Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
DIJUAL PAMAN


__ADS_3

"Gelap? Di mana aku sekarang?" Dhea bertanya pada dirinya sendiri.


"Nona Anda sudah bangun?"


"No-nona?" respon Dhea, mendengar panggilan namanya


"Iya, anda sudah bangun Nona?" pertanyaan untuk Dhea yang di ulang.


"Ehm ... Tolonglah, mataku .. kenapa di tutup begini? Gelap sekali! dan kakiku ... juga tanganku .. aku tak bisa bergerak, tolonglah aku lepaskan aku!" Dhea bicara dengan intonansi suaranya yang panik


"Tenanglah nona, minumlah dulu! setelah minum, saya akan bicara pada anda!"


Sebuah pipet sedotan menempel di bibir Dhea. Dia ingin menolak, tapi mendengar kata minum, Dhea tak tahan dan langsung meminumnya. Sudah enam jam Dhea pingsan, tentu saja dia haus.


"Terima kasih untuk airnya. Tapi bisa kau jelaskan padaku, Aku ada dimana sekarang?" tanya Dhea, karena tadi saat di rumah seseorang telah membekap hidungnya dengan obat bius sehingga Dhea tidak ingat apa-apa lagi yang terjadi pada dirinya.


"Anda tenang dulu, Nona!"


"Tenang kau bilang? tanganku diikat, mataku ditutup, kakiku diikat, hanya mulutku saja yang bisa bicara, dengan kepalaku ditutup, aku tidak bisa melihat apapun. Bagaimana kau bisa bilang padaku supaya bisa tenang?" Dhea semakin histeris, dia belum bisa mengendalikan dirinya.


"Su-sulit? Aku mohon, beritahu padaku, Di mana aku sekarang? Dan tolonglah, lepaskan aku!"


"Nona, jika Anda tidak tenang maka saya akan kembali memberikan Anda obat bius!" ucapan itu membuat Dhea agak ngeri dan sambil menahan air matanya yang sudah membasahi tutupan pengikat matanya Dhea berusaha mengatur emosinya.


"Baiklah, aku akan tenang, tapi tolong jelaskan keadaannya padaku? Aku takut sekali, aku mohon!"


"Nona, berdasarkan informasi yang diberikan pada kami, paman anda sudah menjual Anda karena dia tidak lagi sanggup untuk membayar hutang-hutangnya!" pelayan lalu menceritakan detail hutang berdasarkan catatan yang diberikan padanya.


'Lima juta dollar, Tidak mungkin! bagaimana paman bisa berhutang sebesar itu? apa yang sudah dilakukannya? Hidup kami pas-pasan, ini pasti salah!' ujar hati Dhea meyakinkan dirinya.


"Anda pasti berbohong padaku kan! Hutang-hutang itu ... tidak mungkin! Tidak mungkin paman Rozak setega itu! Dia tidak mungkin menjualku, ayahku sangat mencintaiku dan menitipkanku pada adiknya yang ia percayai!" Dhea kembali menangis histeris.


"Mohon maaf untuk keadaan anda nona!" ucap pelayan ketika tangisan Dhea mereda.

__ADS_1


"Tolonglah lepaskan aku ... bantu aku lepas dari sini, aku bukan penebus hutang! aku mohon ..." Dhea kembali memelas pada wanita yang baru saja bicara padanya.


"Saya tidak mungkin bisa melakukan itu nona."


"Tidak bisa? Tidak... kau tidak bisa karena kau tidak mau! Aku mohon, berbelas kasihanlah padaku, aku wanita dan ibumu juga wanita kan?" bujuk Dhea.


Tapi "Dengarkan saya, Nona! Jika Anda bersikap baik, kooperatif dan mengikuti alurnya, maka Anda akan segera dilepaskan saat tugas Anda sudah selesai! Anda tidak akan selamanya tinggal di sini. Ingatlah, kebebasan menanti anda kalau anda menurut!" pesan pelayan sangat tegas terdengar ditelinga Dhea.


'Tugas? Menurut? Kebebasan? apa yang mereka inginkan dariku? Tugas apa?' hati Dhea berdecak, dia tak sanggup berpikir.


"Maksudmu?"


Dhea kembali bertanya kepada pelayan disampingnya yang tidak bisa di lihat wajahnya.


"Sekarang anda hanya perlu menyiapkan diri Anda dan melayani!"


"Maksudnya apa ini? Melayani apa?"


