Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Demi Disya


__ADS_3

"Pak mau kemana??"


Tanya Disya, karena melihat Dev yang tiba tiba berdiri.


"Mau ke Toilet, mau ikut??"


Jawab Dev.


"Nggak, ngapain juga saya ikut,


saya bisa kok sendirian kalau mau ke toilet."


Ucap Disya kesal.


"Kenapa nanya??"


"Nanya nggak bayar."


"Terserah!!"


Lalu Dev pergi begitu saja dengan wajah datar.


"Huhhh, pasti dia kesurupan lagi, tingkahnya berubah begitu lagi." Gerutu Disya.


"Kita belum kenalan, Nama saya Arman teman Dev dari jaman SMA sampai sekarang.


Kamu sendiri??" Arman memperkenalkan dirinya.


"Disya."


Jawab Disya singkat.


"Udah lama kenal Dev??


"Baru beberapa bulan terakhir ini sih."


"Kenal di mana kalau boleh tau??"


"Di kantor."


"Kalian pacaran??"


"Kan tadi udh bilang pak, kalau kita nggak pacaran.


Lagian siapa juga yang mau pacaran sama manusia Batu, Hantu, Bayi sapi, kerbau, kayak dia.


Lihat saja ekspresinya tadi, wanita manapun nggak akan ada yang suka sama kelakuan dia yang kayak gitu." Disya mengoceh panjang lebar karena kesal,


membuat Arman tertawa terbahak bahak.


"Kamu lucu ya, pantes aja Dev suka sama kamu."


"Suka apanya??


kita cuma temen kok."


"Dev itu kayaknya suka deh sama kamu Disya, soalnya setau saya setelah Tiara kamu lah wanita kedua yang Dev ajak jalan."


"Ah itu perasaan Bapak aja."


"Panggil kak Arman aja, kalau manggil Bapak, saya merasa jadi sangat tua."


"Oh ya udah."


"Dev itu nggak gampang deket sama wanita, makanya pas saya liat dia kesini sama wanita, saya udah nebak pasti kamu wanita spesial." Tambah arman lagi.


"Ah nggak mungkin kak, lagian dia itu belum bisa ngelupain Tiara, jadi nggak mungkin bisa suka sama wanita lain. Lagian saya juga nggak mungkin suka sama manusia kutub kayak pak Dev. Kilah Disya.


"Emmm, nggak suka ya??


tapi kok mau jalan sama Dev."


"Ya karena saya kan temennya, lagian jalan jalan hari ini cuma buat ngerayain hari ulang tahun pak Dev aja kok, nggak lebih."

__ADS_1


"Cuma berdua??"


Selidik Arman.


"Iyya berdua, karena cuma saya temennya pak Dev, mungkin." Ucap Disya pelan.


"Disya, Disya, kamu polos juga ya, nggak peka,


Dev itu pasti suka sama kamu, kalau nggak suka mana mau dia nurutin kamu ke tempat beginian.


Dia itu takut sama wahana ekstrim, apa lagi ketinggian, Tapi demi kamu dia mau nurutin kamu ke sini. Udah gitu sampai ikut naik Hysteria segala,


kamu nggak liat tadi wajahnya pas turun, pucat begitu kayak mau pingsan gara gara ketakutan."


Arman bercerita dan Disya mendengarkan, lalu mereka tertawa berbarengan.


"Ehemm."


Tiba tiba Dev datang menghampiri Disya dan Arman.


"Akrab banget kayaknya, padahal baru juga kenal."


"Iyya Dev, ternyata Disya ini orangnya lucu ya."


Ucap Arman.


Hah lucu, kamu kira dia boneka


dan kenapa gadis ini gampang sekali membuat pria terkesan, genit dasarrr


"Ayuk pulang!!"


Tiba tiba Dev mengajak Disya pulang, tanpa menggubris perkataan Arman.


"Loh pak kita kan baru naik beberapa permainan, masa udah mau pulang." Disya tampak kecewa.


"Iyya Dev, lagian ini baru jam berapa??


waktunya masih panjang, sayang kalau mau langsung pulang." Sambung Arman.


Jawab Dev asal.


"Tapi tadi pagi baik baik aja, kenapa sekarang tiba tiba nggak enak badan??"


"Terserah saya dong, badan badan saya kenapa kamu yang protes."


