
Setelah beberapa lama tidur dalam dekapan Dev, Disya terbangun karena merasakan tubuh Dev semakin panas.
Disya memeriksa kening Dev, lalu bangkit perlahan untuk mengambil kompresan di dapur.
Disya mengompres Dev, lalu memandangi wajah suaminya. Seketika perasaan bahagia menyeruak, mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.
Meski hanya mendapat pelukan tapi itu sudah membuat Disya cukup bahagia, bibirnya terus tersenyum, sangat bahagia.
Di pegangnya tangan suaminya perlahan, membuat Dev mengeliat.
Spontan Disya melepaskan tangan Dev, lalu membuang pandangan ke sembarang arah.
Tak sengaja pandangan Disya terlempar ke arah dinding yang bercat putih, di sana terdapat beberapa bingkai foto ukuran sedang. Seketika hati Disya berdenyut merasakan sakit, lalu pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan Dev.
Dadanya bagai di hantam batu besar, seolah menyadarkannya tentang kebahagiaan yang tak akan pernah ia miliki.
Tepat di atas kepala Dev, tergantung bingkai foto pertunangan Dev dan Tiara yang cukup besar. Foto yang menggambarkan betapa Dev sangat bahagia saat itu, senyumnya merekah dengan sempurna, kedua tangannya melingkari pinggang Tiara yang ramping. Pasangan yang sangat serasi.
Sangat berbeda dengan dirinya yang hanya wanita biasa, dan juga istri sementara.
Kebahagiaan yang tadi terpancar kini berubah menjadi kabut mendung dan siap menumpahkan hujan.
Disya berlari meninggalkan Dev, lalu menumpahkan tangisnya di dapur.
Membuat bubur dengan di iringi isakan tangis, meski hatinya sakit tapi tak membuatnya mengabaikan Dev yang sedang sakit.
Setelah buburnya matang, Disya mengantarkannnya ke dalam kamar Dev.
Terlihat Dev masih tampak nyenyak dengan kompresan yan masih ada di keningnya.
Setelah meletakkan buburnya di atas lemari kecil di samping tempat tidur Dev, Disya duduk dan merenung.
Mungkinkah kata rindu itu untuk Tiara dan bukan untukku?
Mungkinkah pelukan hangat itu juga bukan untukku?
Batin Disya berkecamuk, dan berusaha memahami situasi yang kini menimpanya.
Sebelum air matanya kembali tumpah, Disya memutuskan untuk keluar dan duduk di sofa ruang tamu, tujuannya agar mampu mengawasi Dev meski hanya di luar kamar.
Karena jika di dalam kamar, Disya merasa sesak dengan semua ornamen yang ada di kamar itu.
Tak lama, matanya yang mulai lelah, kini perlahan-lahan terpejam, membawanya masuk ke alam mimpi.
Di dalam mimpinya, Disya melayang-layang di udara, matanya berusaha keras untuk terbuka namun tak bisa.
Disya menghirup aroma parfum yang belakangan ini sering dia cium, aroma itu menenangkan dan membuatnya kembali terbuai di dalam mimpinya.
Pukul Delapan pagi, matahari mulai naik ke atas peraduannya, cahayanya menembus jendela kaca di kamar Disya, dan menyapa wajahnya.
Tubuhnya menggeliat perlahan lalu menarik guling yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Gulingnya terasa hangat, membuat Disya terus memeluknya.
Deru nafas hangat menerpa wajah Disya, Disya pun merasakan detak jantung pada bantal gulingnya.
Ya tuhan, adakah guling yang bernafas dan memiliki detak jantung?
Sekuat tenaga Disya memulihkan seluruh kesadarannya, lalu membuka matanya perlahan.
Seketika matanya membulat saat melihat gulingnya, tangannya menutup bibirnya yang hampir saja meloloskan pekikan.
"Pak Dev?" gumam Disya pelan.
Perlahan Disya menurunkan kakinya yang berada di atas ke dua kaki Dev.
Memandang wajah Dev yang kini tepat berada di depan wajahnya.
Tak terasa ke dua sudut bibir Disya tertarik ke atas, membentuk senyum yang sempurna.
Memandang wajah Dev membuat Disya tak mampu mengendalikan bibirnya yang terus tersungging.
