
"Dasar baj---,"
Dor.
Lea, Tom dan dokter wanita itu terkejut saat mendengar suara tembakan dari luar. Tom segara memeluk tubuh Lea erat, begitu juga dokter wanita itu segera mengeluarkan pistol nya yang tersimpan di dalam saku jas nya.
"Ka-kamu siapa?" tanya Lea tergagap melihat dokter wanita paruh baya itu yang merobek wajahnya sendiri. Mata Lea terbelalak melihat Wanita paruh baya itu berubah menjadi wanita cantik berumur kisaran 30 tahun.
Wanita cantik itu membuang topeng wajah tua nya ke sembarang arah, lalu segera membungkuk hormat pada Lea dan Tom.
"Ada apa ini, Lena?" tanya Tom dingin pada wanita cantik itu yang merupakan anak buahnya.
"Maaf, King! Sepertinya musuh kita telah mencium kehadiran Anda di sini. Lebih baik Anda segera membawa Nona Lea pergi dari sini. Saya akan mencoba menghalau mereka!" ujar Lena dengan nada tegas membuat Tom menganggukkan kepalanya.
Lea hanya bisa memijat dahinya yang berdenyut karena tak mengerti akan apa yang terjadi.
"Tom, bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dokter itu memakai topeng wanita paruh baya? Lalu kenapa kamu membawa aku ke rumah sakit yang jelas-jelas tidak pernah aku tahu nama dan keberadaan nya? Dan siapa musuh yang kalian maksud?"
Lea menuntut penjelasan pada Tom dengan menanyakan semua hal yang muncul di dalam benaknya.
"Lea, ini bukan saat nya aku menjelaskan padamu! Lebih baik kita pergi dari sini juga sebelum para tikus itu masuk ke dalam sini!" tegas Tom mengangkat tubuh Lea ala bridal style, namun, Lea tetap saja memberontak dalam gendongan Tom.
"Turunin aku! Kamu benar-benar belum berubah. Kamu masih jahat dan suka memaksa! Aku menyesal sudah memaafkan kamu!" Lea memberontak membuat Tom mengeratkan genggaman nya pada tubuh Lea.
Tom berlari di lorong rumah sakit itu dengan kecepatan tinggi. Mereka melewati lorong yang dindingnya terbuat dari kaca.
Dor.
Prangg.
Tembakan peluru dari musuh hampir mengenai kepala Tom, namun, pria tampan itu begitu lihai dalam menghindar. Dinding kaca itu pecah berkeping-keping, Lea memeluk erat leher Tom karena merasa takut.
Tubuh gadis itu bergetar hebat, teringat satu bulan yang lalu di mana dirinya menjadi korban ledakan bom di gedung milik Tom.
Tom yang merasakan tubuh Lea bergetar pun semakin kalut. Pria tampan itu hanya bisa mengumpat dalam hati karena para musuhnya itu masih saja mengusik dirinya.
Padahal sudah jelas-jelas Tom berhenti dari kejahatan dunia malamnya, namun, tak membuat musuhnya di masa lalu melupakan niatnya untuk balas dendam.
Dor.
Dor.
Dor.
Peluru kembali ditembakkan ke arah Tom, namun, tetap saja tak mampu menyentuh kulit Tom maupun Lea. Pria tampan itu sangat pandai mengelak.
"Ahh … aku mau pulang TomTom! Lebih baik aku di apartemen saja nonton kartun Tom and Jerry sambil makan Timtam!" tangis Lea pecah membuat Tom semakin gelisah tak karuan.
"Suttt … sabar, Lea! Kita akan secepatnya pulang dari sini!" ujar Tom berusaha menenangkan Lea dalam gendongan nya.
"Pulang ke mana, huh? Ke Rahmatullah atau ke rumah!" sungut Lea dengan nada kesal.
"Tentunya pulang ke rumah kita berdua yang sudah aku beli, Sayang!" balas Tom dengan nafas terengah-engah karena berlari kencang.
__ADS_1
*
*
*
Sedangkan di sisi lain, Lena berada di atap sedang mengintai penembak jitu yang sedang bersembunyi di balik batu dekat bukit tak jauh dari tempatnya.
Sebenarnya rumah sakit itu merupakan villa mewah milik Tom yang sudah di renovasi seperti rumah sakit.
Tom sengaja tak membawa Lea ke rumah sakit asli karena tak ingin para musuhnya mencium keberadaannya di Indonesia.
"Satu, dua, tiga, empat, lima … ha ha mereka benar-benar tak punya nyali untuk menyerang. Hanya bermodalkan penembak jitu saja dan menyuap para kucing (pengkhianat-anak buah Tom) untuk membeli kabar tentang, King!" desis Lena meneropong keberadaan penembak jitu.
