Budak Ku Mr. Mafia

Budak Ku Mr. Mafia
Mempertahankan


__ADS_3

POV Hannah.


Aku terkejut saat Mas Gibran membentak ku untuk pertama kalinya. Bahkan, tangannya mengambang di udara ingin menampar pipi ku.


Hatiku sakit ya Allah … dunia ku seolah runtuh saat suami ku murka hanya karena aku telah mengatai wanita cinta pertama nya itu.


Sebesar itukah arti Alena bagi Mas Gibran? Apakah tidak ada celah bagiku masuk ke dalam hatinya sedikitpun? Apa yang dimiliki oleh Alena, sehingga Mas Gibran tak mampu melupakannya?


Padahal setelah menikah, aku telah memberikan seluruh jiwa dan ragaku untuk Mas Gibran. Bahkan, kehormatan yang aku jaga selama ini juga ku berikan padanya.


Apakah wajah ku kurang cantik? Benar, mungkin wajahku tak secantik Alena karena jujur saja aku hanyalah wanita rumahan yang tak tahu apa itu merias wajah.


Hanya saja kata orang-orang wajahku amatlah cantik. Bahkan, julukan ku di Aceh adalah bunga desa. Namun, untuk apa kecantikan itu bila tak mampu mengetuk mata dan pintu hati suami ku.


Aku tak butuh pujian orang lain tentang seberapa cantik wajahku! Yang aku butuhkan hanyalah pengakuan bahwa aku cantik di mata suamiku.


Tahukah kalian, kalau selama aku menikah Mas Gibran tak sekalipun memujiku. Baik penampilan atau masakan ku.


Lalu, hari ini untuk pertama kalinya Mas Gibran memuji! Bukan memuji ku, tapi, memuji Alena. Cinta pertamanya.


Hancur sudah benteng kokoh yang selama ini aku bangun agar berpura-pura kuat dan baik-baik saja. Api cemburu yang telah menyebar dalam darahku mampu memporak-porandakan hatiku.


"Kamu ingin menampar ku, hanya karena aku mengatakan hal buruk tentang wanita itu?" tanyaku dengan suara serak bergetar menahan tangis ku agar tak pecah.


Sekuat mungkin air mataku tahan agar tak tumpah. Namun, aku bukanlah wanita kuat berhati baja. Aku hanyalah seorang istri yang memiliki jiwa yang rapuh.


Tes.


Aku merasakan pipiku basah menandakan air mata yang sedari tadi ku tahan telah jatuh.


"Kamu memujinya di hadapan ku, Mas. Bahkan, selama kita menikah kamu tidak pernah memujiku seperti itu! Bolehkah aku jujur, Mas. Tentang perasaan ku sekarang?"


Aku menatap sendu wajah tampan Mas Gibran yang terlihat terkejut melihat ku menangis untuk pertama kalinya.


"Aku cemburu pada masa lalu mu, Mas!" Tangisku pecah setelah mengucapkan satu kalimat itu. Sudah cukup aku menahannya sedari tadi.


Telinga dan hatiku panas mendengar suami ku memuji wanita lain di hadapanku. Biarkanlah aku menangis kali ini saja.


POV Gibran.


Tubuhku termangu melihat Hannah menangis tersedu-sedu di hadapan ku. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah yang selalu ceria dan manis itu menunjukkan raut wajah yang lain.


Raut wajah sedih dan penuh rasa sakit. Tubuh Hannah bergetar hebat karena menangis. Aku langsung menariknya dalam dekapan ku.

__ADS_1


Memeluk tubuhnya dengan erat. Tanpa sadar berulang kali aku mengecup puncak kepalanya. Aku semakin mengeratkan pelukan ku saat Hannah ingin memberontak lepas dari pelukan itu.


"Maaf," bisik ku pelan di telinga nya.


"Kenapa? Kenapa Mas tidak memuji ku sama dengan memujinya? Apa aku kurang cantik? Atau aku kurang menarik di mata Mas? Katakan … hiks … katakan padaku! Katakan agar aku bisa memperbaikinya, Mas! Aku juga ingin dipuji seperti dia! Aku juga ingin dicintai kamu, Mas! Aku istrimu dan aku lebih berhak terhadap mu, Mas!"


Hannah berucap di sela-sela tangisnya membuat hatiku dilanda gundah. Namun, aku merasa tak terima saat Hannah mengatakan dirinya lebih berhak atas ku. Terdengar seperti mengklaim bahwa aku adalah miliknya.


Aku teringat akan perjanjian ku dengan Hannah dulu setelah satu Minggu kami menikah. Aku memberikannya map coklat yang berisikan surat pernikahan kontrak.


Isi surat itu adalah tentang aku yang akan menceraikan Hannah apabila Alena telah kembali.


Flashback.


"Apa maksudnya ini, Mas?" Hannah bertanya dengan raut wajah yang terkejut setelah membaca isi map coklat yang diberikan oleh Gibran.


"Seperti yang tertulis di dalamnya, Hannah. Aku akan menceraikan ku apabila cinta pertama ku sudah kembali! Kita menikah karena di jodohkan. Aku tidak mencintai kamu dan kamu tidak mencintai aku! Jadi, bukanlah hal payah untuk kita bercerai di masa depan," jelas ku tak acuh seraya mengedikkan bahu ku.


"Tapi … "


"Tidak ada tapi-tapi lagi, Hannah. Cepat tanda tangan!" tegas ku menatap dingin Hannah yang menatap ku dengan bola mata memerah.


