Budak Ku Mr. Mafia

Budak Ku Mr. Mafia
Tugas Istri Sebenarnya


__ADS_3

Lea memakan berbagai macam menu sarden itu dengan lahap. Tak hanya Lea, Leo dan Olaf juga ikut menyantap hidangan lezat itu. 


"Gila … ini benar-benar gila … aku baru tahu ternyata ikan lidi ini benar-benar lezat. Kalau tahu begini sudah dari dulu aku minta Mama untuk memasak ini setiap hari!" Olaf memuji ikan sarden tersebut, seumur hidup baru kali ini Olaf memakan menu sarden.


"Ini bukan ikan lidi tapi ikan sarden, Ferguso!" sungut Leo seraya menambah sambal sarden ke dalam piring nya.


"Terserah … aku menyebut nya ikan lidi karena dia kurus dan kecil!" celetuk Olaf seraya menyendokkan nasi tambahan ke dalam piringnya.


Mereka duduk di lantai di depan televisi dengan makanan tertata rapi di lantai. Itu semua karena permintaan Lea. Mereka makan malam seraya menonton televisi film Anak Kembar Tuan Muda.


"Kalau kamu mau, Papa akan memasakkan untuk mu. Jangan minta sama mama mu! Kasihan mama mu yang kelelahan mengurus semua kebutuhan kita!" ujar Leo membuat Olaf menganggukkan kepalanya cepat.


"Kamu juga harus bisa memasak, Boy!" lanjut Leo membuat Olaf menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa papa menyuruh Olaf memasak, bukankah memasak itu tugas anak perempuan! Suruh saja Ana atau Aunty Lea memasak!" celetuk Olaf menatap polos sang ayah.


"Tugas perempuan itu cuma dua, melahirkan dan menstruasi! Selebihnya itu bukan tugas mereka!" jawab Leo membuat Lea menaikkan alisnya sebelah.

__ADS_1


"Kenapa begitu, Kak? Bukannya tugas perempuan itu banyak? Apalagi kalau sudah menikah?" tanya Lea yang tak mengerti maksud ucapan Leo.


"Sebenarnya tugas istri itu cuma melayani suami di atas kasur dan menyiapkan kebutuhan para suami! Bahkan, mengurus anak itu tugas suami yang harus mencarikan pengasuh! Wanita benar-benar di muliakan dalam Islam!"


"Bahkan memasak itu tugas suami yang harus menyiapkan untuk istri. Membawa pulang beras dan ikan mentah ke rumah itu bukan nafkah untuk istri. Akan tetapi, suami harus memasak dulu untuk istri barulah itu disebut nafkah!" jelas Leo panjang lebar membuat Olaf dan Lea semakin tak mengerti.


"Tapi, di zaman sekarang mana ada begitu, Kak!" bantah Lea membuat Leo menganggukkan kepalanya.


"Benar, alasan mengapa para istri memasak, mengurus anak dan membersihkan rumah itu untuk mencari Ridha suami, karena Ridha Allah akan menyertai para istri yang mendapatkan ridho para suami! Namun, seiring berjalannya zaman membuat pendapat orang berubah-ubah!"


"Itulah mengapa ada quote 'Bila wanita berada dalam pelukan pria yang tepat dia akan menjadi ratu tapi kalau tidak dia akan menjadi babu'." Leo mencuci tangannya dengan air bersih yang berada dalam mangkuk kecil.


"Kita hidup di akhir zaman … di mana pria nya sudah tak lagi baik seperti sahabat Rasulullah dan wanitanya tak lagi malu seperti para istri Rasulullah!"


"Jadi, sudah kewajiban suami istri untuk saling melengkapi satu sama lain. Saling mengingatkan bila salah satu di antaranya berbuat salah dan saling menguatkan apabila di antaranya sedang ditimpa masalah. Tidak akan ada habisnya kalau kita saling menuntut pasangan kita untuk sempurna dan menyalahkan mereka karena tak bisa menjadi seperti yang kita inginkan."


"Suatu saat kalian akan mengerti itu bila kalian sudah menikah dengan orang yang tepat! Intinya, kamu Lea suatu saat nanti akan menjadi seorang istri. Bersikaplah baik dan lembut pada suami mu. Jangan mendoktrin suami mu harus ini dan itu karena para lelaki tidak suka di doktrin. Tegur dia dengan cara yang halus dan lembut!"

__ADS_1


"Dan kamu Olaf … harus lembut pada istri mu. Jangan memuji wanita lain di hadapannya meski itu mama mu sendiri! Jangan membuat istri mu menangis karena malaikat akan mengutuk mu dan kamu harus ingat kalau kamu di lahirkan oleh makhluk yang bernama perempuan! Kalau kamu sudah tidak menyukainya lagi, maka katakan pada ayahnya agar ayah istri mu itu bisa membawa anaknya pulang tanpa tahu kalau kamu sudah tak menyukai nya lagi!"


Leo berucap tegas membuat Lea dan Olaf langsung memeluk erat dirinya.


"Lele bangga punya kakak yang Sholeh seperti kak Leo!"


"Olaf bangga punya papa yang bijak seperti kak Leo!"


Sedangkan yang di puji hanya bisa tertawa dalam hati.


Untung akhir-akhir ini aku rajin nonton ceramah ustadz Adi Hidayat, kalau tidak! Mana bisa aku bijak dan sholeh seperti ini. Andai Lea dan Olaf tahu siapa aku di masa lalu. Sudah pasti mereka akan mengumpat ku habis-habisan batin Leo tertawa lepas.


Bersambung.


**Bab ini author dedikasikan untuk pasangan yang saling menuntut satu sama lain untuk menjadi sempurna.


Ingatlah Suami kalian bukan Rasulullah dan istri kalian bukan Saidah Khadijah**.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰🥰


__ADS_2