
Dor.
Prangg.
"Sayang … " Tom langsung menghampiri Lea lalu mendekap erat tubuh Lea yang bergetar karena terkejut dan takut.
Tak berhenti di situ saja, suara peluru bersahut-sahutan dalam villa tersebut.
Tom segera mengeluarkan pistol yang berada di pinggangnya. Sudah kebiasaan Mafia bila membawa pistol ke manapun mereka pergi.
Dor.
"Akkk … " Suara jeritan chef yang memberikan jus pada Lea pun terdengar menyakitkan di telinga.
Tak lama setelahnya masuk seorang pria tampan bertubuh kekar. Dia adalah pria yang telah menembak mati chef tadi.
Lea memeluk erat tubuh Tom karena merasa takut. Dia tak menyangka di tengah-tengah liburannya akan terjadi baku hantam.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya pria tampan itu yang tak lain adalah Dave.
Lea yang mendengar suara tak asing di telinganya pun langsung berbalik menatap Dave.
"Pak polisi!" Lea mengerutkan keningnya ketika melihat sosok yang dulu pernah menolongnya.
Pertemuan mereka pertama kali saat Tom ingin membunuh Lea.
"Siapa kau?" tanya Tom menodongkan pistol ke arah Dave.
Dave yang melihatnya pun menarik sudut bibirnya. Dia mengangkat kedua tangan nya di atas kepala.
"Santai, Bung! Aku bukan tim musuh … aku ke sini ingin berteman sekaligus bertukar informasi padamu tentang dalang pembunuhan keluarga mu!" jelas Dave tanpa basa-basi membuat Tom terkejut.
Dia menelisik wajah Dave, namun, tak menemukan kebohongan dan kecurigaan. Terpancar kejujuran serta keseriusan dalam sorot mata Dave.
__ADS_1
"Tenanglah, aku berkata serius!" ujar Dave yang paham pada tatapan Tom.
Lea menyentuh bahu Tom membuat tatapan Tom yang tadinya menajam kini melemah.
Tom segera menautkan bibirnya dengan bibir Lea membuat Dave mencebikkan bibirnya.
Dia tak menyangka akan melihat adegan romantis di hadapannya.
"Hey, aku masih di sini!" dengus Dave menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tom dan Lea buru-buru melepaskan ciuman tersebut. Kemudian Tom menatap datar Dave.
"Mari kita berbicara serius!" ajak Tom seraya melangkah ke ruang tamu.
"Sayang … kamu ke kamar dulu, ya! Aku ingin berbicara penting dengan dia!" pinta Tom lembut membuat Lea langsung menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, aku juga mau dengar pembicaraan kalian! Kamu tahu kan kalau aku tidak suka sendiri!" rengek Lea manja menggenggam tangan Tom.
Tom yang mendengar nya pun hanya bisa menghela nafas panjang. Pria tampan itu sangat lemah pada bujuk rayu Lea.
Mereka duduk di sofa, suasana di ruang tamu itu berubah menjadi tegang saat Dave memberikan Tom sebuah amplop coklat.
"Itu semua data informasi Tuan D yang aku tahu! Sekarang dia mengincar kematian istri mu. Tadi, alasan kenapa aku menembak gelas jus istrimu itu karena ada racun di dalamnya! Racun mawar hitam yang mampu membunuh korbannya dengan cara mengenaskan!"
"Kulit korban nya akan meleleh seperti kaca yang di lelehkan dengan api!" jelas Dave membuat Tom terbelalak, sedangkan Lea tampak ketakutan.
Lea menyembunyikan wajahnya di balik lengan kokoh Tom.
"Sial." Tom mengumpat kesal, pria tampan itu mengepalkan tangannya erat. Dia tak bisa membayangkan bila racun itu berhasil di minum oleh Lea.
Maka, dapat dipastikan Lea dan calon bayinya takkan selamat.
"Sangat banyak pengkhianat berada dalam kelompok mu! Salah satu dari anak buah mu membocorkan keberadaan mu yang berada di sini!" jelas Dave serius membuat Tom menghela nafasnya berat.
__ADS_1
Tak dapat di pungkiri bahwa dirinya juga membenarkan apa yang Dave katakan. Sangat banyak pengkhianat dalam kelompoknya.
Padahal apa kekurangan Tom? Pria tampan itu menaungi dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk para bawahan nya itu.
Begitulah kata orang, perbuatan baik tak selalu mendapatkan balasan baik dari orang-orang yang pernah kita tolong.
"Untuk saat ini kau harus hati-hati karena kelompok Tuan D berada di sekeliling kamu. Salah melangkah dan terlalu lengah akan mengancam nyawa kalian! Yang kita hadapi sekarang adalah pria gila psycho! Tuan D bergerak licik dan halus, dia menyerang lawannya dengan otak bukan dengan otot!" jelas Dave serius.
Tom segera memeluk erat tubuh Lea seolah-olah takut bila sesuatu yang buruk terjadi pada Lea.
"Maafkan aku, Sayang! Kamu selalu berada dalam bahaya bila bersama ku!" bisik Tom pelan membuat Lea menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan merasa bersalah, aku sudah sangat bahagia hidup bersamamu! Mari kita lewati semua ini bersama-sama. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama dalam suka dan duka! Jadi, di saat-saat seperti inilah perjanjian kita itu harus kita buktikan dengan tindakan!"
Lea menyikapi musibah yang menimpa mereka saat ini dengan bijak.
Hati Tom menghangat mendengar penuturan Lea. Dia bersyukur bisa memiliki pendamping hidup seperti Lea.
Pengertian, bijak, meski terkadang somplak.
Di tengah-tengah pembicaraan serius itu. Dave dan Tom memasang raut wajah tegang saat mendengar suara helikopter mendekat ke arah villa mereka.
"Sial … mereka datang terlalu cepat!" umpat Tom dan Dave serempak.
*
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Nanti malam bakal up lagi insya Allah … mohon di tunggu yah🥰🥰❤️🙏🌹🌹