Budak Ku Mr. Mafia

Budak Ku Mr. Mafia
Budeg??


__ADS_3

**Bantu Karya ini agar lebih bersinar dan masuk rangking KARYA Populer 🙏🙏 dengan cara LIKE KOMENTAR VOTE DAN BERI RATING 5 YAH 🙏🙏


Saling bantu kita, Author up tiap hari dan kakak semua Vote, like coment dan beri hadiah 🥰


...----------------...


Alfonso yang melihat Leo menodongkan pistol ke arah Tom pun langsung menendang pistol yang berada di tangan Lea, sehingga tembakan peluru tersebut melenceng dari kepala Tom.


"Apa yang kau lakukan, Le? Kau hampir saja membunuh orang?" teriak Arka murka pada Leo yang hanya menatap datar ke arah lantai yang berlobang karena tembakan pelurunya.


"Lebih baik dia mati daripada hidup!" tegas Leo membuat Arka dan yang lainnya memijat kening mereka.


Untung saja ada Alfonso yang menggagalkan tembakan tersebut. Jikalau tidak maka Leo akan benar-benar menjadi seorang pembunuh.


"Di mana adikku?" tanya Leo dengan suara dingin menatap Tom yang terkapar tak berdaya di lantai.


"Lea berada di rumah sakit," lirih Tom pelan membuat Leo dan yang lainnya membelalakkan mata mereka.


"Apa maksudmu sialan? Kenapa adikku bisa berada di rumah sakit?" bentak Leo murka.


Tom pun menceritakan musibah apa yang menimpa Lea dan dirinya membuat Leo menghadiahkan tendangan di perut Tom.


"Pergilah kalian ke rumah sakit! Biarkan aku dan Alfonso yang menghukum cecunguk ini!" tegas Om Yogi menatap dingin ke arah Tom.


Gleg.


Tom hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat sorot mata om Yogi yang seolah-olah ingin melahapnya hidup-hidup.


Hatinya mengatakan Om Yogi lebih berbahaya daripada Leo. Namun, apalah daya nya saat ini. Tom kalah telan dengan kehebatan Alfonso si legenda Mafia.


"Beri dia hukuman yang akan membuat dia jera!" tegas Leo menatap sinis ke arah Tom.


Leo, Arka, Kemal, Dito dan Dimas segera melangkah keluar dari markas Tom. Mereka ber-lima segera menuju ke rumah sakit tempat Lea di rawat.


*


*


Jerry yang sedang menjaga Lea di dalam ruangan pun tersentak saat melihat lima pria paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam ruang inap Lea.


"Siapa kalian?" tanya Jerry menodongkan pistol ke arah lima pria paruh baya itu yang tak lain adalah Arka Cs.


"Pergilah, Bung! Sebelum nasib mu sama seperti Tuan mu!" Dito berucap datar tanpa memperdulikan Jerry.


Saat Jerry ingin bertanya lagi ponselnya berdering membuat pria itu harus mengurungkan niatnya. Mata Jerry terbelalak saat mendengar suara Tom yang lemah dan terbata-bata menyuruh dirinya tak mengganggu lima pria paruh baya itu.

__ADS_1


Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Tom, sehingga suara pria itu terdengar lemah dan lirih.


Jerry pun segera memutuskan panggilan tersebut, lalu keluar dari ruang inap Lea.


Leo meneteskan air matanya ketika melihat sang adik terkapar lemah tak sadarkan diri di atas brankar. Berbagai macam alat medis terpasang di tubuh Lea guna membantu Lea agar terus bernafas dan membaik.


Leo mendudukkan bokongnya di bangku penjaga. Leo menggenggam tangan lemah Lea lalu mengecup lembut punggung tangan Lea.


"Lele … bangunlah! Kakak sudah datang!" ucap Leo lirih.


Dada Leo terasa sesak melihat keadaan Lea yang seperti ini. Andai di waktu lalu Leo mempercayai cerita Lea yang mengatakan Lea sedang di incar pria psikopat, pastilah Lea tidak akan mengalami hal buruk ini.


Apa yang akan Leo katakan pada orang tuanya nanti tentang keadaan Lea? Sungguh Leo merasa bersalah. Arka mengusap pundak Leo.


"Sabar, Le. Lea adalah gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua!" Arka berusaha menenangkan Leo.


"Sekuat apa pun seorang wanita akan merasa hancur dan lemah apabila kehormatannya direnggut paksa. Cemoohan, hinaan, rasa malu dan rasa tak berguna akan menghantui hidup mereka!" Leo berucap lirih dengan suara serak dan bergetar menahan tangis.


Mereka semua terdiam mendengar perkataan Leo.