"Udah puas mandangnya?
Aku memang tampan!" Suara Dev memecahkan lamunan Disya.
Seketika bangkit lalu hendak bangun dan kabur karena ketahuan telah memperhatikan Dev.
Tapi secepat kilat Dev menarik tangan Disya, membuat Disya terjatuh dan hampir saja wajah keduanya bersentuhan kalau saja Disya tak menahannya, tangannya berpegangan pada kedua bahu Dev.
Keduanya hanyut dalam pandangan masing-masing.
Rambut Disya yang panjang menjuntai sempurna di kedua pipi, membuat Dev menelan ludah perlahan.
"Ba,,Bapak butuh sesuatu?" Karena takut pipinya terlihat merona, akhirnya Disya terlebih dahulu membuang pandangannya dan pura-pura bertanya untuk mengalihkan perhatian.
"Tidak, aku hanya lapar. Bubur yang semalem nggak cukup, bisa tolong buat sarapan sekarang?"
"Baik, akan segera saya buatkan." Disya segera bangkit dan menuju dapur.
Sementara, Dev masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena masih belum terlalu fit, Dev istirahat seharian full di rumah.
Setelah selesai membersihkan diri, Dev memakai kaus putih oblong dan celana bahan selutut, lalu Dev keluar kamar dan menuju meja makan, menunggu sarapan yang akan di hidangkan Disya.
Terlihat Disya yang tengah sibuk membuat sarapan, tangannya bergerak lincah di dapur, rambutnya yang di gulung asal-asalan membuat leher putihnya terekspose nyata, membuat Dev terus memandangnya.
"Sarapannya sudah siap Pak."
Disya menaruh sepiring nasi dan semangkuk sup ayam di hadapan Dev.
"Pak,,, anda baik-baik saja?" Dev segera tersadar dan membuang pandangannya dari Disya.
__ADS_1
Dev berdehem perlahan agar tak terlihat gugup di hadapan Disya.
"Cepat mandi sana, terus temenin saya sarapan?"
"Hah?"
"Temenin sarapan!" ulang Dev sekali lagi.
"Saya masih kenyang Pak, Bapak duluan aja," ucap Disya.
"Ya udah kalau gitu saya juga nggak mau sarapan."
"Baiklah, tunggu sebentar." Karena malas berdebat akhirnya Disya menuruti permintaan Dev untuk menemaninya sarapan.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Disya keluar menuju meja makan dan menemani Dev untuk sarapan.
Suasana hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Diam-diam Disya memperhatikan Dev yang tengah serius dengan sarapannya.
Mengagumi betapa sempurnanya ciptaan tuhan yang ada di hadapannya.
"Jangan suka curi-curi pandang, nanti jatuh cinta," ucap Dev sembari tersenyum.
"Kalau saya bilang saya udah jatuh cinta, gimana Pak?"
Dev menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyendok nasi.
"Tadi aku hanya bercanda, jangan terlalu serius menanggapinya," kata Dev.
"Tapi saya serius Pak!"
"Kamu hanya akan sakit hati, karena cintamu tak akan terbalaskan. Bukankah dulu sudah pernah aku tegaskan, sampai kapan pun aku hanya akan mencintai Tiara."
"Tiara udah nggak ada Pak, kenapa hanya memikirkan orang yang sudah tiada?"
"Disya!" bentak Dev.
"Kamu nggak berhak mengatakannya, kamu nggak tau apa-apa. Kalau pun Tiara udah nggak ada, bagi saya Tiara akan tetap ada selamanya.
Jadi jangan pernah bermimpi kalau cintamu akan terbalaskan.
Jangan karena aku menikahimu, bukan berarti aku mencintaimu." Kilatan amarah begitu jelas terlihat di mata Dev.
Disya pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya, air matanya berhamburan keluar setelah mendengar bentakan dari Dev.
Setelah masuk ke dalam kamar, Disya menguncinya lalu menangis dan merutuki kebodohannya yang jatuh cinta pada seseorang yang tak mungkin mencintainya.
Sementara di luar Dev meremas rambutnya sembari berteriak, menyesali perkataannya yang pasti menyakiti hati Disya.
Dev pun memasuki kamarnya dan membanting pintunya dengan keras.
__ADS_1