
Lea yang melihat kepanikan di wajah Dave dan Diego pun merasa khawatir. Tak lama setelahnya, bunyi suara tembakan menggema di udara.
Bahkan, suara pecahan kaca akibat tembakan peluru terdengar memekakkan telinga.
Tom segera menarik tubuh Lea, membawa istri tercintanya itu ke belakang tubuh Tom.
"Bawa istrimu pergi dari sini! Aku akan menghadang mereka bersama anak buah ku yang di luar!" titah Dave serius membuat Tom setuju.
"Terima kasih!" Tom menepuk pundak Dave lalu menarik tangan Lea berlari meninggalkan villa mewah tersebut.
*
*
*
Seorang pria paruh baya memakai topeng turun dari helikopter. Pria itu berjalan tegak dengan dada busung.
"Mari berpesta hari ini, Gilang! Pastikan anak Ozan mati di tangan kita!" ujar pria bertopeng itu seraya menghisap rokoknya.
"Baik, Tuan!"
"Aku telah lama tidak berolahraga, hari ini aku berjanji akan berolahraga sampai tubuhku banjir keringat!" Pria bertopeng itu tertawa lepas ketika melihat villa Lea sudah terkepung oleh anak buahnya.
"Kita masuk sekarang!" Pria bertopeng itu segera masuk ke dalam Villa tersebut.
Dor.
Dor.
Pria bertopeng itu segera menghindari peluru yang melayang ke arahnya. Terlambat menghindar sedikit saja, dapat dipastikan dahi pria bertopeng itu akan bolong.
Pria itu mengerang kesal ketika melihat bayangan seorang anak muda yang tak asing di matanya.
__ADS_1
"Siall, anaknya Kristan juga ikut campur! Habisi mereka semua, Gilang! Aku ingin tengkorak semua anak pengkhianat itu!" dengus pria bertopeng itu.
"Baik, Tuan!"
Mereka segera masuk ke dalam villa itu. Dave yang sudah tahu pasti penyerangan seperti ini tak bisa di elak kan lagi pun sudah menyiapkan anak buahnya yang bersembunyi di sudut-sudut villa tersebut.
Dor.
Dor.
Suara peluru bersahut-sahutan, beberapa anak buah Dave yang terluka dan ada pula anak buah pria bertopeng itu yang meregang nyawa.
"Aku harap kali ini aku menang!" gumam Dave kembali menembakkan peluru nya ke arah anak buah pria bertopeng itu.
*
*
*
Lorong-lorong rahasia itu sangatlah gelap, hanya ada beberapa lentera yang menerangi jalan mereka.
"Sayang … aku takut!" Lea berkata dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.
Lea yang sekarang hanyalah wanita hamil dengan sejuta perasaan sensitif. Bawaan dari bayi nya membuat Lea kadang kala berekspresi berlebihan.
Tom segera memeluk erat tubuh Lea. Pria tampan itu mengecup puncak kepala Lea berkali-kali meluapkan rasa cintanya.
"Jangan takut, Sayang! Ada aku yang akan selalu melindungimu! Tidak akan aku biarkan mereka menyakiti mu dan calon bayi kita!" Tom berusaha menenangkan Lea dengan mengusap punggung istrinya yang bergetar.
Lea terisak dalam pelukan Tom. Wanita yang sedang hamil muda itu tampak ketakutan, bayangan kejadian buruk tempo lalu masih terkesan jelas di kepala Lea.
Mobil yang meledak, terjun bebas ke sungai deras. Ledakan bom di gedung milik Tom, sampai-sampai menyebabkan telinganya tuli sementara.
__ADS_1
Meski, saat ini dia telah sembuh. Namun, rasa trauma itu masih saja ada.
"Jangan hanya melindungi aku, Sayang! Tapi, lindungi juga kamu! Aku tidak bisa melihat kamu terluka! Aku mencintaimu, Sayang … sangat-sangat mencintaimu!" bisik Lea dengan nada bergetar.
Tom yang mendengarnya pun ikut merasa sedih. Pria tampan itu sejenak menyesali pilihannya di masa lalu. Pilihan yang membuat dirinya kerap kali menantang maut.
"Maafkan aku yang sudah menempatkan kamu dalam bahaya berulang kali, sayang! Maafkan aku, andai saja waktu itu aku tidak melakukan itu padamu. Pasti hidup kamu sekarang akan lebih bahagia dalam mengejar mimpi kamu menjadi pengacara!"
Tom menatap lekat bola mata yang memerah. Tak hanya Lea yang merasa sedih, akan tetapi Tom juga merasa bersalah.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Sayang! Mungkin dulu mimpi ku hanyalah menjadi seorang pengacara. Akan tetapi, sekarang mimpiku berganti ingin membahagiakan kamu."
"Aku bermimpi hidup bahagia menua bersamamu. Bersama anak kita! Keluarga kecil yang bahagia dan selalu ceria … "
Lea menangis sesenggukan seraya mengusap rahang tegas milik Tom. Pria tampan itu mengecup jari-jari Lea lalu memeluk erat tubuh istri tercintanya itu.
"Sayang, aku harus pergi!"
*
*
*
Sebelumnya author mau minta maaf karena kemarin gak tepatin janji buat up di malam hari.
Akhir-akhir ini author sering ketiduran, mungkin karena efek obat yang author konsumsi.
Itulah sebabnya up tidak teratur kadang telat kadang awal. Biasanya author tidak tidur siang. Tapi, akhir-akhir ini mata minta tidur.
Sekali lagi mohon maaf🥺🙏🌹
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