"Apa yang kamu katakan itu memang benar, Le! Mereka akan hancur! Tapi, apa kamu lupa kalau mereka memiliki hati yang kuat. Wanita tidak se-lemah yang kita kira, Le. Bahkan, mereka masih sanggup tersenyum meski hati mereka di sakiti!" Kemal mengusap kepala Leo lembut berusaha memberikan pengertian pada Leo yang sedang di tekan mentalnya.


"Ara dulu juga begitu! Dia merasa sangat hancur. Bahkan, sampai ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Akan tetapi, karena aku yang selalu ada dan memberikan semangat hidup padanya membuat Ara kembali semangat menjalani hari-harinya."


"Cukup berikan semangat hidup untuk Lea dan hibur dia saat kesepian pasti Lea akan bangkit dari keterpurukannya! Percayakan semuanya akan baik-baik saja!" Dito ikut memberikan semangat pada Leo agar pria itu tak bersedih hati melihat keadaan adiknya yang menyedihkan.


"Kita pindahkan Lea ke Indonesia! Tapi, para istri dan anak perempuan kita mengetahuinya." Dimas memberikan saran membuat mereka semua mengangguk kepalanya setuju.


*


*


Sedangkan di sisi lain, Om Yogi dan Alfonso tersenyum puas melihat Tom terkapar tak berdaya atas ranjang. Entah apa yang mereka lakukan pada Tom, yang jelas pria tampan itu terlelap dengan nyaman atas ranjang.


"Apa kamu yakin dengan rencanamu, Yo?" tanya Alfonso seraya terus menatap Tom yang masih terlelap.


"Sangat yakin!" Om Yogi menjawab tegas membuat Alfonso menghela nafas berat.


*


*


Di Indonesia,


Pemilik bulu mata lentik itu perlahan membuka matanya. Ia menyipitkan matanya guna menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Eugh … " Lenguhan kecil keluar dari bibir pucat itu membuat seorang pemuda tampan yang sedang memangku laptop di pahanya pun menoleh ke arahnya.


"Aunty Lea." Pemuda itu yang tak lain adalah Olaf pun segera meletakkan laptopnya atas meja. Lalu beranjak menghampiri Lea yang baru sadar.


Tak lupa Olaf menekan tombol nurse agar para dokter masuk untuk memeriksa keadaan Lea.


Sudah seminggu Lea berada di Indonesia. Olaf dan para sepupunya (anak-anak Arka cs) khususnya yang laki-laki terkejut saat mengetahui fakta pahit itu. Mereka tak menyangka Lea yang ceria dan barbar bisa mengalami insiden mengerikan itu.


Tak lama setelahnya seorang dokter paruh baya masuk ke dalam ruang inap Lea. Dokter tersebut memeriksa keadaan Lea.


"Nona ini angka berapa?" tanya dokter tersebut mengangkat tiga jarinya.


Lea terdiam beberapa saat menatap lekat wajah dokter tersebut. Dahi gadis itu berkerut seperti sedang berpikir keras.


"Ti-ga … " Lea menjawab lirih membuat dokter tersebut tersenyum.


"Pasien baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatir kan!" Dokter tersebut tersenyum ramah pada Olaf.


"Terima kasih dokter." 


Dokter tersebut segera keluar dari ruangan Lea.


"Aunty! Aku benar-benar merindukan Aunty!" Olaf menghadiahkan ciuman bertubi-tubi di wajah Lea membuat gadis yang baru saja sadar itu terkikik geli.


"Geli … Olaf geli." Lea mendorong dada bidang Olaf. Gadis itu merasa geli saat bulu halus di wajah Olaf mengenai kulit wajahnya.


"Apa yang Aunty rasakan sekarang? Apakah ada yang sakit? Katakan padaku? Apa kakinya terasa pegal? Mau aku pijitin?" tanya Olaf bertubi-tubi membuat Lea menatap heran dirinya.


"Kamu ngomong apa, sih? Kok, cuma gerakin bibirnya! Ngomong itu yang keras suaranya biar aku tahu apa yang kamu katakan!" sungut Lea membuat senyuman di wajah Olaf pudar.


"Aunty!!!" teriak Olaf di telinga Lea.


"Apaan sih, Laf? Kenapa kamu terlihat seperti orang yang berteriak tapi suaranya kok gak ada?" celetuk Lea mengerucutkan bibirnya.


"Oh my God! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aunty tidak dapat mendengarkan suara seksi ku lagi? Tunggu-tunggu … berarti kalau aunty tidak dapat mendengarkan suara ku maka Aunty … "


"Budeg … Aunty budeg!" Mata Olaf terbelalak saat menyadari bahwa Lea tidak bisa mendengar suaranya.



Bersambung.


Halo-halo kakak … insya Allah mulai besok akan teratur up nya ya … sehari dua bab dan kalau banyak komentar dan banyak vote maka author bakal crazy up sebagai hadiah untuk kakak semua karena udah mau vote 😅😁😁


Ada yang penasaran bagaimana masih si Tom-Tom??

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰.


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰


__ADS_2