
Olaf yang merasa panik pun menghubungi Leo guna memberitahukan keadaan Lea. Pria paruh baya itu tampak sangat panik ketika mendengar laporan dari sang anak.
Leo yang kala itu sedang melakukan meeting pun segera meluncur ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lea.
"Lele … " Leo yang baru masuk ke dalam ruang rawat Lea pun langsung memeluk erat tubuh sang adik tercinta.
"Kakak … lepasin! Aku gak bi-sa nafas!" Lea berteriak mendorong dada bidang Leo.
"Apa kamu bisa mendengarkan suara merdu kakak, hemm? Le, please … jangan budeg! Kakak gak sanggup lihat kamu budeg!" Leo melonggarkan pelukannya mencengkram pundak Lea.
"Kakak ngomong apa, sih? Aku gak denger … aku juga gak bisa denger suara aku!" Lea mengusap wajahnya frustasi karena sedari tadi tak bisa mendengar suara apa pun.
"Olaf, panggilkan dokter!" titah Leo dengan raut wajah khawatir sedangkan Lea sudah menahan tangis sedari tadi.
"Baik, Pa." Olaf pun segera memanggil dokter, sehingga tak lama setelahnya dokter pun tiba.
"Periksa dengan teliti keadaan adikku!" titah Leo dengan nada suara yang amat dingin membuat Dokter tersebut tak berkutik.
"Baik, Tuan." Dokter tersebut pun langsung memeriksa keadaan Lea dengan teliti. Tak lupa dokter tersebut.memeriksa telinga Lea.
Dokter tersebut mengatakan Lea harus melakukan ronsen terlebih dahulu agar Dokter tersebut dapat menyimpulkan keadaan Lea.
"Baiklah, tapi aku mau hasilnya harus hari ini juga!" ucap Leo datar.
*
*
"Jadi bagaimana keadaan adikku? Kenapa dia bisa budeg?" tanya Leo dengan suara yang amat dingin pada dokter tersebut, setelah Lea melakukan ronsen.
__ADS_1
"Adik Anda mengalami tuli mendadak atau bahasa ilmiahnya sudden deafness. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti mendengar suara yang terlalu keras hingga efek samping obat."
"Masalah ini tak perlu Anda khawatirkan karena pasien hanya butuh pengobatan yang intensif untuk beberapa bulan ke depan dan untuk sementara waktu pasien bisa mendengar dengan alat bantu dengar di belakang telinganya!" jelas dokter tersebut panjang lebar membuat Leo menghela nafas lega.
Setidaknya Lea masih bisa mendengar lagi meski untuk beberapa bulan ke depan Lea harus mendengar di pakai alat bantu.
"Syukurlah Lea tidak permanen budeg nya," gumam Leo seraya menatap Lea yang sedang bersenda gurau dengan Olaf.
*
*
Seminggu kemudian,
Terlihat seorang gadis cantik sedang duduk bersandar di tepi ranjang di temani oleh seorang pemuda tampan yang sedang memijat kaki gadis itu lembut.
"Kenapa sampai bisa terlibat dengan mafia kejam itu, Aunty?" tanya Olaf seraya memijat kaki Lea dengan lembut.
Lea bertanya pada Leo tentang keberadaan Tom, namun, kakak nya itu hanya menjawab Tom sedang berada di neraka dunia. Lea tak banyak bertanya lagi karena setiap Lea bertanya tentang Tom, maka raut wajah Leo akan berubah sangar.
"Aku tidak tahu, Laf. Andai saja aku tahu pasti aku akan menghindari pria mesum dan sadis itu!" ketus Lea dengan nada kesal.
"Terus kenapa Aunty tidak menceritakannya pada papa atau pada aku! Kalau saja kami tahu duluan pasti Aunty gak bakalan budeg!" Olaf tak berhenti mengoceh membuat Lea memutar bola matanya malas.
"Aku sudah cerita sama papa mu. Tapi, papa mu saja yang loading nya lama. Udah tahu aku di incar sama psikopat, dia nya malah gak percaya dan bilang kalau aku terlalu banyak nonton film psikopat. Nyebelin tahu enggak!" sungut Lea memaki Leo sang kakak habis-habisan di depan Olaf.
Olaf hanya bisa merutuki dirinya karena telah memancing Lea untuk mengumpat Papanya sendiri.
"Emang tuh papa mu enggak pernah bener … kata Mom dulu papa mu itu bandelnya gak ketulungan, hampir semua anak gadis orang di celup nya, dan yang paling nyebelin adalah karma Papa mu itu aunty yang bayar. Aunty belum nikah tapi udah di celup orang!" maki Lea membuat Olaf menggaruk pipinya yang tak gatal.
__ADS_1
"Aunty, gak boleh ngomong begitu! Bagaimana pun papa itu kakak nya Aunty juga! Apa Aunty tahu kalau papa nangis sampai ketiduran karena capek gara-gara tahu Aunty budeg?" ujar Olaf berusaha menenangkan Lea.
"Ya mana Aunty tahu, Laf. Orang Aunty tidurnya di rumah sakit, Papa mu tidur di rumah!" jawab Lea membuat Olaf cengengesan.
"Hehe … iya ya, aku lupa."
Keduanya pun bercengkrama, Lea menceritakan bagaimana kuliah nya di Prancis, sedangkan Olaf bercerita tentang kuliahnya yang di Jakarta.
*
*
Di tempat lain,
Terlihat seorang pria tampan dengan wajah kusam sedang berbaring lemah di atas ranjang king size. Pria tampan itu merasakan perutnya seperti di aduk-aduk membuat dirinya mau tak mau harus beranjak berlari menuju kamar mandi.
Huek … huek.
Pria tampan itu memuntahkan cairan bening begitu banyak.
"Siall … kenapa bisa aku sakit begini," umpat pria tampan itu bersandar di dinding kamar mandi.
Pria tampan itu mengusap bibirnya yang tersisah bekas cairan bening tersebut.
"Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia sudah sadar? Kenapa aku sangat merindukan nya?" gumam pria tampan itu yang tak lain adalah Tom..
**Bersambung.
Halo-halo ... maaf author kemarin gak up 2 hari karena ada alasan yang mendesak 🙏🙏🙏🥺🥺
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah 🥰🥰🥰**