
Langit berubah mendung seketika , rintik rintik air hujan . Turun tak tertahankan , langit seakan tau . Sebuah kesedian sedang menyelimut , di sebuah kamar rumah sakit .
Seorang pria paruh baya , terbaring dengan beberapa alat pernafasan . Yang menompang ke hidupannya , selama beberapa tahun ini .
Kulitnya mengeriput , wajah pucat . Seakan akan tanda tanda ke hidupan . Menjauh dari dirinya , hanya bunyi alat alat penunjang hidupnya lah .
Yang menyatakan , kalo raga itu masih bernyawa . Gani , ayah kandung Fonlli . Sempat tersadar kemarin , sampai sang dokter . Menghubung keluarganya , karena hal tak terduga dari kejadian itu .
Di sisi brangkar rumah sakit , Fonlli terduduk tak berdaya . Saat beberapa jam lalu , sang dokter menyampainkan . Hal yang tau mau dia dengar , di mana Fonlli harus memberikan keputusan . Yang teramat berat , apapun ke putusan yang akan dia ambil .
Amatlah berat , sang dokter mengatakan . Kalo pasien sempat sadar beberap menit , setelah lama koma . Tapi organ organ tubuhnya tak menunjukan . Kalo si pasien menujuh ke arah ke hidupan . Malah fungsi organ tubuhnya semakin melemah .
Dokter menyerah , akan ke hidupan sang pasien . Karena meski sempat sadar , tak ada tanda tanda pasien menujuh ke arah yang baik .
Malah sebaliknya , maka sang dokter menyarankan . Untuk mecobat alat bantu ke hidupan sang pasien . Dan keluarga mengikhlaskanya , sejak awal dokter sudah pesimis .
Akan kesembuhan ayah Fonlli , pertama di pindahkan ke rumah sakit ini . Harapan ayah Fonlli untuk hidup , sungguh tak ada .
Tapi karena permintaan Dimas , sang dokter tetap mengupayakan yang terbaik . Meski tau hasilnya akan nihil , dokter tak memberiharapan .
Tapi tak semerta merta menyerah , mereka tetap berusaha .
Puk ,,,
Sebuah tepukan di bahu Fonlli menyadarkannya . Ia menengokkan kepalannya , dan Dimas sudah berdiri di belakangnya .
Dimas langsung terbang ke negara S , begitu tau . Apa yang terjadi , ia tau pun secara tak sengaja . Hari itu Dimas benar benar sangat sibuk .
Dia harus pergi keluar kota , untuk mengurus beberapa hal . Yang tek bisa di wakilkan , tapi entah mengapa . Dimas mempunyai firasat yang tidak enak tentang Fonlli .
Alhasil dia dengan cepat membereskan masalahnya . Dan kemabli ke kota , awalnya ia ingin langsung ke tempat Fonlli .
__ADS_1
Tapi di tengah jalan , orang rumah menghubunginya . Memberi tau kalo Alya , terjatuh di kamar mandi .
Dimas memutar arah jalan , sesampainya di rumah . Dimas malah mendapati kalo Alya berbohong . Dimas tau secara tak sengaja , karena kepulangannya tak di ketau Alya .
Dimas yang kawatir , langsung berjalan ke arah kamarnya . Dan tanpa di ketahui Alya , pembicarannya dengan salah satu art .
Yang di suruh menghubungi Dimas , terdengar olehnya . Tanpa bicara , Dimas keluar rumah dan kembali berjalan ke tujuan awalnya .
Rita menghubunginya dan memberi tau ke ada Fonlli . Mendengar itu , Dimas menghubungi sang sekertaris . Untuk memastikan apa yang terjadi , dan juga memintannya . Agar mengurus ke berangkatannya ke negara S .
Dalam perjalanan , Dimas mengecek hendfonya . Ada beberapa panggilan tak terjawab masuk . Dari dokter yang menangani ayah Fonlli serta pesan dari Fonlli .
Hati Dimas kawatir , dia takut terjadi sesuatu terhadap Fonlli . Karena dia sedang hamil , dan melakukan perjalan jauh .
Settttt ,,,
Dengan masih terduduk Fonlli memeluk pinggang Dimas . Menenggelamkan wajahnya di pinggannya . Dimas mengelus elus lembut kepala Fonlli .
Satu sisi Fonlli tak mau melihat sang ayah menderita seperti ini . Karena dia tau , walau sang ayah tak berucap . Tapi roh , yang belum berpulang dari tubuhnya pasti merasakan ke sakitan itu .
Betapa sakitnya selama beberapa tahun ini . Untuk bertahan hidup dia harus menggunakan alat bantu . Tapi di sisi lain , Fonlli terus mengharap sang ayah bisa sembuh .
" Apa yang harus aku lakukan , aku tak mau dia menderita . Tapi aku tak mau menjadi pencabut nyawanya ". Fonlli berucap liri di tengah tangisannya .
" Berdoalah , karena saat ini . Hal itu yang bisa kita laku . Melepaskan atau mempertahankan , biarkan tuhan yang memberi jawabannya ". Dimas membalas ucapan Fonlli .
Fonlli menghela nafas panjang , mencoba menenangkan diri . Dia berbalik ke arah sang ayah . Menggenggam tangannya , memberi kecupan lembut . Fonlli memejamkan matanya dalam hati dia berdoa .
" Tuhan yang maha kuasa , berikanlah hamba petunjuk . Atas apa yang harus hambamu lakukan . Hanya engkau tempatku meminta , jika ayah hamba mu ini . Harus kembali ke sisi mu , aku ikhlas . Tapi tolong , tunjukan kuasamu . Agar aku tak salah mengambil ke putusan . Sesungguhnya , hanya engko yang berhak atas hidup mati seseorang ".
Tak berapa lama , tangan lemah sang ayah betgerak . Membuat Fonlli terkejut , dan langsung sigap menghadap sang ayah .
__ADS_1
Mungkin tuhan mengabulkan doa hamba hambanya . Yang tak pernah lupa padanya , meski di landa penderitaan .
" Ayah ", seruh Fonlli .
Sang ayah membuka matanya , seakan tau kesedihan sang anak . Dia memadang ke arah mata Fonlli , tersenyum lembut . Dan sesaat setelahnya , alat bantu itu berhenti dengan sendirinya .
Tuuuuuuu ,,,,,,,,,,,,
Menandakan si pasien telah pergi , kembali kepadanya .
Lessss ,,,
Seketika itu juga , hati Fonlli terasa perih . Fikirannya kosong , saat merasakan tangan sang ayah . Benar benar tak ada tanda ke hidupan .
Senyum di bibir Fonlli menghilang seketika . Matanya membulat sempurnah , air mata mengucur tak terbendung .
" A ,,, a ,,, ayahhhhhhhhh ", di selah isakan tangis .
Blek ,,
Fonlli hampir terjatuh , jika Dimas tak sigap di belakangnya . Semua begitu mendadak , karena sesak di dada Fonlli . Kini ia pingsan , tubuhnya tak mampu . Menerima kenyatan pahit ini ,,,,
🙄
😯
😢
😣
😳
__ADS_1
😢