Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Dev yang manja


__ADS_3

"Astagaaaaa, apakah kalian tidak bisa menutup pintu sebelum bermesraan," pekik Susan.


Susan berdiri dengan Deni di depan pintu yang terbuka lebar.


Disya dan Dev gelagapan dan segera mengurai pelukan mereka saat kepergok Susan sedang berpelukan.


"Tidak bisakah mengetuk pintu sebelum masuk. Nggak sopan banget," tukas Dev kesal.


"Bagaimana mau ngetuk pintu, orang pintunya aja kebuka lebar kayak gini. Lagian kakak ada-ada aja, mau mesra-mesraan kok nggak meriksa pintu dulu. Kepergok kan akhirnya. Kan aku jadi baper, pengen juga," ujar Susan sembari menyenggol lengan Deni.


"Kalo pengen, ya tinggal kekepin tuh yang ada di sebelah kamu."


"Ha ha ha, boleh-boleh tapi nggak di sini juga kali kak," kekeh Susan.


"Kenapa kesini?"


"Ya ampunnn Kak Dev, takut banget di ganggu sih.


Lagian kalian itu udh berbulan-bulan nikah, tapi kaya baru nikah aja, keliatan banget kalo nggak pengen di ganggu." Susan mencibir.


"Masalahhh?"


"Masalah banget Kak. Kakak tuh curang, padahal aku duluan tunangan, tapi Kak Dev yang nikah duluan.


Nggak bilang-bilang lagi, kan sebbel." Susan mencebik kesal.


"Kita kesini bukan buat curhat, tapi mau ngajak pengantin barunya makan siang," sela Deni, di saat Kakak Adik sedang berdebat.


"Baiklah-baiklah. Kak Dev, makanan udah siap di bawah.


Kakak mau makan di bawah atau makanannya mau di anter ke sini?"


"Nanti aku ambil makanan sendiri, sekalian makanan buat Disya."


"Hmmm, baiklah sepertinya pengantin baru emang bener-bener nggak pengen di ganggu," ledek Susan.


Dev melotot mendengar perkataan Susan, sedangkan Disya kini wajahnya telah bersemu merah, karena malu.


"Oke-oke aku pergi, ayuk Den kita pergi, kayaknya kita ganggu banget Deh di sini." Susan menjulurkan lidahnya lalu pergi bersama Deni.


"Astagaaaa, kenapa anak itu sekarang berubah jadi usil." Dev menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Heii kenapa pipinya merah-merah gini?" tanya Dev usil.


Disya tersenyum, tapi tidak menjawab.


Tanpa aba-aba, Dev kembali memeluk Disya.


Seperti pasangan yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah, Dev seolah tak ingin jauh-jauh dari Disya.


"Aku ambilin makan ya, terus minum obat."


Disya masih bergeming, tak keluar sepatah kata pun dari bibirnya.


"Kenapa diam?"


"Gimana mau makan kalau Bapak meluk terus," ucap Disya sembari tersenyum.


"Oh ya ampunnn." Dev melepaskan pelukannya setelah di sadarkan oleh Disya.


"Baiklah aku akan mengambilkan makanan.


Oh iyya belajarlah untuk tidak memanggilku Bapak, karena aku suamimu bukan Bapakmu, ngerti."


"Baiklah," ucap Disya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Astagaa, kenapa wajahmu sangat menggemaskan sekali.


Bolehkah aku memelukmu lagi?"


Disya hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu.


Tanpa menunggu lama Dev kembali memeluk Disya.


"Kak Dev!!!!!!!" teriak Nadine.


"Astaga,,,,,,ada apa dengan Adik-Adikku hari ini?


Kenapa mereka berubah jadi usil semua." Dev mendengus kesal lalu melepaskan pelukannya.


Disya yang melihat Ekspresi Dev, tiba-tiba tertawa.


"Nadine sayang ada apa?" tanya Disya, lalu menghampiri Nadine.


"Kak Disya, aku mau main sama Kak Disya boleh?"


Disya menatap Dev, dan Dev menggelengkan kepala pelan, tanda tak setuju.


"Boleh sayang, yuk kita main di kasur Kak Disya," ucap Disya. Sedangkan Dev kini cemberut.


Dev turun untuk mengambilkan Disya makanan lalu kembali naik setelah mengambilkan nasi dengan beberapa pelengkapnya.


Saat masuk Dev melihat Disya tengah membelai rambut Nadine yang kini berbaring di tempat tidur.


Dev berjalan pelan lalu menaruh makanan yang ia bawa di atas nakas.


Disya menaruh jari telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan kepada Dev agar tak berisik karena Nadine sepertinya akan tertidur.


