
Eva melihat sahabat nya yg sedang bermuram di meja kerja nya, terlihat rambut lusuh, dengan wajah di tekuk yang membuat gadis itu seperti bom yang akan meledak jika di sentuh,
Ari mengangkat tangan nya depan dada, memberi kode kepada Eva untuk tidak mendekati wanita yg ada di sebelah nya, saat ini karna, takut takut jika nanti iya akan terkena sasaran amukan nya lagi,
Hanya kode kode mata di antara mereka, Ari melirik sedikit ke arah Alisa dengan aura mendung yg menyelimuti gadis itu saja membuat, lelaki kemayu yg ada di sebelah meja nya enggan untuk sekedar menyapa nya,
"kenapa? " bisik Eva dan Angkasa Bersamaan
"gak tau tadi abis dari ruangan big bos, aura nya mendung cin" ucap nya pelan berbisik bisik "jangan di ganggu aura nya horor, gw aja tadi kena semprot" adunya kepada 2 rekan nya itu,
Eva dan Angkasa menganggukan kepala kompak " pantes aura pembunuh nya keluar" ucap Eva sedikit cekikikan
.
.sibuk dengan tugak kantor membuat Alisa sedikit teralihkan, iya mengerjakan tugas nya dengan malas, namun karna alasan propesional iya tetap mengerjakan nya dengan tekun
" Al dah mulai sore ni pulang yok" ajak Eva membuyarkan pokus nya pada layar komputer yang ada di hadapan nya
Alisa mendongakkan kepala nya, "gw mau curhat sebentar boleh"
Eva menghela nafas nya pasti sesuatu terjadi fikir nya, iya kemudian menarik bangku ke sebelah Alisa lalu mendudukan tubuh nya di sana, meposisikan wajah mereka agar saling berhadapan
"cerita sama gw ada apa?" ucap nya serius
Alisa menghela nafas berat, sebelum kemudian menceritakan semua nya dengan detail, kepada sahabat nya itu,
"what.. nikah" Alisa segera membungkam mulut sahabat nya itu, takut jika ada yang mendengar teriakan wanita itu karna terkejut
"sssstttt pelan pelan dong" omel nya kemudian
"oke.. jawab aja yes" Ucap Eva penuh semanggat
"lo gila ya" jawab gadis itu cepat sambil menjitak jidat sahabat nya
Eva reflek memegang jidat nya, yg terasa sedikit nyeri,
"dengerin gw, apa si Al rugi nya? ganteng ,tajir, kurang apa lagi coba, itu tu pria idaman banget. tau gak" ucap nya serius
Alisa hanya mampu menghela nafas gusar, " gw tau tapi kan masalah nya "
dretrrt drettt hanpon Alisa kembali bergetar,
halo" jawab nya tanpa melihat siapa nama yg menghubungi nya
"apa? " teriak nya kaget, oke aku ke sana" lanjut nya kemudian
__ADS_1
Alisa bergegas mematikan telpon nya, iya tiba tiba berlari ke arah lif, menekan tombol menuju lantai paling atas gedung,
sedangkan Eva hanya terngangga binggung melihat tingkah sahabat nya itu,
setalah sampai di lantai teratas Alisa bergegas berlari melewati lorong menuju ruangan presider, yg lerlihat lengang dan kosong, maklum saja ini sudah sore sudah waktu nya jam pulang kantor
krekk... suara pintu terbuka, gadis itu menerobos masuk tanpa meminta izin ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu
sedangkan pria yg ada di dalam nya terlihat sedikit terkejut, iya duduk mematung sambil memega gagang telpon, seperti nya pria itu sedang berbincang dengan seseorang di seberang sana,
"baik kita bicarakan lagi nanti" ucap lelaki itu lalu meletakkan gagang telpon ke tempat nya semula,
Boby melipat tangan nya di atas meja menopang dagu nya dengan kedua tangan nya,
"jadi" ucap nya gantung, iya menaikan alis nya, menunggu reaksi gadis itu, yg nampak terengah mengatur nafas nya
"saya terima" ucap gadis itu lantang
"apa ?" jawab lelaki itu pura pura tidak mengerti dengan yang di maksud gadis itu
"aku aku bersedia menikah dengan bapak tapi tapi aku butuh uang itu sekarang" ucap nya ragu ragu, iya memutar mutar pucuk kemeja bawah nya dan sedikit meremas nya, mencari sedikit kekuatan di sana,
Boby menipiskan bibir bawah nya terlihat senyum tipis di sana, sangat tipis, hingga gadis itu tidak menyadari nya,
"aku siap, apapun itu aku siap" jawab gadis itu mantap.
