Bosku Cintaku

Bosku Cintaku
Getaran getaran cinta


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Disya menghindari Dev.


Suasana hatinya yang tak menentu membuatnya enggan bertatap muka secara langsung.


Pernah terbersit dalam fikirannya untuk kembali kepada kedua orang tuanya tapi di sisi lain hatinya menyadarkannya tentang bagaimana perasaan orang tuanya.


Aura bahagia terpancar dari wajah orang tuanya saat Dev berada di sana, dan kembali kesana lalu menceritakan kebenarannya, itu sama saja akan mematahkan hati orang tuanya, terlebih lagi para tetangga akan mengoloknya, Disya tidak bisa membayangkan kejadian itu menimpa keluarganya.


Bertahan adalah solusi yang kini harus ia pilih, entah sampai kapan Disya pun belum tau karena tak bisa di pungkiri saat berada di kampung dan melihat Dev yang selalu banyak tersenyum begitu akrab dengan keluarga Disya, membuat getaran-getaran cinta mulai tumbuh walau dengan sekuat tenaga telah Disya halau tapi tetap saja Disya kalah dengan hatinya.


Itulah sebabnya beberapa hari ini Disya merasa murung dan mengurung dirinya di kamar, karena saat melihat Dev Disya harus menyadarkan dirinya bahwa semuanya hanyalah sandiwara dan itu membuatnya sakit.


Siapapun wanita di muka bumi ini tak akan ada yang mampu menolak pesona seorang Devano Putra Wijaya, sosok pria yang mampu membuat wanita wanita meleleh dengan senyumannya.


Tampan? jangan di tanya, kadar ketampanannya melebihi dari apa yang kita kira, tak heran jika Clara sampai tergila-gila walaupun telah di tolak berulang kali.


Jam Tiga sore Disya merasa lapar karena memang belum makan siang, juga belum ada tanda-tanda Dev pulang dari kantor, Disya cepat-cepat ingin keluar sebelum Dev pulang.


Ketika Disya membuka pintu, Disya membulatkan matanya kaget karena Dev telah berdiri di samping pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada lalu melihat ke arah Disya.


"Keluar juga akhirnya, nggak bosen emang terus-terusan di dalem kamar?"


Tanpa menjawab pertanyaan Dev, Disya segera menutup pintu kamarnya tapi secepat kilat Dev menahannya. Dengan sekuat tenaga Disya terus mendorongnya dari dalam.


"Awww,,, aduh!" Dev mengibas-ngibaskan tangannya.


"Bapak nggak kenapa-kenapa?" Disya tiba-tiba membuka pintu karena mendengar suara Dev yang seperti kesakitan.


"Coba liat tangannya." Disya meraih tangan Dev tapi Dev menepisnya.


"Nggak usah, nggak papa kok."


"Coba liat dulu."


"Kalau saya bilang enggak ya enggak," tukas Dev dengan wajah kesal.


"Bapak sih, siapa suruh maksa-maksa dorong pintu, kejepit kan akhirnya."


Dev tak menggubris perkataan Disya, berlalu dengan wajah manyun.


"Pak! tungguin, saya nggak sengaja maafin ya." Disya mengejar Dev.


"Bodo."


"Ihhhh Bapak jangan gitu dong saya kan beneran nggak sengaja."


"Emmm, beneran mau di maafin?"


"Udah di kejer ampe sini masa iyya saya boongan."


"Ya udah siap-siap sana."


"Kenapa mesti siap-siap, emang mau kemana?" tanya Disya karena penasaran.


"Nggak usah banyak nanya, mau di maafin kan."


"Iyya-iyya, huh dasarrr." Setelah bersiap-siap Disya menghampiri Dev yang telah menunggunya di ruang tamu, lalu mereka berangkat bersama.


Setelah sampai ke tempat yang mereka tuju Dev mengajak Disya masuk ke dalam Mall yang cukup terkenal di jakarta.


Disya hanya mengikuti kemana arah langkah Dev pergi.


Setelah sampai di lantai Dua, Dev mengajak Disya masuk ke sebuah Butik.

__ADS_1


"Pak kita ngapain ke sini?" tanya Disya karena penasaran.


"Mau berenang," jawab Dev singkat.


"Hah?"


"Kamu kira kita mau ngapain lagi kalau ke tempat beginian, nggak mungkin berenang kan?"


"Tinggal jawab aja, apa susahnya sih." Disya mencebik kesal.


"Dimana-mana cewek itu kalau di ajak belanja pasti girang, lah ini malah cemberut."


"Udah sana pilih baju yang kamu suka, bosen liat baju kamu yang itu-itu aja."


"Sombong sekali."


"Bawel ah, udah sana terus kita makan, laper nih udah berapa hari nggak ada yang masakin, masa punya istri tapi suaminya di bikin kelaperan," sindir Dev.


"Istri apa, istri bayangan," gerutu Disya lalu pergi memilih pakaian yang dia suka.


