
Namun, apa boleh buat! Setiap insan memiliki surat takdir nya sendiri di mana merekalah yang menjadi peran utama dalam takdir mereka.
"Ingat, Sayang. Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuan nya! Semakin berat ujian kamu maka semakin kuat kamu dalam pandangan Allah!" Lea mencium pelupuk mata Tom.
"Kamu tahu, Sayang. Bagiku kamu adalah laki-laki terhebat yang pernah aku temui. Betapa beruntungnya aku memiliki suami hebat seperti kamu! Masih bisa berdiri di atas kakimu sendiri meski sudah di banting oleh kehidupan! Aku yakin baby kita nanti akan tampan dan hebat seperti kamu! Dia akan bangga punya papa seperti kamu!" Lea berucap serak berusaha menghibur Tom.
Mereka berdua menangis dalam waktu yang lama. Setelah merasa hatinya lega barulah Tom berhenti menangis. Dia pun berniat akan menceritakan semuanya tanpa di tutup-tutupi lagi.
"Apa kamu mau dengar alasan aku jadi Mafia dan bagaimana bisa aku jadi mafia?" tanya Tom dengan suara serak.
Lea yang mendengarnya pun mengangguk dengan senyuman lembut meski matanya kembali berkaca-kaca membayangkan kehidupan Tom yang sangat sulit.
"Ceritakan semuanya! Aku ingin tahu kisah heroik suami tampan ku ini!" Lea mengelus pipi Tom yang terdapat bulu-bulu halus.
Tom yang mendengar ucapan Lea pun menghangat hatinya. Tak dapat di pungkiri bahwa dalam hatinya tersirat ketakutan apabila Lea mengetahui segalanya dan menjauhi dirinya.
"Apa kamu akan meninggalkan ku bila tahu kisah kelam ku?" tanya Tom ragu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku mencintai kamu tanpa syarat, Suamiku! Mungkin aku terdengar seperti pembual sekarang. Akan tetapi, aku berjanji kalau aku adalah gadis yang setia! Saat aku sudah mencintaimu dan memberikan seluruh hidupku padamu. Itu artinya aku sudah menerima kamu! Semua yang ada pada kamu aku terima dengan baik. Meski masa lalu mu yang buruk sekalipun!" Lea berucap tegas namun tersirat kelembutan di dalamnya membuat hati Tom berdesir mendengar nya.
"Terima kasih karena telah menerima ku dan memaafkan mu, bahkan, mencintaiku! Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu, Sayang." Tom mengecup bibir Lea sesaat.
Namun, Lea menahan tengkuk Tom memperdalam ciuman tersebut. Suara kecapan lidah terdengar dalam kamar tersebut.
Lea melepaskan ciuman tersebut lalu mengusap bibir basah Tom.
"Sekarang ceritakan semuanya padaku!" Lea tersenyum lembut membuat Tom menganggukkan kepalanya pelan.
Flashback on.
Empat tahun berlalu setelah meninggalnya kedua orang tuaku. Semuanya berubah, tak ada lagi senyuman di wajahku. Hidupku terasa hambar dan penuh ketakutan.
__ADS_1
Takut bila musuh tiba-tiba datang dan membunuh ku. Akhirnya aku yang baru lulus sekolah saat itu pun mengambil beasiswa ke Italia.
Selama ini aku hidup menggunakan uang tabungan kedua orang tuaku yang ternyata sangatlah banyak di bank. Aku menemukan buku tabungan ayah dalam lemarinya.
Di situ tertulis sebuah surat yang ternyata untukku. Sungguh dunia ku terasa runtuh ketika membacanya.
Apa kabar putra Daddy dan mommy? Hehe … tentunya baik, dong. Karena doa kami selalu menyertai mu di manapun kamu berada.
Sayang, jika kamu membaca surat ini mungkin kami sudah tak ada di dunia ini lagi. Jangan menangis dan bersedih, Sayang. Meskipun kami tidak ada bersama mu, tapi, cinta kami kepadamu tak akan pernah pudar.
