
"aku ingin kau, memberi nya perhitungan" NAdia bersidekap menatap wanita yang duduk di hadapan nya, yang terlihat santai sambil menikmati minuman nya,,
"aku merencanakan sesuatu yang ekstrim, namun penuh resiko, apa ku mau mendengar rencana ku" jawab nya santay
"apa, rencana seperti apa" Nadia mulai antusias
wanita itu mencondongkan tubuh nya nya kedepan, membisikan sesuatu dengan nada rendah namun tetap bisa di dengar dengan sangat jelas, beberapa kali Nadia menganggukan kepala, dan seringai jahat muncul di wajah cantik nya
"aku tak menyangka bahkan kau lebih sadis, tapi jika orang lain mengetahui ini maka tamat riwayat ku" Nadia mulai ragu
"aku akan membayar mu 3x lipat, dan kau juga bisa membalaskan dendam mu pada nya bukan" wanita itu mengulas seringai tipis nan licik.
"ya aku sangaat membenci nya,, dia telah merebut seorang yang sangat ku sukai sejak lama" Nadia menggeratakan gigi nya menahan amarah yang bergejolak di dada nya
"baik lah aku akan melakukan nya" sambung nya kemudian
.
.
.
"pagi mbak Alisa" sapa mereka dengan senyum cerah merekah seperti sinar matahari yang sedang terik di siang hari, bukan menyejukan justru terasa sangat panas menyengan ya,,
"pagi" Alisa sedikit mengangguk sopan dan mengulas senyum manis seperti biasa pada semua rekan rekan nya
"mbak Alisa , mari saya bantu membawa berkas berkas ini ke ruangan anda" salah satu rekan yang tadi nya sangat cuek dan acuh kini berubah menjadi begitu baik dan manis terhadap Alisa membuat wanita itu merasa tidak nyaman,
dan dengan halus dan sopan menolak pertolongan yang di rasa tidak perlu, karna memang iya hanya membawa beberapa berkas pekerjaan nya saja
"cie jadi nyonya Bos, banyak yang perhatian ni" Ledek Eva yang tiba tiba datang di belakang nya, di susul Ari dan Angkasa
"bukan perhatian, tapi penjilat," Sanggah Ari cepat,
"iya ini membuat ku kurang nyaman" desah Alisa dengan sedih
.
* * * *
.
sore menjelang Aktipitas masih begitu padat hingga ahir nya jam mulai menunjukan pukul 5 sore,
__ADS_1
Alisa berdiri di bawah Halte bus, hari ini Bobby mengatakan tidak bisa mengantar nya pulang karna ada pertemuan penting, dan dengan menyesal membuat Alisa harus pulang dengam naik taxsi,
sebenar nya itu tidak masalah, bagi Alisa itu hal biasa, toh dulu iya juga melakukan hal yang sama, jangankan taxsi bahkan saat tanggal tua untuk mengheman biaya, iya dan Eva pernah naik angkutan umum atau bajai, utuk mengantar mereka berangkat dan pulang kerja.
"aw,,, " pekik Alisa saat merasakan sesuati menusuk tengkuk nya, iya reflek mengusap belakang tengkuk kepala nya, yang terasa nyeri saat sesuatu terasa menusuk kulit nya,
iya membalikan tubuh nya, dan menemukan seseorang yang tidak asing bagi nya tersenyum licik ke arah nya
Alisa mengerutkan kening nya, mulut nya terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun belum sempat kata kata nya mengudara, iya merasa pandangan nya berkunang, dan ahir nya merenggut ke sadaran nya
Nadia menangkap tubuh Alisa yang lunglai agar tidak terjatuh, dan sebuah mobil berwarna hitam menghampiri mereka, dan membawa kedua nya masuk kedalam mobil itu, lalu kelaju menjauh hingga hilang tertelan jarak
.
* * * *
.
Alisa mengerjapkan mata nya, dan terkejut saat iya melihat sekeliling tidak ada siapapun di sana,
bahkan cahaya lampu yang meremang membuat pandangan nya kabur dan tidak jelas, seolah itu belum cukup iya merasakan sakit di kepala nya yang begitu menyiksa membuat nya mengeryit dan tangan nya bergerak memijat pangkal hidung nya untuk meredakan nyeri.
