
Lee mencondongkan setengah tubuhnya keluar jendela lalu membidik ke arah ban mobil musuh.
"Jerr, pelan kan laju mobilnya!" titah Lee membuat Jerry menurunkan laju kecepatan mobilnya.
"Dapat," gumam Lee seraya melepaskan pelurunya tepat mengenai ban mobil musuh.
Dor.
Brakk.
Mobil musuh terjungkal balik saat ban mobil mereka meletus akibat tembakan dari Lee. Jerry menyeringai kejam lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Lee dan Jerry turun dari mobil. Mereka berjalan gagah menghampiri mobil musuh yang sudah hancur itu. Terlihat kedua pria asing itu pingsan dengan luka di kepala mereka berdua.
Cairan kental merembes keluar dari hidung, telinga dan kening kedua pria asing itu. Lee menendang sisa-sisa serpihan kaca jendela mobil tersebut, hingga tak tersisa.
Lee menarik tubuh pria berparas India itu sedangkan Jerry mengeluarkan pria berparas Korea tersebut.
"Baguslah mereka pingsan, jadi, tidak ada acara baku hantam! Aku tidak ingin tenaga ku terbuang sia-sia karena nanti malam aku butuh tenaga untuk olahraga panas!" Lee menarik kaki pria asing itu lalu berjalan santai seraya menyeret tubuh pria itu.
Begitu juga dengan Jerry, bedanya Lee berjalan seraya menghisap rokok sedangkan Jerry anti rokok.
Lena yang baru saja membuka matanya terkejut melihat Jerry dan Lee menyeret pria asing. Wanita seksi itu keluar dari mobil seraya mengucek matanya perlahan.
"Waw … dapat ikan baru kita!" Lena tersenyum senang seraya mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celana.
"Jangan, Len! Kali ini kita harus bisa dapat informasi dari mereka. Kalau nanti mereka tidak mau ngomong baru bisa kamu kebiri mereka!" ucap Jerry seraya membuka pintu mobil lalu memasukkan kedua pria itu ke dalam mobil mereka.
Untungnya mobil yang mereka kendarai adalah mobil Van sehingga muat untuk menampung dua pria asing itu.
Lena yang mendengarnya pun mengerucutkan bibirnya kesal. Wanita seksi itu langsung memasukkan kembali pisau lipatnya ke dalam saku.
"Huff! Ya sudahlah! Kita pulang sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk mengintrogasi mereka!" Lena masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Jerry dan Lee.
Mereka kembali menuju markas mereka yang berada di sebuah villa milik Tom.
*
*
__ADS_1
*
Tak terasa malam telah tiba, matahari yang bersinar di gantikan oleh rembulan. Bintang bergelantungan di atas langit menambah keindahan langit malam. Semilir angin malam menerpa wajah seorang gadis cantik yang sedang berdiri di atas balkon kamarnya.
Gadis cantik itu menatap lurus ke depan seolah sedang berpikir keras. Sebuah tangan melingkar di perutnya membuat sang gadis tersenyum karena mengetahui siapa pemilik tangan tersebut.
"Kamu sedang mikir apa? Kok kelihatannya serius banget?" Tom mengecup leher jenjang Lea membuat gadis cantik itu memejamkan matanya perlahan, seraya menikmati sentuhan kenyal dan lembut itu.
"Aku hanya sedang berpikir apa yang aku lakukan setelah jadi mama muda nanti? Punya anak di umur 18 tahun bukanlah mimpi ku dan tak pernah terpikirkan oleh ku! Semuanya terjadi secara mendadak! Mimpi untuk menjadi seorang pengacara harus kandas karena kejadian itu!" Lea menatap sendu kedepan membuat Tom merasa bersalah.
Pria tampan itu yang telah membuat mimpi sang istrinya kandas.
"Maaf," bisik Tom pelan membuat Lea tersadar bahwa dirinya telah salah berbicara. Gadis cantik itu tak bermaksud menyalahkan Tom atas kejadian tersebut.
"Eh, untuk apa minta maaf! Semuanya itu sudah berlalu, aku hanya menyampaikan isi hatiku saja. Bukan maksudku untuk menyalahkan mu!" Lea membalikkan tubuhnya menangkup kedua pipi Tom.
