Budak Ku Mr. Mafia

Budak Ku Mr. Mafia
Dia Kembali


__ADS_3

"Apa? Alena sudah kembali ke Indonesia? Di mana dia sekarang, Bung? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya!" pekik Mas Gibran saat mendengar kabar dari sahabatnya.


Tubuhku termangu di depan pintu kamar saat mendengar nama Alena di sebut oleh Mas Gibran.


Alena adalah cinta pertama Mas Gibran yang pergi meninggalkan Mas Gibran demi mengejar mimpinya ke negara tetangga yaitu Singapura.


Mas Gibran adalah suami ku yang telah menikahi ku satu tahun yang lalu. Hubungan kami baik-baik saja, meskipun kami menikah karena di jodohkan. Mas Gibran tetap memperlakukan ku sebagai seorang istri.


Dia tetap memberikan ku nafkah lahir dan batin. Namun, sampai saat ini hanya satu yang belum dia berikan padaku yaitu hatinya.


Cintanya! Mas Gibran tak memberikan itu padaku. Bayangkan saja bagaimana kehidupan rumah tanggaku selama satu tahun ini. Hanya menyandang status sebagai Nyonya Hannah Gibran Ahmad.


Akan tetapi, status itu tiada artinya bagiku selama di hati Mas Gibran masih terlukis nama Alena Kirana cinta pertama Mas Gibran.


Kata orang cinta pertama sangatlah manis dan teramat sangat sulit untuk di lupakan. Namun, bagiku! Cinta pertama itu tak lebih dari Malapetaka yang membawa luka pada setiap rumah tangga.


Beruntungnya orang yang bisa menikahi cinta pertama mereka. Akan tetapi, sangat menyakitkan bagi mereka yang menikahi seseorang yang masih mencintai cinta pertamanya.


Sama seperti yang aku rasakan! Aku adalah salah satu orang yang tidak beruntung di dunia ini, karena mencintai orang yang masih menyimpan nama cinta pertamanya di dalam hati.


Bodohnya lagi, Mas Gibran adalah cinta pertama ku. Sungguh modis bukan? Cinta pertama ku masih mencintai cinta pertamanya.


Ha ha … aku tertawa dalam hati mengingat nasibku yang malang. Bagaikan kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.


"Di Bandung! Baiklah, besok aku akan langsung ke sana untuk bertemu dengannya. Jangan katakan padanya bahwa aku akan ke sana! Aku ingin memberikan kejutan padanya!" Mas Gibran berkata dengan penuh semangat sebelum menutup teleponnya.


Saking bahagianya Mas Gibran tidak menyadari bahwa aku sudah masuk ke dalam kamar. Raut wajahnya yang berbinar bahagia bak anak muda yang sedang kasmaran.


Hatiku sakit melihatnya ya Allah. Apa kurang ku selama ini? Aku telah menjadi istri yang Sholehah dan sudah berusaha menjadi hamba yang taat dengan menunaikan segala kewajiban ku sebagai muslimah.


Akan tetapi, mengapa Engkau uji aku dengan membiarkan suami ku mencintai cinta masa lalunya itu?

__ADS_1


"Mas," panggil ku lembut, ku selingi senyuman manis guna menutupi luka yang sedang menganga di hatiku.


Mas Gibran menoleh ke arah ku. Pria tampan itu membalas senyuman manis ku tanpa merasa bersalah.


Oh ya Allah … sesakit inikah?


"Hannah, besok aku akan ke Bandung! Alena telah pulang dari Singapura! Ternyata dia lulus cumlaude di sana. Sudah ku duga, Alena ku pasti bisa lulus lebih cepat karena otaknya yang cerdas itu!" Mas Gibran memuji kepintaran Alena di depanku.


Demi apa pun, aku ingin berteriak saat ini juga. Aku ingin menangis dan meraung-raung pada semesta. Rasanya aku ingin mengeluarkan aura negatif yang selama ini aku pendam.


Lelah menjadi wanita baik dan lembut, aku ini juga manusia yang punya nafsu dan sifat buruk. Kalau bukan karena ilmu agama yang aku pelajari dari kecil.


