Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Bantu aku melupakan masa lalu


__ADS_3

Setelah kunjungan terakhirnya, Dev tak pernah lagi mengunjungi Disya. Disya mulai resah, merasa sangat bersalah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan kemarin.


kini saat Dev tak muncul di hadapannya hatinya gerimis.


"Kenapa nak? Ibu perhatiin kamu kok ngelamun terus.


Kangen Dev ya?" tanya Ibu Disya.


"Enggak kok Bu, mungkin perasaan Ibu aja," elak Disya, lalu mengalihkan pandangannya agar tak terlihat jika matanya kini telah berembun.


"Dev bilang ada pekerjaan mendadak di luar kota, belum tau kapan bisa pulang."


Apa!!


keluar kota berhari-hari kok nggak bilang, jahat sekali.


"Oohh." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Disya.


"Apa kamu sedang ada masalah Nak?


Ibu perhatikan, kok kamu sering melamun gitu?


Kamu dan Dev baik-baik aja kan?"


"Iyya Bu, Disya baik-baik aja kok."


"Syukurlah. oh iyya, kata Dokter besok kamu udah bisa pulang, cuma harus rutin Cek Up biar bisa tau perkembangan kesehatanmu."


"iyya Bu," jawab Disya singkat.


Keesokan hari, pagi-pagi Ibu Disya telah membereskan pakaian Disya dan memasukkannya ke dalam tas.


Hari ini Disya boleh pulang, tapi sampai Disya telah berada di dalam Mobil Arman, Dev tak juga datang.


Karena Dev tak bisa menjemput, Dev meminta Arman untuk menjemput Disya di Rumah Sakit.


Disya menatap nanar ke luar jendela, pandangannya kini memburam oleh air mata yang kini telah menggenang di pelupuk matanya.


Dia memang tidak akan pernah mencintaiku, dia tak pernah perduli denganku, mulai sekarang aku tidak akan berharap lagi.


Disya menyeka buliran bening yang jatuh satu per satu di pipinya. Ibunya menggenggam tangannya erat, seolah mengerti apa yang tengah di rasakan putrinya.


Suasana hening, tak ada satu pun yang mengeluarkan suara ketika dalam perjalanan.


Ketika memasuki sebuah halaman yang tidak terlalu besar dan rumah minimalis berlantai Dua, dengan tanaman beraneka macam Bunga, menambah keindahan yang tergambar pada Rumah yang kini ada di hadapan Disya.


"Bu ini Rumah siapa? kenapa kita kesini?" tanya Disya heran. Sepanjang perjalanan Disya memang sudah heran, karena jalan yang di laluinya bukanlah jalanan menuju ke Apartemen Dev.


"Ibu juga tidak tau nak, Dev tidak memberi tahu apa pun pada Ibu."


"Masuk aja Sya, biar kamu nggak penasaran," ujar Arman.


"Tapi,,,,?"


"Udah ayukkk, kita masuk, di dalem udah ada yang nungguin." Arman lebih dulu berjalan menuju pintu dan yang lain mulai mengikutinya. Dan ketika sampai di depan pintu, Arman Mundur dan membawa Disya tepat di depan pintu.


Perlahan-lahan pintu terbuka, dan betapa kaget sekaligus bahagianya Disya saat melihat orang-orang yang kini berada tepat di hadapannya.


"Selamat datang Kak Disya," ucap Nadine dengan senyumnya yang mengembang sempurna lalu berlari memeluk Disya, membuat Disya merasa sangat bahagia.


"Selamat datang Kakak ipar," Susan pun ikut memeluk Disya penuh haru.


"Kak Susan ada di sini?" tanya Disya penuh keheranan sekaligus bahagia.

__ADS_1


"Heiii, aku bukan Kakakmu lagi, sekarang aku adalah Adik iparmu." Susan tersenyum geli.


Kini Pak Wijaya yang memeluk Disya penuh haru.


"Anak bodoh Papa tidak memberi tahu jika menantu Papa sedang berada di Rumah Sakit. Tadi pagi baru memberi tahu jika hari ini kamu sudah bisa pulang. Dan kami semua kesini buat menyambutmu.


Maafin Papa karena nggak tau kalau kemarin kamu di Rumah sakit," ucap Pak Wijaya sendu, merasa sangat bersalah karena baru tahu tentang keadaan Disya.


"Nggak apa-apa kok Pa, aku udah sehat sekarang."


"Duduklah nak, Dev sedang keluar ingin membeli sesuatu katanya." Disya hanya tersenyum tipis dan mengikuti perintah Papa mertuanya.


Nadine yang memang sangat suka dengan Disya, kini telah berada di dekatnya, sembari memainkan jemari Disya. Disya tersenyum melihat tingkah Nadine yang seolah mencari perhatian.


Pukul Sebelas siang, Dev belum juga datang. Disya yang merasa sangat lelah di minta untuk segera beristirahat.


Andira yang mengantarnya untuk naik ke lantai Dua, karena Ibunya menemani Pak wijaya dan keluarganya di Ruang tamu.


Saat membuka pintu, betapa takjubnya Andira melihat isi kamar yang kini di masukinya.


Lantai yang bertabur kelopak bunga Mawar, juga tempat tidur yang telah di hias dengan sedemikian rupa.


Setumpuk kelopak Mawar berbentuk Love menghiasi tempat tidur yang ada di hadapannya.


