Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
BERTEMU ISTRI SAH


__ADS_3

Dhea teramat kesal, kala ia kembali menatap mansion Moza Ramlan. Ia tidak sangka, jika pria saat itu adalah Raja, adalah adik Ramlan, berbeda ibu.


'Mirip seperti dongeng? apakah seperti ini kehidupan orang kaya.' batin.


"Siapa kamu?" ujar Zia, menatap Dhea dengan dua asisten.


"Permisi nyonya, saya adalah .. sa-ya. Nama saya Dhea, kepala sekertaris perusahaan tuan Ramlan. Saya kemari hanya .."


"Ah, soal kerjaan lagi. Masuklah lewat pintu belakang! bawahan hanya bisa masuk lewat jalur itu!" ujar Zia, dan Dhea menatap Sam. Tatapan Sam, tahu jika itu untuk menurutinya.


"Sam, aku harus apa. Tidak mungkin kan aku satu atap tinggal di mansion ini?" tanya Dhea.


"Itu hanya perintah, apalagi jika anda hamil. Berhati hatilah, sudah tradisi. Anda pasti mengerti nona." ujar Sam.


Tak lama, mereka kembali ke kantor. Dan Sam mendampingi Dhea, agar istrinya tidak menaruh curiga.


Minta maaflah sama Tuan Ramlan! Sekarang!” titah Sam, dengan tegas.


Dhea akhirnya mengangguk. Ia harus profesional karena di perusahaan ini Ramlan adalah atasannya.


Dhea berusaha bangkit berdiri meski pergelangan kaki kirinya terasa sakit. Ia berjalan menghampiri Ramlan dengan langkah tertatih. Pria itu masih berdiri dengan penuh kearoganan, seraya menukik sebelah alisnya saat menatap Dhea. Kemudian mengangkat tangan kanan sebagai isyarat agar Dhea menghentikan langkahnya.


“Tidak perlu. Saya tidak mau membuang-buang waktu,” kata Ramlan dengan suara dingin. Sebelum akhirnya berlalu pergi tanpa menatap Dhea sedikit pun.


Ramlan sempat menyuruh Angel ikut dengannya. Entah akan dibawa ke mana dan untuk apa. Dhea tak bisa menebak. Ia hanya menatap kepergian dua orang itu sambil menghela napas panjang.


Angel memang terkenal dengan julukan ‘dewi’ oleh hampir semua pria yang ada di perusahaan ini. Selain cantik, tubuh Angel pun terlihat seksi dan ideal, yang menjadi idaman para pria.


“Kalau nanti ada masalah dengan divisi keuangan, berarti kamu penyebabnya,” ujar Sam dengan suara rendah, tapi penuh penekanan dan ancaman.


“Kenapa saya? Saya nggak berbuat sesuatu yang merugikan divisi.” Dhea membela diri dengan berani meski Sam, diatasnya kala dikantor.


"Baiklah akan aku lakukan."


Rumah Sakit.

__ADS_1


“Ibu, aku datang!” seru Dhea dengan ceria, menatap bingkai foto.


Lebih tepatnya ia sedang berpura-pura ceria di depan foto ibunya, padahal hatinya merasa sebaliknya. Dhea merasa sedih setiap kali melihat wajah sang ibu yang menjadi lebih tua dibanding usianya akibat penyakit yang ia derita.


Dhea menggantungkan kalimatnya sambil mencari-cari jawaban yang masuk akal. Kakinya masih terasa sakit, mungkin mengoleskan krim pereda nyeri nanti sepertinya cara yang tepat.


“Tadi aku jatuh, Bu, di toilet karena lantainya licin.” Dhea meringis karena terpaksa membohongi ibunya di dalam bingkai foto, Dhea berbicara sendiri.


“Tapi Ibu nggak usah khawatir, aku nggak kenapa-napa, kok. Dan sekarang aku berada diruangan Mira."


Sementara ranjang adiknya Mira, ia tampak menghela napas berat masih dengan tatapan khawatirnya, akibat proses operasi. Matanya masih tertutup tapi ia tahu, jika kakaknya datang menjenguknya.


Sebelum Mira bertanya lebih jauh, membuka matanya perlahan. Dhea buru-buru mengalihkan pembicaraan dan berkata, “Ibu jangan takut, ya. Besok pagi Mira akan dioperasi ulang, semuanya akan baik-baik saja dan aku yakin ibu akan senang setelah melihat Mira, melewati semua prosesnya.”


Dhea merunduk, meraih tangan Mira dan menggenggamnya dengan hangat. “


Mira harus bertahan sampai akhir, demi aku. Kalau Mira menyerah, nanti aku sendirian di sini. Aku nggak mau menjalani hidup sendirian tanpa adik adikku. Rajuknya dengan bibir mengerucut.