Maaf karena pergi secara tiba-tiba. Tetaplah kuat dan tegar karena hidup terus berjalan. Jangan biarkan ego merasuk mu dan membuat keadaan mu buruk karena kepergian kami, Sayang.
Ayo bangkit untuk melawan musuh yang akan mendatangi mu suatu saat nanti. Musuh yang telah membunuh kakek dan nenek.
Musuh yang telah membunuh kami berdua. Kelak pasti dia akan mendatangi mu, Sayang.
Ingat ini, Sayang. Turuti permintaan kami untuk terakhir kalinya. Setelah kamu lulus sekolah nanti. Pergilah ke Italia, cari seorang pria tua bernama George Herbert.
Patuhi perintah nya dan serap ilmunya. Agar nanti saat musuh datang kamu telah siap melawan. Dia juga yang akan menceritakan siapa Daddy dan mommy mu sebenarnya.
Alasan Daddy mundur dari dunia penelitian dan alasan mommy mu tak melanjutkan pendidikan nya.
Gunakan uang yang sudah kami tabung untuk mu, Sayang. Itu akan cukup untuk sepuluh tahun ke depan.
Ingat pesan kami, Sayang.
Jangan pernah bergantung pada siapapun karena bayanganmu saja akan meninggalkanmu saat gelap. Berdirilah di atas kakimu sendiri.
we love you
Flashback off.
__ADS_1
"Setelah itu kamu pergi ke Italia? Bagaimana pria tua itu memperlakukan mu? Apa dia orang baik, Sayang?" tanya Lea penasaran bangkit duduk bersandar di tepi ranjang di ikuti oleh Tom.
"Dia benar-benar pria sejati!" Tom menatap lurus ke depan menerawang kembali saat pertama kali dirinya bertemu dengan George Herbert.
Flashback.
"Boleh saya tahu, Anda siapa nya orang tua saya?" tanya Tom serius memandang pria tua berumur kisaran 50 tahun ke atas yang sedang menghisap rokok di hadapannya.
"Aku adalah sahabat ayahmu! Aku dan ayahmu merupakan seorang ilmuwan hebat di Prancis!" jelas George membuat Tom penasaran.
"Lalu kenapa Daddy ku mengundurkan diri dari pekerjaannya itu?" tanya Tom seraya menautkan alisnya sebelah.
"Daddy mu adalah pria yang baik. Hatinya lembut bagaikan sutra! Suatu hari atasan kami menyuruh ayah mu menciptakan sebuah racun mematikan yang membuat korbannya mati dengan cara tersenyum!" jelas George membuat Tom membelalakkan matanya.
Racun yang membuat orang mati dalam keadaan tersenyum? Seketika Tom teringat akan kematian kakek nya yang mengenaskan dulu.
"Ayah mu yang mempunyai hati putih dan tak pernah berperasangka buruk pun mau membuatkan racun tersebut. Namun, suatu hari atasan kami menjadikan manusia gelandangan sebagai alat uji coba racun buatan ayah mu. Tentu saja ayah mu tak setuju karena biasanya kami melakukan percobaan pada hewan."
"Ayah mu menolak keras karena itu sama saja pembunuhan. Dia juga berkata bahwa racun buatannya itu sudah selesai seratus persen pasti berhasil. Akan tetapi, atasan kami tetap tak percaya dan ingin menguji nya!"
"Ayah mu yang murka pun memilih mengundurkan diri dan memusnahkan kembali semua racun hasil racikannya. Bahkan resepnya pun dia bakar agar tak siapapun bisa membuatnya!"
"Atasan kami murka mengetahui hal itu membuat dia mau tak mau pun menyuruh kami untuk membuat kan racun itu lagi. Namun, semuanya gagal dan gagal. setiap harinya puluhan manusia gelandangan mati terbunuh karena ulah kami yang gagal melakukan eksperimen. Hingga, suatu hari seorang profesor berhasil membuat racun itu!"
"Dan yang menjadi percobaan pertama racun itu adalah kakek dan nenek mu!" jelas George Herbert membuat nafas Tom terasa sesak.
Degg.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