"Astaga Kakak, ini perbuatan siapa?


Indah sekali!"


"Ini seperti kamar pengantin baru. Kakak ipar ternyata Sweet banget ya." Andira tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan di hadapannya.


Disya pun tak kalah kaget sekaligus kagum melihat seisi kamar yang kini di masukinya. Benarkah ini perbuatan Dev?


Disya masih tak mempercayai apa yang di lihatnya.


Disya berjalan pelan mendekati meja rias yang di sana ada fotonya sedang tertidur dan Dev tengah tersenyum di dalam tenda saat di puncak. Dulu Dev memotret Disya yang sedang tertidur pulas secara diam-diam dan menyimpan di ponselnya. Tanpa sadar Disya tersenyum melihat foto yang ada di depannya.


Disya menegok kesana kemari.


"Andira sudah pergi," tambah Dev.


Disya mematung, jantungnya berdegup tak karuan.


Pelukan yang kini di berikan Dev terasa tulus, tak seperti dulu. Hembusan nafasnya kini menerpa telinga Disya, serasa di sengat aliran listrik ketika Dev mendekatkan bibirnya ke telinga Disya.


"Rumah siapa ini?" tanya Disya, untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Rumah kita, Rumah untukmu. Aku tau kamu tidak suka Apartemenku kan?"


"Siapa bilang? saya suka kok."


"Benarkah?" Dev membalikkan tubuh Disya dan menangkup wajahnya. Disya tak membalas tatapan mata Dev.


"Aku sangat rindu." Dev memeluk Disya erat.


"Untuk sesaat aku kira akan kehilanganmu. Untuk pertama kalinya aku sangat takut kehilangan dirimu, aku hampir gila melihatmu terbaring lemah.


Terimakasih karena telah kembali, terimakasih."


"Bapak tidak perlu merasa kasihan padaku, aku baik-baik saja. Tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini," ucap Disya.


"Tatap mataku. Apa aku terlihat sedang mengasihanimu." Dev melepaskan pelukannya, dan membuat Disya menatap matanya. Keduanya beradu tatap cukup lama.


"Jangan terus memberikanku harapan jika kelak akhirnya akan meninggalkanku." Suara Disya bergetar, dan kini air matanya tumpah.

__ADS_1


"Aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Dev mencium lembut bibir Disya, perlahan-lahan namun dalam, menjadikannya pagutan-pagutan mesra, kini keduanya saling membagi nafas seolah tak ingin menyudahinya.


Jangan di tanya bagaimana perasaan Disya saat ini, tentu saja sangat Syok. Kini dadanya serasa di penuhi ribuan kembang api yang siap meledak.


Selama Disya bersama Dev, baru inilah Disya merasa perlakuan Dev begitu tulus, bukan karena keterpaksaan seperti yang sudah-sudah. Disya terlena, Disya merasa kini melayang di atas awan.


Saat menyadari Disya hampir kehabisan nafas, Dev menarik tubuhnya dan membiarkan Disya mengambil nafas sebanyak-banyaknya.


Dev tersenyum lalu membawa Disya ke dalam pelukannya lagi.


"Bukankah hanya Tiara yang kau cintai, dan tak akan membiarkan siapa pun menggantikannya." Alih-alih membalas perlakuan Dev, Disya malah melontarkan pertanyaan yang ia sendiri tak menyadari mengapa memberikan pertanyaan itu.


"Dia masa lalu. Bukankah setiap manusia memiliki masa lalu. Terkadang manusia memang sulit untuk keluar dari masa lalunya, tapi jika dia menemukan seseorang yang tepat dan di waktu yang tepat, maka pendiriannya yang kokoh akan runtuh seketika.


Aku memang belum bisa menghapus tentang dia sepenuhnya, karena menghapus kenangan tak semudah membalikkan telapak tangan.


Bantu aku melupakan masa laluku, demi kita, demi hubungan kita.


Aku ingin memulai semuanya dari awal, bersamamu.


Menjalani pernikahan yang bahagia, dengan beberapa anak yang lucu-lucu, aku sangat menginginkannya.


Bisakah kau membantuku." Sorot mata Dev begitu menghiba, permohonannya begitu tulus, hingga membuat air mata Disya jatuh lebih deras lagi.


Tak mampu berkata-kata lagi, Disya hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Aku mau,,,,,,sesulit apa pun menghilangkan masa lalumu, aku akan tetap bersabar untuk menunggu masa lalu itu hilang, hingga berganti menjadi masa depan yang lebih cerah." Disya begitu bahagia, hingga air matanya tak henti-hentinya mengalir, bibirnya tak mampu lagi berucap, hanya pelukannya yang kini semakin erat.


Kini Disya merasa hidupnya lebih berwarna, hampir mendekati sempurna karena cintanya tak lagi sepihak.


Pria yang di cintainya pun kini mulai mencintainya.


TIMITTTTTTTT....


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Waduh thor, beneran udah tamat???


Oh tidak semudah itu Ferguso!!


Ini baru awal kebahagiaan Disya, konflik yang sesungguhnya lagi OTW.

__ADS_1


Tapi,,,untuk sekarang mah fokus ke kebahagiaannya aja lah dulu, kasian kalo si Disya di bkin mewek terus.


Kasian juga yang nulis suka ikutan Baper kalo lagi nulis.


__ADS_2