Sudah pasti aku menyumpah serapah takdir ku yang kejam. 


"Dulu saat kuliah S1 Alena juga lulus cumlaude! Ilmunya di bidang hukum benar-benar mengagumkan. Dia bisa menyerap semua tentang hukum dengan cepat. Bahkan, Alena … "


"Apa kurangnya aku selama ini, Mas?" 


Mereka akan lemah dengan perasaan yang bernama cemburu. Perempuan mampu menahan rasa cintanya bertahun-tahun. Akan tetapi, tidak dengan rasa cemburu.


POV Gibran.


Aku terkejut melihat Hannah bertanya padaku tentang kekurangannya selama ini. Aku melihat bola matanya yang indah itu berkaca-kaca seperti lampu taman yang ingin pecah.


Aku tersadar akan kesalahan ku. Tak seharusnya aku memuji Alena di depan Hannah yang jelas-jelas adalah istriku.


Hannah adalah istri yang aku nikahi satu tahun yang lalu. Aku menikahinya atas perintah ibuku yang sangat menyukai Hannah.


Hannah merupakan anak ustadz Muhammad Yusuf. Seorang ustadz yang amat di segani oleh penduduk pesantren Al Muslimun di Aceh.


Iya, Cut Hannah Salsabila bin Yusuf. Istriku merupakan orang Aceh asli. Ibuku mengenalnya karena dulu Hannah menolong ibuku yang sedang di copet saat sedang berlibur di Banda Aceh.

__ADS_1


Hannah sudah piatu semenjak umurnya delapan tahun. Dia hanya memiliki ayahnya yang sekarang masih mengajar di Aceh.


Oh ya Allah … aku telah berdosa karena telah membuat istriku cemburu. 


"Hannah." Aku ingin memeluknya, namun, Hannah memundurkan langkahnya.


Aku terkejut karena untuk pertama kalinya Hannah menolak pelukan ku. Apa dia benar-benar marah sekarang? Ya Allah … apa yang telah aku lakukan?


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Mas? Apa kurangnya aku selama ini? Apa belum cukup pengabdian ku padamu selama satu tahun ini untuk menghapus nama cinta pertamamu itu di hati kamu, Mas? Jawab!" 


Hannah meninggikan suaranya untuk pertama kali. Aku lihat wajahnya yang sudah memerah hingga ke lehernya menandakan istriku itu benar-benar marah.


"Hannah," panggilku lembut berusaha meredakan emosi istriku itu.


Aku tidak ingin menjadi api saat istriku menjadi api. Aku harus tenang dan dingin seperti air agar aku dan Hannah bisa berbicara secara baik-baik.


Kehadiran Alena membuat aku lupa diri kalau aku sekarang bukan lagi pria lajang. Aku adalah pria yang sudah beristri.


Namun, mau bagaimana lagi? Cintaku pada Alena masih utuh seperti saat dulu. Meski hubungan kami berakhir sehari sebelum aku menikahi Hannah. Cintaku padanya tak berkurang sedikitpun.


Kami putus bukan karena salah satu berselingkuh. Kami putus hanya karena Alena terlalu ambisi pada cita-citanya yang ingin menjadi seorang jaksa.


Sedangkan, ibuku sudah mendesak ku untuk segera menikah. Alhasil, aku pun menikahi Hannah demi bakti ku pada orang tuaku.


"Jawab, Mas! Aku ingin dengar jawaban kamu sekarang!" Hannah menjatuhkan air matanya menatap nyalang diriku.


Emosiku pun tersulut saat mendengar kata-kata lanjutan yang keluar dari mulut Hannah.


"Apa karena penampilan nya yang terbuka memamerkan paha dan dadanya pada semua laki-laki membuat kamu tertarik? Apa aku juga harus berpenampilan sepertinya? Atau perlu aku memakai bikini keluar dari rumah memamerkan tubuhku pada pria lain agar kamu juga suka?"


"Hannah!" teriakku menggelegar dengan tanganku yang mengambang di udara ingin menampar Hannah.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2