Tangan Hannah bergetar saat menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahan itu. Aku tersenyum senang karena nanti setelah Alena kembali, aku bisa mengejar cintanya lagi. Tanpa adanya siapa pun yang mengekang ku lagi.


Aku melonggarkan pelukan ku lalu menangkup pipi Hannah yang basah. Aku menatap dalam bola matanya yang memerah karena menangis.


"Jangan lupa tentang kontrak pernikahan kita, Hannah! Alena telah kembali yang artinya aku akan segera menceraikan mu!" tegas ku menatap dingin wajah Hannah.


Degg.


Bagaikan di tusuk ribuan jarum di hati Hannah, wanita cantik itu pun hanya bisa menutup mulutnya agar suara tangisnya tak kembali pecah.


"Eummmp … hiks … " Suara tangis Hannah tertahan karena wanita cantik itu menutup mulutnya erat. Wanita cantik itu memundurkan langkahnya seraya terus menggelengkan kepalanya cepat.


Seolah menandakan dirinya tak setuju dengan keputusan egois Gibran.


Hannah hanyalah wanita polos yang tak pernah tahu akan cinta. Namun, setelah menikah dengan Gibran wanita itu merasa hari-harinya lebih berwarna. Jantungnya kerap kali berdegup kencang apabila berdekatan dengan Gibran.


Umur keduanya terpaut sembilan tahun. Hannah berumur dua puluh tahu, sedangkan Gibran dua puluh sembilan tahun. Begitu juga Alena yang berumur dua puluh enam tahun.


Hannah hanyalah anak rumahan yang masa kecil, hingga remajanya mengajarkan anak-anak santri belajar Iqro'.


"Besok, aku akan urus perceraian kita!" tegas ku menatap datar wajah Hannah yang terkejut dengan keputusan ku.

__ADS_1


POV Hannah.


"Aku tidak ma-mau … hiks … aku tidak mau cerai! Aku mohon, Mas. Beri aku kesempatan satu kali saja! Aku janji akan membuat kamu jatuh cinta sama aku!"


Aku segera memeluk erat tubuh kekar Mas Gibran. Aku menangkup pipinya lalu memberikan kecupan di bibir Mas Gibran berharap suami ku itu luluh.


Namun, bukan balasan yang aku dapatkan. Mas Gibran memalingkan wajahnya ke samping tak ingin aku kembali mengecup bibir nya.


Hatiku sakit ya Allah … suamiku menolak sentuhan ku. Apa dia jijik kepada ku? Ya Allah, hamba mohon kuatkan hamba mu ini. Jangan biarkan setan tertawa dengan perceraian kami. Sesungguhnya, hal yang paling Engkau benci di muka bumi ini adalah perceraian antara suami istri.


Tolonglah hamba mu ini ya, Rabb.


Aku menjerit meminta tolong pada Yang membolak-balikkan hati manusia. Dialah Allah sang pemilik hati manusia.


"Kesempatan apa lagi, Hannah? Kita berdua tidak saling mencintai! Bukankah lebih baik kita mengakhiri ini secepatnya? Kamu masih muda dan sangat cantik, Hannah. Aku yakin akan ada lelaki yang lebih baik dari aku datang ke dalam hidupmu!"


Mas Gibran berucap lembut seraya menggenggam tanganku. Wajahnya terlihat baik-baik saja seolah tak masalah dengan perceraian kami.


"Kamu salah, Mas! Aku cinta sama kamu!" tukas ku menatap dalam bola mata mas Gibran.


Mas Gibran melepaskan genggaman tangannya. Dia tampak terkejut mendengar pengakuan ku.


Ya, lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya pada Mas Gibran. Mungkin akan terdengar murahan karena mengemis cinta pria yang jelas-jelas tak mencintaiku.


Akan tetapi, Mas Gibran adalah suami ku. Sudah kewajiban ku untuk mempertahankannya. Terlebih lagi pesan dari Abi yang menyuruhku untuk berbakti pada Mas Gibran.


Abi juga memberikan saran padaku untuk terus mempertahankan pernikahan ku dengan Mas Gibran bila sewaktu-waktu badai datang menerpa rumah tangga kami.


Seolah Abi memiliki Indra keenam, beliau tahu akan apa yang terjadi padaku. Andai Abi tahu bahwa sekarang badai telah datang menerpa rumah tangga ku!


Andai Abi tahu Mas Gibran dari dulu tak mencintaiku! Apakah Abi tetap akan menyuruhku untuk mempertahankan rumah tangga kami?


"Hannah, kamu … "


"Iya, Mas. Aku cinta sama, Mas. Aku juga tidak tahu cinta itu kenapa bisa tumbuh sangat cepat? Saat pertama kali aku memandang wajah, Mas setelah menikahi ku. Di situlah aku langsung jatuh cinta sama, Mas. Cuma Mas Gibran laki-laki asing yang aku pandangi wajahnya! Selama ini aku tidak pernah memandang wajah laki-laki selain Abi dan saudara ku yang laki-laki!"


Aku menggigit bibir bawahku berusaha menggenggam tangan Mas Gibran lembut. Aku menatap lembut bola matanya yang berwarna coklat itu.


Bersambung.


Hai hai kakak … author kembali lagi, nih.


Ayo dukung author dengan cara like coment vote dan subs. Biar author semakin semangat nulisnya.

__ADS_1


Haiss … si Gibran bikin emosi ya, Bund!


__ADS_2