"Ya jelas saya protes, orang Bapak udah gangguin saya, terus nyamperin saya pagi pagi, ehh giliran udah di sini malah ngajakin pulang, nggak seru banget."


"Kalau kamu nggak mau pulang, ya udah di sini aja. Saya tetep mau pulang."


Dev kekeh ingin tetap pulang.


"Pulanglah Disya, sepertinya dia sedang cemburu."


Bisik Arman.


"Hahhh!"


Disya membuka mulutnya setelah mendengar bisikan Arman.


"Kalian lagi ngomongin apa??


serius banget, sampai nggak boleh ada yang denger."


Ucap Dev dengan wajah tak suka.


"Kepo banget." Arman tersenyum melihat ekspresi Dev.


Dev mengantar Disya pulang karena alasan tak enak badan, akhirnya karena tak tega Disya menuruti Dev untuk pulang, walaupun merasa kecewa karena belum puas bermain, apa boleh buat.


Tak ada obrolan saat di dalam mobil, keduanya hanya terdiam hanyut dalam pikiran masing masing.


Setelah sampai akhirnya Disya hendak turun tapi seketika di urungkan karena Dev menarik tangannya.

__ADS_1


"Maaf untuk hari ini." Wajah Dev tampak merasa bersalah.


"Nggak papa pak, lagian Bapak kan sakit.


Nggak mungkin kan saya paksain juga."


Ucap Disya.


"Nanti kapan kapan saya ajak ke sana lagi."


"Nggak usah pak, nggak usah repot repot.


Lagian Bapak kan takut sama wahana di sana, jadi percuma aja kalau kita ke sana lagi."


"Siapa bilang, orang saya emang lagi nggak enak badan aja kok makanya saya ngajak kamu pulang cepet."


"Heleh, takut mah takut aja, nggak usah sok sok'an berani.


Kalau takut aturan Bapak nggak usah maksain buat naik wahana itu."


"Kamu yang sok tau, saya nggak pernah takut sama apa pun, apa lagi cuma wahana kayak gitu, kecil."


ucap Dev seolah meremehkan.


"Kak Arman udah cerita semuanya."


"Oh ya ampun, baru kenal aja udah manggil kakak!!


genit banget."


"kenapa??


nggak ada yang salah sama panggilan itu."


celoteh Disya seolah tak perduli.


"Terserah!!"


Dev lalu pergi tanpa mendengarkan Disya lagi.


"Huhh dasar nggak jelas, kenapa sikapnya begitu?


kadang kadang manis kadang pait."


Disya menggerutu lalu masuk ke dalam kosannya.


Dev melajukan mobilnya sangat kencang, merasa sangat kesal dengan tingkah Disya.


Setelah sampai di Apartemennya Dev lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


king size yang terlihat nyaman, cocok untuk merelaksasi tubuh yang lelah.


Tapi tidak untuk Dev.


Meski sudah berusaha mengistirahatkan mata dan fikiran, tetap saja dia tidak bisa memejamkan matanya.


"Arggggg!!


Ada apa denganku sebenarnya??


kenapa gadis itu hampir membuatku gila."


Dev menarik narik rambutnya dengan kasar, berharap semua yang ada di dalam fikirannya hilang.


"Tiara aku masih sangat mencintaimu, aku tidak akan berhianat. Jangankan mencintai seorang wanita, aku bahkan tidak akan berpikir untuk jatuh cinta pada wanita lain."


Dev menatap foto Tiara dengannya dengan bingkai yang cukup besar menempel di dinding dengan cat warna hijau muda.


Dev memeluk Tiara dari belakang dan Tiara menatap Dev dengan tersenyum.


Foto foto Tiara masih tersusun rapi di meja, di dinding, bahkan di ruang tamu pun ada foto Tiara.


Setelah kejadian Di rumah pak wijaya malam itu, Dev tidak pulang ke rumahnya, melainkan ke Apartemennya, Apartemen yang tadinya hadiah pernikahan untuk Tiara.

__ADS_1


Saat Dev sangat rindu pada Tiara, Dev selalu menghabiskan waktu di Apartemennya untuk sekedar melepas rindu pada pujaan hatinya, meskipun hanya sekedar menatap fotonya saja.


Setelah lama menatap dan berbicara pada foto Tiara, Dev akhirnya memejamkan mata yang sedari tadi memang sudah lelah.


__ADS_2