merasa nyaman.
"Tidurlah, aku akan terus memelukmu sampai kau tertidur."
Disya tersenyum dan mengangguk pelan, lalu perlahan-lahan mulai memejamkan mata.
Tak lama deru nafasnya mulai terdengar teratur.
Di kecupnya kening Disya dengan lembut, lalu
Dev pun ikut memejamkan mata setelah Disya terlelap.
__ADS_1