Wanita cantik dan seksi itu mengambil Hecate II (senjata yang di gunakan pada sniper penembak jitu terbaik di Indonesia), lalu membidik ke arah kepala penembak jitu 1.
"Mari kita lihat, seberapa hebat senjata api yang di miliki Indonesia! Aku harap tidak mengecewakan!" Lena menyeringai kejam bak iblis yang kehausan darah.
Dor.
Tembakan Lena tepat mengenai kening penembak jitu 1 itu. Lena menggigit tangan nya sendiri guns menahan tawanya agar tak lepas.
Wanita itu kegirangan karena mengenai sasaran hanya dalam sekali tembak. Ingin sekali Lena tertawa lepas dan berefouria, namun, tak bisa karena takut musuh mengetahui keberadaan nya.
"Gila … ini benar-benar gila! Oh demi apa pun aku benar-benar ingin bergoyang sekarang juga. Ahh … sabar Lena, sabar … bunuh mereka semua lalu kau boleh berpesta dengan mengobrak-abrik mayat mereka!" gumam wanita cantik itu dengan tangan yang bergetar karena saking bahagia.
Hanya saja bila dengan Alfonso mereka tak berkutik. Bila Alfonso raja singa maka mereka anak singa. Masih belum bisa menyaingi kehebatan Alfonso si legenda.
Lena tertawa cekikikan saat tembakannya kembali mengenai sasaran. Sedangkan para penembak jitu yang tersisa 2 orang segera bangkit ingin lari.
"Oh no … tidak bisa lari, Sayangku! Kalian sudah berani masuk ke dalam lubang singa maka nikmati saja hukuman kalian!" Lena membidik kembali ke arah dua musuh itu.
Dor.
Dor
Dor.
Dor.
Para penembak jitu tersebut mati dengan tembakan yang mengenai kepala, kami dan punggung.
"Yes … mati! Ha ha ha … malam ini aku bisa tidur nyenyak!" Lena tertawa lepad bangkit berdiri bergoyang-goyang lalu bertepuk tangan karena merasa girang.
Dor.
Dor.
Dor.
__ADS_1
Lena langsung tiarap saat peluru hampir mengenai kepala dan dadanya. Wanita cantik itu murka karena para penembak jitu itu tak ada habisnya.
"Sial … dari barat sudah mati sekarang muncul dari timur! Tapi, tidak apa-apa … itung-itung olahraga siang sebelum nanti aku olahraga malam!" Lena menggigit bibirnya sensual lalu kembali menyerang para penembak itu.
*
*
Tom yang sudah berada dalam mobil bersama Lea pun langsung menyalakan mobilnya. Dengan susah payah Tom lepas dari kejaran peluru penembak jitu.
Dor.
Dor.
"Akkk … " Lea berteriak saat peluru itu mengenai jendela mobil.
"Tenang, Lea. Peluru mereka tidak bisa menembus mobil ku, karena mobilku sudah didesain anti peluru!" ujar Tom membuat Lea langsung menghrla nafasnya lega.
Dor.
Dor.
Lea hanya bisa memeluk dirinya sendiri saat peluru itu kembali menghantam mobil Tom. Lea terisak membuat Tom semakin khawatir.
"Lea, kenapa menangis? Apa kamu takut? Jangan takut ada aku di sini!" Tom mengusap puncak kepalanya Lea dengan mata yang sesekali menatap ke arah depan.
"Sakit … hiks … sakit!" Lea menangis sesenggukan membuat Tom khawatir.
"Sakit! Apa yang sakit? Bilang padaku?" tanya Tom tak dapat menutupi rasa khawatir nya. Terlebih Lea sedang hamil anaknya.
"Sayang … sakit apa?" tanya Tom lembut seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena musuh mengejar mereka dari belakang.
"Sakit … hiks … sakit! Aku … aku." Lea berucap sesegukan membuat Tom tak karuan.
"He'um … sakit apa?" tanya Tom dengan perasaan geregetan.
"Sakit … hiks … "
"Iya!"
"Sakit … "
"Sakit apa, Lea Sayang?" tanya Tom tak sabar.
"Sakit e'ek … mau pup hiks … mau berak! Huwaaa … " Tangis Lea kian melengking membuat Tom menjatuhkan rahangnya.
Bisa-bisanya Lea sakit perut mau pup di saat mereka sedang panik seperti ini. Oh ya ampun … bagaimana bisa Tom jatuh cinta pada gadis aneh seperti Lea.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Mau double kah?? Hihihi penuhi kolom komentar 🤣🤣
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