Senyuman lemah tersungging di bibir Mira, kemudian mengangguk. Matanya tampak berkaca-kaca namun tatapannya tetap terasa hangat.


"Ah, kamu sudah sadar Mira. Baguslah, ini sangat menyenangkan."


“Tapi… dari mana kamu dapat uang untuk bayar semua biayanya kak?”


Dhea langsung terdiam. Jantungnya mendadak berpacu dengan cepat karena khawatir adiknya akan curiga. Selain itu, ada rasa bersalah yang menghantam hati Dhea, sebab ia tak memberitahu statusnya yang sudah menjadi istri pria lain kepada adiknya itu. Ia merasa telah menjadi pembohong ulung saat ini. Terlebih ia mirip istri kedua, tapi Dhea masih merasa, dirinya bukan istri simpanan.


'Maafkan aku, Mira,' batin Dhea.


Dhea lantas berdehem, lalu menjawab, “Kebetulan ada seseorang yang mau menolong kita. Tapi kamu jangan memikirkan tentang hal itu, kalau kamu sudah sembuh aku akan menjelaskan semuanya.”


Sederet gigi Dhea yang rapi menggigit bibir bawahnya, ia takut Mira, akan bertanya lebih jauh. Namun detik berikutnya Dhea menghela napas lega saat Mira mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi setelah itu.


Akhirnya semalaman itu Dhea tidak pulang ke rumah dan memilih menemani adiknya di rumah sakit. Meski begitu Dhea tetap diawasi oleh dua orang suruhan Ramlan agar ia tidak bisa kabur.


'Maafkan aku dik, kamu tahu kakak pernah menikah. Semua harta orangtua, kakak jual demi pengobatan mas Rizal. Bahkan kakak belum sempat menikmati apa itu pernikahan bahagia. Tapi kali ini, demi kalian bahagia. Kakak akan berkorban meski nama baik, dan nyawa taruhannya.' batin Dhea.

__ADS_1


***


Hari esok pun tiba, dengan setia Dhea menunggu di depan ruang operasi sambil berusaha tetap bersikap tenang. Padahal hati Dhea tengah dirundung kegelisahan dan ketakutan saat ini. Selain itu, ia juga sendirian di sini, tak punya teman untuk berbagi keluh kesah. Dan tak ada bahu yang bisa ia jadikan sandaran.


Untuk menghilangkan perasaan itu, Dhea akhirnya bangkit dari sofa. Namun detik itu juga ia nyaris berteriak dan terjatuh saking terkejut saat melihat sosok menakutkan tengah berdiri di hadapannya.


“Tu-Tuan? Kenapa Anda di sini? Kapan Anda datang? Dan kenapa tidak menegur saya?” cecar Dhea yang masih mengontrol keterkejutannya.


Pria itu menukik sebelah alis. Berdiri menyembunyikan kedua tangannya di kantong celana, dengan ekspresinya yang datar dan tatapan mata elangnya yang terasa menusuk. Ramlan selalu terlihat rapi seakan tak pernah menanggalkan jas hitam dari tubuhnya.


“Apa aku punya alasan untuk menegur kamu?” tanya Ramlan lengkap dengan suara dinginnya.


“Ng-nggak juga. Tapi kedatangan Tuan membuat saya takut dan terkejut.”


“Takut? Kamu takut padaku?”


“Nggak. Bukan begitu,” kilah Dhea, “Maksud saya tatapan Anda seperti ingin memakan orang. Kalau anak kecil yang melihatnya pasti langsung lari terbirit-birit.”


“Shit!” umpat Ramlan dengan suara rendah. Rahangnya seketika mengetat.


“Ada apa, Tuan datang ke sini? Bukankah seharusnya sekarang berada di kantor?” tanya Dhea penasaran.


Pasalnya, menurut Dhea datang ke rumah sakit untuk menemuinya adalah hal yang mustahil dilakukan oleh Ramlan.


“Mau ke manapun aku pergi, itu bukan urusanmu!”


“Tapi Anda pasti punya alasan, ‘kan? Orang sibuk seperti Tuan tidak mungkin datang cuma untuk menemui orang seperti saya.”


"Kau harus jelaskan, kenapa tidak pulang ke rumah. Jika kau hamil, dan lelah. Dehidrasi, keguguran. Bukankah aku rugi, rugi waktu dan kembali menunggu lama?"


Gleuuk! terdiam Dhea.


Hal itu membuat Dhea bungkam, sulit dipercaya. Pria yang notabane suaminya ini benar benar pria berhati iblis.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2