"di mana ini" gadis itu menyapu pandangan nya dengan binggung
Alisa menyipitkan mata nya melihat wanita yang berdiri di ambang pintu menghadap nya, namun karna binar lampu di luar ruangan itu yang menyilaukan, membuat Alisa hanya bisa melihat silwet seperti bayangan hitam, dan wajah wanita itu tidak tampak jelas
"siapa kau" tanya nya dengan suara bergetar
alaram waspada langsung menguar dari tubuh nya, membawa firasat yang tidak baik merayapi perasaan nya
"oh,, nyonya Halim,, apa kini kau tidak lagi mengenali suara ku" tanya wanita itu mengejek
Alisa semakin menajamkan pengelihatan nya, saat bersamaan wanita itu melangkah ke salah satu pilar dan menekan sesuatu hingga lampu di ruangan itu menyata, dan menampilkan dengan jelas sosok wanita yang ada di hadapan nya
"NADIA" ucap Alisa memekik terkejut
"apa yang kau lakukan? kenapa kau melakukan ini?"
"menurut mu apa" tanya balik Nadia dengan senyum mengejek
Alisa bangkit dari duduk nya dan dengan tubuh yang masih goyah sempoyongan iya merangsek maju menuju pintu, ingin keluar dari ruangan itu
namun sebuah cekalan kuat menghantam nya, dan sekali hentakan mengibaskan nya, hingga tubuh Alisa yang oleng membuat nya terhuyung dengan mudah ke belakang dan langsung tebanting ke belakang
__ADS_1
"mau pergi ke mana heh" tanya Nadia garang
"aku haru segera pergi Mas Bobby pasti sedang mencari ku"
"ouh,,, sekarang bahakan kau memanggil nya demgan embel embel Mas ya" Nadia menyeringai mengejek
"Nadia apa mau mu?" tanya Alisa binggung
"ini yang aku mau"
PLakkk,,, tamparan keras mendarat di wajah mulus Alisa memberikan efek panas dan sakit yang menjalar di permukaan kulit pipi Alisa,
gadia itu sempat ternganga menerima tamparan itu, tangan nya reflek memegangi sisi wajah nya yang terasa bengkak.
seperti belum puas Nadia kembali mencekramkan tangan nya ke rambut Alisa dan gadis itu. PLakk,,, iya kembali menampar sisi wajah Alisa yang lain nya
"dan itu ada lah balasan untuk penggoda seperti mu, dasar *******" maki Nadia dengan nada menghina nya
mendengar kata kata sarkas Nadia, membuat Alisa mendongakan kepala nya, iya mengeretakan gigi nya, menahan amarah yang mulai memuncak
"katakan sekali lagi" ucap Alisa lambat lambat, dengan mata merah menahan sakit dan amarah
" DASAR *******, KAU SEORANG PENGGODA ATAU MEMANG ITU KEBIASAAN MU, menggoda Bos Bos besar dan meniduri mereka,"
Nadia mengucapkan dengan begitu lantang dan lambat lambat, dengan wajah meledek dan pandangan yang seolah jijik, sengaja mempropokasi Alisa .
Alisa bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Nadia, tidak perduli dengan sakit di wajah dan kaki nya yang iya rasa saat terjatuh di dorong Nadia tadi, mungkin iya terkilir
PLak,, Plakk,,, bukan satu tapi dua tamparan sekaligus mendarat di wajah mulus Nadia dengan begitu kuat, hingga membuat tubuh nya terhuyung ke belakang
senyum puas melingkupi wajah Alisa
"kau tidak bisa menjaga mulut mu, dan itu hukuman yang cocok untuk mu," aku tidak tau apa sebenar nya kesalahan ku pada mu, sampai kau terlihat sangat membenci ku sedari awal, aku selalu menganggap perbuatan mu sebagai angin lalu, tapi kali ini kau yang memulai dan mengusik harga diri ku" tutur Alisa panjang
"Harga diri" tawa Alisa menggema di seluruh ruangan, membuat suara nya seperti raungan
"kau mengatakan harga diri, sejak kapan ****** seperti mu memiliki harga diri" tanya nya mengejek
"aku tidak ada waktu untuk meladeni mu" Alisa kembali meraksek maju sebelum sampai keluar ruangan itu, iya tepaku melihat dua sosok lelaki di depan naya
kemudian ..
.bersambung....
__ADS_1