
"Pak Dev bukan sih??
Atau ini cuma mimpi??"
Disya menyentuh pipi Dev perlahan.
"Eh ini kayaknya nyata loh, coba cubit saya pak,
ini pasti cuma mimpi kan??
Pasti gara gara kebanyakan tidur, jadi ling lung."
Lalu Dev mencubit tangan Disya dengan sangat keras.
"Sakittttt!!" Teriak Disya sambil mengelus tangannya.
"Kalau ini bukan mimpi terus Bapak ngapain di sini??
Joko mana, kenapa Bapak berani banget masuk ke sini??
Terus kenapa Bapak tadi nyium saya, Bapak kenapa selalu bersikap kurang ajar sama saya??"
Deretan pertanyaan Disya membuat Dev pusing.
"Cium istri sendiri nggak dosa kali."
Ucap Dev dengan enteng.
"Oh ya ampun, jangan mengada ada ya Pak."
Belum selesai Disya bertanya, tiba tiba keluarga Disya datang karena mendengar teriakan Disya.
"Disya kamu baik baik aja nak??
kenapa teriak sampai sekencang itu??"
Tanya ibu Disya.
"Dev jangan di paksain, Slow aja, ini kan pertama kalinya buat Disya, pasti dia kaget."
Ledek Arman yang tengah mengekeh geli.
"Di paksa apaan, orang cuma di bangunin, tapi teriaknya udah kayak liat maling."
Dev melipat kedua tangannya di dada.
Andira yang mendengar percakapan orang orang mendadak kabur, takut pendengarannya ternoda.
"Bu, Joko mana??
yang Nikahin Disya Joko kan??
kenapa dia nggak kelihatan, terus Pak Dev kok bisa masuk sembarangan ke sini." Tanya Disya, sembari menyapu pandangan ke arah luar mencari seseorang.
"Ya ampun Disya, kamu beneran nggak tau siapa yang udah Nikahin kamu??"
Arman seketika memukul Dahinya.
"Itu Suamimu Nak, yang menikahimu tadi pagi, masa kamu nggak tau jelas jelas kamu di deket dia terus cium tangan juga, Ibu kira kamu lihat." Ucap Ibu Disya menjelaskan.
Disya terdiam sejenak lalu mengingat ingat kejadian sebelum sampai di depan penghulu.
Ibunya menyuruhnya tersenyum, Disya sempat janggal mendengar ibunya berkata demikian karena ibunya memang tidak setuju pernikahannya dengan Joko, ibunya malah meminta Disya untuk pergi jauh dan tak perlu memikirkan keluarganya, tapi Disya memilih untuk tetap menikahi Joko.
Saat Andira juga menggodanya, Disya merasa tambah aneh, karena kalau melihat ekspresi Andira saat semua membicarakan Joko, sudah pasti Andira sangat kesal dan kenapa pagi itu Andira menggoda dan terdengar bahagia.
Disya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, memikirkan tingkah lakunya yang menangis semalaman dan mengutuk nasibnya, sampai sampai tak menyadari dengan siapa dia menikah.
"Oh ya ampun apa apaan semua ini, mengapa dia yang menikahiku?? bukankah dia hanya mencintai Tiara
__ADS_1
lalu pernikahan ini untuk apa, apa maksudnya??
Joko, kenapa dia setuju begitu saja, bukankah dia bilang dia sangat mencintaiku bahkan kemarin aku memohon kepadanya agar membatalkan pernikahan ini, tapi dia bilang tidak akan melepaskanku bahkan dia siap melawan siapapun yang akan menghalangi pernikahan kami, tapi kenapa sekarang dengan begitu mudahnya dia membiarkan Pak Dev menggantikan posisinya." Begitu banyak pertanyaan yang melintas di fikiran Disya tapi entah siapa yang akan dia tanyai karena kondisinya masih belum memungkinkan.
Setelah semua keluar dari kamar Disya, tinggallah Disya dan Dev di dalam kamar berdua.
Dev sibuk dengan ponselnya mengecek Email yang masuk karena Dev sudah meninggalkan kantor beberapa hari jadi Dev mengerjakan semuanya melalui Email, sedangkan Disya masih terdiam entah memikirkan apa.
"Berhentilah melamun," Dev melempar Disya dengan bantal membuatnya tersadar dari lamunan.
"Ihhh apaan sih." keluh Disya.
"Aku lapar, seharian ini belum makan, aku juga mau mandi. kamu jadi Istri tega banget, suaminya udah seharian di sini boro boro di urusin, di tawarin minum juga enggak." Oceh Dev.
Disya bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil sesuatu di sana.
"Ni handuknya, Bapak pergi mandi aja dulu nanti saya siapin makan."
Disya memberikan handuk kepada Dev.
