
Alisa melihat pantulan diri nya di kaca untuk ke sekian kali nya, meyakinkan diri jika penampilan nya cukup baik hari ini
, iya meremas tangan nya sendiri, meyakinkan diri nya bahwa semua akan berjalan dengan baik.
tok..tok.. suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian nya, gadis itu segera membuka pintu kamar nya, Aris sudah berdiri di sana memandang nya dari ujung kepala hingga ujung kaki,
"bak cantik banget, tumben" sedikit terpesona
"emang selama ini gw jelek" omel gadis itu pada sang adik
"iya" Aris segera memegang jidat nya yg sakit, setelah mendapat jitakan dari sang kaka "aw sakit tau bak ih" omel nya kemudian
"sukurin, mau apa ketok pintu? ketus nya
"ada. kaka ipar tu nunggu di depan," Aris
"kaka ipar" Ucap gadis itu binggung
"ya iya lah kaka ipar, bukan nya kemarin dia udah bilang kalau dia mau jadi calon menantu bunda" Ledek Aris kemudian, iya mengernyit pergi sambil cekikikan, saat jitakan kedua hampir mendarat kembali di kepala nya, tapi kali ini iya berhasil kabur
pasti pak Boby, aduh gimana dong, pura pura sakit aja kali ya" Alisa
"pak, udah dari tadi?" tanya gadis itu setelah sampai ke ruang tamu, dan melihat lelaki itu sedang duduk sambil memain kan hanpon nya
"baru" mengalih kan pandangan kepada wanita yang baru menyapa nya "cantik" puji nya kemudian
"kita berangkat sekarang?"
"aku aku" ucap gadis itu gugup
aku sakit pak, jadi gak bisa ikut pergi gak papa kan?
"ayo" sudah menarik tangan Alisa keluar rumah
ya tuhan susah banget tu kata kata keluar, " gumam nya dalam hati
sekarang mereka sudah duduk di dalam mobil, Alisa memperhatjkan wajah tenang lelaki di samping nya, berbanding terbalik dengan diri nya yang merasa sangat tegang dan gugup
Alisa meremas tangan nya sendiri, menyalurkan sedikit kegugupan yang ada di hati nya, diam diam Boby memperhatikan gadis itu melalui ekor mata nya, iya tau pasti gadis itu merasa sangat tegang.
__ADS_1
"santai saja" Alisa terlonjak saat tangan kokoh menggenggam tangan nya
"apa, apa kakek bapak bisa menerima saya? saya merasa "
"jangan memikirkan apapu. biarkan iti menjadi urusan ku, dan kau hanya perlu tersenyum dan menganggukan kepala mu" sela Boby cepat, bahkan Alisa belum menyelesaikan ucapan nya
.
di tempat lain Eva sedang sangat sibuk dengan tugas nya, begitu banyak pekerjaan, apa lagi saat seperti ini Sahabat yang biasa bisa iya andalkan tidak ada membuat beban pekerjaan nya semakin menumpuk
"bak Eva itu pak Kris ingin mengadakan pertemuan mengenai proyek yang di limpahkan ke tim kita waktu itu" Ari datang sambil membawa setumpuk berkas di tangan nya
"huhh kamu dan Angkasa kan bisa mengurus nya, aku masih banyak kerjaan ni" omel gadis itu pada bawahan nya
"tapi pak Kris mau nya Alisa yang nanganin semua nya, karna dari awal kan memang di pegang dengan Alisa" ucap nya kemudian
ya ampun tu orang bikin tambah ribet deh, gimana kalau dia sampai tau kalau Alisa bakal di nikahi pak Boby haduh... "Eva
"oke siapkan berkas berkas yang di perlukan, kita akan temui pak KRis sekarang" titah nya kemudian
.
.
