
Esok Harinya.
"Aku mohon Mas, tolonglah perjelas supaya aku bisa melakukan tugasku dengan benar!"
"Kau bahkan tak ingat dengan pria yang pertama kali kau layani denganmu!"
"Ingat Mas! Aku sudah mengingatnya!" ucap Dhea membuat Ramlan kembali meliriknya.
"Pria macam apa?" Ramlan tergugah bertanya.
"Gendut, kalau tidak salah. Sepertinya sekitar lima puluh tahunan, dia tak banyak bicara, napasnya bau alkohol, sehingga membuatku pusing dan mual. Lalu aku membawanya keluar, sebelum aku bertemu preman itu."
"Apaaaa?"
Ucapan Dhea yang membuat Ramlan mengerlingkan netranya dan langsung melangkah lagi menuju lift.
BUG.
'Huh, kencang sekali dia memencet tombolnya? Pakai mengepalkan bogemnya begitu? Apa aku salah bicara? Tapi benar pria expat Amerika itu gendut dan bau alkohol. Aku bahkan memohon pada Ferdi untuk menjauhkannya dariku sepanjang jalan menuju jalan!' ujar hati Dhea agak kaget dengan sikap Ramlan yang langsung menunjukkan kemarahannya.
Padahal ia belum sempat jelaskan, jika ia hanya menolong orang mabuk tanpa bersentuhan di pikirannya.
"Mas Ramlan!"
Dan Dhea pun tidak mau mengalah, dia memilih untuk mengejar Ramlan.
__ADS_1
"Bisa kau menyingkir dari hadapanku?"
"Mas, tadi Anda melarang saya untuk menyentuh tangan Anda, jadi cara saya untuk menghentikan Anda satu-satunya adalah berdiri di hadapan Anda begini," jawab Dhea dengan kepalanya yang mendongak menatap Ramlan.
TING!
"Sekali lagi kau berdiri dihadapanku macam ini maka aku akan mengembalikanmu ke VIP Club cafe!" ancam Ramlan yang membuat Dhea takut dan dia pun menyingkirkan tubuhnya ke samping, menunduk tak berani lagi menatap Ramlan yang berjalan masuk dengan mimik wajah kaku.
'Pria macam apa dia? Dia menginginkanku ada di sisi-nya tapi dia tidak ingin menyentuhku? Apa yang dia inginkan dariku? Dan kenapa dia marah? Kan aku sudah mengingat pria pertama yang aku layani denganku. Ah, pasti pikirannya adalah ranjang, dia salah besar jika berfikir seperti tadi.'
'Papper bag itu!' tapi sesuatu di kursi ruang tamu membuatnya menengok dan mengalihkan pandangan.
'Ada Laptop juga? Yang tadi digunakannya kan? Jadi dia meninggalkan laptop dan charger-an, dia juga meninggalkan paper bag itu untukku? Apa isinya ya?" tanya Dhea sambil bergumam sendiri dan masih dengan tubuh polosnya, dia mendekat pada paper bag yang cukup besar ukurannya.
"Apa dia belanja? Tapi kapan?" tanya Dhea setelah melihat apa isi di dalamnya.
Ah! pasti paman Rozak, sesaat ia turun ke halaman belakang rumah. Pasti Ramlan menyuruh pamanku membawakan ini, atau ..?! penat Dhea.
"Setidaknya aku bisa nonton film dengan ini, handphoneku juga bisa dicharger!" ucap Dhea senang sambil melangkahkan kakinya naik ke dalam kamarnya.
Walaupun kesal, tapi Dhea agak terhibur dengan barang yang ditinggalkan oleh Ramlan dan mulai membuka laptop, melakukan apa yang diinginkannya.
'Wah, jarang-jarang aku bisa menonton film sampai pagi buta! Ini seperti dulu ketika aku masih sekolah, weekend aku menghabiskan dengan drama! Senangnya!' ujar Dhea yang sanking antusiasnya, dia tak berpikir untuk mengenakan pakaian. Sepanjang malam tubuhnya polosan, dan kini dia bergulung-guling di selimut, sehingga membungkus dirinya bagaikan kepompong
"Sudah jam enam sore! Hoaaaam!" Dhea menyugar rambutnya, lalu segera beranjak ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya, benar-benar bersih tanpa sehelaipun bulu halus mengganggu dan mencari pakaian dalam paper bag.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang masuk ke dalam kamarku dan dia mengambil pakaian kotor!" ujar Dhea lagi, ketika melihat pakaian yang petama kali datang dikenakannya sudah tak ada, dan handuk basahnya juga sudah tak ditempat Dhea membuangnya kemarin.
"Rasanya benar dugaanku! Memang ada yang membersihkannya!" ujar Dhea sambil turun dari tangga menuju ke meja makan.
'Masih hangat?' Dhea bertanya lagi di dalam hatinya dan mendekat pada makanan di meja.
"Enak sekali steaknya! Aku sudah lapar, ini juga kesukaanku! Sudah lama aku tak memakan rasa steak seperti ini! kemarin aku hanya makan satu kali itupun tidak jelas aku makan semuanya, memasak sebisanya dan Ini enak sekali!" ucap Dhea tak peduli. Dia sangat lapar sehingga memilih menghabiskan makanannya.
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri dan untuk beberapa saat Dhea hanya duduk di ruang tv sambil menyalakan tv, membawa makanan, tak ada kegiatan lain yang dilakukannya.
"Melelahkan sekali, apa dia tidak datang malam ini?" tanya Dhea sambil menengok ke arah lift lalu kembali lagi melihat TV, terus saja begitu yang dilakukan oleh Dhea hingga jam sudah menunjukkan diatas pukul dua belas malam.
"Aku yakin dia tidak akan datang!" ujar Dhea lagi yang menengok ke arah cemilannya, "Aku makan sudah banyak sekali!" keluh Dhea yang sedikit ngeri lalu melihat ke arah perutnya.
"Oh tidak, semoga saja aku tidak jadi gendut!" celetuknya lagi panik.
Dhea segera berdiri, meminum air putih dan menggunakan sisa energinya untuk berolahraga.
"Untunglah di sini ada gym! Aku setidaknya bisa membakar beberapa kaloriku!" Dhea bicara sendiri sambil berolahraga hingga lepas tengah malam, di jam dua Dhea baru selesai, langsung melakukan sauna di ruang Gym dan baru kembali ke dalam kamarnya setelah membilas dirinya.
"Melelahkan sekali!" Dhea merebahkan tubuhnya dan mengecek handphonenya.
[Aku sudah di asrama kak! Kakak apa kabar dan Kakak baik-baik saja kan di sana? Jangan lupa mengabariku!] Pesan yang dikirimkan oleh Mira, adiknya membuat Dhea menjepit bibirnya dan tersenyum, tapi dia tidak menjawabnya pesannya, hanya kembali menaruh handphone-nya
"Aku tidak akan tahu kapan aku bisa pulang dan bisa keluar dari tempat ini!" ujar Dhea lagi
__ADS_1
'Sendirian dalam kamar, tak ada teman bicara, Ssssh ... Kenapa ini mengerikan!' jawabnya di dalam hati yang kini membuat Dhea meringis ketakutan mengingat masa lalunya.
Tbc.