
Malam semakin laru , seorang wanita tengah duduk menyender . Sembari mengusap usap punggungnya , entah mengapa terasa pegal .
Pada hal usia kandungannya baru jalan empat bulan .
" Hemm ,,, dedek kangen papa ya ? ", Fonlli tak bisa tidur dan bermonolok sendiri . Mengajak sang buah hati berbicara .
Tiba tiba , dia merasakan kangen yang teramat kepada Dimas . Malam ini malam kamis , hari rabu . Sebenarnya ini jatahnya di temani Dimas .
Tapi Dimas tak bisa menemani , karena dia ada urusan keluar kota . Fonlli diam hanya mampu memandangi foto . Atau vido sang suami bersama sang anak .
Sambil mengelus ngelus perutnya , " Sayang gak boleh rewel ya . Papa lagi kerja , nanti balik kok ".
Ucapan Fonlli berusaha membesarkan hatinya dan menghibur diri sendiri . Matanya mulai berkaca kaca .
Entah mengapa kehamilannya saat ini , sunguh berbeda . Dia memang gak mengalami mutah atau mabuk . Cuman dia lebih mudah nangis , perasaannya sensitif banget . Bahkan lembek , tak seperti kehamilan pertama .
" Besok kita lihat papa ", Fonlli bermonolog .
Fonlli seperti biasa , dia akan diam diam melihat Dimas dari kejauhan . Dan diam diam merekamnya . Bukan karena gak mau bertemu secara langsung .
Atau gengsi mengakui kalo dia kangen , kepada sang suami . Tapi ucapan Alya lah , yang membuat dia terus berhati hati .
" Kalo kamu masih pingin lihat Denis hidup bahagia . Sadar diri dan jangan ngelunjak ! "_ Alya .
Ucpan Alya ini gak main main , karena dia pernah melakukan hal kelewatan . Dan untung saja Denis bisa terselamatkan .
Jadi Fonlli selalu berhati hati dalam bertindak , pada hal dia tidak pernah meminta atau berlebihan . Saat bersama Dimas , malah dia sebisa mungkin mengingatkan Dimas . Agar lebih memperhatian kepada Alya .
Karena Alya lebih membutuhkan perhatian Dimas .
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
" Sayang "_ Rita .
__ADS_1
" Hmmmm " _ Renzi .
" Lapeeeeerrrrr "_ Rita .
Renzi yang sedang fokus pada layar leptopnya . Memalingkan wajahnya ke arah sang istri . " Hemmm ",,, Dia tersenyum dan mengelus perut sang istri .
" Anak Dedy laper ya ? ", ucap Renzi .
" Emmm " ,,, yang hanya di angguki oleh Rita .
" Mau maem apa ? "_ Renzi .
" Seblak ", ucap Rita cepat .
" Hemmm ?? " , Renzi mengerutkan dahinya . Dia yang lama tinggal di luar negri tak tau makanan yang satu ini .
" Jam segini apa ada yang masih jualan " . Renzi berucap sembari melihat jam dinding di kamar mereka .
" Buat sendiri aja , tapi dedy yang masak "_ Rita .
" Gampang itu " , Rita mengambil benda pipih yang berada di meja maska tempat tidurnya .
Mengetik resep seblak , dalam hitungan menit . Pecariannya muncul di layar , mbah googel menampilkan berbagai macam resep seblak .
Renzi mulai membaca , " Gak ! ". Ucap Renzi tegas , setelah membaca bahan bakunya .
" Ayolah dedy " ,,, Rita merajuk dengan manja . Sembari memeggangi lengan sang suami .
" Sayang minta yang lain aja ya , ini tuh pasti nantinya pedas ". Renzi mencoba membujuk .
" Gak akan pedes , kan cabainya dikit " , ucap Rita sembari menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya .
" Yang lain aja ya "_ Renzi .
__ADS_1
" Emm " ,, Rita memanyunkan bibirnya dan menjauh kepalanya dari bahu Renzi . Yang awalnya menyender , sembari menggelengkan kepalanya .
" Huffffffff " , Renzi membuang nafas kasar dan beranjak bangun dari ranjang .
" Ayo kita buat ", ucap Renzi melangkah keluar kamar .
" Hehehe ,,, " , Rita tersenyum sumringah . Dan menyusul sang suami , yang sudah siap di kitcen .
Dengan berbalut upround , membuatnya terlihat semakin maskulin dan menawan . Ke ahlian memasak Renzi tidak bisa di ragukan lagi .
Di bandingan Rita , sang istri paya dalam urusan dapur . Meskipun belum pernah memakannya secara langsung , atau melihat bentuk makannanya .
Kalo tau resepnya dan ada contoh gambarnya . Itu bukan hal sulit buat Renzi , karena dia ahli dalam hal memasak .
Tak butuh waktu lama , seblak mie dengan kuah banyak tersaji di meja makan .
Sesuai permintaan sang istri , berkuah , telurnya di ceplok . Dan tambahan toping seperti dumpling serta potongan sosis .
" Suuuuuuppppppppp ", Rita memakannya dengan antusias . Tanpa memperdulikan imegnya yang seorang model .
Menjadi dirinya sendiri di depan sang suami .
" Enak yang , makasih dedy ". Ucap Rita di sela sela makannya .
" Makannya pelan pelan , kan masih panas ". Renzi berucap sembari melap sudup bibir Rita yang belepotan .
Dia tersenyum puas , karena sang istri begitu lahap memakannya . Dan dari raut wajahnya terlihat berseri seri , seperti seorang anak kecil . Yang mendapatkan apa yang di mintanya .
'" Sungguh mudah membuat mu tersenyum , hal seperti ini saja membuat mu gembira. Kau memang wanita kun , kali ini kan kupastikan . Kalian berdua aman , tak kan ku biarkan mereka menyakiti kalian berdua . Terlebih kau baby , dedy akan memastikan kau terlahir ke dunia ini . Dengan selamat , hal yang menimpah kakak mu . Takkan ku biarkan terulang kembali ".
Ucapan terakhir Renzi membuatnya berubah sedih . Matanya berkaca kaca , dengan cepat Renzi mengedipkan matanya .
__ADS_1
Berusaha agar air matanya tak jatuh mengalir .