"silahkan mau pesan sesuatu dulu mungkin sebelum kita lanjutkan" ucap KRis seraya mempersilahkan mereka untuk duduk
"terimakasih, jus jeruk dua" Ucap Eva pada pelayan yang menghampiri nya, setelah mencatat pesanan gadis itu, pelayan itu menganggukan kepala nya sopan , setelah itu pergi menyiapkan pesanan mereka
"kemana Alisa?" Tanya Kris memulai percakapan
"Alisa sedang mengambil cuti, iya sedang pulang ke kampung nya, menenggok ibu nya yang sedang sakit,"Eva
merekapun melanjutlan obrolan basa basi nya, lalu di lanjutkan dengan pembahasan tentang seputaran pekerjaan,
k**alau di lihat lelaki ini sangat tampan dan berwibawa, pantas saja Alisa selalu bersemangat saat mengadakan pertemuan dengan nya" Eva
.
" " "
__ADS_1
.
Di dalam rumah besar kakek HAlim, Alisa meremas tangan nya di bawah meja, saat iya di pandangi lelaki yang sudah tidak lagi muda itu dengan seksama
sekarang Alisa ada diruangan kerja kakek Halim, setelah. dari mereka sampai dan kakek Halim mengatakan ingin berbicara empat mata pada diri nya, dan mengajak nya masuk ke ruang kerja lelaki tua itu.
"apa kau kekasih cucu ku" ucap kakek halim menyelidik namun terkesan lembut
Alisa menahan senyum, yang iya pasang dari semenjak mereka melangkahkan kaki memasuki rumah besar itu,
"iya kakek" sambil tersenyum manis
"sejak kapan kalian pacaran"
"sejak... sejak kapan ya, dejat saja tidak bagai mana bisa pacaran, kalau aku bohong apa akan ketauwan??, Alisa binggung harus menjawab apa, pasal nya mereka dekat saja tidak bagaimana bisa di bilang pacaran,
walaupun memang Lelaki itu sering mengambil kesempatan atas diri nya saat mereka bertemu,bahkan pernah melakukan hubungan badan, tapi tidak ada ikatan di antara mereka,,, bahkan Alisa merasa selalu di manfaatkan lelaki itu di saat saat tertentu
"kakek kami sudah saling mengenal sejak 4bulan terahir" ucap Alisa memilih jalan aman, mengenal bukan berarti dekat atau pacaran kan, berarti dia tidak termasuk berbohong,
"apa kau di minta menikah dengan nya, karna sesuatu?" kakek Halim menyipitkan mata nya mendeteksi setiap reaksi gadis itu,
"tidak kakek, aku benar benar menyukai nya kami, kami saling mencintai" ucap Alisa tergagap, iya bahkan sampai berkeringat dingin sangkin gugup nya,
"sayang sekali kau bahkan tidak pandai berbohong" jawab kakek Halim kemudian menyandarkan punggung nya, mata nya menatap Alisa semakin lekat, yang membuat gadis itu semakin bertambah gugup
Alisa menundukan kepala nya, mungkin lebih baik jika mengatakan kebenaran nya,
gadis itu menarik nafas nya dalam iya memutuskan untuk mengatakan kebenaran, agar tidak menjadi beban di hati nya, lebih baik jujur dari pada Kakek Halim mengetahui nya dari orang lain, begitu pemikiran gadis itu kira kira
"kakek Aku adalah bawahan Pak Boby di kantor, iya dengan baik hati telah membatu oprasi dan pengobatan ibu ku, jadi, sebagai bentuk terimakasihku aku bersedia menjadi istri nya, dan lagi" diam sesaat gadis itu terlihat ragu mengatakan kelanjutan nya "tentang aku menyukai nya itu benar, aku memang mengagumi sosok beliau" lanjut nya kemudian, namun Alisa memilih tidak mengatakan tentang perjanjian kontrak satu tahun hubungan mereka
"bagus, aku menyukai ke jujuran mu, "
kakek Halim menepuk bahu Alisa lembut
.
.
__ADS_1
.bersambung