Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
hadiah dari ibu mertua


__ADS_3

Plakk!!!!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus milik Disya. Bu Ranti sangat geram melihat Dev membawa Disya ke Rumahnya.


"Ma,, jangan berbuat kasar padanya.


Sekarang dia adalah Istri Dev, menantu Mama."


Semua yang ada di Rumah Pak Wijaya bengong, kaget, syok, mendengar perkataan Dev barusan.


"Apa kamu sudah Gila Dev!


Menikahi wanita yang jelas-jelas nggak se-level sama keluarga kita," hardik Bu Ranti.


"Dev nggak pernah melihat seseorang dari statusnya ma. Dev tulus mencintai Disya.


Dev harap, Mama mengerti akan hal itu.


Dev harap Mama nggak maksa Dev buat nikah dengan Wanita pilihan Mama lagi, karena Dev sekarang telah memiliki Istri, yaitu Disya." Dev menggenggam erat jemari Disya, seolah tak ingin melepaskannya.


Disya memandang Dev sesaat, serasa ada ribuan bunga yang menghujaninya ketika mendengar perkataan Dev.


Sesaat Disya merasa begitu bahagia akan perlakuan Dev. Tapi di saat yang bersamaan, Disya sadar dan menyadarkan hatinya jika semua ini hanyalah sandiwara.


"Dev!!!


Mama udah mengatur acara pertunangan mu,


persiapannya bahkan udah hampir selesai Dev. Kamu bisa bikin Mama malu karena perbuatan mu."


"Dev udah pernah bilang kalau Dev nggak suka sama Clara, Dev mencintai Disya.


Sampai kapan pun Dev akan tetap bersama Disya, apa pun yang terjadi."


Pernyataan Dev membuat sebagian yang ada di Rumah besar itu kagum.


Tapi tidak dengan Bu Ranti dan Clara.


Di tolak berkali-kali membuat harga diri seorang Clara seperti terinjak-injak.


Secepat kilat Clara maju dan hendak mendaratka sebuah tamparan untuk Disya.


Tapi tak di sangka gerakan Dev lebih cepat, dan menangkap tangan Clara.


"Selama ini aku udah cukup sabar dengan mu Clara. Tapi sekarang aku tidak akan pernah membiarkan kau atau siapa pun menyentuh istriku, meski hanya secuil saja."


Dev mencengkram tangan Clara dengan begitu erat, hingga membuat Clara meringis kesakitan, lalu menghempaskannya dengan kasar.


"Dev kamu keterlaluan!


Kalau kamu tetap kukuh pada pendirian mu, kamu tak perlu datang ke sini lagi.


Anggap Mama udah mati!"


Bu Ranti menenangkan Clara yang tengah menangis, karena terluka akan perlakuan Dev.


"Ma,,,."


"Pergilah Dev!


Tak perlu perduli dengan Mama.


Kalau kamu memang lebih memilih wanita itu, anggap Mama udah mati," ucap Bu Ranti, di sela isak tangisnya.


Dev menarik tangan Disya yang sedari tadi mematung, menyaksikan adegan-adegan yang ada di hadapannya.


Disya menahan tangan Dev, membuat Dev berbalik menatap mata Disya.


"Jangan bersikap seperti ini," lirih suara Disya.

__ADS_1


Dev menggeleng pelan, lalu membawa Disya ke luar dari rumah orang tuanya.


Setelah keduanya masuk kedalam mobil, Dev menyalakan mesin mobilnya lalu perlahan-lahan menjauh dari kediaman keluarga Pak Wijaya.


Tak ada percakapan antara Dev dan Disya saat berada di dalam mobil.


Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.


Setelah sampai di rumah Disya langsung masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Dev mencari sesuatu di dapur.


"Apa kau sudah tidur?


Aku ingin bicara sebentar," ucap Dev, saat berada di depan pintu kamar Disya.


Tak lama handle pintu bergerak dan Disya keluar dari kamarnya.


"Bapak butuh sesuatu?"


"Ikut aku sebentar." Dev membawa Disya ke sofa yang berada di ruang tamu.


"Duduklah, aku akan mengompres pipi mu."


Dev memaksa Disya duduk, lalu mengabil sebuah handuk yang telah di rendam air dingin yang tadi di ambilnya dari dapur.


"Eh,,, nggak perlu pak, ini nggak papa kok.


Bapak nggak perlu repot-repot."


Tanpa mengindahkan perkataan Disya, dengan pelan Dev mengompres pipi Disya yang telihat bengkak. Disya meringis saat kompresan itu mengenai wajahnya.


"Apa sakit?" tanya Dev.


Disya menggeleng pelan sebagai jawaban.


Disya mendongak, tak sengaja tatapannya bertemu dengan mata Dev.


