Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Aku pun sangat rindu


__ADS_3

Hari minggu yang cerah, Disya berencana hendak belanja bahan makanan untuk di Apartemennya.


Setelah bersiap-siap Disya memesan Taxi online.


Setelah sampai di super market, Disya masuk setelah di sambut ramah oleh SPG yang berjaga dan menawarkan berbagai Produk yang sedang mengalami potongan harga.


Sebelum mulai belanja, Disya mengambil trolli terlebih dahulu untuk memudahkannya membawa belanjaannya.


Setelah sampai di tempat yang ia tuju, Disya mengambil daging ayam juga ikan.


Setelah itu berbagai sayur mayur dan juga buah-buahan juga ia beli.


Meskipun Dev tidak berada di Apartemen untuk beberapa hari, tapi Disya tetap belanja untuk dia masak.


Disya tipe orang yang tak suka memesan makanan di luar kalau tidak terpaksa. Disya lebih suka memakan masakannya sendiri, baginya, masakan sendiri lebih higienis dari pada makan di luar.


Seminggu ke depan, Dev ada pekerjaan di luar kota dan meninggalkan Disya sendiri di Apartemennya.


Baru Dua hari saja, Disya sudah di landa kesepian. Meskipun sering bertengkar dan selalu membuat Disya kesal, tapi nyatanya saat tak melihat Dev, perasaan aneh itu datang.


Perasaan yang selalu ingin melihat Dev, bertengkar dengan Dev, dan menangis karena Dev.


Untuk menepis semua rasa itu, rasa yang membuatnya selalu gelisah, Disya memilih keluar untuk belanja.


Kebetulan bahan-bahan di kulkas telah habis dan juga peralatan mandinya pun telah habis.


Di saat Disya sedang melihat-lihat sampo dan juga perlengkapan lainnya, ternyata Nabila juga berada tak jauh dari tempat Disya berada. Nabila yang tak sengaja melihat Disya memekik kaget juga gembira melihat sahabat yang begitu ia sayangi.


"Disyaaaa," pekik Nabila.


Sontak saja Disya terlonjak kaget mendengar suara nyaring yang sangat ia kenal.


"Nabila?"


Nabila berlari memeluk Disya, tak perduli dengan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.


"Disya kamu di Jakarta? Kok nggak bilang-bilang aku sih, tega banget."


"Hah, oh, itu anu,,,"


Disya gelagapan, bingung akan menjawab apa.


"Anu anu apa?


Oh iya, kemaren kamu jadi nikah Sya?" tanya Nabila hati-hati, takut sahabatnya merasa kurang nyaman.


"He em."


"Aku bingung Sya, mau sedih atau bahagia sama pernikahan kamu.


Nikah sama Joko pasti kamu menderita.


Ya udah lupain aja, kita bahas yang lain aja ya."


"Iya," jawab Disya singkat.


Setelah selesai berbelanja, Nabila mengajak Disya untuk makan di sebuah food court, sembari melepas rindu kepada sahabatnya itu.


"Oh iyya Sya tau nggak, pas Pak Dev tau kamu udah nggak kerja lagi?"


"Nggak tau!"


"Ya makanya dengerin dulu Sya, aku baru mau cerita udah main potong aja."

__ADS_1


"Pak Dev jadi sering marah-marah, kesalahan dikit aja langsung naik darah.


Aku nggak pernah liat Pak Dev semenyeramkan itu, untung aja kamu nggak liat, kalau kamu liat bisa-bisa kamu jantungan di buatnya. Entah apa yang bikin Pak Dev jadi gampang emosi? apa mungkin dia rindu sama kamu Sya?" Nabila tampak berfikir sejenak.


"Apaan sih, ya nggak mungkin lah."


"Ya mungkin aja Sya, soalnya pas kamu masih kerja di sini, Pak Dev nggak pernah segalak itu.


Oh iyya aku denger kabar juga kalau Pak Dev abis nikah pas lagi ke luar kota gitu.


Entah bener atau enggak tapi semenjak dia masuk kantor lagi, mukanya lebih ceria, nggak kayak pas sebelum pergi ke luar kota.


Yang jadi pertanyaan, siapa wanita beruntung yang jadi Istrinya Pak Dev? Ini masih jadi rahasia.


Kira-kira siapa ya Sya? selama ini kan Pak Dev nggak punya pacar, kalau pun ada, itu kan cuma kamu Sya. Atau jangan-jangan,,,,, Pak Dev nikahnya sama kamu ya Sya?"


"Uhukkk, uhukkkk, uhukkkk." Disya tersedak minuman saat mendengar perkataan Nabila.


"Eh Sya kamu baik-baik aja kan?" Nabila mengusap punggung Disya berkali-kali, karena Disya tak juga berhenti batuk, sampai-sampai matanya berair.


"Kenapa mukanya jadi panik gitu Sya, kamu nikah bukan sama Pak Dev beneran kan?"


"Apaan sih, jangan ngaco!"


"Ya kali aja, soalnya kemaren kan kamu sempet jadi calon Istri Pak Dev, ya,,,, meskipun itu cuma bohongan, tapi aku berharapnya itu beneran."