Dua Piyama tidur dan Satu Dress selutut warna biru laut.


"Apa ini, kenapa cuma Tiga? kamu mau saya di cap sebagai suami pelit."


"Udah deh pak jangan bawa-bawa suami istri kalau cuma kita berdua, pendengaran saya jadi terganggu, kita nggak perlu bersandiwara kalau kita cuma berdua." Dev lagi-lagi terdiam mendengar perkataan Disya.


"Mbak bungkusin Baju-Baju di sini yang menurut Mbak cocok buat dia ya," ucap Dev pada seorang Pramuniaga seraya menunjuk ke arah Disya.


"Baik Pak."


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan Dev untuk Disya telah selesai.


"Ya ampun Pak, ini apa? kita ngga mau buka toko baju kan di Apartemen Bapak?"


"Siapa yang mau berdebat orang cuma nanya." Disya lalu meraih Paper Bag yang ada di sampingnya, tapi Disya terlihat kwalahan karena lumayan banyak.


"Sini berikan, biar saya yang bawa," pinta Dev.


"Nggak usah, saya juga bisa kok," sahut Disya


tapi Dev tak mengindahkan perkataan Disya, di ambilnya semua Paper Bag yang ada di tangan Disya lalu pergi begitu saja.


"Mau makan apa?" tanya Dev setelah sampai di sebuah tempat makan.


"Apa aja," jawab Disya singkat.


Setelah memesan mereka pun mulai memakan pesanannya, Dev terlihat sangat lahap memakannya, Disya pun tersenyum melihatnya.


"Kamu nggak bakalan kenyang kalau ngeliain saya," ucap Dev lalu tersenyum.


"PD banget." Disya menggerutu lalu memakan makanannya.


"Dev!"


"Papa!" Dev terkejut melihat Papanya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu kemana aja belakangan ini? Raka bilang kalau kamu keluar Kota, ada pekerjaan?" tanya Pak Wijaya.


"Disya! kamu di sini juga?"


"I,, iyya Pak," jawab Disya gugup.


"Saya permisi ke Toilet dulu Pak," pamit Disya.

__ADS_1


"Dev, Mamamu uring-uringan nyariin kamu, kamu kemana aja sih? nggak ngasih kabar ke siapapun.


Mama sedang mempersiapkan pertunanganmu dengan Clara." Ucap pak Wijaya setelah duduk di hadapan anaknya.


Dev terdiam, menarik nafas perlahan lalu meminum minuman yang ada di hadapannya.


"Maafin Papa Dev karena Papa sepertinya nggak bisa bantuin kamu.


Terima saja keinginan Mama mu, cobalah untuk berdamai dengan hatimu, mungkin saja setelah berusaha kamu akan bahagia."


"Dev nggak bisa Pa, Dev sudah menikahi Disya."


"Hah! jangan bercanda Dev." Pak Wijaya terlihat sangat terkejut dengan perkataan Dev.


"Dev serius pa, kemarin Dev ke Kampung Disya beberapa hari, lalu menikah di sana."


"Dasar anak kurang ajar, nikah kok nggak bilang-bilang. Memang Orang Tua Disya nggak nanya-nanya dulu tentang kamu?"


"Ceritanya panjang Pa, nanti kapan-kapan Dev ceritain."


"Akhirnya anak Papa nggak jadi jomblo berkarat," ledek Pak Wijaya.


"Datanglah nanti malam ke rumah, jelaskan semuanya sama mama, Papa akan bantu membujuk Mamamu."


"Papa nggak bisa lama-lama Dev, takut mama nyariin. Jangan lupa nanti malam, Papa tunggu di rumah."


"Iyya Pa."


Pak wijaya pun berlalu meninggalkan Dev yang tengah berfikir keras.


******


"Loh Disya, kok kamu ada di sini?"


Disya yang tengah berdiri di parkiran kaget dengan kedatangan Pak Wijaya.


"Iyya Pak, takut ganggu jadi saya tunggu di sini aja," ucap Disya.


Pak Wijaya tersenyum.


"Panggil Papa jangan Bapak."


"Hahhh,!" Disya kaget.


"Dev udah cerita kalau kalian sudah menikah.


Papa mau mengucapkan terimakasih karena kamu udah berhasil mencairkan hatinya yang telah lama beku."


Disya terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Papa sangat bahagia karena akhirnya Dev membuka hatinya pada wanita yang tepat."


"Bapak terlalu memuji, saya nggak sebaik yang Bapak kira."


Seandainya Bapak tau pernikahan kami seperti apa, tentu Bapak tidak akan bicara seperti itu tentang saya.


"Ya udah, Papa nggak bisa lama-lama nih takut mama mertuamu nyariin," kekeh Pak Wijaya, Disya pun tersenyum di buatnya.


"Oh iyya Satu lagi, belajar panggil Papa jangan Bapak, saya agak aneh dengernya, bisa kan?"


"Iyya Pa," ucap Disya dengan senyum malu-malu.


Pak wijaya pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2