Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
kedatangan Nabila


__ADS_3

"Oh eM Zet Disya!!!


Seriusan ini Rumah kamu?"


Nabila datang ke rumah Disya setelah Disya mengirim alamatnya semalam.


Karena hari ini libur dan juga sangat penasaran, akhirnya Nabila Datang ke Rumah Disya.


Nabila berdecak kagum saat berada di luar Rumah.


Rumah minimalis yang sangat cantik dengan bermacam jenis bunga, juga kolam ikan mas koi yang ada di samping Rumahnya membuat Nabila terus berdecak kagum.


"Bukan, ini Rumah Pak Dev.


Jadi kamu harus jaga sikap, jangan biarkan bibir tak berahlak itu terus mengoceh nggak karuan."


"Ohh ya ampun Nyonya Devano, anda sombong sekali."


"Masuk yukkk, jangan ngoceh aja."


Disya membawa Nabila masuk ke dalam Rumahnya.


"Ngomong-ngomong, Pak Dev ada di mana Sya?"


"Di Kamar, lagi sibuk sama Laptopnya."


"Ya ampunn, hari libur gini masih aja sibuk sama laptop.


Tapi kalau malem aku yakin pasti sibuknya ama kamu." Nabila tersenyum menggoda ke arah Disya.


"Ihhh Nabila, jangan mesum deh!


Duduk gih di situ, aku buatin minum dulu."


Setelah mempersilahkan Nabila duduk, Disya ke dapur untuk membuatkannya minum.


Tak lama Disya keluar membawa Tiga gelas minuman, lalu meletakkan Dua di depan Nabila dan membawa Satu gelas untuk Dev.


"Hari minggu masih kerja juga?"


Disya meletakkan minumannya di atas meja rias yang bersebelahan dengan tempat tidurnya.


"Ya abisnya mau ngerjain kamu nggak bisa," ucap Dev lalu menutup laptopnya.


"Ihhh apaan sihh!!" Disya baru saja hendak berbalik, tapi Dev sudah menarik tangannya hingga Disya terduduk di pangkuannya.


"Ada Nabila di luar, kasian takut kelamaan nunggu." Dev tak memperdulikan perkataan Disya dan masih terus memeluk Disya.


"Biarin aja dia nunggu, siapa suruh dia gannguin pengantin baru di hari libur."


"Ya kan dia punya waktunya kalau liburan aja.


Emang kalau hari kerja, kamu ngijinin dia main kesini?"


"Ya di ijinin lah."


"Masak sih, beneran?" tanya Disya antusian.


"Ya boleh, tapi di potong gaji." Dev tertawa melihat Disya yang cemberut.


"Huhhh dasarr! ya udah aku mau keluar dulu, kasian Nabila."


"Nggak mauuu," ucap Dev manja.


Pelukannya malah tambah erat dan Disya tidak bisa melepaskannya.


"Cup" Disya mengecup bibir Dev sebentar, karena hanya itu yang akan mengobati kemanjaannya.


Dan akhirnya berhasil, Dev melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah baiklah, hari ini kamu bisa bebas bergosip dengan Nabila."


"Memangnya Ibu-Ibu?"


"Calon Ibu sayanggg, yaaa meskipun belum sempet bikin Bayi."


"Apaan sih???" Pipi Disya kini merona.


"Ya emang benner, kalau aja tamu kamu nggak dateng tiba-tiba, aku yakin pasti sekarang Bayinya udah mau jadi di dalam sini." Dev mengelus perut Disya yang ramping.


"Isss lebbay banget, ya udah aku keluar dulu kasian Nabila."


Disya lalu berdiri dari pangkuan Dev dan beranjak pergi, tak mau jika Dev terus menggoda dan membuat pipinya terus seperti kepiting rebus.


"Baiklahhh, hari ini aku membebaskanmu kangen-kangenan sama sahabat kamu, tapi lain kali aku akan mengurungmu siang malam di kamar."


Disya berbalik melihat Dev lalu tersenyum dan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.


"Eh awas ya!" teriak Dev. Tapi secepat kilat Disya menghilang dari pandangan Dev.


"Pagi-pagi udah main lari-larian aja.


Di kejer Pak Dev ya?


Nggak sabar banget nunggu ampe malem, huhhh dasarrr."


cibir Nabila.


"Uhhhh sirik aja! makanya nikah sana, biar ngerasain kejar-kejaran." Disya lalu duduk di sebelah Nabila yang sedang makan camilan.


"Belum ada yang mau serius Sya, semuanya cuma pada mau main-main aja." Tiba-tiba raut wajah Nabila berubah jadi sedih.


"Duh Nabila maaf ya, aku nggak sengaja mau bkin kamu sedih, seriusan deh."


"Nggak papa kok Sya, nasib aku emang nggak seberuntung kamu, bisa nikah sama Bos tampan kayak Pak Dev.