"Kenapa masih diem aja, sana mandi!
Saya mau ganti baju dulu baru siapin makanan buat Bapak."
"Saya bukan Bapak kamu tapi Suami kamu, kalau kamu mau ganti baju ya silahkan, kenapa saya harus keluar udah sah kok, nggak haram hukumnya."
Dev tertawa melihat Ekspresi Disya saat mendengar perkataan Dev.
"Mau makan nggak??
kalau nggak mau saya mau tidur aja."
Disya melirik Dev dengan tajam.
"Istri macam apa itu, nggak ada manis manisnya banget sama suami."
Setelah ganti baju, Disya ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk semua keluarga yang di bantu oleh Andira.
"Kak Disya kenal sama kakak ipar udah lama??
kok kakak nggak pernah cerita sama Andira tentang kakak ipar." Tanya Andira yang memang sudah sangat penasaran.
"Baru kenal beberapa bulan, dia Bos kakak di kantor."
Jawab Disya.
"Pantas saja dia memberikan mas kawin seratus juta, ternyata dia bosnya kakak."
"APA!!!!!!
Seratus juta." Disya kaget bukan main.
"Iyya kak, emang kakak nggak denger waktu ijab qobul??"
"Enggak."
"Ya ampun kak parah banget, kebanyakan mikirin Joko sih, sampai sampai bikin kakak budeg pas ijab qobul tadi."
"Nggak lucu ah."
Disya memikirkan perkataan Andira lalu meneruskan menyiapkan makanan tapi belum selesai Disya menyiapkan makanan, tiba tiba tangannya terhenti karena teriakan Dev.
"Wuaaaa, Kecoa."
Dev melompat lompat karena ada kecoa di dalam kamar mandi.
Disya yang mendengar Dev berteriak bergegas memeriksanya.
"Bapak kenapa??"
__ADS_1
Tanya Disya heran.
"Itu ada Kecoa, iiiiiii,"
Dev melompat lompat lalu memeluk Disya karena ketakutan.
Disya kaget karena perlakuan Dev, ada debaran debaran syahdu di dalam sana, melompat lompat sesuai irama, membuat pipi Disya merona.
"Ya ampun Pak itu cuma Kecoa lebbay banget."
Disya melepaskan pelukan Dev karena takut Dev melihat wajahnya yang sudah mirip Udang rebus.
"Nggak ada kamar mandi yang lebih bersih apa??"
"Emangnya ini Hotel, minggir dulu."
Lalu Disya menyiram kecoa itu dengan air sabun.
"Tuhhh Kecoanya tewas, dasar penakut.
Sama kecoa aja nggak berani."
Disya melangkah keluar dari kamar mandi.
"Bukannya takut tapi geli tau."
"Udah sana masuk mandi." Disya mendorong Dev masuk ke dalam kamar mandi.
"Tunggu di situ ya, kalau ada Kecoa lagi nanti kamu yang ngatasin, jangan kemana mana loh tetap di situ, kalau sampai kamu pergi,,, rasakan akibatnya.
Aku akan berikan hukuman yang sangat berat."
Ancam Dev, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Oh ya ampun beraninya dia mengancam, kebiasaannya nggak ilang ilang, heran."
Gerutu Disya.
Terdengar derit pintu kamar mandi berbunyi, Dev keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggang, Disya yang tak sengaja melihatnya seketika membuang muka.
"Itu muka kenapa kayak kepiting rebus begitu??
Kalau mau lihat ya lihat aja, nggak dosa kok."
Goda Dev, di iringi gelak tawa yang membuat Disya jengkel.
"Berhentilah menggoda, atau aku akan membawa Bapak ke sarang kecoa di belakang Rumah, mau??"
Ancam Disya.
"Sampai kamu berani, hukuman yang akan aku berikan tak akan pernah kamu lupakan seumur hidup." Dev balik mengancam.
Tanpa menggubris perkataan Dev, Disya pergi begitu saja dari hadapan Dev karena malas berdebat.
Disya melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda, setelah semua selesai, Disya memanggil semua untuk makan malam lalu Disya ke kamar untuk memanggil Dev.
"Ya ampun Bapak belum siap juga, ngapain aja dari tadi??"
"Gimana mau siap siap orang nggak punya baju ganti."
"Siapa suruh ke sini nggak bawa baju ganti."
"Ehhh ini istri ya, hobi banget berdebat. Harusnya kamu itu bersukur udah aku selametin dari si Joko, malah ngajak berdebat melulu.
Di sini ada pasar yang buka nggak, kalau ada beliin baju buat ganti dong." Pinta Dev.
"Ada,,,,,, Pasar setan, tu di pemakaman samping lapangan, pasti rame kalau jam segini."
"Nggak lucu." Ucap Dev singkat.
__ADS_1