Gadis cantik itu dapat melihat bola mata Tom yang menatap sendu dirinya. Terlihat penyesalan pada sorot mata Tom. Lea tersenyum lalu mengecup pelan pelupuk mata Tom.
Tom memejamkan matanya menikmati benda kenyal itu menempel di pelupuk matanya. Gadis cantik itu tersenyum setelah melepaskan ciuman tersebut.
"Ini semua salahku! Andai saja aku tidak memperkosa mu waktu itu. Andai saja aku mendekatimu dengan cara yang wajar seperti seorang pria sejati pada umumnya! Kamu pasti tidak akan melewati hari-hari yang berat bersama ku! Kamu tidak terkena ledakan bom dan kamu tidak akan jatuh ke dalam jura–," Tom menghentikan perkataannya saat Lea meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Suttttt … tidak ada gunanya membahas masa lalu, Tom! Yang lalu biarlah berlalu, yang indah di masa lalu akan menjadi kenangan dan yang buruk akan menjadi pelajaran untuk kita di masa depan! Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan mencari pembenaran diri! Aku sudah memaafkan mu. Mungkin untuk kita saling mencintai masih butuh waktu! Tapi, aku yakin seiring waktunya berjalan kita bisa saling mencintai! Seperti rumah tangga kak Leo, mereka menikah karena di jodohkan tapi, lihat sekarang! Mereka hidup bahagia dan harmonis!"
Benar kata pepatah bahwa jangan menilai buku dari sampulnya dan Tom melihat itu dari Lea. Dari luarnya cerewet, manja, konyol dan jorok tapi di dalamnya terdapat sifat bijak dan penyayang.
"Terima kasih karena telah menerima ku! Tapi, apa kamu ingin tahu yang sebenarnya, Lea?" tanya Tom seraya menatap lembut bibir mungil Lea.
Pria tampan itu membelai bibir mungil yang menggoda di mata itu. Seolah merasa terhipnotis dengan bola mata indah Tom.
"Aku tidak tahu kalau kamu tidak katakan!" Lea menatap dalam bola mata Tom.
"Sebenarnya aku … " Tom menghentikan ucapannya saat merasakan perutnya seperti di aduk-aduk.
Lea menautkan alisnya sebelah saat melihat raut wajah Tom berubah seperti orang yang sedang kebelet buang air besar. Tom memegang perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Lea bingung sekaligus khawatir.
"Sebentar! Panggilan alam ku berbunyi! Aku ke WC dulu!" Tom berlari terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Pria tampan itu mengumpat kesal dalam hati karena rasa mules itu hadir di waktu yang tidak pas.
"Dasar BAB luknut … tahu aja kalau orang lagi mau jujur! Emang dari dulu aku tidak cocok jadi orang jujur! Sekali jujur langsung mules!" umpat Tom mengunci pintu kamar mandi.
Tom membuka tali pinggang nya lalu celananya. Tom mendudukkan bokongnya di WC duduk.
Tom membelalakkan matanya sempurna saat turbo di bagian belakangnya itu mengeluarkan bau yang amat tak sedap.
"Siall, kenapa bau nya seperti kotoran keledai! Ahh … tapi, kenapa aku tak asing dengan bau ini, ya!" Tom menutup hidung nya karena tak sanggup mencium aroma yang tubuh bagian belakangnya keluarkan.
Tom mencoba berpikir keras tentang bau tersebut, sehingga dahinya berkerut.
"Kenapa baunya sama dengan petai?" gumam Tom bingung.
Prepppp.
"Oh Fortuna … tidak salah lagi! Ini bau petai … parfum mana parfum!" Tom celingukan mencari parfum ruangan kamar mandi. Pria tampan itu segera mengambilkan botol parfum yang berada tak jauh darinya.
"Nah, pergi kau petai! Makan ini!" Tom menyemprotkan parfum sangat banyak dalam kamar mandi membuat aroma petai itu perlahan menghilang.
"Mampus kau! Berani macam-macam ku babat habis kau!" sentak Tom seraya terus menyemprotkan parfum ruangan.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Ini ada beberapa novel bagus untuk kakak semua baca, sambilan nungguin novel ini up …
__ADS_1