"Ngaco aja."


Setelah makan-makan bareng Nabila, Disya pulang tanpa menjawab pertanyaan Nabila, yang menanyakan tempat tinggalnya.


Belum saatnya Disya memberi tahunya, Disya masih belum siap.


Karena kelelahan Disya tertidur hingga petang menjelang. Ponselnya terus berdering dan membuat Disya terbangun.


Matanya sedikit menyipit terkena sinar dari ponselnya.


"Iyya kenapa pak?"


"Kamu dari mana aja sih? dari siang di chat nggak di balas-balas, di telfon nggak di angkat-angkat. Kesempatan ya, keluyuran saat suami lagi nggak ada di rumah," omel Dev panjang lebar.


"Tadi dari super market Pak, beli bahan makanan, stok di kulkas habis.


Jadi keluar sebentar, terus pas pulang karena capek, saya ketiduran jadi nggak denger panggilan Bapak."


"Alasan."


"Bodo!!" dengus Disya kesal.


"Udah makan?" tanya Dev.


"Bapak Nelfon saya cuma mau nanyain saya udah makan? So sweat banget.


Tapi saya ini udah cukup dewasa Pak, bukan lagi anak kecil yang mesti di tanya udah makan apa belum."


Andai saja pernikahan kita ini sungguhan, pasti saat ini aku sangat bahagia dengan pertanyaanmu


"Istriku sayangggg, kenapa selalu saja marah-marah, apa kamu tidak rindu pada suamimu yang tampan ini?" Goda Dev.


Apa katanya? rindu?


tentu saja aku sangat rindu, pak suami.


Tapi rindu atau pun tidak, apakah kau perduli.?

__ADS_1


"Nggak!!!!" jawab Disya singkat.


"Baiklah-baiklah, kalau gitu saya matiin telfonnya." Suara Dev terdengar kecewa. Tanpa menunggu perkataan dari Disya, Dev memutuskan sambungan telfonnya.


"Dasar menyebalkan, kenapa dia seperti orang marah, dasar aneh."


Setelah mandi dan mengenakan piyama tidur, Disya keluar kamar hendak mengambil air minum. Tapi belum sampai di dapur, bel Apartemennya berbunyi.


Disya bergegas membukanya.


"Pak Dev?


Bukannya Bapak keluar kota selama Satu Minggu?"


Disya terkejut, karena baru Dua hari Dev telah kembali.


"Kenapa?


Nggak suka, kalau saya pulang cepet?"


Jawab Dev, dengan suara lemah.


"Bapak sakit?


Mukanya pucet banget Pak."


"Bisa antar saya ke kamar?" Pinta Dev.


Tanpa menjawab, Disya segera membantu Dev membawanya ke dalam kamar.


Setelah membaringkannya di tempat tidur, Disya melepas jas juga sepatu yang masih menempel pada tubuh Dev, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya.


Ketika hendak berbalik untuk ke luar, tangan Disya di tarik oleh Dev.


"Jangan pergi, tetap di sini!" lirih suara Dev, dengan mata terpejam.


"Aku akan mengambil kompresan di dapur, hanya sebentar," ucap Disya.


Tapi Dev tak melepaskan genggaman tangannya.


Akhirnya Disya duduk di bibir ranjang di sisi Dev, dengan tangannya yang masih di genggam oleh Dev.


Disya memandangi wajah sosok yang kini menjadi suaminya. Wajahnya yang pucat dan lemah, tapi tak mengurangi pesonanya.


Melihat tubuhnya yang lemah, Disya merasa sangat iba. Ingin sekali Disya memeluknya saat ini, tapi takut Dev menolaknya.


Jadilah saat ini Disya hanya memandangi suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan.


Disya teringat cerita Nabila siang tadi, yang mengatakan jika Dev berubah menjadi pemarah setelah kepergian Disya, dan akhir-akhir ini kembali ceria setelah kabarnya telah melangsungkan pernikahan saat ke luar kota.


Disya merasakan wajahnya menghangat, tiba-tiba merasa bahagia. Apakah benar Dev menjadi pemarah setelah kepergiannya? Apakah itu karena Dev merindukannya?


Dan akhir-akhir ini Dev mulai nampak ceria, apakah itu karena Dev juga bahagia menikah dengannya.?


Di saat Disya tengah memikirkan hal-hal yang yang masih membuatnya bingung, tiba-tiba Dev menariknya ke dalam dekapannya. Dev memeluknya erat seolah tak ingin Disya pergi darinya.


"Aku rindu." Pelan, tapi Disya masih mampu mendengarnya.


Tubuh Disya terasa kaku di dalam dekapan Dev, tak mempercayai posisinya sekarang.


Perasaan haru dan bahagia datang secara tiba-tiba, membuat buliran demi buliran air mata turun begitu saja di pipi Disya.


"Aku pun sangat rindu Pak,,,, sangat."

__ADS_1


Disya meneggelamkan wajahnya pada dada bidang Dev, tak mampu lagi membendung isakan tangisnya, bahunya bergetar karena mencoba menahan agar suara tangisnya tidak pecah.


__ADS_2