Budak Ku Mr. Mafia

Budak Ku Mr. Mafia
Sarden


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan Lea, Tom mengantarkan Lea tepat di depan gerbang apartemen miliknya. Tom menggenggam tangan lentik Lea dengan lembut. Pria tampan itu mengecup punggung tangan Lea membuat si empunya merona.


"Terima kasih, Lea. Kamu adalah wanita paling baik yang pernah aku temui! Padahal aku sudah sangat jahat padamu. Akan tetapi, kamu masih saja baik kepada ku!" Tom tersenyum tulus serta mengelus pipi chubby milik Lea.


Hati Lea berdebar-debar tak karuan melihat senyuman tulus Tom untuk pertama kalinya. Gadis itu tak tahu mengapa dia bisa merasakan sensasi seperti itu.


Bagaikan ada di yang kupu-kupu menggelitik di perutnya membuat gadis itu tak dapat menahan dirinya untuk tersenyum.


"Sama-sama dan terima kasih untuk makanannya!" Lea menunjukkan bungkusan yang berada pada pangkuannya membuat Tom terkekeh kecil.


"Apa pun untuk wanita baik seperti mu akan aku kabulkan! Meski kamu minta mutiara yang berada di dasar laut akan aku dapatkan untuk mu!" ujar Tom tanpa ragu menatap lekat wajah cantik Lea.


Deggg.


Meleleh hati adek, Bang batin Lea menjerit-jerit.


Lea berdehem pelan guna menormalkan detak jantungnya yang sedari berdegup kencang, karena wajah Tom sangat dekat dengan wajahnya.


"Ekhm … kalau begitu aku langsung turun, ya. Takutnya kakak ku sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari ku!" balas Lea melepaskan sabuk pengamannya lalu ingin segera turun. Baru saja Lea membuka pintu mobil, Tom mencekal tangan Lea membuat gadis itu menoleh ke samping.


Cup.


Tom mengecup sudut bibir Lea membuat gadis itu melongo seperti orang bodoh.


"Ciuman persahabatan! Karena mulai sekarang kita berdua resmi menjadi sahabat!" Tom berucap dengan senyuman manis melingkar di wajahnya.


Tak ada lagi pria tampan yang dingin karena sekarang berubah menjadi Tom si pria manis bak gulali. Senyuman nya yang hangat membuat Lea tak dapat menolak pesona Tom.

__ADS_1


"Lagi!" balas Lea tanpa sadar membuat Tom tertawa gemas. Sedangkan Lea tersadar apa yang baru saja Ia ucapkan.


Ya ampun Lea … kenapa kamu terlalu jujur sih batin Lea malu.


Tak menunggu waktu lama lagi. Lea segera berlari turun dari mobil Tom masuk ke dalam pelataran apartemen nya. Tom menatap punggung Lea yang perlahan menghilang dari pandangannya dengan sorot mata yang dingin.


"Semoga yang dikatakan dokter sialan itu benar. Kalau tidak siap-siap saja kepalanya aku gantung di menara Eiffel!" gumam Tom lalu menyalakan mobilnya.


*


*


Lea segera menekan password apartemen nya. Baru saja masuk Lea dan mengucapkan salam gadis itu di kejutkan dengan perkelahian sang kakak dan keponakannya.


"Assalamu'alaikum … kak Leo, Olaf! Apa yang kalian lakukan!" teriak Lea kesal membuat kedua pria berbeda umur itu langsung menoleh ke arahnya.


"Lele ku oh lele ku!"


Keduanya langsung menghentikan pertengkaran tersebut dan berlari memeluk Lea dengan erat.


"Ih ya ampun … jawab dulu salam nya, Toni Tino!" Lea mendengus kesal membuat kedua orang itu tertawa cengengesan.


"Hehe … iya-iya wa'alaikumussalam!" jawab keduanya serempak lalu mengecup pipi Lea gemas.


Lea langsung mendorong tubuh Olaf dan Leo lalu beranjak menuju ke dapur diikuti oleh kedua pria itu.


"Aunty … siapa teman Aunty tadi? Kenapa Aunty tiba-tiba menghilang? Bukannya Aunty tidak punya teman di Indonesia?" tanya Olaf bertubi-tubi.

__ADS_1


"Benar, Lele. Siapa namanya? Mujair, belut, keong, gabus atau Hiu?" timpal Leo membuat Lea mencebikkan bibirnya kesal.


Bagaimana bisa dia mempunyai kakak yang menjengkelkan sekaligus ngangenin seperti Leo. Dekat bertengkar jauh rindu. Benar-benar membuat kehidupan Lea di porak-porandakan.


"Ck … papa! Itu bukan nama orang tapi nama ikan. Kenapa papa tidak pernah lembut berbicara dengan Aunty Lea? Benar-benar kakak yang buruk!" sindir Olaf membuat Leo memelototi sang anaknya itu.


"Kamu … "


"Stop it! Aku lapar dan mau makan. Jangan banyak bacot lagi! Kalau kalian mau temani aku makan maka duduk dan diam di sini! Tapi, kalau tidak silahkan keluar dan hitung telur semut sana!" sentak Lea menggebrak meja makan membuat keduanya langsung terdiam.


Lea membuka bungkusan makanan nya membuat harum aroma makanan tersebut menggoda perut dan mulut Leo maupun Olaf.


"Itu makanan apa, Aunty? Kenapa harum nya enak banget?" tanya Olaf dengan air liur yang hampir keluar.


"Oh ini … sambal sarden, peyek sarden sama pepes sarden! Kalian mau?" tanya Lea dengan senyuman manis melingkar di wajahnya membuat Olaf dan Leo saling bertatapan.


"Sepertinya aunty benar-benar di culik pria sarden itu!" ujar Olaf membuat Leo menganggukkan kepalanya cepat.


Bersambung.


Hai hai kakak … maafkan author karena kemarin tidak up dan hari ini telat up.


Author sudah daftar ikut crazy up, semoga aja masuk list biar bisa ikut crazy up 🥰🥰🥰


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah 🥰🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2