Dev menarik kursi tunggal yang ada di dekat pembaringan lalu duduk di hadapan Disya.


"Makan dulu, abis itu minum obat," bisik Dev, karena tak ingin Nadine sampai terjaga karena suaranya.


"Biar saya suap sendiri, saya bisa kok," tolak disya.


"Udah diem, aku akan menyuapimu. Tak ada protes, mengerti!"


"Baiklah." Karena malas berdebat akhirnya Disya menuruti keinginan Dev.


Ada desir aneh yang bergelayut di hati Dev saat menyaksikan Disya menerima suapan demi suapan darinya. Sekian lama mengenal Disya, baru inilah Dev menyaksikan wajah polos Disya ketika sedang makan.


Dev tersenyum melihat Disya yang tengah serius makan.


"Pelan-pelan, nanti tersedak."


"Sekarang minum obat ya." Dev mengambil bungkusan kecil yang ada di dalam laci, lalu memberikannya pada Disya.


"istirahatlah, aku akan keluar menemani Papa dan juga Ibu di luar." Dev membantu Disya berbaring lalu menyelimutinya bersama Nadine. Setelah Disya memejamkan mata, Dev kembali ke ruang tamu.


*****


Saat hampir magrib Disya membuka matanya, tidurnya sangat nyenyak hingga tak menyadari jika Dev juga tidur di sebelahnya, tangannya melingkar sempurna di pinggang Disya. Disya yang ingin ke toilet Perlahan-lahan melepas pelukan Dev agar Dev tak bangun.


Setelah kakinya menyentuh lantai Disya kaget karena tangannya tiba-tiba di cekal Dev.


"Mau kemana?" tanya Dev, dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mau ke kamar mandi."


"Jangan mandi sore dulu, besok pagi aja."


"Cuma mau pipis Pak."

__ADS_1


Dev menarik tangan Disya dan membuatnya terjatuh tepat di atas Dev.


"Aku sudah bilang jangan memanggilku Bapak.


Sekarang terima hukumanmu."


Disya tak bisa lagi mengelak dari hukuman yang di berikan Dev. Untuk kedua kalinya Dev membuat Disya hampir kehabisan nafas.


Setelah Disya bernafas dengan teratur, Dev membawa Disya ke dalam pelukannya.


"Sering-sering saja memanggilku Bapak, dan aku akan dengan senang hati memberikanmu hukuman."


Disya membenamkan wajahnya di dada Dev karena merasa sangat malu.


"Atagaaa, wajahmu sangat menggemaskan jika sedang malu-malu begini, Awwww sakit."


Disya mencubit pinggang Dev karena terus menggodanya.


"Berhentilah menggoda, aku mau ke kamar mandi dulu."


"Baiklah-baiklah." Dev menggendong Disya menuju kamar mandi.


"Turuninn aku bisa sendiri." Disya meronta ingin di turunkan.


"Diamlah, aku tidak mau kalau sampai istriku kelelahan."


Disya lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah Dev menurunkannya. Disya senyum-senyum sendiri saat berada di kamar mandi.


Disya merasa sangat bahagia karena kini perlakuan Dev telah berubah drastis. Meski belum seutuhnya tapi Disya yakin suatu saat Dev akan mencintainya sepenuh hati.


"Heiii, apa kau baik-baik saja? kenapa lama sekali di dalam kamar mandi." Disya tersadar dari lamunannya karena teriakan Dev.


"Sebentar lagi!" jawab Disya dari dalam.


Setelah buang air kecil, Disya lalu mencuci wajahnya agar terlihat segar.


"Aku kira kamu ketiduran di kamar mandi, soalnya lama banget. Nggak ada yang sakit kan?" tanya Dev yang merasa sedikit cemas.


"Nggak papa. Emang dari tadi nungguin di sini?"


"He'em."


"Kenapa?"


"Kebelet juga." Dev tesenyum.


"Ya udah gih sana masuk."


"Cium dulu tapi."


"Astaga, ya ampunnnn mesum banget."


"Biarin aja, istri sendiri."


"Udah sana masukkk."


"Nggak mauuuu," rengek Dev manja.


"Masukkk." Disya berusaha mendorong Dev masuk ke dalam kamar mandi, tapi tak sedikit pun tubuhnya bergeser.


Dev menggelengkan kepalanya lalu mengetuk bibirnya sebagai isyarat.


CUP,,,,,Disya mencium pipi kiri Dev lalu mendorongngnya kedalam lalu menutup pintunya dari luar.


"Heiii, curang sekali," teriak Dev dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2