Kalau mantan aku, kaya enggak, muka ya pas-pasan, doyan selingkuh lagi. Kan kamvret banget," umpat Nabila.


"Iyya emang baik, tapi kurang agresif.


Aku lebih suka cowok yang agresif dan sedikit nakal gitu." Nabila tersenyum nakal, membuat Disya bergidik ngeri.


"Ihhh masih pacaran udah nyari yang agresif."


"Ya iyya lah Sya, pacaran kalau monoton aja itu nggak seru. kalau cuma cipika cipiki aja itu ma gaya anak SD.


Kamu udah ngerasain ciuman maut belum?


kalau kamu udah ngerasain, pasti ketagihan minta nambah lagi."


"NABILAAAAA!!! mesum dasar," pekik Disya lalu melempar bantal sofa ke arah Nabila.


Nabila hanya cekikikan melihat tingkah Disya.


Nabila sangat tau jika Disya sangat polos dan suka alergi dengan bahasa-bahasa mesum.


"Biasa aja Sya ya ampunnn.


Oh iyya, ngomong-ngomong gimana malam pertama?


Tunggu-tunggu biar aku tebak, pasti kamu ngumpet terus di dalem selimut, nggak berani keluar.


Soalnya aku tau, kamu itu belum pernah pacaran, belum pernah di sentuh cowok. Eh tau-tau langsung nikah.


Aku yakin pasti kamu grogi banget, sampe keluar keringat dingin, iyya kan Syaaa??" pertanyaan Nabila membuat Disya geleng-geleng kepala.


"Apaan sih? itu rahasia tau."


"Ih Disya pelit banget, bagi-bagi rahasia kenapa?

__ADS_1


Aku kan jadi pinisirin bingit.


Jangan sampai aku mati penasaran ya di sini, bisa-bisa nanti arwah aku gentayangan terus neror kamu. Mau??"


"Elahhh, lebbay banget!"


"Atau jangan-jangan kamu sama sekali belum ngelakuin ritual malam pengantin baru?


Jangan sampe kamu bilang iyya ya Sya, karena udah pasti aku bakal ngetawain kamu sambil lari keliling kompleks, terus teriak-teriak, biar semua warga kompleks tau----"


"Tau kalau kamu udah gila."


"Isssss enak aja, aku masih waras tau!


masih bisa bedain cowok jantan ma yang enggak."


"Bahas apaan sih? mending bahas yang lain."


"Ya udah deh kita bahas yang lain, tapi masih tentang kamu ya Sya?


Aku tuh penasaran, gimana ceritanya kamu bisa sampe nikah sama Pak Dev?


Padahal kan awalnya kamu mau nikah sama Joko."


"Aku juga nggak tau, awalnya aku kira yang lagi ijab qobul itu Joko, tapi kok nggak di sangka-sangka ternyata Pak Dev." Disya menceritakan saat-saat dia menikah dengan Joko, sampai ternyata yang menjadi suaminya adalah Dev.


Disya pun belum sempat menanyakan semua yang terjadi hari itu kepada ibunya.


"Oh my wowwww Disya!! aku juga mau kayak kamu Sya.


Pas buka mata, tau-tau di cium sama pangeran tampannn." Nabila tergelak dengan makanan yang masih penuh di mulutnya sampai tersedak.


"Nah kan,,, makanya kalau makan jangan ngayalin yang enggak-enggak, keselek kan.


Makanya otaknya rajin-rajin di bersihin biar mikirnya nggak aneh-aneh," cibir Disya sembari memberi Nabila minum.


"Cewek normal kali Sya, orang nggak normal aja yang nggak suka mikir yang aneh-aneh."


"Oh iyya Sya, jadi setelah nikah sama Pak Dev, kamu masih kerja atau di rumah aja?"


"Tadinya sih kerja."


"Kenapa kerja? Bukannya Pak Dev duitnya banyak.


Harusnya nggak perlu kerja, ongkang-ongkang kaki aja di rumah, nggak perlu kerja keras."


"Emangnya aku mata duitan!


Lagian bosen juga di rumah terus."


"Emang kerja di mana Sya?


Kenapa nggak di kantor Pak Dev aja?"


"Kerja di Restoran masak-masak gitu.


Lagian kalo di kantor, takutnya nggak boleh Satu kantor sama suami sendiri," jelas Disya.


Tiba-tiba bel rumah Disya berbunyi, lalu Disya membuka pintu.


"Raka!!!"


"I,,,iyya Sya. Pak Dev yang nyuruh aku kesini."


"Ohhh, emang ada kerjaan?


Bukannya ini hari libur?"


Raka menaikkan bahunya, tanda ia pun tak mengerti mengapa di panggil Pak Dev

__ADS_1


"Aku yang minta dia kesini, biar aku ada temennya.


Bosen dari tadi di kamar, kalau kita ngobrol berempat kan seru." Dev tiba-tiba datang di belakang Disya.


__ADS_2