Untuk sesaat pandangan keduanya terkunci, seolah tak ingin terlepas, saling menyelami fikiran masing-masing yang tergambar pada tatapan masing-masing.


"Maaf karena telah membawa mu ke dalam masalahku."


"Bagaimana kalau kita berhenti saja Pak?


Saya merasa bersalah, karena saya Ibu Bapak membenci Bapak."


"Bersabarlah, saat waktunya tiba kita akan mengakhiri semuanya."


Mendengar perkataan Dev, terasa ada yang seperti tersayat di dalam sana.


Walau tak berdarah tapi rasanya begitu perih.


Seperti itulah perasaan Disya saat ini, bukan sakit karena tamparan Bu Ranti, tapi pernyataan Dev yang akan mengakhiri semua bila tiba saatnya.


Tak bisa di pungkiri, baru beberapa hari bersama, Disya seolah tak ingin berpisah dari Dev, meski bibirnya mengatakan ingin mengakhiri tapi berbanding terbalik dengan hatinya yang ingin selalu bersama dengan Dev.


"Baiklah, jika saatnya telah tiba katakanlah, saat itu juga saya akan pergi dari hidup Bapak.


Untuk saat ini saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa, untuk membalas semua kebaikan Bapak kepada saya selama ini." Sekuat tenaga Disya menahan gejolak air matanya yang ingin segera tumpah.


"Maaf,,,,,telah banyak membuat mu sakit."


"Kenapa harus minta maaf Pak, saya baik-baik saja. Anggap saja hubungan kita hanya sebatas kerja sama, tak perlu meminta maaf atau pun berterimakasih."


"Kalau tak ada yang penting, saya permisi ke kamar dulu." Disya pun berlalu dengan air mata yang telah tumpah.


Setelah masuk ke dalam kamar, Disya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, memikirkan nasibnya ke depan.


Tidak akan menjadi istri Dev selamanya, kini Disya harus berfikir untuk masa depannya kelak. Sebelum Dev membuangnya begitu saja, Disya bertekat untuk berdiri di atas kakinya sendiri.


********

__ADS_1


Pagi sekali Disya telah bangun dan sibuk berkutat di dapur. Disya membuat sarapan nasi goreng dan kopi susu untuk Dev.


Setelah semuanya tersaji di meja makan, Disya kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


Setelah tiga puluh menit bersiap-siap, Disya keluar kamar dan menuju ke meja makan.


Melihat makanannya yang masih utuh, Disya melihat ke arah kamar Dev dan berjalan ke sana.


Tok,,,tok,,,tok.


"Pak,,, sarapannya udah siap!


Saya tunggu di meja makan," teriak Disya.


"Iyya,,,Lima menit lagi," sahut Dev dari dalam kamar.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Dev datang dengan setelan kerjanya.


Aroma maskulin seketika menyapa penciuman Disya, menyegarkan dan menenangkan.


Rambut Dev yang masih setengah basah membuat Disya tak sadar jika terus menatap Dev.


"Aku memang tampan, tapi kamu tidak akan kenyang jika hanya menatapku."


"Hahh?"


"Ammm." Karena Disya sedikit membuka mulutnya, akhirnya Dev menyuapinya nasi goreng.


"Eh Bapak, apa-apaan sih."


Seketika wajah Disya merona karena perlakuan Dev.


"Kamu tuh yang apa-apaan, bukannya sarapan malah terpesona ngeliat saya." Dev terkekeh pelan.


"Isss PD banget!!!"


Disya mencebik kesal, lalu mulai ikut sarapan.


Setelah selesai Disya mencuci piring bekasnya makan, lalu menghampiri Dev yang masih santai menyeruput kopinya.


"Pak."


"Hem."


"Nanti saya mau keluar boleh ya?"


"Mau ngapain?"


"Jalan-jalan aja, boleh ya?" pinta Disya.


Dev tak menjawab, tapi pergi meninggalkan Disya. Seketika wajah Disya menjadi sedih, karena mengira tak mendapat ijin dari Dev.


Tak lama Dev keluar dari kamarnya dan menghampiri Disya.


"Ambil ini." Dev menyodorkan sebuah kartu untuk Disya.


"Apa ini Pak?"


"Pisang Ambon!!!"


"Issss."


"Ini ATM, istriku sayangggg."


"Saya juga tau pak, tapi saya nggak butuh.


Saya masih punya uang kok, nggak perlu repot-repot."


"Ambil aja, nggak usah bawel.

__ADS_1


Saya tau kamu butuh refresing, jadi,,,ambil ini beli apa pun yang kamu mau." Dev pergi meninggalkan Disya yang masih merasa bingung.


__ADS_2