Boby bisa melihat keyakinan di mata gadis itu, entah itu karna paksaan situasi atau apapun lelaki itu tidak perduli, yang iya tau iya telah mendapatkan solusi dari masalah nya,
lelaki itu bangkit dari duduk nya, iya berjalan melewati gadis itu menuju pintu kaca, dan menarik gagang pintu itu, iya berhenti sesaat dan mendongakkan wajah nya ke belakang, melihat tidak ada pergerakan dari gadis itu
"ayo, " ucap nya kemudian melanjutkan langkah nya keluar dari ruangan itu,
Alisa tersentak dari lamunan nya, iya segera menyusul lelaki itu dengan sedikit berlari lari kecil,
Boby sudah berdiri di dalam Lif dan sesaat kemudian Alisa menyusul di belakang nya
"pak kita mau kemana?" tanyya wanita itu binggung,
"menjenguk calon mertua ku, apa lagi " ucap lelaki itu santai
"hah? jadi bapak tau?" tanya gadis itu penasaran
"aku sudah mendengar nya dari HRD"
"ouh begitu, pantas saja" gumam gadis itu pelan
__ADS_1
.
" " "
.
di rumah sakit Aris dan tante nya Mila, sedang duduk dengan gusar menunggu di luar ruang oprasi , warna lampu yg masih menyala menandakan oprasi sedang berjalan di dalam sana
Alisa sedikit berlari lari menghampiri adik dan tante nya,
Aris yang melihat sang kaka datang langsung bangun dari duduk nya, pemuda itu langsung menubruk sang kaka dan memeluk erat
"bak bunda" ucap nya sesegukan menangis dalam pelukan sang kaka
Alisa mengelus punggung adik nya sayang, iya tau sang adik pasti sangat tertekan, pasal nya selama gadis itu pergi sang adik lah yang membantu mengurus semua keperluan sang bunda,
"gak papa bak di sini, bunda pasti gak papa" ucap gadis itu yakin, dan di balik itu iya juga berusaha meyakinkan diri nya sendiri
Aris melepaskan pelukan nya, Alisa beralih mendekati tante nya, yg juga adalah adik dari sang bunda,
"tante" ucap gadis itu seraya memeluk tante nya, "tante bunda sudah berapa lama di dalam?"
tante Mila melepaskan pelukan nya dari sang keponakan, iya mengusap air mata gadis itu dengan lembut, "sudah 1 jam yang lalu, tante rasa mungkin sebentar lagi selesai" ucap nya lembut
krek... pintu ruangan oprasi terbuka, seorang susuter keluar dari ruangan itu, mereka segera menghampiri suster itu
"apa ibu saya baik baik saja sus" Tanya Alisa cepat
"apa anda keluarga pasien?" tanya suster itu
"iya, saya anak nya" Jawab Alisa cepat
"nona ibu anda sudah baik baik saja, sebentar lagi beliau akan di pindahkan ke ruangan AICU, jadi saya harap keluarga bisa segera mengurus surat surat administrasi nya" ucap suster itu memberi kan map yang ada di tangan nya kepada Alisa
Alisa mengambil map tersebut, kemudian mengucapkan terimakasih, dan di balas anggukan oleh suster itu
"biar saya yang menyelesaikan administrasi nya" Boby mengambil alih map yang ada di tangan gadis itu, lalu pergi ke menuju resepsionis.
Alisa tersenyum canggung, pasal nya karna panik dan cemas iya sampai lupa bahwa iya datang ke tempat itu tidak sendiri, bahkan iya belum mengenalkan siapa pria yang datang bersama nya itu kepada Adik ataupun tante nya..
.
.
.Bersambung.......
__ADS_1