Ucapan pelayan yang membuat hati Dhea bergetar. 'Melayani? aku harus menjadi pemuas? Tidak ... oh Tuhan .. aku tidak mau! tolonglah aku, Tuhan!' ujar hati Dhea yang menjerit ketakutan. Seketika tenggorokannya kembali kering dan keringat dingin mulai menghampirinya.


"Tunggu, tunggu, aku mengerti maksudmu! Tapi aku tidak mau melakukan itu! Aku mohon jangan biarkan dia melakukan itu padaku! Tolong lepaskan aku, bantulah aku untuk pergi dari tempat ini! Kau tahu, usiaku masih sembilan belas tahun! Aku mohon biarkan aku pergi dari sini! Selamatkan lah aku," Dhea terus memohon tapi tidak ada lagi suara dari pelayan itu.


Klek


Justru yang terdengar oleh Dhea adalah pintu yang ditutup, suara sepatu yang mendekat dan menjauh meninggalkan ruangan.


"Nyonya, tunggu dulu! Berikan aku penjelasan lebih! Tolong lepaskan aku dari sini!" Dhea terus memohon tapi tidak ada lagi jawaban darinya.


"Aaakkhhh! Siapa kau?" pekik Dhea.


'Oh tidak ... siapa yan mengelus tanganku? apa maunya? Dia kah tuan yang dimaksud? dan tangan itu ... hah, tangannya besar dan kuat sepertinya! Jariku terlihat kecil dalam genggamannya!! Tuhan tolong aku, siapa saja tolong aku darinya!' hati Dhea panik ketika tangannya di pegang oleh seseorang.


"Tidak! Aku mohon jangan lakukan apapun padaku! Aku mohon lepaskan aku!" Dhea kembali memekik ketika rasa yang tak diinginkan kembali.

__ADS_1


'Kenapa dengan tangan itu? Hah, bagaimana ini? Dia kemana-mana! aku merinding!' Dhea ketakutan, tapi sepertinya orang itu tidak peduli. Dia tetap mengelus tubuh Dhea.


Wanita itu juga sudah berusaha menolong dirinya sendiri, berusaha lepas dengan menggerakkan tangannya yang dirantai, begitupun juga kakinya, Tapi tetap saja sulit untuk Dhea melepaskan diri dari ikatan besi yang sangat kuat.


"Tuan, tolong aku mohon padamu jangan lakukan ini padaku, siapapun kau! Berhentilah! Kasihanilah aku!" Dhea kembali memohon tapi pria itu tetap tidak peduli, tangannya justru merambah ke pakaian Dhea.


"Tuan berhentilah aku mohon, jangan buka pakaianku, jangan sentuh aku! heuuu ... heuuuu ..." akhirnya, Dhea bicara sambil menangis dengan sekujur tubuhnya telah mengeluarkan keringat dingin, namun seakan semua itu hanyalah hiburan untuknya.


"Aaaaakhhhhh!"


'Oh tidak apa yang terjadi pada diriku?' Dhea berteriak lagi, sangat kencang di ruangan itu ketika indra pengecap yang basah berkenalan pada salah satu istimewa miliknya, dengan satu tangan yang lagi bermain di sampingnya.


"Aku mohon hentikanlah!" Dhea mencoba untuk waras dan memohon walaupun tubuhnya menggeliat dan Dhea berusaha untuk menahan dirinya.


Tapi.. "Uuuuughhhh ...."


Justru suara mendayu yang terdengar semakin meningkat kan keinginan yang mendengar. Dhea memang masih meronta, tapi bibirnya tidak lagi bisa menahan rasa yang dikeluarkan, dirinya menolak tapi tubuhnya menerima.


"Aku mohon hentikanlah! Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, aku selalu menjaga diriku! Aku mohon, kasihanilah aku!"


JLEB


"Hpppphhhh!"


Hati Dhea hancur dan dia menangis sangat keras ketika sesuatu membuat miliknya terasa perih dan sakit, sudah masuk dan menikmati lubang kenikmatannya.


Dan saat itulah, Dhea membuka mata ia adalah pria bernama Ramlan. Ia dinikahi dan secara terus menerus pria itu datang, seolah harus Dhea layani.


"Aku telah menolongmu, keluargamu aku bantu. Jadi puaskan aku! Berikan keturunan untukku!" bisik Ramlan, memekik telinga Dhea yang semakin hanyut.


Hingga beberapa tahun terakhir, ia baru tahu pria bernama Ramlan, mempunyai istri bipolar yang tak bisa memberinya keturunan. Sementara suaminya itu seperti tetekan, jika ia harus punya seorang anak agar perusahaan peninggalan tidak berpindah ahli.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2